NovelToon NovelToon
Rumah Yang Menggantikan Aku

Rumah Yang Menggantikan Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Pengganti / Kehidupan di Kantor / Keluarga & Kasih Sayang / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:364
Nilai: 5
Nama Author: A. A. Pusung

Tiga tahun lalu, Kaluna Adiswara dinyatakan meninggal setelah mobilnya ditemukan hancur di dasar sungai. Tubuhnya tidak pernah ditemukan. Selama bertahun-tahun ia dianggap telah meninggalkan suami dan putrinya, bahkan dituduh menggelapkan uang perusahaan. Ketika ingatannya pulih dan Kaluna kembali, ia justru menemukan suaminya telah menikahi Veyra, adik angkat yang dulu ia anggap sebagai keluarga. Lebih menyakitkan lagi, putrinya, Elara, kini memanggil Veyra Mama. Kaluna tidak datang untuk merebut suaminya. Ia datang untuk mendapatkan kembali namanya, hak sebagai ibu, aset yang dirampas, dan mencari tahu siapa yang mencoba membunuhnya. Di balik keluarganya yang terlihat sempurna, ternyata tersimpan rahasia tentang pemalsuan dokumen, pengkhianatan, dan sebuah kejahatan yang telah disembunyikan selama bertahun-tahun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A. A. Pusung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25 PESAN TERAKHIR SEBELUM KECELAKAAN

Kaluna membaca pesan Naren berulang kali. Meski nomor utamanya sudah tidak aktif, pesan kepada Veyra muncul di percakapan lama lengkap dengan nama dan foto profil Kaluna. Berarti seseorang tidak sekadar memakai nomornya, tetapi juga memiliki akses ke akun komunikasinya.

Kaluna segera menelepon Naren.

“Dari mana kamu mendapatkan catatan nomor itu?”

“Data lama operator yang diminta Salindri untuk pemeriksaan rekening dan tiket.”

“Kenapa nomorku tidak aktif?”

“Belum tahu. Perangkat terakhir terhubung ke jaringan sekitar pukul enam lewat lima puluh malam. Setelah itu tidak ada aktivitas dari kartu utama sampai beberapa hari setelah kecelakaan.”

“Pesan Veyra dikirim hampir tengah malam.”

“Iya.”

“Berarti pakai perangkat lain.”

“Kemungkinan melalui perangkat yang sudah tertaut ke akunmu.”

Kaluna memandang rumah Mahardika yang semakin jauh di belakang mobil.

“Komputer kantor?”

“Bisa. Tablet, laptop, atau telepon cadangan juga bisa.”

“Aku punya telepon cadangan?”

“Kita belum menemukan catatannya.”

Kaluna menekan pelipis.

“Besok Veyra menyerahkan telepon lamanya.”

“Pastikan dia tidak memindahkan atau menghapus apa pun.”

“Dia bilang hanya ingin menyalin foto Elara.”

“Itu tetap bisa mengubah sebagian data perangkat.”

“Aku harus melarang dia memindahkan foto anak yang selama ini dia simpan?”

“Tidak. Minta prosesnya dilakukan di depan kita.”

Kaluna tidak menanggapi.

Sulit baginya menerima kemungkinan bahwa Veyra hanya dijadikan penerima paket dan sasaran pesan palsu. Selama tiga tahun, perempuan itu hidup berdasarkan bukti yang sengaja disusun seseorang. Meski begitu, Veyra tetap membuat pilihannya sendiri: percaya bahwa Kaluna pergi, menikahi Arsen, dan membiarkan Elara tumbuh dengan cerita bahwa ibu kandungnya meninggalkan keluarga.

Kalaupun Veyra tidak mengetahui rencana besar di balik semua itu, pilihannya tetap membawa akibat.

“Aku akan membawa teleponnya besok,” kata Kaluna.

“Jangan datang sendiri.”

“Aku tidak akan menyerangnya.”

“Aku tidak bilang begitu.”

“Tapi kamu memikirkannya.”

Naren diam sesaat.

“Aku memikirkan bagaimana menjaga agar bukti tidak rusak.”

Kaluna menutup panggilan setelah menyepakati waktu pertemuan.

Malam itu ia tidak dapat tidur.

Kalimat dalam pesan lama terus terulang.

Kalau sesuatu terjadi padaku, jangan biarkan Elara sendirian. Jaga dia seperti anakmu sendiri. Jangan cari aku.

