Miskin seumur hidup, ia bahkan harus mengakhiri hidupnya karena penyakit yang tak mampu ia obati.
Namun, ketika membuka mata, ia justru mendapati dirinya telah masuk ke dalam novel sebagai seorang wanita yang baru saja melompat dari sebuah gedung demi melarikan diri dari pernikahan perjodohan.
Seharusnya ia ikut kabur.
Tapi setelah mengetahui bahwa pria yang akan menjadi suaminya adalah seorang pewaris kaya raya, pikirannya berubah.
“Melarikan diri? Untuk apa? Bukankah lebih baik aku menikah dan hidup nyaman?”
Kini, ia bertekad mempertahankan pernikahan yang bahkan tidak diinginkan oleh pemilik tubuh asli.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Keheningan mendadak menyelimuti ruangan, begitu berat hingga terdengar seperti tiap detik waktu berlalu begitu lambat. Elena berdiri tegak di hadapan suaminya, matanya tak lepas dari ponsel yang masih digenggam Sebastia, pesan singkat itu seolah membuka pintu menuju kebenaran yang selama ini terkunci rapat. Ada perjanjian kedua. Dan Sebastian mengetahuinya sejak awal.
"Jelaskan," ucap Elena pelan namun tegas, tanpa berkedip.
Sebastian meletakkan ponsel itu di atas meja, seolah benda itu begitu berat. "Elena..."
"Jangan panggil namaku dengan nada selembut itu seolah kau sedang menenangkan anak kecil. Aku ingin tahu. Sekarang." Suaranya tidak meninggi, ketenangan seperti itu jauh lebih berbahaya daripada amarah yang meledak-ledak.
Elena melipat kedua tangannya di dada, menatapnya lurus. "Apa isi perjanjian kedua itu?"
"Masalahnya tidak sesederhana yang kau kira," jawab Sebastian pelan.
"Memangnya apa yang pernah sederhana dalam hidupku?" Elena tertawa hambar. "Aku tiba-tiba menjadi istri seorang CEO, mengetahui keluargaku berutang besar, ada batas waktu satu tahun, ada Victor Armand yang entah siapa, ada pesan-pesan misterius... dan sekarang ternyata ada perjanjian lain yang kau sembunyikan. Katakan padaku, apa yang masih bisa kuanggap sederhana?"
Sebastian mengusap wajahnya dengan kedua tangan, lalu mengangguk pelan. "Kau benar. Semuanya rumit. Dan kau berhak tahu."
Ia berjalan menuju meja kerjanya, membuka laci paling bawah, dan mengeluarkan sebuah kotak hitam yang tersimpan rapi di sana. Elena memperhatikannya dengan mata tak teralihkan. "Kau menyimpannya di sini?"
"Salinan aslinya tersimpan di tempat aman. Ini salinan yang kuberikan padamu." Sebastian membuka kotak itu, mengeluarkan sebuah map berwarna cokelat tua yang sudah mulai pudar warnanya. Di atasnya tertulis rapi: PERJANJIAN PERLINDUNGAN KELUARGA HALE–ARVIENNE.
Elena mengambil map itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Ia membukanya perlahan, seolah takut apa yang akan dibacanya. "Perlindungan..." gumamnya pelan.
"Perjanjian ini dibuat di hari yang sama dengan perjanjian pertama," jelas Sebastian pelan. "Keduanya saling berkaitan."
Mata Elena tertuju pada deretan tanda tangan di bagian bawah. Tanda tangan ayahnya. Tanda tangan ayah Sebastian. Dan satu nama lain yang membuat jantungnya berhenti berdetak sesaat. Victor Armand.
"Kenapa dia menandatanganinya?" Elena menunjuk nama itu dengan jari yang gemetar.
"Saat itu ia adalah penasihat hukum sekaligus penasihat bisnis keluargamu. Ayahmu mempercayainya sepenuhnya."
Elena menatap dokumen itu lekat-lekat, membaca tiap kalimatnya dengan saksama. Jika keluarga Arvienne berada dalam ancaman serius yang dapat menyebabkan kehancuran perusahaan atau keselamatan anggota keluarga, keluarga Hale wajib memberikan perlindungan penuh.
Ia mendongak. "Dan sebagai gantinya?"
Sebastian terdiam sesaat, lalu menjawab pelan namun jelas. "Pernikahan."
Elena mundur selangkah, seolah baru saja menerima pukulan keras. "Jadi... pernikahan kita adalah syaratnya?"
"Secara hukum perjanjian, iya."
Elena tertawa getir, lalu menutup map itu perlahan. "Luar biasa. Jadi selama ini aku menikah bukan karena pilihan, tapi karena sebuah kontrak."
"Tidak," potong Sebastian cepat. "Kontrak itu mengikat kedua keluarga. Tapi keputusan untuk menikahimu adalah pilihanku, bukan kewajibanku."
"Bedanya apa?"
"Aku bisa saja menolak. Ayahku tidak pernah memaksaku."
"Kau tidak menolak karena kau sudah tahu tentang perjanjian itu sejak dulu, bukan?"
Sebastian terdiam. Elena melihat itu dan matanya berkaca-kaca. "Kalau sejak awal aku tahu semua ini, mungkin aku tetap akan menikahimu," ucapnya pelan. "Karena... aku memang suka hidup yang baik. Aku pernah hidup susah, Sebastian. Dan aku tidak ingin kembali ke kehidupan seperti itu."
Sebastian melangkah mendekat, menatapnya lembut namun tegas. "Aku tidak akan membiarkanmu kembali ke sana. Bukan karena perjanjian itu. Tapi karena kau istriku."
Jantung Elena berdegup kencang tanpa alasan yang jelas. Ia buru-buru memalingkan wajah, berusaha menenangkan diri. "Baik. Lalu apa yang sebenarnya kau sembunyikan dariku? Apa bagian yang paling kau takutkan?"
Ekspresi Sebastian kembali serius. "Perjanjian ini memiliki satu pasal yang tidak diketahui oleh keluargamu bahkan mungkin oleh ayahmu sendiri."
Elena menatapnya lekat-lekat. "Apa isinya?"
"Jika ancaman terhadap keluarga Arvienne berasal dari pihak ketiga yang terlibat dalam perjanjian itu sendiri, maka keluarga Hale wajib mencari siapa dalang sebenarnya dan menghentikannya apa pun caranya."
"Pihak ketiga..." Elena mengerutkan kening. "Victor Armand."
"Ya."
"Jadi sejak awal dia sudah terlibat di dalamnya?"
"Benar. Dan beberapa bulan setelah perjanjian ditandatangani, Victor menghilang tanpa jejak. Selama dua belas tahun tidak ada yang tahu keberadaannya."
Elena menatap dokumen itu dengan ngeri. "Dan sekarang... dia kembali?"
"Kemungkinan besar. Dan kalau benar dia yang mengirim pesan-pesan itu, berarti rencananya belum selesai."
...tp trus lanjuuut💪💪😘😘