Reyga membenci aturan ayahnya. Berry membenci cinta karena perceraian orang tuanya.
Keduanya memilih hidup bebas dengan cara masing-masing—sampai mereka menyelamatkan seorang bayi berusia sembilan bulan dari penculikan.
Tak tahu siapa orang tua bayi itu, Reyga dan Berry terpaksa merawatnya bersama.
Dua lelaki yang bahkan tak tahu cara mengganti popok itu perlahan belajar tentang tanggung jawab, pengorbanan, dan perjuangan seorang ibu.
Di saat Reyga mulai jatuh cinta pada Amelia, reporter muda yang selama ini selalu ia hindari, Berry justru dihantui masa lalu bersama Melda—perempuan polos yang pernah ia sakiti hingga harus menghadapi kehamilannya seorang diri.
Namun ketika identitas bayi mulai terungkap, mereka sadar bahwa penculikan itu bukan kebetulan.
Bayi kecil yang awalnya mereka anggap sebagai beban ternyata menjadi jalan bagi dua lelaki yang terluka untuk menemukan cinta, keluarga, dan kesempatan kedua.
Bila suka ceritanya, jangan lupa subscribe, like, komentar & votenya ❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18 : KETIKA REYGA MULAI KEWALAHAN (BAGIAN 2)
...BAB 18...
...KETIKA REYGA MULAI KEWALAHAN...
...(BAGIAN 2)...
Reyga menatap mangkuknya. "Lo kenapa sih? Susah makan dari tadi?" Bintang malah tertawa.
Dika dan Intan di sana sudah heboh. "Kak Lia! Benar itu Reyga!"
"Kita minta tanda tangan yuk!" ajak Intan.
Amelia menghela napas. "Kalian jangan mengganggunya..."
"Tapi Kak..." Dika menarik tangan Amelia. "Sebentar saja. Kakak kan sudah pernah wawancarai dia!"
Akhirnya Amelia mengalah. "Ya sudah sebentar saja ya..." melasnya.
Mereka mendekati meja Reyga. Reyga baru menyadari kehadiran mereka.
Ia menatap Amelia. "Kau?"
Amelia tersenyum canggung. "Ha, halo. Kebetulan sekali kita ketemu di tempat ini."
Dika dan Intan berdiri di depan Reyga. "Hallo Kak Reyga, boleh kami minta tanda tangan?"
Reyga terlihat sedikit bingung. "Tanda tangan?"
"Iya!" angguk mereka.
"Boleh, tapi aku tidak bawa pulpen."
Intan membuka tasnya dan mengeluarkan pulpen dan buku diarinya. "Aku bawa Kak!"
"Dika juga Kak." Dika juga mengeluarkan buku miliknya di tas.
Lalu Reyga menandatanganinya satu-persatu. Kedua adik Amelia tersenyum puas. "Terima kasih Kak Reyga!"
Reyga mengangguk. "Sama-sama..."
Amelia tersenyum canggung. "Maaf ya, Kedua adikku mengganggu aktivitasmu."
Reyga mendelik. "Jadi mereka berdua ini adikmu?"
Amelia mengangguk. "Ya."
Reyga tersenyum kecil menatap Dika dan Intan yang terlihat senang memandangi bukunya yang sudah ada tandatangan dirinya.
Tiba-tiba Bintang merengek. Amelia memperhatikan beberapa saat.
"Dia belum makan?" tanya Amelia setelah melihat mangkuk bubur yang masih penuh.
"Gue sudah mencoba menyuapinya sejak tadi."
"Berapa suap?"
Reyga melihat mangkuk. "Ada dua suap kayaknya."
Amelia hampir tertawa. "Sejak tadi?"
"Iya." Reyga terlihat kesal. "Dia keras kepala sekali."
Amelia duduk di kursi sebelahnya. "Boleh aku yang nyuapin Bintang?"
Reyga terdiam sebentar. Kemudian menyerahkan sendok. "Silakan."
Amelia mengambil mangkuk di meja. Ia tersenyum kepada Bintang. "Hallo Bintang tampan, ayo makan dulu buburnya yuk."
Bintang menatapnya. Amelia menyuapkannya sedikit. Tiba-tiba Bintang langsung membuka mulut.
"Aaam.., ih pinter.." puji Amelia.
Reyga pun membeku. Bubur itu masuk ke mulut Bintang, satu suap, dua suap, tiga suap.
