Tiga tahun menikah, Rendy selalu dihina, diperlakukan seperti pembantu, dan dibeda-bedakan oleh ibu mertua serta iparnya karena hanya dianggap seorang sopir miskin tak berpendidikan. Clarissa, sang istri, hanya bisa diam menahan tekanan keluarga besarnya. Puncaknya, saat bisnis keluarga mengalami krisis, Rendy difitnah mencuri, dipaksa menandatangani surat cerai, dan diusir di tengah hujan deras tanpa membawa apa pun.
Namun, keluarga itu tak pernah tahu bahwa Rendy sebenarnya adalah satu-satunya ahli waris Pradipta Group—konglomerat terbesar yang sengaja menyamar demi menguji ketulusan cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian Mita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Ruang Kerja Terkunci
Langkah kaki Siska seketika membeku tepat dua pijakan dari pintu utama. Sekretaris berparas cantik itu terbelalak menyaksikan pemandangan intim di hadapannya—Clarissa berlutut di atas karpet dengan tangan yang digenggam erat oleh Rendy, sementara posisi wajah mereka nyaris tak berjarak.
"T-Tuan Presdir... maafkan saya..." ujar Siska gagap, raut wajah cantiknya berubah pucat pasi seraya menahan gejolak cemburu yang membakar ulu hatinya. "Saya... saya hanya ingin menyerahkan berkas laporan sore..."
Rendy tidak melepaskan cengkeramannya di pergelangan tangan Clarissa. Pria tegap itu berdiri anggun, menoleh dingin ke arah Siska tanpa mengikis dominasi dari gesturnya.
"Keluar, Siska," perintah Rendy pendek. Suaranya rendah, berat, dan amat mengintimidasi. "Jangan ada siapa pun yang mengganggu atau memasuki ruanganku sampai aku memberi perintah."
"B-baik, Tuan Presdir..." sahut Siska dengan bibir gemetaran. Ia berbalik dan melangkah pergi dengan kekalahan mutlak.
CLLACK!
Sistem pengunci otomatis di pintu kayu jati raksasa itu berbunyi nyaring, mengunci rapat ruang kerja dari akses luar. Lampu indikator merah di atas pintu menyala pekat, menandakan area khusus Presdir sepenuhnya steril dan tertutup.
Keheningan yang amat mencekik dan panas seketika membungkus ruangan berlampu temaram tersebut.
Rendy menarik pergelangan tangan Clarissa, memaksa wanita itu bangkit berdiri dari atas karpet sutra. Clarissa terengah-engah, dadanya yang membusung di balik gaun pensil hitam naik turun dengan cepat. Persendian lututnya terasa amat lemas akibat pusaran gairah dan rasa takut yang berbaur menjadi satu.
"Mas... Tuan Presdir... tolong..." bisik Clarissa dengan suara serak yang amat pasrah, air mata bening menetes di pipinya yang memerah panas.
Rendy tidak mengindahkan bisikan itu. Dengan satu pergerakan tegap yang amat cepat dan penuh dominasi mutlak, Rendy mengangkat tubuh ramping Clarissa dan mendudukkannya di atas meja kerja kayu jati raksasa milik sang Presdir.
SRET!
Berkas-berkas dokumen investasi berserakan pelan di atas kayu jati saat tubuh Clarissa terdorong mundur sedikit. Belahan gaun pensil hitam yang dikenakan Clarissa tersingkap ke atas, membiarkan paha mulusnya yang hangat terpapar nyata di bawah pendar temaram lampu keemasan ruangan.
Rendy memajukan tubuh atletisnya, merapat tepat di antara kedua paha mulus Clarissa yang terbuka.
Dada bidang kemeja abu-abu Rendy menekan rapat dada Clarissa, mengunci pergerakan wanita itu sepenuhnya. Kehangatan luar biasa dari area sensitif Rendy yang menegang keras di balik celana basahnya bergeser langsung menempel pada paha dalam Clarissa, menyebarkan sengatan panas yang membakar seluruh aliran darahnya.
Clarissa terkesiap, dadanya bergetar hebat saat kedua tangan tegap Rendy merayap naik, mencengkeram pinggang mulusnya dengan kehangatan menuntut yang amat protektif sekaligus menghukum.
"Kamu telah mengganggu fokus kerjaku, Sekretaris Clarissa," bisik Rendy tepat di depan lipatan leher mulus Clarissa. Hembusan napas hangat dan berdesah dari bibirnya membuat bulu kuduk di tengkuk Clarissa meremang hebat. "Lalu bagaimana kamu akan bertanggung jawab atas gejolak yang kamu buat di tubuhku?"
"Aku... aku tidak bermaksud..." desah Clarissa lirih, kepalanya terkulai lemah ke belakang, menyandarkan tengkuk mulusnya di atas permukaan meja jati.
Rendy menundukkan wajah tampannya, mendaratkan bibirnya secara agresif di sepanjang garis leher dan bahu terbuka Clarissa. Usapan dan resapan bibir Rendy yang intens menyebarkan gelombang getaran panas yang membakar ulu hati Clarissa, melumpuhkan seluruh logika dan perlawanan batinnya.
Atmosfer di atas meja kerja megah itu meledak dalam pusaran konflik rasa benci dan kerinduan terpendam. Tiga tahun luka dan kekecewaan beradu rapat dengan gairah lama yang tak pernah padam. Jemari lentik Clarissa yang gemetaran merayap naik secara pasrah, meremas kuat kain kemeja di bahu tegap Rendy, menerima setiap kehangatan dan dominasi fisik dari mantan suaminya dengan desah napas yang makin terengah-engah memburu.
