Clarissa kehilangan segalanya setelah bisnis ayahnya hancur dan sang ayah meninggal dalam kesengsaraan. Saat hidupnya kembali berubah karena pernikahan rahasia ibunya dengan seorang pengusaha kaya, Clarissa menemukan kenyataan yang jauh lebih pahit.
Pria itu ternyata menyimpan rahasia tentang kehancuran keluarganya.
Clarissa berniat mendekatinya demi membalas dendam. Namun, permainan yang awalnya hanya penuh kebencian perlahan berubah menjadi perasaan yang tak seharusnya ada.
Jika dendam membawanya ke dalam pelukan pria yang sama sekali tak boleh ia cintai… apakah Clarissa mampu berhenti sebelum semuanya terlambat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan dari Singapura dan Pesta yang Beracun
Kedatangan Julian Vance ke Jakarta bergerak secepat rumor yang menyebar di kalangan taipan kelas atas. Hanya dalam waktu dua puluh empat jam setelah panggilan telepon misterius itu, seluruh pergerakan bursa saham yang melibatkan Project Serpent mulai menunjukkan fluktuasi abnormal. Pria itu tidak menyerang secara frontal di media; ia menggunakan taktik penyergapan dingin melalui manuver akuisisi saham minoritas di anak-anak perusahaan Perkasa Group.
Sore itu, suasana di grand ballroom Hotel Raffles Jakarta tampak begitu berkilau namun menyesakkan. Pesta peringatan ulang tahun asosiasi konglomerat Asia Tenggara yang dihadiri oleh para miliarder, diplomat, dan pejabat papan atas menjadi panggung pertemuan pertama kami.
Aku melangkah masuk beriringan dengan Raymond. Malam ini, aku mengenakan gaun malam berpotongan backless dari bahan sutra berwarna hijau zamrud pekat yang memeluk lekuk tubuhku secara sempurna. Rambut hitamku disanggul tinggi, mengekspos leher jenjang dan tulang selangka yang dihiasi oleh batu blue sapphire dari kalung The Tear of Serpent. Cincin berlian canary yellow 10 karat di jari manis kiriku berkilau tajam di bawah pendar lampu gantung kristal.
Raymond yang berdiri di sisiku tampak begitu mengintimidasi dalam balutan tuxedo serba hitam. Tangannya merengkuh pinggangku dengan ketat sebuah gestur posesif yang secara tak langsung menegaskan pada seluruh isi ruangan bahwa wanita di sisinya adalah wilayah kekuasaan yang tak tersentuh.
"Ingat, Clarissa," bisik Raymond parau di dekat telingaku saat kami menyusuri karpet merah, hembusan napas hangatnya menyapu lembut kulit pipiku. "Julian adalah tipe serigala yang suka memancing emosi dengan mengungkit masa lalu. Jangan biarkan dia menemukan celah di matamu."
"Aku tidak pernah memberi celah pada serigala mana pun, Raymond," balasku halus sambil menyunggingkan senyuman dingin yang terukir sempurna.
Bisik-bisik kagum dan segan dari para tamu undangan langsung terhenti sewaktu sosok pria paruh baya bertubuh jangkung melangkah keluar dari kerumunan di depan meja champagne.
Julian Vance. Pria berusia sekitar lima puluhan tahun itu memiliki rambut perak yang tersisir rapi, rahang keras bergaris dingin, dan setelan jas buatan Savile Row yang tampak teramat mahal. Manik mata kelabunya yang tajam bagai pisau langsung mengunci keberadaanku dan Raymond.
"Raymond Perkasa," sapa Julian dengan suara berat beraksen Inggris yang fasih, melangkah mendekati kami. Tangannya memegang gelas kristal berisi wiski tua. "Atau harus kusebut... sang taipan yang berhasil merebut segalanya dari masa lalu?"
Raymond tidak mengulurkan tangan untuk berjabat. Pria 35 tahun itu tetap berdiri tegak dengan aura dominan yang mengintimidasi, matanya menatap Julian bagaikan seekor predator yang sedang mengamati mangsa yang lancang.
"Julian," sahut Raymond datar dan sangat dingin. "Aku tidak tahu kalau acara kaliber ini mengundang pria yang sibuk mengumpulkan saham sisa di pasar gelap."
Sudut bibir Julian terangkat tipis, membentuk senyuman sinis yang sarat akan racun. Pandangan matanya kemudian bergulir perlahan, menyusuri tubuhku dari atas ke bawah sebelum berhenti tepat pada liontin blue sapphire di cekungan dadaku.
