Mala Jinaya tidak pernah menyangka satu malam akan mengubah seluruh hidupnya.
Ia hanya seorang junior di sebuah perusahaan yang terbiasa menunduk, mengalah, dan berkata "nggak apa-apa" setiap kali rekan senior memanfaatkannya.
Sampai sebuah kejadian membuatnya harus menikah diam-diam dengan Rafael Ibra—lead engineer yang bahkan nyaris tidak pernah ia temui di kantor.
Tidak ada pesta.
Tidak ada cinta.
Bahkan, tidak ada perasaan apapun di antara mereka.
Hanya sebuah pernikahan yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Dan yang lebih buruk, mereka harus berpura-pura tidak saling mengenal di tempat kerja.
Namun akankah mereka akan tetap begitu? atau ada yang berubah seiring berjalannya waktu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon songjihee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Confession
Usai kembali ke kantor dan menyelesaikan semua kerjaannya yang terbengkalai, Ibra berniat untuk langsung pulang. Tapi sialnya, sahabatnya ini masih terus mengganggunya. Dion dengan segala kebobrokannya, mengajak Ibra ke bar, tapi segera ia tolak.
"Gue enggak bisa, lo aja sama yang lain. Jangan tungguin gue karena gue enggak akan melipir kesana. Terserah, gue emang pecundang."
Ibra mematikan sambungan. Sialan sekali Dion, menyita waktunya beberapa menit. Lantas merangkak masuk ke dalam mobilnya, Ibra memasang sabuk pengaman, mengencangkannya seperti biasa. Di parkiran hanya ada satu mobil lain yang terparkir, biar Ibra tebak, itu pasti mobil pak Danang, si manager.
Dengan begitu Ibra melesat, membelah jalan ramai di pukul sembilan malam. Setelah mengantar Naya tadi siang, Ibra sudah memikirkan matang-matang semuanya. Mau bagaimanapun, semua ini sudah terjadi, dan mengambil resiko adalah tindak terpuji dibanding lari dan menyalahkan diri sendiri.
Teringat kata-kata Papa. Ibra mencengkeram kemudinya kuat-kuat.
"Pikirkan sesuai usiamu, lalu cari tahu apa yang perempuan itu butuhkan, bukan apa yang kamu ingin agar semua cepat selesai. Ingat, pernikahan bukan mainan."
"Tunjukkan tanggung jawabmu sebagai orang dewasa, sebagai laki-laki, dan sebagai anakku."
Ibra turun dari mobil setelah memarkirkan asal kendaraannya di garasi. Secepat kilat membuka pintu utama, mengetuk pintu kamar kedua orang tuanya.
Tok tok tok
Tak ada jawaban, mengecek jam tangan, Ibra tahu jam segini orang tuanya belum tidur. Ah, sial, kemana mereka?
Bersamaan dengan Ibra yang memukul tembok sebab frustrasi, muncullah sosok laki-laki tua di lantai dua dengan tongkat yang ada di tangan kanannya.
"Hey, Ibra, ada apa?"
Mata Ibra membelalak, seketika terkejut sesaat setelah menoleh dengan suara yang sudah lama tak ia dengar. "K-kakek?"
"Bagaiamana kabarmu?" tanyanya, sambil menuruni anak tangga. Wajahnya tegas, meski sudah termakan usia tapi tetap cukup berwibawa untuk membuat siapa pun yang berhadapan dengannya otomatis menjaga sikap.
Ibra masih berdiri di tempat, seperti belum benar-benar mencerna kehadiran pria tua itu di rumah.
"Kakek kok di sini?" tanyanya pada akhirnya.
"Memangnya Kakek tidak boleh datang ke rumah anak Kakek sendiri?" balasnya santai. Ia terus menuruni tangga hingga sampai di lantai bawah. "Papa dan Mamamu ada di belakang. Lagi bicara soal bisnis, yang mengerikan."
Ibra mengangguk saja sembari mengikuti langkah kakek yang membawanya duduk ke sofa. Lalu, kenapa kakeknya menekan kata terakhir? Perasaannya jadi tidak enak.
"Kamu kenapa?" Tatapan Kakek penuh selidik, memperhatikan wajah Ibra serta bahasa tubuhnya yang gelisah.
"Enggak, Ibra enggak kenapa-kenapa." Jawabannya kikuk, pastinya Kakek menyadari itu.
"Kalau tidak kenapa-kenapa, kenapa wajahmu seperti orang habis kehilangan akal?"
