NovelToon NovelToon
SENOPATI TERAKHIR

SENOPATI TERAKHIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perperangan / Action
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Raden Jayengrana, seorang Senopati kepercayaan Kerajaan Mataram, dikhianati dan dibantai secara keji oleh sahabat karibnya sendiri, Wiradipa, demi sebuah intrik kekuasaan Dewan Perang. Namun, kematian bukannya menjadi akhir. Jayengrana bangkit kembali dari liang kubur setelah menyepakati sebuah kontrak darah kelam dengan entitas mistis misterius yang dijuluki (Senopati Terakhir).
​Terbangun dalam raga yang tak lagi sepenuhnya manusia dan ditandai oleh ukiran melingkar di dadanya, Jayengrana ditemani oleh Ki Jagabaya—mantan gurunya. Ia mempelajari kenyataan pahit bahwa kebangkitannya menuntut harga mahal: jiwanya perlahan terikat, kekuatannya meminjam milik entitas gaib, dan keadaannya memancarkan gelombang yang mulai menarik perhatian makhluk-makhluk misterius serta pusaka tuanya yang enggan mati.
​Di saat namanya dihancurkan oleh istana—dituduh sebagai pengkhianat negara dengan ganjaran kepala lima puluh keping perak—Jayengrana memulai perjalanannya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Kabut pagi masih menggantung rendah di antara pepohonan ketika rombongan kecil itu meninggalkan rimba tempat pertempuran semalam terjadi. Bau tanah basah dan asap yang tertinggal dari api legam masih terasa di udara. Jayengrana berjalan di depan, tombak yang disamarkan sebagai tongkat digenggam longgar di tangan kanan. Di belakangnya, istrinya memegang tangan Jaka. Pengemis Tua mengikuti dengan langkah yang lebih pelan, seolah tidak terburu-buru meski bahaya masih mengejar.

Tidak ada yang berbicara selama beberapa saat. Hanya bunyi daun basah yang terinjak dan hembusan angin yang sesekali membawa suara burung jauh.

Istri Jayengrana akhirnya membuka suara, pelan.

“Mereka sudah tahu kita ke mana.”

Jayengrana tidak menoleh. “Aku tahu.”

“Lalu mengapa kita tetap pergi?”

Pengemis Tua menjawab sebelum Jayengrana sempat berbicara. “Karena tempat yang tidak mereka ketahui justru lebih berbahaya. Watu Ireng masih memiliki dinding yang belum mereka tembus.”

Jaka menatap ke depan, matanya yang jernih tidak menunjukkan rasa takut seperti anak seusianya. “Orang itu… topeng kayunya… dia tidak marah ketika kalah.”

Jayengrana menoleh sebentar. “Kau melihat itu?”

Jaka mengangguk. “Dia seperti… menunggu. Bukan kalah.”

Kalimat itu membuat langkah Jayengrana sedikit melambat. Ia sudah merasakan hal yang sama. Pria bertopeng kayu tidak bertarung untuk menang semalam. Ia bertarung untuk mengukur.

Dan ia sudah mengukur cukup.

Mereka berhenti di tepi sungai kecil yang airnya jernih. Jayengrana berlutut, membasuh wajah dan tangan. Bekas api legam di udara masih terasa di kulitnya, seolah meninggalkan jejak dingin yang tidak mudah hilang. Tanda perjanjian di dadanya berdenyut pelan, bukan panas, melainkan seperti seseorang yang sedang mencatat.

Suara Penunggang muncul di dalam benaknya, tenang dan dalam.

*“Keputusanmu semalam… tercatat.”*

Jayengrana tidak menjawab dengan kata. Ia hanya menghela napas.

*“Kau memilih melindungi, bukan menghancurkan. Namun kau masih belum memahami mengapa pilihan itu penting.”*

“Aku tidak butuh penjelasan sekarang,” gumam Jayengrana pelan, cukup keras untuk didengar istrinya yang berdiri di dekatnya.

Istrinya menatapnya. “Dia berbicara lagi?”

Jayengrana mengangguk singkat. “Hanya mengingatkan.”

Pengemis Tua duduk di batu besar, menatap aliran sungai. “Watu Ireng bukan tempat sembunyi biasa. Ki Sura bukan orang yang mudah menerima tamu. Apalagi tamu yang membawa jejak api legam di punggung mereka.”

