Anindya, wanita muda yang tulus dan sederhana, tanpa sengaja terjebak dalam cinta kepada Reynand — pria berwibawa yang sudah memiliki istri bernama Gisella. Di mata publik, rumah tangga mereka tampak sempurna. Namun saat kebenaran mulai terkuak satu per satu, tidak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi di balik pintu tertutup. Akankah Anindya pergi sebelum terlambat, atau ia akan tetap bertahan — terperangkap dalam cinta yang ternyata jauh lebih rumit dari yang ia kira?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 34
Mobil melesat membelah jalanan yang sepi, lampu depannya membelah kegelapan malam. Tangan Reynand mencengkeram setir hingga buku-buku jarinya memutih. Napasnya tersengal pelan, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Di dadanya, ketakutan yang tak dapat dijelaskan terus memuncak, menekan sekuat tenaga.
"Tunggu aku, Anindya... tolong tunggu aku..."
Sesampainya di sana, jantungnya seakan berhenti berdetak. Pagar sedikit terbuka. Pintu depan pun tak tertutup rapat, terayun pelan ditiup angin.
Reynand bergegas turun bahkan sebelum mesin mati sepenuhnya. Langkahnya berlari memecah keheningan malam, kakinya terasa berat seakan tertanam di tanah.
"Anindya?!" panggilnya, suaranya pecah di udara. Ia mendorong pintu hingga terbuka lebar.
Ruangan sepi. Kosong.
Matanya langsung menyapu segala sudut dengan pandangan yang liar. Tidak ada tanda perkelahian, tidak ada barang yang berantakan. Ia membuka satu-satu pintu yang ada di sana, hingga akhirnya sampai di kamar Anindya. Di atas meja samping ranjang, sebuah ponsel tergeletak. Layarnya masih menyala redup, menampilkan panggilan yang belum sempat tersambung darinya.
Reynand berdiri di samping meja itu, meraih benda itu dengan tangan gemetar. Napasnya tercekat di tenggorokan, dadanya terasa sesak luar biasa.
"Anindya..." bisiknya, kali ini tak lebih dari rintihan yang hancur. Ia menatap sekeliling ruangan yang hening. Pintu terbuka, ponsel tertinggal... dia tidak pergi sendiri. Tidak mungkin dia meninggalkan benda ini.
Dengan tangan yang masih bergetar hebat, ia segera menekan nomor Hansen. Sambungan terdengar lama, sebelum akhirnya dijawab.
"Hansen..." panggilnya, suaranya bergetar tak terkendali.
"Tuan?" Hansen terdengar bingung. "Bukannya Tuan sedang menuju—"
"Anindya hilang, Hansen!" potong Reynand, suaranya meninggi namun penuh keputusasaan. "Rumahnya kosong, pintu terbuka, ponselnya tertinggal di sini... pasti sesuatu sudah terjadi sebelum aku datang."
Keheningan di seberang sana sejenak.
"Saya paham, Tuan," jawab Hansen tegas dan siap bertindak. "Akan saya kerahkan semua orang untuk mencarinya."
"Cari setiap sudut kota ini, Hansen! Tanyakan semua orang, periksa semua jalan... temukan dia, sebelum terlambat!" perintah Reynand, matanya berkaca-kaca namun tak satu pun air mata jatuh.
"Siap, Tuan. Segera saya laksanakan."
Sambungan terputus. Reynand menatap ruangan itu sekali lagi, lalu bergegas keluar dan masuk kembali ke mobilnya. Ia tidak akan diam menunggu, ia akan mencari Anindya sendiri.
-
-
-
Sebuah mobil melaju pelan, lampu depannya membelah kabut malam. Di balik kemudi, Kaivan duduk dengan tenang, ia baru saja menyelesaikan urusannya di kantor. Namun saat melintasi kawasan perbukitan yang sepi itu, matanya menangkap sepasang lampu kendaraan yang melesat pergi dari tepi tebing dengan kecepatan mencurigakan, seakan buru-buru meninggalkan tempat itu.
Instingnya langsung meronta. Ia mematikan lampu mobil, melambatkan laju kendaraannya, dan memarkirkan di balik pepohonan rindang yang tak terlihat dari jalan utama. Tanpa menyalakan senter, ia berjalan perlahan mendekati tepian curam itu, telinganya menajam di tengah heningnya malam.
Angin berdesir menderu, menyapu kabut tebal di bawah sana. Namun di sela deru itu, terdengar suara yang sangat lemah, rintihan yang nyaris tak tertangkap telinga.
"Tolong..."
Hati Kaivan mencelos seketika. Ia langsung menyalakan senter ponselnya, menyapu cahayanya ke arah bawah, dan napasnya tertahan di tenggorokan.