Bagian pertama masih mungkin ditulis Kaluna. Ia sedang menyelidiki pembayaran mencurigakan. Mungkin ia merasa berada dalam bahaya dan meminta Veyra menjaga Elara.

Kalimat terakhir terasa salah.

Jangan cari aku.

Kaluna tidak akan menghilang tanpa memastikan Elara aman. Ia juga tidak akan menyuruh keluarganya berhenti mencari hanya melalui satu pesan singkat.

Pesan itu seperti sengaja dibuat agar bisa dipercaya dengan dua cara.

Kaluna sudah mengetahui akan terjadi sesuatu.

Atau Kaluna memang sedang merencanakan kepergian.

Apa pun yang dipercaya penerima, pesan tersebut tetap membantu orang yang ingin membuatnya menghilang.

Keesokan paginya, Kaluna datang ke rumah Mahardika bersama Naren.

Veyra sudah menunggu di ruang depan. Telepon lamanya berada di atas meja, masih tersambung ke pengisi daya.

Arsen berdiri dekat jendela.

“Kamu memberi tahu Arsen?” tanya Kaluna.

“Aku tidak mau menyerahkan telepon itu tanpa ada orang lain,” jawab Veyra.

Kaluna mengalihkan perhatian kepada Arsen.

“Kamu tahu soal pesan itu?”

“Aku pernah melihatnya setelah kecelakaan.”

“Tapi tidak pernah menunjukkannya kepadaku.”

“Kamu baru kembali beberapa minggu.”

“Kamu menunjukkan tiket, foto hotel, dan semua bukti yang menuduhku. Kenapa pesan ini tidak?”

Arsen belum menjawab.

“Waktu itu aku menganggap pesan tersebut bersifat pribadi,” katanya akhirnya.

“Pesan itu digunakan untuk membuat kalian percaya aku pergi.”

“Aku tidak bilang aku percaya hanya karena pesan.”

“Tapi kamu menyimpannya selama tiga tahun.”

Arsen melirik perangkat di atas meja.

“Veyra yang menyimpannya.”

Kaluna hampir membalas, tetapi Naren lebih dulu mengambil sarung tangan tipis dari tasnya.

“Aku akan membuat salinan data tanpa menghapus isi perangkat,” katanya. “Foto Elara tidak akan dipindahkan atau dilihat, kecuali berada dalam folder yang berkaitan dengan pesan.”

Veyra tampak tidak nyaman.

“Berapa lama?”

“Beberapa jam.”

“Aku tidak mau teleponnya dibawa.”

“Kita bisa melakukannya di sini.”

Kaluna duduk di kursi seberang.

“Bagus. Tidak ada yang perlu meninggalkan rumah.”

Naren menyalakan laptop dan menghubungkan telepon lama menggunakan kabel.

Proses penyalinan berlangsung lambat.

Sambil menunggu, Arsen menerima panggilan kantor dan masuk ke ruang kerjanya. Veyra duduk di ujung sofa. Perhatiannya beberapa kali kembali kepada perangkat lama.

“Elara di mana?” tanya Kaluna.

“Belajar di atas.”

“Aku tidak akan mengganggunya.”

Veyra diam sejenak.

“Dia bertanya apakah kamu akan datang lagi besok.”

“Aku sudah bilang akan datang dua hari setelah pertemuan terakhir.”

“Aku tahu.”

“Kamu keberatan?”

Veyra menggeleng, meskipun gerakannya lambat.

“Aku sudah setuju dua jam.”

“Tanpa berdiri di depan pintu.”

“Aku ingat.”

Kecemasan masih terlihat di wajah Veyra.

“Kalau pesan itu terbukti palsu, apa yang akan berubah bagimu?” tanya Kaluna.

Veyra tampak tidak siap menerima pertanyaan itu.

“Aku tidak tahu.”

“Selama ini kamu percaya aku meminta kamu menjaga Elara.”

“Iya.”

“Kalau aku tidak pernah menulisnya?”

Veyra meremas jemarinya.

“Aku tetap orang yang membesarkannya selama tiga tahun.”

“Aku tidak mengatakan sebaliknya.”

“Tapi semuanya akan tampak seperti aku mengambil kesempatan dari kebohongan.”

Kaluna tak menyahut.

“Apakah itu yang kamu takutkan?”

“Aku takut Elara menganggap seluruh hidupnya bersamaku dibangun dari kebohongan.”

“Dia masih terlalu kecil untuk memahami seluruhnya.”

“Anak-anak memahami lebih banyak daripada yang kita kira.”

Kaluna teringat pertanyaan Elara tentang saham, rumah, dan alasan ibunya harus meminta izin.

