NovelToon NovelToon
Ibu,Maaf Aku Harus Pergi

Ibu,Maaf Aku Harus Pergi

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan / Anak Genius
Popularitas:510
Nilai: 5
Nama Author: Cuek Tapi Manis

Sejak kecil Husnan hanya memiliki satu impian: membahagiakan ibunya. Demi adiknya, ia rela kehilangan segalanya, bahkan harus berpisah dengan keluarga yang dicintainya. Bertahun-tahun kemudian ia kembali sebagai pria sukses. Namun yang menunggunya bukanlah pelukan hangat, melainkan seorang adik yang telah menjadi anak durhaka dan seorang ibu yang telah terlalu lama menangis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cuek Tapi Manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hitungan Mundur Tujuh Hari

Bel istirahat sudah berbunyi.

Sebagian Anak-anak langsung berhamburan keluar dari kelas.

Husnan masih duduk diam di bangkunya.

Fajar dan Ferdi saling berpandangan.

"Hus,kamu beneran gak kenapa-kenapa?" tanya Fajar pelan.

Husnan menggeleng. "Enggak,kok Cuma... aneh aja gitu."

Naura ikut duduk di depan meja Husnan.

"Urusan keluarga? Emang Om Hendra gak pernah cerita apa-apa ke kamu tentang seseorang?"

Husnan menggeleng.

"Om Hendra bilang dia tidak tahu seseorang bosnya Pak Arman."

Ferdi langsung duduk di samping Husnan.

"Terus yang nelpon tadi siapa? Jangan-jangan ayah kamu?"

Husnan terdiam. Kata 'ayah' itu langsung menusuk hati kecilnya. Terakhir ia melihat wajah ayahnya pas saat mau tidur sebelum meninggalkannya.

Di luar sekolah, Pak Bambang sudah datang dan menunggunya.

Tapi kali ini dia tidak sendirian.

Ada satu pria berdiri di samping mobilnya.

Berjas hitam. Rambut disisir rapi. Memakai kacamata hitam.

Pak Bambang terlihat gugup.

"Halo pak, bapak lagi nungguin siapa ya?"

Pria itu tersenyum tipis.

"Saya menunggu Husnan."

Pak Bambang terdiam sejenak.

"Mungkin anda salah orang pak? Husnan itu anak yang di asuh bos saya"

Pria itu menatap ke arah Bambang.

Sorot mata pria itu begitu dingin, membuat Pak Bambang reflek mundur satu langkah.

Udara di sekitar mobil mewah itu mendadak terasa mencekam.

Pak Bambang bisa merasakan keringat dingin mulai membasahi tengkuknya.

Pria berjas hitam itu kemudian merapikan ujung lengan kemejanya dengan gerakan pelan namun penuh penekanan, seolah sedang menegaskan kekuasaan yang ia miliki. "Kamu tidak perlu tahu siapa aku, Bambang.

Tugasmu hanya menjaga dia, bukan mempertanyakan kehadiranku," lanjut pria itu dengan suara rendah yang penuh ancaman.

"Oh ? Tapi mungkin bos kamu tidak tahu,anak yang di asuh itu adalah anakku."

Bambang menundukkan kepala.

"Kalau boleh tahu siapa nama bapak.?"

Pria itu tidak menjawab. Matanya terus menatap gerbang sekolah.

Dari kejauhan, ia melihat Husnan yang sedang berjalan bersama Fajar dan Ferdi.

"Pak tolong pastikan dulu soal Husnan, mungkin Husnan yang anda maksud bukan anak itu"

Pria itu memandang matanya Bambang dengan serius.

"Kamu itu siapa , aku sudah lihat Husnan tadi dan tidak mungkin salah,tapi sekarang aku belum mau bertemu dengannya "

Pria itu berjalan pelan. Lalu masuk ke dalam mobil hitam.

Sebelum pergi ia berbisik kepada sopir.

"Suruh Arman untuk terus memantau Husnan."

Sopirnya mengangguk.

Perlahan mobil itu berjalan meninggalkan sekolahan.

Di kantin sekolah.

Husnan sedang menyeruput es teh. Tapi pikirannya entah kemana.

Fajar yang sedang menatap keluar sekolah melihat mobil hitam yang sedang berjalan meninggalkan tempatnya.

Fajar kemudian nyikut lengannya Husnan.

"Eh Hus, liat tuh."

Husnan menoleh dan melihat mobil tersebut

.

"Kenapa?"

"Masa kamu gak tahu."

Husnan menggeleng.

"Mobil itu dari tadi itu cuma parkir doang lalu pergi begitu saja kayak aneh gitu"

"Terus?"

"Seolah mobil itu sedang memantau seseorang."

Jantung Husnan berdegup.

"Jar..."

"Iya?"

"Aku yakin. Dia lagi ngawasin aku."

Ferdi tegang. "Tunggu apa lagi, lapor ke guru."

Husnan menggeleng. "Jangan dulu.Aku mau tahu dulu... dia siapa."

