Tidak menyangka Aisyah mendapatkan kehidupan yang lebih baik daripada ketika dulu di SMP atau di SD yang tidak diperlakukan baik oleh teman teman barunya itu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ervina Dwiyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Pesona di Koridor Sekolah
Minggu-minggu pertama berlalu begitu cepat, dan Rara kini sudah merasa sangat betah duduk di sebelah Aisyah. Setiap jam istirahat mereka selalu berjalan beriringan, saling berbagi cerita, dan tertawa bersama. Namun belakangan ini, Rara sering kali diam saja saat melihat sekeliling kelas, matanya tanpa sadar sering melirik ke arah bangku di baris tengah.
Di sana duduk Dimas. Cowok yang wajahnya memang tidak bisa dipungkiri sangat tampan, senyumnya ramah, dan gayanya tenang namun berwibawa. Kabar yang beredar sejak hari pertama masuk sekolah, Dimas memang anak dari pengusaha sukses, tapi dia tidak pernah sombong atau memamerkan kekayaannya. Lebih dari itu, semua guru sepakat Dimas adalah murid yang sangat cerdas, berprestasi, dan diprediksi akan menjadi Ketua OSIS periode selanjutnya. Benar-benar calon pemimpin yang diharapkan sekolah.
Dimas tidak pernah sendirian. Di sebelah kanannya duduk Arga, cowok yang tegas dan berani, dan di sebelah kirinya duduk Bima yang pendiam namun bijaksana. Rara baru tahu minggu lalu, ketiga sahabat ini sudah akrab sejak SMP, dan ternyata mereka beruntung sekali bisa masuk ke SMA yang sama, bahkan satu kelas lagi. Persahabatan mereka terlihat begitu erat dan alami.
"Kamu ngeliatin apa sih dari tadi bengong terus?" bisik Aisyah pelan sambil menyenggol lengan Rara.
Rara tersentak kaget, pipinya langsung merona merah seketika. "Eh, nggak... nggak ngeliatin apa-apa kok," jawabnya gugup sambil buru-buru menunduk ke bukunya. Tapi hatinya berdebar kencang. Jujur saja, siapa yang tidak akan terpikat pada Dimas? Cara dia berbicara saat mengajukan pertanyaan di depan kelas, cara dia tertawa mendengar cerita Arga, bahkan cara dia menolong teman yang kesulitan membawa buku—semuanya memancarkan pesona yang berbeda dari cowok lain. Tidak heran jika nama Dimas sudah mulai menjadi topik pembicaraan hampir semua perempuan di angkatan ini.
Bel istirahat berbunyi. Saat Rara dan Aisyah berjalan keluar kelas, berpapasanlah mereka dengan Dimas, Arga, dan Bima yang baru datang dari perpustakaan.
"Hai, Rara! Hai, Aisyah," sapa Dimas dengan senyum lebar yang tulus. Suaranya lembut namun jelas terdengar.
Rara rasanya seolah berhenti bernapas sejenak. "H-hai Dimas..." jawabnya terbata-bata, hanya bisa tersenyum kaku.
Arga menepuk bahu Dimas sambil terkekeh. "Ayo cepat, nanti antrean di kantin panjang lho!" ajaknya. Bima hanya tersenyum tipis sambil melambaikan tangan sebelum ketiganya berjalan menjauh.
Rara menatap punggung mereka yang menjauh, sampai Aisyah menepuk pelan bahunya. "Wah, sepertinya aku tahu kenapa kamu sering bengong ya," goda Aisyah sambil tertawa kecil. "Dimas memang cowok yang baik dan luar biasa. Tapi tenang saja, kamu pasti punya kesempatan kok."
Rara menunduk malu-malu sambil tersenyum tipis. "Aku cuma... kagum saja, Aisyah. Dia kelihatan sempurna banget. Siapa tahu nanti kita bisa jadi teman dekat, kan?"
Matahari pagi menyinari koridor sekolah, dan langkah kaki mereka berlanjut. Rara menyadari, hari-hari di SMA ini mungkin akan menjadi lebih berwarna dan penuh harapan, karena kini ada sosok yang membuatnya ingin menjadi lebih baik lagi.