“Apakah dia akan menolak kami?” tanya istri Jayengrana.

“Belum tentu. Tapi dia akan menagih harga.” Pengemis Tua menoleh. “Dan harga itu mungkin bukan emas atau senjata.”

Jayengrana berdiri. “Berapa jauh lagi?”

“Dua hari jika kita tidak berhenti terlalu lama. Satu hari jika kita mau mengambil risiko melewati jalur yang lebih terbuka.”

Jayengrana menatap istrinya. “Kita ambil jalur yang lebih aman. Anak kita masih di luar. Aku tidak akan mempertaruhkan kalian lagi hanya demi kecepatan.”

Istrinya menunduk sebentar, kemudian mengangguk. Di matanya masih ada ketakutan yang belum pudar, tetapi juga keteguhan yang sama seperti semalam di Gedung Utara.

Mereka melanjutkan perjalanan. Matahari mulai naik, menembus kanopi hutan. Jayengrana sesekali mengaktifkan pecahan Mata Pemburu. Dunia di sekelilingnya menjadi lebih tajam: jejak kaki kecil hewan, benang laba-laba yang bergetar, dan… sesuatu yang lain.

Di salah satu dahan jauh, ada goresan tipis berbentuk lingkaran kecil dengan tiga garis melengkung di dalamnya.

Lambang yang sama.

Jayengrana berhenti. Jantungnya berdetak lebih cepat, tetapi ia tidak menunjukkan ekspresi.

“Ada apa?” tanya Pengemis Tua.

“Tidak ada.” Jayengrana melanjutkan langkah. Ia tidak ingin berbicara tentang itu sekarang. Bukan di depan istrinya. Bukan di depan Jaka.

Namun di dalam benaknya, Penunggang berbisik lagi.

*“Dia sudah menandai jalanmu.”*

Jayengrana mengeratkan genggaman pada tombaknya.

“Aku tahu,” jawabnya dalam hati.

Di kejauhan, di balik kabut yang mulai menipis, siluet desa kecil mulai terlihat di lereng bukit. Atap-atap dari ilalang, asap dapur yang naik pelan, dan suara lonceng kayu yang berdentang pelan terbawa angin.

Desa Watu Ireng.

Namun sebelum mereka sempat merasa lega, Jaka tiba-tiba menarik lengan Jayengrana.

“Ada yang menunggu di depan,” bisik anak itu.

Jayengrana menajamkan indranya. Naluri Niat menangkap sesuatu: bukan permusuhan yang kasar, melainkan kewaspadaan yang sangat dalam. Seperti seseorang yang sudah lama berdiri di ambang pintu, menunggu tamu yang sudah dijanjikan datang.

Di ujung jalan setapak, di bawah pohon besar yang akarnya mencuat, berdiri seorang lelaki tua. Tubuhnya tegap meski rambutnya sudah memutih. Kedua tangannya disembunyikan di balik lengan baju longgar. Matanya tajam, tidak terkejut, seolah ia memang sudah menunggu sejak pagi.

Pengemis Tua berhenti di samping Jayengrana.

“Itu Ki Sura,” katanya pelan.

Lelaki tua itu menatap langsung ke arah Jayengrana, kemudian ke istri dan Jaka, lalu kembali ke Jayengrana.

Suara yang keluar dari mulutnya rendah, tetapi jelas sampai ke telinga mereka.

“Kalian datang lebih cepat dari yang kukira.”

Jayengrana tidak menjawab. Ia hanya berdiri tegak, tombak masih digenggam, siap.

Ki Sura mengalihkan pandangannya ke arah hutan di belakang mereka, seolah bisa melihat sesuatu yang tidak terlihat oleh mata biasa.

“Dan jejak yang kalian bawa… lebih berat dari yang seharusnya.”

Angin berembus. Daun-daun di atas kepala mereka bergoyang.

Ki Sura menatap Jayengrana sekali lagi.

“Masuklah. Tapi ingat… di desa ini, setiap orang yang membawa rahasia harus siap membayarnya.”

1
Semoli Ginon
sedikit demi sedikit lama2 jadi bukit mantapp👍
Semoli Ginon
lanjut thor ...
Semoli Ginon
jut lanjut thor
Semoli Ginon
skill yang mantap mas saka..👍
Semoli Ginon
lanjut thor jangan kendor👍
Semoli Ginon
apakah ini ghostrider versi mataram? 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!