Di sela-sela bebatuan tajam, tergeletak sesosok tubuh yang tak berdaya. Pakaiannya robek dan kotor, luka di wajah dan tangannya meneteskan darah, tubuhnya terbaring miring di atas batu yang keras.
"Tuhan..." desisnya pelan, tanpa pikir panjang ia mulai merambat turun. Bebatuan licin dan tajam menggores pakaian serta kulitnya, namun ia tak peduli. Satu-satunya yang ada di benaknya adalah menjangkau wanita itu sebelum terlambat.
Sesampainya di sampingnya, Kaivan berlutut dengan napas tersengal. Ia menyentuh bahu wanita itu dengan lembut, takut melukainya lebih dalam.
"Nona... Nona, dengar saya..." suaranya tenang namun mendesak.
Anindya membuka matanya sedikit, pandangannya kabur. Bibirnya bergetar, tak sanggup mengeluarkan suara yang jelas.
"Jangan tidur... tetap sadar, ya. Saya bantu kamu..."
Dengan sangat hati-hati, Kaivan mengangkat tubuh ringan itu ke pelukannya. Anindya meringis kesakitan, menggenggam kemeja pria itu dengan lemah, seakan itu satu-satunya penyangga di tengah ketidakpastian.
"TAHAN! Sebentar lagi sampai," serunya, ia mendaki kembali ke atas dengan langkah berat, memastikan tak ada goresan tajam yang menyentuh tubuh yang ia peluk erat.
Sesampainya di mobil, ia melapisi kursi belakang dengan jaket tebal, meletakkan Anindya dengan sangat lembut, lalu menutupi tubuhnya dengan selimut yang tersedia. Ia menyeka keringat dan darah di keningnya dengan ujung kain bersih, tangannya sedikit gemetar.
"Tahan, Nona! saya antar ke rumah sakit sekarang..." bisiknya, lalu melesat membawa mobil itu membelah kabut malam, menuju rumah sakit.
Setengah jam perjalanan yang terasa seakan berlangsung selamanya. Mobil melesat membelah jalanan yang sepi, kecepatannya dipacu maksimal namun tetap dijaga sehalus mungkin, agar tubuh yang terbaring lemah di kursi belakang tidak terguncang. Kaivan sesekali melirik ke kaca spion, memastikan napas wanita itu masih beraturan, meski sangat pelan dan tipis. Keringat dingin terus membasahi pelipisnya — setiap menit terasa seperti satu jam penuh.
Hingga akhirnya lampu-lampu gedung rumah sakit mulai terlihat di kejauhan. Mobil melambat, lalu berhenti tepat di halaman depan.
Tanpa membuang sedetik pun, Kaivan turun dan segera mengangkat tubuh Anindya kembali ke pelukannya, berlari menerobos pintu yang terbuka otomatis.
"Bantu saya! Tolong!" teriaknya, napasnya tersengal.
Petugas langsung bergegas membawa brankar. Anindya dibaringkan di atasnya, didorong masuk dengan tergesa-gesa menuju ruang perawatan. Wajahnya pucat, luka di kening dan tangannya masih terlihat jelas di bawah cahaya lampu lorong.
Dokter Rangga yang baru selesai memeriksa pasien menoleh seketika. Langkahnya terhenti, matanya membelalak lebar. Wajahnya seketika berubah pucat.
"Anindya?!"
Panggilannya meledak tanpa sadar, penuh keterkejutan sekaligus kepanikan yang tak disembunyikan. Ia langsung berlari mendekat, menyusul brankar yang terus didorong masuk.
Anindya.
Kaivan kaget. Dokter itu mengenal wanita itu?
Rangga ikut masuk ke ruang perawatan, menyisakan Kaivan berdiri sendirian di lorong yang hening. Pintu tertutup rapat di hadapannya. Jantungnya masih berdegup kencang.
Kaivan mengusap wajahnya, lalu berjalan perlahan ke arah luar. Sesampainya di samping mobilnya, ia berhenti, menarik napas panjang sebelum meraih ponselnya. Jemarinya menekan nomor seseorang.
Panggilan tersambung tak lama kemudian.
"Reynand..." suaranya rendah, serius dan mendesak. "Dengarkan aku baik-baik. Tadi aku menolong seorang wanita di tepi tebing, membawanya ke rumah sakit kota. Namanya Anindya."
Di seberang sana, keheningan yang panjang terasa menyakitkan. Hingga akhirnya suara itu terdengar bergetar, nyaris hancur.
"Anindya...?"
"Dokter di sini langsung mengenalnya, Rey. Memanggil namanya begitu panik saat melihatnya didorong masuk. Jadi coba kamu cek. Mungkin itu Anindya milikmu."
-
-
-
Bersambung...