Beberapa saat kemudian bel sekolah berbunyi lagi.

Mereka bertiga langsung bergegas menuju ke kelasnya.

"Ayok masuk kelas jangan di pikiran lagi Hus,nanti juga kamu tahu sendiri." Ucap Fajar.

Husnan mengangguk.

Di dalam kelas, Husnan sama sekali tidak bisa fokus.

Suara guru yang sedang menjelaskan materi Matematika terdengar seperti dengungan samar di telinganya. Tatapannya kosong tertuju pada buku tulis, namun jarinya tanpa sadar terus mencoret-coret pola abstrak.

Fajar yang duduk di sebelahnya menyenggol lengan Husnan pelan, memberikan isyarat mata agar Husnan kembali memperhatikan papan tulis.

Namun, tepat saat Husnan mendongak pandangannya tidak sengaja menatap ke arah luar jendela kelas.

Di seberang lapangan, di dekat koridor perpustakaan, sesosok bayangan yang sangat familiar baru saja melintas.

Jantung Husnan berdegup kencang,ia mengucek matanya lalu melihatnya kembali.

Namun yang ia lihat hanyalah hayalan semata.

Husnan menghela napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dengan lemas.

Ia memijat pelipisnya yang mulai terasa pening.

Fokusnya benar-benar hancur berantakan.

Bayangan seraut wajah tegas milik ayahnya yang samar-samar ada di ingatannya kini terus berputar seperti kaset rusak.

Mengapa ingatan lama itu harus muncul kembali sekarang? Di depannya, Bu Guru masih terus menuliskan rumus di papan tulis, namun bagi Husnan, deretan angka itu tampak buram, tertutup oleh rasa penasaran yang kian menyiksa dadanya.

"Kenapa sih sosok itu sering memenuhi di pikiranku, apakah memang benar sosok itu ada hubungannya denganku."

Malamnya di rumah.

Husnan duduk di tangga sambil memeluk tasnya.

Om Hendra menghampiri.

"Kamu kenapa? Dari pulang sekolah kok diem aja."

Husnan menatap Om Hendra.

"Om... beneran gak kenal bosnya Arman?"

Hendra terdiam lama. Lalu menghela napas.

"Beneran Hus Om gak kenal sama bosnya pak Arman, kenapa masih gak percaya?"

"Enggak begitu om, aku masih kepikiran yang aku lihat kemarin."

Hendra mengelus kepala Husnan.

"Kamu yang sabar ya Hus.. mungkin itu memang ada hubungannya dengan kamu, tapi om tidak tahu."

"Iya Om aku akan sabar semampu aku."

"Anak baik kalau begitu tidur dulu ya ini sudah malam,Om juga mau tidur."

Husnan mengangguk.

Kemudian Hendra berjalan ke kamarnya, sesekali melihat wajah Husnan yang gelisah itu.

Husnan masih duduk di tangga lalu berjalan menuju ke kamarnya.

Jam 11 malam Husnan masih belum tidur.

Suara detak jam dinding di ruang tengah terdengar begitu nyaring di tengah keheningan malam.

Jarum jam terus berputar, melewati angka sepuluh, lalu bergeser perlahan menuju angka sebelas.

Husnan berguling ke kanan dan ke kiri di atas kasurnya.

Kamarnya terasa begitu sunyi, hanya diterangi oleh temaram lampu tidur di sudut ruangan.

Berulang kali ia memejamkan mata, namun setiap kali terpejam, rasa gelisah justru semakin menyiksa dirinya.

Akhirnya, ia memutuskan untuk bangkit dan keluar kamar untuk mengambil segelas air hangat untuk menenangkan pikirannya.

Tiba tiba ia mendengar ponsel om Hendra yang ketinggalan di atas meja ruang tamu.

Suara berbunyi satu kali ia mengabaikannya, tetapi ponselnya berbunyi lagi, lalu ia memberanikan diri untuk melihatnya.

Setelah sampai di ruang tamu,Husnan langsung menatap ke ponsel milik om Hendra.

Ia membaca pesan itu dari Arman.

"Siap siap , seminggu lagi Husnan akan tahu siapa yang di lihatnya kemarin pagi."

Husnan langsung terpaku di tempat.

"Apakah benar yang aku lihat kemarin di dalam mobil itu ayahku??"

Pertanyaan itu terus menggema di kepala Husnan, membuat seluruh sendi di tubuhnya terasa lemas seketika. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia bisa mendengar detaknya sendiri.

Layar ponsel di genggamannya perlahan meredup, namun kata-kata dari Pak Arman seperti sudah tercetak permanen di otaknya.

Seminggu lagi. Husnan meremas pinggiran meja ruang tamu untuk menahan tubuhnya agar tidak terjatuh.

Rahasia besar apa yang sebenarnya sedang disembunyikan oleh orang-orang dewasa di sekitarnya?

1
the virtuso
saling support kak
Putry Chan
💪
Otna Forever
Siiip, lanjutkan
Obby Ilhamsyah: semangat nulis novelnya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!