“Jadi ini wanita yang akan menjadi istri ku?” Suara nya rendah penuh cemooh. “Ayah benar benar berhasil menemukan wanita yang paling membosankan untuk ku”
Dreven Orsley Dastan, pewaris keluarga Dastan, dikenal sebagai pria kasar, pengacau, sekaligus cassanova yang tak pernah serius pada wanita mana pun. Namun, sebuah kecelakaan membuatnya harus duduk di kursi roda—tanpa sedikit pun mengubah sifat liarnya.
Sampai akhirnya, sang ayah menjodohkannya dengan Elnara Sevana, gadis dingin dan cerdik yang terkenal mampu membungkam siapa pun dengan tatapan dan kata-katanya. Ia bukan wanita yang mudah dipermainkan. Setiap serangan lawan selalu dipatahkan sebelum sempat menjadi ancaman.
Elara diminta untuk melahirkan pewaris untuk keluarga Dastan , dan sebagai gantinya Saham perusahaan.
Elara terkekeh sinis, "Sepertinya tidak adil. Bagaimana jika kesepakatannya begini. Aku rubah putramu menjadi anak anjing penurut dan hadiahnya adalah perceraian untukku. Ini terdengar menguntungkan bagiku"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Bab 25 (Lanjutan) - Revisi
"Sudah menikah huh?" Nyonya Genevieve, atau yang biasa dipanggil Nyonya Eve tampak tersenyum menyeringai.
"Benar, meskipun belum dipublikasikan," ucap mata-mata Nyonya Eve.
Nyonya Eve terkekeh, "akan menarik jika dia hamil dan mempunyai anak. Tanpa adanya pernikahan yang disahkan secara resmi maka anak itu tetap anak haram dan Elara tak akan bisa menempati posisinya sebagai pewaris Astreo Group."
Mata-mata itu menunduk hormat, namun bibirnya membentuk senyum tipis. "Apakah Nyonya ingin saya menyebarkan informasi ini secara perlahan ke kalangan atas? Atau menunggu waktu yang lebih tepat?"
Nyonya Eve berdiri perlahan dari kursinya yang elegan, gaun hitam keemasannya bergoyang ringan mengikuti langkahnya. Tatapan matanya tajam, penuh rencana.
"Belum," jawabnya sambil berjalan ke jendela kaca besar di ruangannya. "Biarkan mereka nyaman dulu. Biarkan Elara merasa aman dalam pelukan keluarga Dastan. Dan saat waktunya tiba... kita hantam dengan kenyataan."
Ia berbalik menatap sang mata-mata, senyum liciknya kembali terukir. "Bagaimana reaksi publik saat tahu sang wanita itu melahirkan anak yang tak sah? Bahkan tak diakui secara resmi oleh Astreo Group. Itu akan menjadi kekacauan kecil yang menyenangkan."
"Apakah Nyonya ingin Elara dihapus secara... permanen?" tanya si mata-mata pelan, penuh kode.
Nyonya Eve tertawa pelan, namun nada tawanya dingin dan menusuk. "Belum. Kita simpan kartu truf itu untuk saat dia benar-benar merepotkan."
Ia lalu menatap lukisan besar keluarganya di dinding, matanya terhenti pada sosok seorang wanita yang kini telah tiada, seseorang yang ingin dia gantikan... dan itulah kenapa Elara harus dikalahkan karena keturunannya memiliki hak kuat dalam Astreo Group.
"Karena hanya satu orang yang pantas duduk di kursi pemimpin Astreo Group... dan itu bukan dia."
---
"Sejak kapan kau suka melukis?" tanya Dreven saat menemani Elara yang sejak siang sudah duduk melukis.
Namun, dibandingkan menemani, Dreven lebih seperti pengganggu yang terus menerus melontarkan pertanyaan dari kursi rodanya. Tapi di lain hal, Elara juga mengambil objek Dreven sebagai bahan lukisannya.
"Bisakah kau diam? Lukisanku tak akan selesai jika kau banyak tanya."
Dreven hanya mengangkat kedua tangannya menyerah, namun tetap berada di kursi rodanya di samping bangku panjang taman itu sambil memperhatikan gerakan tangan Elara yang lincah memainkan kuas di atas kanvas.
"Aku hanya tanya," gumamnya sambil menyandarkan punggung ke kursi rodanya, menatap langit yang mulai berubah jingga. "Aku penasaran... karena kau terlihat tenang saat melukis. Biasanya kau seperti singa betina kelaparan."
Elara mendengus, tapi tak bisa menyembunyikan senyum kecil di sudut bibirnya. "Singa betina lebih baik daripada boneka keluarga kaya yang tak bisa berpikir sendiri."
Dreven tertawa pelan, "Kau menyindirku?"