Tuh, kan.
"Jawab Ibra, kamu habis mengacau, kan? Kekacauan apa lagi yang akan kamu bawa sekarang?"
Ibra menghela napas panjang. "Kek, Ibra sudah bukan remaja SMA lagi. Ibra sudah tidak pernah balapan lagi, dan Ibra tidak berkelahi." Ah, Kakeknya ini seperti hidup di masa lalu.
"Kamu pasti paham maksud Kakek, Ibra."
Sejenak napas Ibra terasa terhenti. Suasana mendadak terasa berat, ditambah dengan tatapan Kakek padanya.
Apa kakeknya sudah tahu? Atau apakah Kakek pandai menebak sehingga dirinya jadi membatu seperti ini? Kalau dia sudah tahu, Ibra malu sekali. Bayangkan cucu bungsunya, yang sangat disayangi justru membuat kecewa keluarga.
Dan ketakutan Ibra pun semakin besar tatkala kedua orang tuanya muncul. Ikut duduk di sofa dan menatap dirinya bak seseorang yang kedapatan maling.
"A-ada apa?"
Ibra bersumpah bahwa dia tidak pernah merasa terintimidasi seperti ini sebelumnya. Lihat bagaimana cara Kakek, Mama dan Papa menatapnya dari sofa, mematikan.
"Bisa jelaskan kamu tadi kenapa menghilang dari kantor? Lalu, bisa jelaskan foto ini." Mama, menunjukkan sebuah foto, dimana dia sedang duduk di kursi tunggu, seorang diri.
Sial, ini kan posisi saat sedang menunggu Naya diperiksa. Tunggu, darimana foto ini berasal?
"Sebentar, Mama dapat darimana?"
"Jadi benar?" Papa bersedekap, sementara Kakek menyipitkan mata.
Ibra mengusap wajahnya kasar. Kalau begitu, mungkin ini akan sedikit lebih mudah. Setidaknya ia tidak perlu membuka semuanya dari awal. Namun tetap saja, satu kalimat itu terasa berat ketika akhirnya harus keluar dari mulutnya sendiri.
"Iya... Naya hamil."
Ketiganya terdiam.
"Usia kandungannya kurang lebih empat minggu."
Semua yang di ruang tamu sontak menghembuskan nafas berat. Dengan perasaan amat terluka, Ibra merosot dari sofa single itu. Merangkak sedikit dan berlutut di hadapan tiga orang tertua di rumahnya.
"Maaf." Satu kata yang keluar dari mulutnya seperti mengeluarkan batu besar dari tenggorokan. "Maaf Ibra telah mengecewakan kalian. Maaf Ibra gagal, sejak dulu, sampai sekarang." Kalimat susulan ini menambah kepahitannya.
Kakek, mengetuk tongkatnya di lantai, dua kali. Yang artinya pria tua itu kecewa. Kebiasaannya yang sudah di hapal oleh Ibra sejak ia masih sekolah dasar.
"Kakek--"
Bugh
Satu pukulan dari tongkat, mengenai lengannya. Ibra mengeraskan rahang, menahan sakit. Satu kali, dua kali, tiga, empat dan seterusnya. Ibra menahan erangannya tatkala benda kayu itu terus menghantam lengannya.
Kedua orang tua Ibra membuang muka. Tidak ingin melihat, inilah akibatnya kalau Kakek tahu. Jika disembunyikan, mereka pikir akan menjadi lebih parah nantinya.
"Siapkan maharmu, besok kita melamarnya."
Ibra dan kedua orang tuanya tersentak, apa-apaan ini?
"Ayah!" Mama dan Papa menginterupsi, sangat tidak setuju dengan keputusan itu. "Jangan terlalu cepat, jangan memaksa pihak yang tidak ingin," lanjut Papa kelewat frustrasi. Ck, padahal dia sudah memperingatkan ayahnya agar tidak impulsif dalam memutuskan sesuatu.
Ibra mengusap wajahnya kasar. Ia tahu, pembicaraan ini tidak akan selesai hanya karena dirinya meminta maaf. Apalagi kalau Kakek sudah ikut campur.
"Siapa yang tidak ingin? Siapa yang tidak mau jadi bagian dari keluarga kong--"
"Kakek!" Ibra berseru, masih dalam balutan cemas dia menggeleng. "Dia tidak mau menikah, kata Papa jangan dipaksa."