Reyga memperhatikannya tidak percaya.
"Di-dia_ mau makan."
Amelia tersenyum. Suapan berikutnya masuk lagi.
Reyga bersandar di kursi. "Kenapa kalau sama gue susah?"
Amelia tertawa. "Mungkin karena kamu terlalu tegang."
"Gue?"
"Iya."
Reyga mengernyit. "Aku cuma kasih makan."
"Ekspresi kamu itu seperti mau menginterogasi dia." ledek Amelia.
Dika dan Intan tertawa. Reyga menatap mereka. "Heh. Kalian berdua jangan ikut-ikutan."
Bintang pun ikut tertawa melihat Reyga kesal.
Sementara Amelia sibuk menyuapi Bintang. Dika dan Intan masih berdiri di depan Reyga dengan wajah penuh kekaguman.
"Kak Reyga, aku sering lihat pertandingan Kakak!" kata Dika antusias lantas duduk di kursi dekat Reyga.
Reyga yang sedang memegang sendok menoleh.
"Sering?"
Dika mengangguk cepat. "Iya! Aku suka waktu Kakak nyalip pembalap nomor tujuh di tikungan terakhir."
Reyga langsung mengangkat alis "Lo ngerti balapan?"
"Sedikit."
"Sedikit?"
Dika tersenyum bangga. "Tapi aku hafal nama beberapa pembalap."
Reyga tertarik. "Kalau begitu, menurut lo bagian paling susah dari balapan itu apa?"
Dika berpikir. "Emm, menjaga konsentrasi?"
Reyga tersenyum. "Benar."
Dika terlihat semakin senang. "Kalau Kakak sendiri paling suka balapan di lintasan mana?"
Reyga mulai menjawab.
Percakapan mereka semakin lama semakin panjang.
Dika ternyata memang penggemar Reyga.
Ia tahu beberapa pertandingan yang pernah diikuti Reyga, bahkan hafal motor yang biasa digunakannya.
Reyga yang awalnya hanya menjawab seperlunya perlahan menjadi lebih santai.
"Kalau kamu mau jadi pembalap, jangan cuma suka ngebut," kata Reyga.
Dika mengangguk serius. "Terus?"
"Harus bisa belajar mengendalikan motor."
"Berarti nggak boleh asal berani?"
"Nggak." Reyga menunjuk kepalanya. "Pembalap itu bukan cuma pakai tangan dan kaki. Otak juga."
Dika tertawa. "Iya, Kak."
Sementara itu, Amelia sedang sibuk menyuapi Bintang.
Ia sesekali melirik ke arah mereka. Tanpa sadar bibirnya membentuk senyuman. Ada sesuatu yang membuatnya senang melihat Reyga bisa bercakap-cakap dengan Dika seperti itu.
Reyga yang selama ini selalu terlihat dingin ternyata bisa juga bersikap santai ketika menemukan orang yang memiliki minat yang sama dengannya.
Intan pun tidak mau ketinggalan. "Kak Reyga, kalau balapan itu takut jatuh nggak?"
Reyga menoleh. "Ya, rasa takut pasti ada."
Intan terlihat kaget. "Pembalap juga bisa takut?"
"Iya."
"Lalu kenapa tetap balapan?"
Reyga terdiam sebentar. "Karena takut bukan berarti harus berhenti. "
Intan mengangguk-angguk. "Waah Kak Reyga hebat."
Dika langsung menyela. "Kak Reyga, nanti kalau aku besar boleh ikut balapan seperti Kakak?"
Reyga tersenyum. "Boleh."
Mata Dika berbinar.
"Tapi..."
Dika langsung serius. "Tapi apa Kak?"
"Harus izin sama kakakmu."
Dika menoleh kepada Amelia. Amelia yang sedang menyuapi Bintang langsung mengangkat wajah.
"Jangan ikut-ikutan dia!" tegasnya menyipitkan matanya.
Reyga tertawa. Dika ikut tertawa. "Yah, Kak Amelia."
"Pokoknya sekolah dulu." tegas Amelia.
"Iya." Reyga mengangguk setuju. "Bagus."
Amelia kembali menyuapi Bintang. Namun kali ini senyumnya tidak hilang.
Entah kenapa melihat Reyga bercanda dengan kedua adiknya membuat hatinya terasa hangat.