"Bukan sindiran kalau itu kenyataan," sahut Elara ringan tanpa menoleh, fokus pada perpaduan warna di kanvasnya.
Dreven langsung menunjukkan wajah kesalnya. "Meski begitu hartaku milyaran dollar. Kau beruntung menikah dengan pria sepertiku, kau bisa hidup foya-foya sampai mati."
Elara akhirnya menoleh, menatap Dreven dengan ekspresi datar namun sorot matanya menyiratkan ketajaman.
"Kau pikir aku miskin?" ucapnya dengan nada lebih rendah, lebih menusuk. "Kalau aku ingin hidup foya-foya, aku bisa menikah dengan pria kaya manapun yang lebih mapan dan tak sekanak-kanak dirimu. Dan setidaknya pria itu bisa berjalan."
Dreven mengerjapkan mata, tersentak oleh jawaban itu, lalu menyandarkan punggungnya di kursi roda sambil menghela napas panjang.
"Aku sedang mencoba jadi suami yang baik, tahu," gumamnya pelan. "Tapi setiap aku berusaha, kau malah lempar bom."
"Karena kau sangat pantas dimusnahkan," ucapnya dengan santai lalu kembali fokus pada kanvas dan kuasnya.
"Jika kau kaya, kenapa kau malah diadopsi keluarga Roselyn dan dinikahkan?"
Elara langsung berhenti, kemudian menatap Dreven dengan senyum tipis, "ada hal di dunia ini yang tak perlu kau ketahui."
Dreven yang tak bisa memendam rasa penasarannya kembali mengajukan pertanyaan, "Apa karena pembunuh itu? Apa kau sebenarnya keluarga terkaya di muka bumi ini lalu kedua orang tua mu meninggal dan sekarang paman atau anggota keluargamu yang lain sedang mengincar nyawamu agar harta warisan jatuh ke tangan mereka?!" Ucap Dreven panjang kali lebar sambil menambahkan bumbu dramatis.
Elara yang mendengar itu bukannya tersinggung tapi tertawa, "Apa kau balita yang sedang berkhayal?"
Dreven mendengus, tapi tak bisa menahan senyum geli melihat Elara tertawa. "Aku serius! Kalau hidupmu difilmkan, aku yakin akan jadi box office. Judulnya... Putri Pewaris Rahasia yang Diburu Paman Jahat."
Elara menggeleng pelan, masih terkekeh. "Dan kau apa? Pemeran figuran yang kerjannya hanya membuat keributan?"
Dreven memutar bola matanya dramatis. "Tidak. Aku suaminya yang tampan, sarkastik, tapi diam-diam pahlawan penjaga setia yang akhirnya menyelamatkan nyawa si putri. Meskipun kakiku lumpuh."
Elara menaikkan satu alis. "Dan kau bangun dari tidurmu setelah itu?"
Dreven tertawa kecil, lalu menyandarkan tubuhnya lebih santai di kursi rodanya sambil menatap langit. "Kau tidak akan jawab ya, kenapa Roselyn yang mengadopsi seorang putri sepertimu?"
Elara kembali menatap kanvasnya, kali ini senyumnya menghilang sedikit. "Jika tentang Roselyn, mereka mengadopsi karena uang. Apalagi?"
Dreven tersenyum, "keluarga itu memang serakah. Jika kau diadopsi oleh ayah kau tak mungkin dinikahkan dengan pria yang bahkan tak pernah kau kenali. Apalagi pria lumpuh sepertiku."
"Lalu mempunyai kakak sepertimu?"
Dreven langsung menoleh menatap Elara dengan ekspresi tak terima, "Hei! Aku ini paket lengkap. Tampan, kaya, sedikit menyebalkan, tapi sangat menggemaskan. Meskipun aku tidak bisa berjalan."
Elara mengerutkan kening sambil menahan tawa, "Menggemaskan? Dari bagian mana? Yang suka marah tidak jelas atau yang memiliki hobby bermain dengan wanita?"
Dreven pura-pura merenung. "Mungkin dari bagian... rela ditembak demi menyelamatkanmu? Meskipun aku hanya bisa melindungimu dengan tubuhku karena kakiku tidak bisa bergerak."
Elara mendecak pelan, menahan senyumnya yang hampir muncul. "Itu... satu-satunya poin yang membuatmu sedikit bisa diterima."
"Sedikit?" Dreven mengeluh dramatis, menepuk dadanya sambil tetap duduk di kursi rodanya. "Elara, kau benar-benar kejam pada pria yang mempertaruhkan nyawa demi istri. Pria lumpuh yang bahkan tidak bisa berlari menyelamatkanmu!"
Bersambung...
🤭🤭🤣🤣🤣