“Kamu benar.”

Veyra menoleh kepadanya, seolah tidak menyangka Kaluna akan setuju.

“Aku tidak akan bilang ke Elara kalau kamu sengaja menggantikan aku,” lanjut Kaluna. “Tapi aku juga tidak akan melindungi kebohongan yang membuatnya mengira aku meninggalkannya.”

“Aku tidak meminta kamu melindungi kebohongan.”

“Bagus.”

Percakapan berhenti ketika Naren memutar laptopnya.

“Salinan awal sudah selesai.”

Kaluna dan Veyra bergeser mendekat.

Naren membuka data percakapan lama. Pesan yang terlihat di layar telepon juga muncul di dalam salinan.

“Tercatat dikirim dari akun Kaluna,” katanya.

Veyra menoleh kepada Kaluna.

“Berarti memang dari akunmu.”

“Dari akun, bukan berarti dari teleponnya,” jawab Naren.

Ia menunjukkan bagian informasi teknis yang tidak tampak dalam aplikasi biasa.

Di setiap pesan ada nomor identifikasi dan catatan sinkronisasi. Pesan-pesan sebelum hari kecelakaan biasanya dikirim melalui perangkat utama yang sama.

Pesan pukul 23.47 berbeda.

“Perangkat pengirimnya tidak sama,” kata Naren.

“Bisa tahu perangkat apa?” tanya Kaluna.

“Belum bisa dipastikan. Yang jelas, sesi ini memakai sambungan desktop.”

“Komputer?”

“Bisa laptop atau komputer kantor.”

Veyra memandang layar.

“Aku tidak mengerti. Akunnya bisa dibuka tanpa telepon?”

“Kalau sebelumnya sudah ditautkan, bisa. Pengguna hanya perlu mempertahankan sesi atau memulihkannya dengan kode verifikasi.”

“Siapa yang punya akses?” tanya Arsen yang baru kembali dari ruang kerja.

Naren memperlihatkan data tersebut.

“Kaluna mungkin pernah membuka akun komunikasinya melalui komputer kantor.”

Arsen mengangguk.

“Banyak direksi memakai aplikasi pesan di laptop.”

Kaluna mencoba mengingat ruang kerjanya.

Ada bayangan komputer, tumpukan dokumen, dan cangkir kopi di sebelah kanan. Tidak ada ingatan tentang aplikasi pesan.

“Bisa ditentukan lokasinya?” tanyanya.

“Catatan aplikasi menyimpan alamat jaringan terakhir saat pesan disinkronkan.”

Naren memasukkan beberapa angka ke dalam program pemeriksaan.

Prosesnya membutuhkan waktu.

Kaluna mengambil telepon lamanya sendiri dan membuka pesan dari Elara.

Anak itu mengirim foto puzzle rumah pohon yang sudah selesai.

Di bawahnya tertulis:

“Aku selesaikan sendiri bagian atapnya.”

Kaluna tersenyum kecil.

“Bagus. Bagian pinggir membantu, kan?”

Elara membalas:

“Iya. Besok main kartu hewan lagi.”

Kaluna membalas bahwa ia akan datang sesuai janji.

Ketika mengangkat wajah, Veyra sedang memperhatikan teleponnya.

“Elara menghubungimu?” tanyanya.

“Iya.”

“Apa katanya?”

“Puzzle-nya sudah selesai.”

Veyra mengangguk, lalu memalingkan wajah.

Kaluna tidak merasa perlu menyembunyikan percakapan itu. Ia juga tidak menyerahkan teleponnya.

Hubungan kecil yang baru tumbuh itu adalah miliknya dan Elara.

Tak lama berselang, Naren menemukan catatan jaringan yang dicari.

“Pesan dikirim melalui jaringan perusahaan.”

Arsen langsung mendekat.

“Mahardika Medika?”

“Alamat jaringan terdaftar atas nama perusahaan.”

“Gedung mana?”

“Data yang ada belum menunjukkan gedung. Tapi jalur sambungannya berasal dari jaringan internal, bukan koneksi rumah atau hotel.”

Kaluna terdiam sesaat.

Pesan perpisahan kepada Veyra dibuat menggunakan komputer yang terhubung ke jaringan Mahardika Medika.

“Apakah bisa menemukan perangkatnya?” tanya Kaluna.

“Catatan sesi menyimpan nama perangkat.”

Naren membuka bagian lain dari data.

Nama perangkat muncul dalam bentuk kode.

KA-OFFICE-02.