Lelaki itu tidak terlihat seperti Reyga yang biasanya ia temui di arena. Tidak galak. Tidak mudah kesal. Tidak terus-menerus memasang wajah dingin.
Bahkan sesekali ia tertawa lepas mendengar pertanyaan Dika dan Intan.
Amelia menatapnya beberapa detik. Kemudian buru-buru mengalihkan pandangan saat Reyga menoleh ke arah Bintang.
"Kenapa aku malah memperhatikannya?" gumamnya dalam hati.
Ia kembali fokus pada Bintang. "Ayo sayang, satu suap lagi."
Bintang membuka mulut. Reyga langsung melongo.
"Hebat. Anak pintar." Amelia tersenyum lantas mengusap sudut bibir Bintang dengan tissue.
Amelia melihat Reyga yang memperhatikannya terheran. "Kenapa?"
"Dia kok kalau sama gue susah sekali."
"Mungkin karena kamu terlalu serius."
"Gue kan cuma kasih dia makan juga."
"Iya karena ekspresi kamu seperti sedang menyuruh dia bayar utang." canda Amelia lagi.
Dika dan Intan pun tertawa lagi. Reyga menatap mereka dengan raut sinis. "Nggak ada yang lucu!"
"Maaf, Kak." Namun Dika masih tertawa.
Tidak terasa, makanan Bintang hampir habis. Reyga melihat mangkuk yang tinggal sedikit.
"Terima kasih." ucapnya.
Amelia menyerahkan sendok. "Sama-sama."
"Sepertinya dia memang lebih nurut sama Lo."
"Sama anak kecil memang harus lebih sabar."
Reyga mengangguk. Kemudian ia teringat sesuatu. "Berry masih sibuk beberapa hari ini?"
"Berarti kamu sendirian mengurus Bintang?"
"Ya untuk sementara." Reyga mengusap wajah. "Ribet juga."
Amelia tersenyum. "Kalau kamu kewalahan, kamu bisa minta bantuanku."
Reyga menatapnya. "Serius?"
"Iya."
"Jangan cuma ngomong."
Amelia tertawa kecil. "Memangnya aku pernah bohong?"
Reyga tidak menjawab. Ia terlihat berpikir.
Sebenarnya sejak Berry pergi, ia beberapa kali merasa benar-benar kerepotan. Bintang bisa menangis tiba-tiba. Kadang tidak mau makan.
Kadang sulit tidur. Dan Reyga masih harus mengurus kebutuhan lainnya.
Sekarang ia sudah tahu bahwa Amelia cukup pandai menghadapi Bintang.
Namun meminta bantuan secara langsung tetap membuatnya sungkan.
Apalagi Amelia memiliki pekerjaan sendiri.
Reyga menarik napas. Akhirnya ia mengambil ponselnya.
"Amelia."
"Ya?"
"Boleh aku minta nomor HP-mu?"
Amelia sedikit terkejut. "Nomorku?"
Reyga mengangguk. "Kalau nanti aku mendadak butuh bantuan soal Bintang."
Amelia terdiam sesaat. Kemudian tersenyum.
"Oh." Ia mengambil ponselnya di dalam tas.
"Ya sudah ini." Amelia lalu menyebutkan nomor teleponnya.
Reyga menyimpannya. "Nama?"
"Amelia." Reyga mengetik.
Kemudian memperlihatkan layar ponselnya.
"Sudah."
Amelia mengangguk. "Kalau memang butuh bantuan, hubungi saja."
Reyga memasukkan ponselnya ke saku. "Iya."
Dika tiba-tiba menyela.
"Kak Reyga, nomor Kak Amelia jangan cuma buat Bintang."
Amelia langsung menoleh. "Dika!"
Dika tertawa. "Kan biar bisa ngobrol soal balapan juga."
Reyga justru tertawa.
"Anak ini."
Intan ikut tertawa.
Amelia menggeleng sambil tersenyum malu.
"Jangan didengarkan."
Reyga mengangguk. "Iya."
Namun sebelum berdiri, Reyga kembali melihat layar ponselnya. Nomor Amelia sudah tersimpan.
Entah mengapa, ia merasa sedikit lebih tenang.
Setidaknya, kalau suatu hari dirinya benar-benar kewalahan menghadapi Bintang, ada seseorang yang bisa ia hubungi.
Dan untuk saat ini, itu sudah cukup.
Bersambung...