NovelToon NovelToon
Kamu Di Lapangan Padel

Kamu Di Lapangan Padel

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:655
Nilai: 5
Nama Author: wabula

Baska tak pernah tertarik pada olahraga hidupnya cuma berputar antara kantor dan kasur. Sampai suatu hari, karena tak sengaja merusak koleksi berharga sahabatnya, ia terpaksa ikut main padel sebagai ganti rugi. Siapa sangka, sebuah smash yang meleset dan membuat kepalanya berdarah justru mempertemukannya dengan Zia admin lapangan yang cantik, ramah, dan punya cara sendiri membuat siapa pun merasa nyaman di dekatnya. Dari luka kecil di pelipis, tumbuh benih cinta yang membuat Baska rela mengambil kelas privat, bukan demi jago bermain, tapi demi alasan untuk terus kembali menemuinya. Namun kebahagiaan yang mereka bangun perlahan diuji ketika bayangan masa lalu Zia seorang mantan bernama Ali tiba tiba muncul kembali, membawa kesalahpahaman demi kesalahpahaman yang nyaris menghancurkan semuanya. Akankah cinta yang tumbuh dari lapangan sederhana itu cukup kuat bertahan melawan kecemburuan, keraguan, dan bayang bayang masa lalu yang menolak pergi? Kamu di Lapangan Padel adalah kisah tentang bagaimana cinta sejati sering kali lahir dari hal paling tak terduga dan diuji oleh hal yang paling sulit untuk dilepaskan: kepercayaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wabula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kunjungan yang semakin sering

Seminggu setelah kemunculan pertamanya tersebut, Ali mulai semakin sering terlihat di Sport Padel, tidak hanya sekali dua kali booking lapangan, melainkan menjadi pelanggan rutin yang datang hampir setiap minggu, bahkan beberapa kali mengambil kelas privat dengan Coach Yudha yang sama seperti yang pernah diikuti Baska sebelumnya. Zia, yang menyadari pola tersebut, mulai merasakan ketidaknyamanan yang semakin bertambah setiap kali harus melayani mantan kekasihnya tersebut secara profesional.

"Zia, gimana kabar kamu belakangan ini?" tanya Ali suatu sore, ketika dia datang untuk booking lapangan seperti biasa, mencoba memulai percakapan yang lebih personal dari sekadar transaksi rutin.

"Baik, Ali. Kamu mau booking jam berapa hari ini?" jawab Zia dengan nada yang tetap profesional, berusaha menjaga jarak yang sopan meski dalam hatinya dia merasakan sedikit ketidaknyamanan atas pertanyaan yang terkesan lebih personal tersebut.

Ali, yang tampaknya tidak menyerah untuk mencoba membangun kembali komunikasi yang lebih dekat dengan Zia, terus berusaha menyisipkan topik-topik ringan setiap kali dia datang, menceritakan berbagai hal mengenai pekerjaan barunya, atau bertanya mengenai perkembangan hidup Zia selama beberapa tahun terakhir sejak mereka berpisah.

"Zia, aku beneran minta maaf soal yang dulu. Aku tau aku salah banget ninggalin kamu tanpa penjelasan yang jelas," ujar Ali suatu hari, mengulang kembali permintaan maaf yang sudah pernah dia sampaikan sebelumnya, namun kali ini dengan nada yang terdengar lebih tulus dan mendalam.

Zia, yang mendengar permintaan maaf tersebut, merasakan campuran perasaan yang kompleks, antara keinginan untuk memaafkan demi ketenangan batinnya sendiri, namun juga kewaspadaan mengenai bagaimana hal tersebut mungkin akan mempengaruhi hubungannya dengan Baska yang sedang berjalan begitu baik. "Aku udah maafin kamu kok, Ali. Tapi itu udah masa lalu, sekarang aku udah move on dan bahagia sama pacar aku."

"Aku seneng dengernya, Zia. Aku cuma pengen kamu tau, aku beneran menyesal," jawab Ali dengan nada yang tulus, meski di balik kata-kata tersebut, tersimpan sedikit harapan yang belum sepenuhnya dia sadari sendiri mengenai kemungkinan untuk kembali dekat dengan Zia.

Reta, yang beberapa kali menyaksikan interaksi tersebut dari kejauhan, mulai merasa khawatir dengan intensitas kunjungan Ali yang semakin sering tersebut. "Zi, kamu harus hati-hati. Ali tuh keliatannya masih ada maksud lain, bukan cuma sekadar minta maaf doang."

"Aku juga ngerasa gitu, Ret. Tapi aku bingung gimana cara nolaknya tanpa keliatan kasar, kan dia pelanggan juga di sini," jawab Zia dengan nada frustrasi, menyadari posisinya yang cukup sulit mengingat statusnya sebagai admin yang harus tetap ramah kepada seluruh pelanggan, termasuk mantan kekasihnya sendiri tersebut.

"Coba deh, kamu batesin interaksi sama dia seminimal mungkin, cuma sebatas urusan booking aja. Kalau dia masih maksa ngajak ngobrol personal, kamu bisa bilang lagi sibuk," saran Reta memberikan solusi praktis yang bisa membantu Zia menjaga batasan profesional tersebut tanpa harus bersikap kasar terhadap pelanggan.

Zia mengangguk, mencoba menerapkan saran tersebut pada kunjungan Ali berikutnya, meski dia sendiri menyadari bahwa situasi tersebut cukup rumit mengingat frekuensi kedatangan Ali yang semakin sering tersebut membuatnya semakin sulit untuk sepenuhnya menghindari interaksi personal dengan mantan kekasihnya itu. Sementara itu, tanpa Zia ketahui, salah satu rekan kerja Baska yang kebetulan juga menjadi anggota Sport Padel, mulai memperhatikan pola kunjungan Ali tersebut dan interaksinya dengan Zia, sebuah informasi yang akan segera sampai ke telinga Baska dengan cara yang mungkin tidak sepenuhnya menggambarkan situasi yang sebenarnya terjadi.

Rekan kerja tersebut, seorang pria bernama Farhan yang cukup akrab dengan Dika, kebetulan bertemu dengan Dika di kantor beberapa hari kemudian, menyinggung soal apa yang dia lihat di Sport Padel tanpa menyadari bahwa informasi tersebut akan sampai kepada Baska dengan konteks yang mungkin sedikit berbeda dari kenyataan sesungguhnya.

"Eh, Dik, gue kemarin main padel, liat ada cowok yang lumayan sering ngobrol sama admin cakep di sana, namanya Zia kalau nggak salah. Kayaknya deket banget deh mereka," ujar Farhan santai, tidak menyadari bahwa Zia adalah pacar dari sahabat baik Dika tersebut.

Dika, yang langsung teringat pada Zia begitu mendengar nama tersebut, merasa sedikit khawatir namun berusaha untuk tidak langsung berasumsi buruk. "Oh, itu Zia pacarnya Baska, Han. Tapi kayaknya dia emang ramah aja ke semua pelanggan kok."

"Oh gitu ya, maaf deh kalau gue salah ngomong," jawab Farhan sedikit canggung, menyadari kekeliruannya dalam menyampaikan informasi tersebut tanpa konteks yang lengkap, namun kata-kata tersebut sudah terlanjur menciptakan sedikit keraguan dalam benak Dika, yang mempertimbangkan apakah dia perlu menyampaikan hal tersebut kepada Baska atau tidak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!