Sebelum transmigrasi, Bella adalah mimpi buruk SMA Garuda Bangsa. Ketua geng. Tukang bolos. Suka membuat keributan. Nilai nyaris tidak tertolong.
Setelah transmigrasi?
Ia datang ke sekolah tepat waktu, memakai seragam rapi, membawa agenda, dan mengadakan rapat sebelum pelajaran dimulai.
Teman-temannya mengira Bella sudah bertobat.
Mereka salah.
Bella yang lama ingin menguasai gengnya. Bella yang sekarang ingin mengelolanya.
Karena jiwa yang menempati tubuh itu adalah Sarah, mantan manajer HRD yang bahkan setelah mati pun masih berpikir tentang SOP, KPI, evaluasi, dan restrukturisasi.
Kini, geng paling berandalan di sekolah punya masalah baru.
Ketua mereka bukan lagi preman.
Ketua mereka adalah HRD.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyvara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Tiga minggu berlalu sejak Bella Anastasia mengambil alih kendali administratif (Project Management) persiapan akreditasi sekolah. Hari ini adalah "Hari Penghakiman". Pukul 08:00 WIB, sebuah mobil van hitam berlogo Dinas Pendidikan Provinsi memasuki gerbang SMA Garuda. Tiga orang Asesor Akreditasi, bertindak layaknya Auditor Eksternal turun dari mobil. Dipimpin oleh Pak Gunawan, seorang pria paruh baya berkepala plontos dengan tatapan mata elang yang terkenal sangat teliti dan tidak segan memberikan nilai 'C' jika menemukan satu saja dokumen yang tidak sinkron.
Pak Surya, Kepala Sekolah, menyambut mereka di lobi utama dengan kemeja batik terbaiknya, namun senyumnya kaku dan dahinya berkeringat dingin. Di belakangnya, dewan guru berbaris rapi layaknya karyawan pabrik yang sedang diinspeksi oleh dewan direksi.
"Selamat pagi, Pak Gunawan. Selamat datang di SMA Garuda," sapa Pak Surya, menjabat tangan sang Kepala Asesor.
"Pagi, Pak Surya," jawab Pak Gunawan singkat, suaranya berat dan mengintimidasi. "Mari kita tidak usah banyak berbasa-basi. Saya punya tiga sekolah lain yang harus saya audit minggu ini, langsung bawa kami ke Ruang Arsip dan Dokumen Kurikulum. Saya ingin melihat portofolio sekolah Anda."
Pak Surya menelan ludah. "Baik, Pak. Silakan ke ruang rapat utama, kami sudah menyiapkan semuanya di sana."
Sementara rombongan eksekutif itu berjalan menuju ruang rapat, sebuah "Ruang Kendali Operasional" (Control Room) sedang beroperasi dalam mode senyap di Ruang Sekretariat OSIS.
Bella duduk di tengah ruangan, menghadap dua layar laptop. Siska (Sekretaris OSIS) bersiaga di depan database digital, sementara Dion, Riko, Tono, dan Bono berdiri tegak dengan setelan seragam paling rapi yang pernah mereka miliki, lengkap dengan lanyard (tali ID Card) bertuliskan "SATGAS ADMIN" di leher mereka.
Sebuah walkie-talkie di atas meja Bella mengeluarkan bunyi kresek statis, disusul suara Reyhan (Ketua OSIS) yang sedang mendampingi Kepala Sekolah.
"Lapor, Manajer Bella. Tim Asesor sudah memasuki Ruang Rapat Utama. Inspeksi fisik dimulai," lapor Reyhan dengan nada tegang.
"Diterima, Reyhan," balas Bella tenang, menekan tombol bicara. "Tahan kepanikanmu. Ingat, seluruh dokumen telah melewati tiga lapis Quality Control (Kendali Mutu). Fokus pada hospitality (pelayanan tamu), pastikan kopi mereka tidak pernah kosong."