Kaluna membaca kode tersebut.

“KA berarti Kaluna Adiswara?”

“Kemungkinan,” jawab Arsen. “Perangkat kantor direksi biasanya memakai inisial pemilik.”

“Berarti pesan dikirim dari laptop kantorku.”

“Belum tentu laptop utama,” kata Naren. “Angka dua menunjukkan ada perangkat kedua yang pernah tercatat atas namamu.”

Kaluna menoleh kepada Arsen.

“Aku punya dua laptop?”

Arsen berpikir sejenak.

“Satu untuk kantor, satu lagi untuk perjalanan.”

“Di mana keduanya setelah kecelakaan?”

“Aku tidak tahu.”

“Kamu tidak memeriksa barang-barangku?”

“Bagian keamanan dan sekretariat mengumpulkan perangkat perusahaan.”

“Siapa yang menerima?”

Arsen sempat diam.

“Biasanya sekretariat direksi.”

Revan kembali muncul dalam pikiran Kaluna.

Walau begitu, Revan bukan satu-satunya orang di sekretariat.

“Ada catatan inventarisnya?” tanya Naren.

Arsen mengambil telepon.

“Aku akan meminta bagian teknologi informasi mengirim riwayat perangkat.”

Ia menelepon seseorang dan memberikan kode KA-OFFICE-02.

Selama menunggu, Veyra mengambil kembali telepon lamanya.

“Jadi pesannya palsu?” tanyanya.

“Pesan dikirim dari perangkat lain,” jawab Naren. “Kita belum bisa memastikan siapa yang mengetiknya.”

Veyra menoleh kepada Kaluna.

“Bisa saja kamu memakai laptop.”

“Pada pukul itu nomor teleponku sudah tidak aktif hampir lima jam.”

“Itu belum membuktikan kamu tidak memakai komputer.”

Kesabaran Kaluna mulai menipis.

“Kamu masih berusaha percaya aku menulisnya?”

“Aku cuma bilang, semua kemungkinan masih ada.”

“Karena kalau pesannya palsu, kamu harus menerima bahwa alasanmu memercayai kepergianku juga palsu.”

Veyra berdiri.

“Aku tidak menikahi Arsen karena satu pesan.”

“Aku tidak sedang membicarakan Arsen.”

“Tapi kamu tetap kepikiran soal itu.”

“Tidak. Orang yang paling kupikirkan adalah Elara.”

“Begitu juga aku.”

Suara mereka mulai meninggi.

Arsen mengangkat tangan.

“Cukup. Elara ada di atas.”

Keduanya langsung diam.

Tidak lama kemudian, catatan inventaris masuk ke telepon Arsen.

Ia membuka lampirannya.

Laptop dengan kode KA-OFFICE-02 memang terdaftar sebagai perangkat perjalanan milik Kaluna. Tiga hari sebelum kecelakaan, perangkat tersebut masuk ke bagian teknologi informasi untuk pembaruan keamanan.

“Siapa yang menyerahkannya?” tanya Kaluna.

“Formulirnya memakai persetujuan digitalmu.”

“Tentu saja.”

“Setelah diperbarui, laptop tidak dikembalikan ke ruang Kaluna,” kata Arsen sambil membaca riwayatnya.

“Dibawa ke mana?”

Arsen menggulir halaman berikutnya.

Perangkat dipindahkan sementara dengan alasan sinkronisasi data rapat direksi.

Penerimanya bukan Revan.

Nama pegawai pada formulir sudah tidak aktif dan tanda tangannya tidak terbaca jelas.

Lokasi tujuan perangkat tercantum lengkap.

Ruang Sekretariat Ketua Dewan.

Tak ada yang langsung bicara.

Kaluna mengalihkan perhatian kepada Arsen.

Lelaki itu membaca catatan tersebut sekali lagi, seolah berharap tulisan di layar berubah.

Pesan terakhir sebelum kecelakaan tidak dikirim dari telepon Kaluna.

Pesan itu dikirim melalui laptop atas namanya setelah perangkat tersebut dipindahkan ke sekretariat ketua dewan.

Berarti ada seseorang di lingkungan itu yang punya akses ke akun Kaluna dan dokumen perusahaannya, lalu sempat menulis pesan untuk Veyra.

Kaluna kembali memperhatikan salinan pesan di layar.

“Pesan itu tidak dibuat untuk membantuku pergi,” katanya.

Naren mengangguk pelan.

“Itu dibuat supaya setelah aku hilang, orang-orang berhenti mencariku.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!