"Benar, tidak baik memaksa seseorang yang enggan." Papa menambahkan. "Ayah jangan terlalu keras, zaman sudah modern, banyak yang berubah."
Kakek berdecak, kedua tangannya bertumpu pada tongkatnya. "Sebaiknya kalian jangan terlalu modern. Jangan mempermalukan keluarga kita. Ibra sejak kecil sudah sering membuat masalah, dan pengacau ini tidak boleh jadi pengecut untuk selamanya."
Apa tadi? Pengecut? Kakek keterlaluan. Sudah dibilang, dirinya sudah bukan remaja nakal seperti dulu. Dia sudah dewasa dan sudah berubah.
"Turuti kata-kataku, aku tetua disini. Jadi, siapkan saja maharnya."
Tuk
Final sudah. Kakek mengetuk satu kali tongkatnya, itu tanda bahwa percakapan ini berakhir, dengan final miliknya.
***
Empat minggu.
Angka itu kembali terngiang di kepala Naya. Memejamkan mata dan kalut dengan benaknya sendiri sementara tangannya masih berada di atas perutnya yang belum menunjukkan perubahan apa pun. Kakinya yang menjuntai bergerak sehingga menimbulkan getaran di kasurnya.
Rasanya aneh. Ada sesuatu di dalam sana, tapi dari luar tidak ada yang berbeda.
Naya membuka mata perlahan, kemudian melirik ponselnya yang tergeletak di atas kasur. Sudah cukup malam. Namun matanya sama sekali belum mengantuk.
Pikirannya kembali pada siang tadi. Rumah sakit, dokter, hasil pemeriksaan, lalu Ibra. Dan pertanyaan tentang pernikahan yang sampai sekarang masih membuat kepalanya penuh.
Ponselnya bergetar di sampingnya. Naya meraihnya, layar itu menampilkan nama Bian. Butuh beberapa saat berpikir sebelum akhirnya Naya mengangkatnya.
Tak banyak perbincangan mereka, hanya Bian yang menanyakan keadannya. Naya menjawab, menyebut dirinya sedang flu berat, lantas menolak sebuah tawaran Bian tentang makanan pesan antar. Dia tidak ingin merepotkan laki-laki itu, meski Bian berkata itu sama sekali tidak merepotkan. Namun tetap saja, Naya menolak.
Keduanya pun larut dalam percakapan, tentang keluhan Lady di kantor tadi siang. Sesaat, Naya bisa melupakan kenyataan menyedihkan tentang dirinya yang sedang mengandung.
Dua puluh menit, akhirnya panggilan berakhir sebab Naya mengantuk.
"Iya, terimakasih, Kak Bian. Okey, good night."
Nyatanya itu hanya alibi Naya saja. Dia tidak boleh berlama-lama berbincang dengan Bian, jika perasaannya tumbuh, itu akan lebih menyusahkan. Selama ini, perhatian dan kepedulian Bian untuknya membuatnya lumayan terbawa perasaan.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari arah luar kamar.
Tok tok.
"Naya?" Suara Bunda memanggilnya.
"Iya, Bun?"
"Kamu belum tidur?"
"Belum."
Pintu kamar pun terbuka sedikit, kepala Bunda menyembul dari balik pintu. "Kok lampunya masih nyala? Itu kenapa posisimu kayak gitu?"
Naya terkekeh sejenak sebelum mengubah posisinya yang tadi berbaring dengan kaki menjuntai ke bawah merangkak dan berbaring di tempat yang seharusnya. "Belum ngantuk, Bun."
Bunda hanya mengangguk. "Jangan tidur terlalu malam. Kapan sembuh demamnya kalau kamu begadang."
"Iya."
Bunda menghela napas, hendak menutup pintu, tetapi sebelum itu matanya sempat memperhatikan wajah Naya. "Kamu habis nangis?"
Cepat-cepat Naya menggeleng. "Enggak, Naya habis cuci muka tadi," dustanya, suaranya bergetar.
Bunda akhirnya mengangguk dan menutup pintu, Naya kembali menatap langit-langit kamar. Bibirnya bergerak pelan, nyaris tanpa suara.
"Empat minggu..."
Kali ini suaranya bergetar.
Tangannya kembali turun ke perutnya. Dan malam itu, Naya mulai berpikir tentang satu hal yang sejak siang terus ia hindari.
Bagaimana caranya mengatakan semuanya kepada Bunda? pada Ayah? Pada keduanya? Apakah dia akan di usir?
Makasih thor lanjut up ya