Di Ruang Rapat Utama, Pak Gunawan dan dua asesor lainnya berdiri di depan deretan lemari kaca. Mereka bersiap untuk mencari kesalahan. Pak Gunawan secara acak membuka pintu lemari berlabel "Kurikulum 2024" dan menarik satu odner tebal berwarna merah.
Ia membuka halaman pertamanya, kening Pak Gunawan berkerut. Ia membalik halaman berikutnya dan keningnya semakin berkerut, namun kali ini bukan karena marah, melainkan karena terkejut. Dokumen di dalam odner tersebut tidak hanya lengkap, tetapi memiliki indexing (pengindeksan) warna berlapis. Setiap pergantian bab dibatasi oleh kertas pembatas berlabel cetak komputer, bukan tulisan tangan. Di pojok kanan atas setiap dokumen penting, terdapat QR Code kecil.
"Pak Surya..." gumam Pak Gunawan, matanya menyipit. "Apa ini?" Ia menunjuk QR Code tersebut.
Pak Surya yang sedari tadi menahan napas, langsung menjawab dengan nada yang telah diinstruksikan oleh Bella hari sebelumnya.
"Itu adalah sistem Digital Backup (Cadangan Digital) kami, Pak. Tim Asesor dapat memindai QR Code tersebut menggunakan ponsel cerdas. Anda akan langsung diarahkan ke server cloud sekolah kami yang berisi dokumen asli dalam bentuk PDF resolusi tinggi, sebagai bukti bahwa kami menerapkan paperless administration (administrasi ramah lingkungan) untuk cadangan data."
Pak Gunawan mengeluarkan ponselnya, memindai QR Code itu. Dalam dua detik, layar ponselnya menampilkan dokumen yang sama persis di sistem database yang rapi. Sang Kepala Asesor terdiam. Ia menutup odner tersebut dan mengambil odner lain di rak yang berbeda, "Laporan Keuangan Ekstrakurikuler". Ini biasanya adalah area paling berantakan di setiap sekolah.
Saat ia membuka halamannya, ia melihat tabel grafik batang, analisis Return on Investment (ROI) dari setiap klub, dan lembar "Surat Perjanjian Kinerja (SLA)" yang ditandatangani oleh setiap ketua klub.
"Zero-Based Budgeting..." bisik Pak Gunawan takjub, membaca judul sistem anggaran tersebut. Ia menoleh ke arah Pak Surya dengan pandangan yang sama sekali berbeda dari saat ia datang. "Pak Surya, saya telah mengaudit puluhan sekolah di provinsi ini selama sepuluh tahun. Saya tidak pernah melihat sistem tata kelola kesiswaan yang seprofesional ini, ini bukan standar sekolah menengah. Ini adalah standar audit korporasi multinasional."
Pak Surya tersenyum lebar, dadanya membusung bangga. "Terima kasih, Pak Gunawan. Kami melakukan restrukturisasi besar-besaran untuk memastikan mutu pendidikan kami berada di tingkat efisiensi tertinggi."
"Siapa yang merancang arsitektur sistem ini?" tanya Pak Gunawan, benar-benar penasaran. "Apakah Bapak menyewa Konsultan Manajemen Eksternal?"
Pak Surya tersenyum penuh arti. "Tidak, Pak. Ini adalah hasil sinergi dari Cross-Functional Team internal kami. Gabungan antara OSIS dan... anak-anak kami yang paling bersemangat."
Proses audit yang biasanya memakan waktu tujuh jam penuh penderitaan dan revisi, selesai hanya dalam waktu tiga jam. Tidak ada satu pun dokumen yang hilang (Zero Defect). Tim Asesor pulang dengan wajah puas, meninggalkan secarik kertas evaluasi awal di atas meja Kepala Sekolah.
Di atas kertas itu, pada kolom rekomendasi nilai akhir, tertulis huruf yang dicetak tebal: 'A' (Sangat Baik/Paripurna).
_____
Tanks udah mampir semua pembaca, oh iya jangan lupa mampir di kolom komentar ya.