Aku terbangun dan menyadari dirinya telah berpindah menjadi Freya, tokoh antagonis yang kejam, sombong, dan ditakdirkan berakhir tragis — dibenci semua orang, diceraikan dengan hina, dan mati muda. Yang lebih menyulitkan: aku memiliki suami, pria tampan namun dingin yang dalam cerita aslinya tak pernah menyayangi Freya dan justru ikut menghancurkannya.
Aku bertekad mengubah takdir. Aku tak ingin berakhir mati. Namun setiap kali aku mencoba bersikap jahat sesuai watak asli Freya demi tidak dicurigai, sang suami justru bersikap sebaliknya.
Orang lain mencela aku? Ia langsung membela dengan tajam.
Aku hanya sedikit terluka? Ia panik seolah nyawaku terancam.
Aku mencoba menjauh? Ia justru menarikku masuk ke dalam pelukannya dan melarang pergi.
"Siapa pun yang berani menyakiti isteriku, harus siap menghadapi aku," ucapnya dengan sorot mata tajam yang tak pernah kulihat dalam cerita aslinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Langkah Pertama Menjadi Kuat
Keesokan paginya, rumah terasa berbeda. Tanpa Bibi Ratih yang biasanya sibuk bergerak ke sana kemari, suasana menjadi sunyi — bukan lagi kenyamanan, melainkan keheningan yang penuh kewaspadaan. Setiap langkah terdengar jelas, setiap suara kecil membuat kami menoleh. Kepercayaan yang dulu kami berikan begitu mudah kini hancur berkeping-keping.
Aku bangun lebih awal dari biasanya. Saat melangkah ke dapur, aku melihat Ibu Arga sedang berdiri di depan jendela, menatap ke luar tanpa berkedip. Punggungnya yang dulu selalu tegap kini tampak sedikit membungkuk, seakan menanggung beban berat dikhianati oleh orang yang ia anggap saudara.
"Bu..." panggilku pelan, mendekat. "Sudah lama Ibu berdiri di sini?"
Ibu Arga menoleh, tersenyum tipis — senyum yang masih menyisakan kesedihan. "Aku hanya... berpikir, Freya. Selama belasan tahun, Ratih ada di sini. Setiap hari melihatku, melihat Arga, melihat segala hal di rumah ini. Dan aku tak pernah menyadari apa-apa." Ia menghela napas panjang. "Aku merasa bodoh sekali."
Aku mendekat dan menggenggam tangannya erat. "Bukan Ibu yang bodoh. Ibu hanya terlalu baik. Dan itulah mengapa mereka memanfaatkan kebaikan Ibu. Tapi mulai sekarang, kita takkan lagi lengah. Kita akan saling menjaga."
Saat itu Arga masuk ke dapur, wajahnya tampak segar namun matanya menyiratkan tekad yang baru saja terbentuk. Ia mendekati kami, meletakkan selembar kertas di atas meja — daftar nama dan catatan-catatan kecil yang ia tulis semalaman.
"Aku sudah mengatur segalanya," ucapnya tegas. "Pertama, penjaga tambahan sudah berjaga di setiap sudut rumah. Tidak ada orang yang boleh masuk tanpa izin kita berdua. Kedua, aku sudah memeriksa semua pegawai lain — tak ada catatan mencurigakan, tapi kita tetap harus waspada. Dan ketiga..." Ia menatapku lekat-lekat. "Aku ingin kau belajar hal-hal yang bisa melindungimu, Freya. Agar saat aku tak ada di sisimu, kau tetap bisa menjaga diri sendiri dan Ibu."
Kata-katanya membuat dadaku berdebar. Selama ini aku selalu merasa menjadi pihak yang dilindungi — orang asing yang jatuh ke cerita ini, yang hanya bisa menunggu diselamatkan. Tapi itu tak cukup lagi. Jika bahaya semakin dekat, aku tak boleh lagi lemah. Aku harus menjadi seseorang yang bisa berdiri sejajar di samping Arga, bukan di belakangnya.
"Aku mau," jawabku mantap. "Ajari aku apa saja, Arga. Aku ingin bisa melindungi diri sendiri, dan kalian berdua."