Rendy mencengkeram paha mulus Clarissa, menarik tubuh wanita itu makin merapat tanpa celah pada kungkungannya. Sentuhan fisik yang begitu dekat, intens, dan berhasrat membuat perut bawah Clarissa merinding hebat, membawanya melayang dalam pusaran kepatuhan yang memabukkan.
Sentuhan bibir Rendy merayap naik, mengunci kembali bibir basah Clarissa dalam ciuman yang amat dalam, menuntut, dan penuh kepemilikan mutlak.
Namun, tepat saat pertahanan batin Clarissa runtuh sepenuhnya dan suasana di atas meja jati itu kian memuncak tak terkendali—
BZZZT! BZZZT! BZZZT!
Dering nyaring dari telepon interkom di meja kerja Rendy bergema keras memecah keheningan ruangan.
Dering interkom yang berbunyi berulang kali membumbung nyaring, merusak buaian gairah yang membakar di atas meja jati raksasa tersebut.
Rendy menghentikan tautan bibirnya secara perlahan. Pria tegap itu menarik wajahnya beberapa sentimeter, membiarkan helaan napas berat dan panasnya berembus beraturan di atas pipi memerah Clarissa. Manik mata gelap Rendy menatap tajam mantan istrinya yang terbaring lemas dengan bibir basah dan dada yang naik turun tak beraturan.
Clarissa terengah-engah halus. Jemarinya yang meremas kain kemeja di bahu tegap Rendy melentur pasrah, merasakan kekosongan yang mendadak hadir saat Rendy merenggut kembali dominasi fisiknya dan menegakkan tubuhnya secara anggun.
Rendy merapikan kemeja abu-abu dan dasinya dengan gerakan yang sangat tenang dan elegan, seolah ketegangan sensual beberapa detik lalu hanyalah sebuah ilusi. Dengan jemari tegapnya, Rendy menepuk pelan paha mulus Clarissa, menyuruh wanita itu membenarkan posisi duduknya.
Clarissa menurunkan gaun pensil hitamnya yang tersingkap dengan tangan gemetaran hebat, lalu perlahan turun dari atas meja jati. Persendian kakinya masih terasa sangat lemas, memaksanya menyandarkan punggung pada pinggiran meja agar tidak tersungkur.
Rendy melangkah mendekati meja kerja, lalu menekan tombol interkom dengan telunjuk tegapnya.
"Ada apa?" suara Rendy mengudara—dingin, datar, dan memotong udara tanpa celah.
Dari pengeras suara interkom, suara Asisten Bagas terdengar panik dan bergetar.
"M-Maaf mengganggu Anda, Tuan Presdir," tutur Bagas tergesa-gesa. "Polda Metro Jaya baru saja mengirimkan pembaruan berkas darurat. Ibu Rosma dan Bapak Hendra baru saja menjaminkan seluruh sisa sertifikat aset keluarga mereka ke pihak penyedia pinjaman ilegal untuk menebus penahanan Dion!"
Rendy menyunggingkan senyum tipis berhias kejam di sudut bibirnya. "Pinjaman ilegal?"
"Benar, Tuan. Dan pemilik dari konsorsium pinjaman ilegal tersebut adalah Grup Mahardika—rival bisnis terbesar Pradipta Group yang baru saja tiba di Jakarta sore ini."
DEG!
Clarissa yang berdiri di samping meja seketika menahan napasnya. Nama "Grup Mahardika" bukanlah nama asing di dunia bisnis tanah air. Mereka adalah raksasa finansial yang dikenal sangat kejam dan tanpa ampun dalam melahap aset-aset pemutang yang gagal bayar.
"Teruskan," perintah Rendy pendek, sorot matanya kian membeku.
"Pihak Mahardika sudah menyetujui jaminan tersebut dan saat ini tim hukum mereka sedang menuju ke kantor kepolisian untuk mengambil alih penahanan Dion Wijaya," lanjut Bagas. "Namun, pemuda yang memimpin Grup Mahardika secara khusus menyampaikan pesan untuk Anda, Tuan Presdir."
Rendy memiringkan kepalanya sedikit. "Pesan apa?"
Bagas menelan ludah sebelum melafalkan kalimat tersebut. "Dia bilang... 'Beritahu Rendy Pradipta, jika dia ingin mengambil kembali kehormatan dan mantan istrinya, dia harus bertaruh melawan Mahardika di pelelangan aset besok malam.'"
Rendy mengepalkan tangannya perlahan di atas meja, urat-urat tegap di punggung tangannya menimbul keras. Ia memutar tubuhnya, mengunci pandangan matanya pada Clarissa yang berdiri ketakutan di bawah keremangan lampu kantor.
Di saat yang sama, lampu indikator pintu utama yang terkunci mendadak berkedip cepat. Sebuah pesan panggilan darurat masuk ke dalam layar monitor meja Presdir.
Layar monitor menyala, menampilkan rekaman kamera keamanan di pelataran parkir bawah tanah gedung. Di sana, sebuah mobil limusin hitam mewah baru saja berhenti, dan sesosok pria muda berpenampilan sangat elegan dengan setelan jas putih melangkah keluar, dikawal oleh delapan pengawal bertubuh tinggi besar.
Pria muda berjas putih itu mendongak, menatap lurus ke arah kamera pengawas dengan senyuman tipis yang sangat provokatif—pria yang menjadi tuan muda penerus tunggal Grup Mahardika, sekaligus pria yang dulu pernah melamar Clarissa sebelum pernikahan sederhananya dengan Rendy.