***
Malam itu langit sudah gelap, cahaya bulan menyelinap masuk lewat celah gorden kamar Rara. Ia sudah berbaring di tempat tidur, matanya terpejam, tapi pikirannya sama sekali belum mau beristirahat. Bayangan wajah Dimas terus berputar di kepalanya, tak mau pergi begitu saja.
Rara teringat lagi senyum tulusnya tadi siang, cara matanya berbinar saat berbicara, dan sapaan ramahnya yang begitu hangat tanpa memandang siapa lawan bicaranya. Rasanya ada kupu-kupu yang berterbangan di perutnya setiap kali teringat sosok itu.
"Udah ganteng, manis lagi..." gumamnya pelan dalam hati, senyum tipis tak sengaja tersungging di bibirnya meski ia sudah tertidur setengah sadar.
Tiba-tiba saja Rara terbangun kaget, matanya terbuka lebar seketika. Ia baru sadar dirinya bergumam hal itu sambil melamun sampai terbawa ke alam mimpi. Pipi Rara terasa panas sekali, seolah terbakar malu. Ia menutup wajahnya dengan bantal, berharap tidak ada siapa-siapa yang mendengar bisikan kecilnya tadi.
"Ya ampun... kok bisa-bisanya aku sampai ngomong begitu sendiri di kamar?" keluhnya pelan sambil mengintip sedikit dari balik bantal. Hatinya berdebar kencang, campuran antara rasa senang dan malu yang bercampur aduk.
Ia membalikkan badan, menatap langit-langit kamar yang remang. Benar-benar Dimas punya pesona yang aneh, bikin orang yang melihatnya susah lupa. Rara menghela napas panjang, lalu perlahan tersenyum kembali.
"Besok kan masih bisa ketemu di sekolah," batinnya menghibur diri. Dengan perasaan yang masih sedikit berdebar, Rara kembali memejamkan mata, berusaha menyimpan rasa itu baik-baik sampai pagi tiba.
Rara menarik napas panjang, mencoba menenangkan jantungnya yang masih berdegup kencang. Ia menyelimuti tubuhnya hingga ke dada, lalu memejamkan mata perlahan, membiarkan rasa kantuk yang sempat hilang perlahan kembali menyelimuti.
Perlahan-lahan, bayangan wajah Dimas yang tadi membuatnya malu berubah menjadi senyum hangat yang menenangkan. Rara tersenyum tipis di dalam tidurnya, membiarkan dirinya hanyut kembali ke dalam mimpi yang indah. Tak lama kemudian, napasnya menjadi teratur dan tenang, dan ia pun kembali terlelap dengan damai.
Matahari pagi menyelinap lembut lewat celah jendela kamar, menyentuh wajah Rara yang perlahan membuka mata. Ia terbangun dengan perasaan ringan, seolah beban apa pun sudah hilang semalam. Sesaat Rara teringat mimpinya—tentang senyum Dimas yang hangat, dan betapa malunya ia sempat bergumam sendiri di kamar. Pipi Rara masih terasa sedikit panas saat mengingatnya, tapi kali ini diikuti senyum yang tulus dan penuh semangat.
Ia bangun lebih awal dari biasanya, merapikan tempat tidur dengan teliti, lalu memilih seragam yang paling rapi dan nyaman. Sambil menyisir rambut di depan cermin, Rara berbisik pelan pada bayangannya sendiri: "Hari ini harus lebih percaya diri. Jangan cuma diam kalau berpapasan lagi ya."
Sesampainya di sekolah, suasana gerbang sudah ramai dengan siswa yang berdatangan. Rara berjalan cepat menuju kelas, tapi baru sampai di halaman depan, ia melihat tiga sosok yang dikenalnya sedang berhenti sejenak di dekat taman sekolah. Dimas sedang menahan pintu gerbang untuk seorang siswi yang membawa tumpukan buku berat, sementara Arga tertawa sambil membantu mengangkat salah satu tumpukan buku itu, dan Bima sudah lebih dulu berjalan menuju kelas sambil memastikan tidak ada barang yang tertinggal.