Pagi itu juga dimulai babak baru dalam hidupku. Setelah Arga berangkat ke kantor — dengan pengawalan ketat yang baru saja diatur — aku tidak lagi duduk diam menunggu. Aku mulai bergerak.
Pertama, aku memeriksa setiap sudut rumah, mencatat pintu dan jendela, memastikan semuanya terkunci. Aku mencoba mengingat tata letak setiap ruangan, setiap jalan keluar — hal-hal yang dulu kubaca di buku novel, yang kini kugunakan untuk keamanan kami. Ibu Arga memperhatikannya dengan pandangan kagum sekaligus haru.
"Kau berubah, Freya," ucapnya pelan saat kami duduk bersama di ruang tengah siang harinya. "Dulu kau tampak seperti bunga yang lembut dan rapuh. Tapi sekarang... aku melihat kekuatan di matamu. Kekuatan yang tak kalah dari Arga."
Aku tersenyum tipis, merasakan kehangatan di dadaku. "Aku hanya ingin pantas berada di sini, Bu. Di dunia ini, di samping Arga, di sisi Ibu."
Sore harinya, Arga pulang lebih awal dari biasanya. Ia membawakan sesuatu di tangannya — sebuah buku tebal tentang manajemen perusahaan, dan sebuah kotak kecil berisi alat pertahanan diri yang sederhana namun efektif.
"Mulai hari ini, kau bukan sekadar istriku," ucapnya lembut namun tegas saat kami berdiri di taman belakang, tempat yang sepi dan aman untuk berlatih. "Kau adalah mitraku. Dalam segala hal."
Ia mengajariku cara memegang alat itu dengan benar, cara berdiri agar seimbang, cara mengamati gerak-gerik orang lain sebelum mereka menyerang. Setiap kali aku salah, ia tidak menegur dengan kasar — ia memperbaiki posisiku dengan lembut, menjelaskan alasannya dengan sabar. Dan setiap kali aku berhasil melakukan sesuatu, matanya bersinar bangga.
"Lihat?" ucapnya setelah aku berhasil melakukan satu gerakan pertahanan dengan benar. "Kau lebih kuat dari yang kau kira, Freya. Kau hanya belum pernah mencobanya."
Hari itu berakhir dengan rasa lelah yang luar biasa, tapi juga rasa bangga yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Aku mulai menyadari — keberadaanku di dunia ini bukan sekadar kebetulan, bukan sekadar tokoh tambahan dalam cerita. Aku punya peran. Aku punya kekuatan. Dan aku punya orang-orang yang harus kujaga.
Namun saat malam tiba, saat kami berbaring di tempat tidur, Arga menarikku ke dalam pelukannya, wajahnya kembali tampak serius.
"Aku menerima laporan sore tadi," bisiknya. "Polisi menemukan jejak Bibi Ratih — ia menuju ke arah perbatasan kota. Tapi ada satu hal yang membuatku khawatir. Di tempat persembunyiannya, ditemukan rencana denah rumah kita. Dan ada tanda silang merah di kamarmu, Freya."
Darahku terasa mendidih, tapi aku tidak lagi gemetar ketakutan. Aku menatapnya tegas. "Biarkan dia datang. Kali ini, aku takkan lagi menjadi orang yang hanya menunggu diselamatkan."
Arga menatapku lama, lalu tersenyum bangga — senyum yang penuh cinta sekaligus kekaguman. Ia mencium keningku dalam-dalam. "Itulah wanitaku. Tapi ingat — apa pun yang terjadi, kau harus tetap hidup. Karena tanpamu, kemenangan apa pun takkan berarti bagiku."
Malam itu aku tertidur dengan tekad yang baru. Aku takkan lagi menjadi bayang-bayang dalam cerita orang lain. Aku akan menulis kisahku sendiri — kisah tentang cinta, tentang kekuatan, tentang bertahan hingga akhir. Dan siapa pun sosok bayangan yang selama ini menarik benang di balik semuanya, aku siap menghadapinya.
Mau lanjut ke Bab 26? Freya mulai merasakan ada sesuatu yang aneh di dalam dirinya — rasa rindu yang bukan miliknya, dan mimpi yang mulai berubah menjadi kenyataan... 🌙✨