"Dan ini pasti Nona Clarissa..." gumam Julian dengan nada suara yang sengaja diproduksi sangat rendah dan memikat. "Putri dari almarhum rekan bisnisku yang sangat malang. Kamu berkembang menjadi wanita yang teramat cantik, Clarissa. Sangat mirip dengan ibumu, Siska... tetapi memiliki mata penuh dendam milik ayahmu."
Aku merasakan cengkeraman tangan Raymond di pinggangku makin mengeras tajam. Namun sebelum Raymond sempat membuka suara untuk menghancurkan pria di depan kami, aku sudah lebih dulu melangkah setengah senti ke depan.
"Terima kasih atas pujiannya, Mr. Vance," suaraku meluncur begitu tenang, jernih, dan sarat akan penghinaan yang elegan. "Tapi jika Anda berniat membandingkanku dengan Ibu, Anda membuang waktu. Ibu saya cukup bodoh untuk tertipu oleh manuver pria seperti Anda di masa lalu. Sedangkan saya... adalah orang yang memegang lima puluh satu persen hak suara Perkasa Group saat ini."
Mata kelabu Julian menyipit pelan. Senyuman di wajahnya sempat membeku selama satu detik penuh—ia tidak menyangka bahwa gadis 20 tahun yang berdiri di depannya memiliki kontrol emosi yang begitu mantap dan tidak mudah tergertak.
"Tentu saja, my dear," kekeh Julian pelan, memutar gelas wiskinya. "Kamu memegang sahamnya... tapi kamu belum memegang kodenya. Ayahmu tidak cukup bodoh untuk meninggalkan dokumen rahasia Project Serpent tanpa sistem kunci ganda. Dan kunci kedua itu... ada di tanganku."
Pernyataan Julian mengudara di antara kami bagaikan petir yang membisu. Kunci ganda?
"Ayahmu menandatangani kesepakatan rahasia denganku di Singapura sebelum ia wafat," lanjut Julian seraya melangkah satu senti lebih dekat ke arahku, berbisik dengan nada mengancam yang sangat nyata. "Jika dalam waktu tiga puluh hari Project Serpent tidak diaudit ulang oleh pihak konsorsiumku, seluruh aset tambang utama Perkasa Group di Kalimantan dan Halmahera akan dibekukan secara hukum internasional. Dan kamu... akan kehilangan mahkotamu sebelum sempat menikmatinya."
Atmosfer di sekitar meja champagne mendadak membeku.
Sebelum Julian sempat menikmati reaksi di wajah kami, Raymond melangkah memotong jalur pandangnya. Pria itu mencengkeram bahu Julian dengan cengkeraman yang teramat keras hingga pria paruh baya itu terpaksa mundur satu langkah.
"Cobalah sentuh satu saja aset di Kalimantan atau Halmahera, Julian," bentak Raymond rendah dengan suara baritonnya yang paling membahayakan, nada suaranya begitu dingin hingga sanggup menghentikan detak jantung. "Dan aku akan memastikan konsorsiummu di Singapura hancur sebelum matahari terbit besok pagi."
Julian menatap tangan Raymond di bahunya, lalu terkekeh dingin sambil merapikan kembali kerah jasnya. "Kita lihat saja di meja perundingan resmi lusa depan, Raymond. Aku harap gadis cantikmu ini siap menanggung konsekuensinya."
Dengan lambaian tangan yang terkesan meremehkan, Julian memutar tubuhnya dan melangkah pergi menyusuri kerumunan pesta, meninggalkan kami di tengah pusaran ancaman yang kian nyata.
Aku menatap punggung Julian yang menjauh, jemariku meremas erat kain gaun sutra hijau zamrudku. Di sisiku, Raymond memutar tubuhnya menghadapku. Tangannya meraih wajahku, membimbing mata kami untuk saling mengunci.
"Jangan dengarkan gertakannya, Clarissa," ujar Raymond parau, manik hazel-nya menyala dengan pendar obsesif dan tekad mutlak. "Aku tidak akan membiarkan pria tua itu mengambil apa pun yang sudah menjadi milikmu."
Aku menatap lurus ke dalam mata sang taipan, menyunggingkan senyuman paling berani. "Aku tidak takut pada Julian, Raymond. Kalau ia menginginkan perang hukum internasional atas warisan Ayah... maka kita akan beri dia perang yang akan menghancurkan kekayaannya tanpa sisa."
Di balik gemerlap lampu pesta ballroom yang berkilau, pertempuran babak baru resmi dimulai—dan kali ini, aku dan Raymond akan melangkah bersama untuk membumihumuskan siapa pun yang berani mengusik tahta terlarang kami.