Rara berhenti sejenak, matanya terbelalak takjub. Ternyata bukan hanya tampan dan ramah, Dimas juga begitu perhatian tanpa perlu pamer atau menunggu pujian orang lain. Tanpa sadar langkah kakinya perlahan mendekat. Saat Dimas menoleh setelah selesai membantu siswi itu, matanya langsung bertemu dengan mata Rara. Kali ini Rara tidak buru-buru menunduk seperti biasanya, ia menarik napas pelan, lalu tersenyum lebar dan melambaikan tangan duluan.
"Selamat pagi, Dimas! Selamat pagi semuanya!" sapa Rara dengan suara yang cukup jelas dan tenang.
Dimas terlihat sedikit terkejut sejenak, lalu senyumnya melebar lebih lebar dari biasanya, matanya berbinar senang. "Pagi, Rara! Kamu sudah datang lebih awal ya," jawabnya ramah, lalu melambaikan tangan kembali. "Pagi juga ya, semangat belajarnya hari ini!"
Arga menyenggol pelan lengan Dimas sambil melirik ke arah Rara dengan senyum jahil. "Wah, biasanya yang menyapa duluan kami, sekarang gantian ya," bisiknya cukup terdengar. Dimas hanya tertawa kecil sambil menggelengkan kepala, sementara Bima ikut menyapa dengan senyum hangat sebelum ketiganya melanjutkan langkah mereka menuju kelas.
Rara melangkah masuk ke dalam kelas dengan hati yang melompat gembira. Aisyah yang baru duduk di sebelahnya langsung menyenggol pelan lengannya begitu melihat wajah Rara yang berseri-seri. "Wah, cerah sekali mukamu pagi ini. Ada apa nih? Kayaknya ada kabar gembira ya?" tanyanya sambil tersenyum penuh selidik.
Rara duduk tegak, menyusun bukunya dengan hati-hati sambil menahan senyum. "Aku baru sadar, Aisyah. Tidak perlu sembunyi-sembunyi atau takut menyapa duluan. Kalau kita jadi diri sendiri dan berbuat baik, pasti semuanya akan terasa mudah dan menyenangkan. Tadi aku menyapa Dimas duluan lho, dan dia senang sekali," ceritanya dengan nada bangga.
"Nah, itu baru temanku!" puji Aisyah sambil bertepuk tangan pelan. "Lihat kan? Tidak sesulit yang kamu bayangkan kan? Kamu cantik, pintar, dan baik hati, pasti orang lain juga senang berkenalan denganmu."
Bel masuk berbunyi, dan pelajaran pun dimulai. Namun tak lama kemudian, guru mata pelajaran Matematika masuk dengan wajah serius. "Anak-anak, minggu depan akan diadakan seleksi untuk masuk tim Olimpiade Matematika sekolah. Siapa yang berminat silakan daftar hari ini juga," ucapnya.
Banyak siswa yang langsung berbisik-bisik, sebagian menolak karena merasa sulit, sebagian lain ragu-ragu. Tiba-tiba tangan Dimas terangkat tegak. "Saya mau mendaftar, Pak," ucapnya tegas. Tak lama kemudian, Arga dan Bima juga ikut mengangkat tangan. Rara menatap mereka kagum, lalu perlahan ia juga memberanikan diri mengangkat tangannya pelan.
Guru itu tersenyum puas. "Bagus sekali. Rara dan Dimas, silakan bertemu sebentar setelah pelajaran selesai untuk membahas jadwal latihan," panggilnya.
Rara terkejut sekaligus senang. Ternyata ia akan bertemu Dimas lagi untuk urusan yang sama. Saat bel istirahat berbunyi, Dimas menghampiri meja Rara dengan senyumnya yang khas. "Ternyata kamu juga suka Matematika ya, Rara? Bagus sekali, nanti kita bisa belajar bareng kalau ada waktu," ajaknya tulus.
"Benarkah? Aku mau sekali, Dimas!" jawab Rara antusias, kali ini tanpa rasa gugup sedikit pun.
Di luar jendela, langit biru tampak cerah tanpa awan gelap. Rara tahu, hari ini bukan hanya tentang melihat Dimas dari jauh atau sekadar mengagumi pesonanya, tapi tentang menemukan keberanian untuk melangkah maju, menjadi teman yang baik, dan perlahan menemukan tempatnya sendiri di tengah dunia yang baru ini. Dan entah kenapa, ia merasa jalan ke depannya akan penuh kejutan indah yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya.