Tujuh tahun Cynthia Dewi mencintai YB dengan seluruh hatinya. Namun di hari yang seharusnya menjadi bahagia bagi mereka berdua, YB justru melamar Karen — wanita yang selama ini selalu ia anggap adik. Cynthia melihat semuanya dengan mata kepalanya sendiri, dan hatinya hancur seketika. Di saat ia merasa sudah tak memiliki siapa pun, Aloy datang menolongnya. Ia bukan hanya teman lama, tetapi juga sosok yang menyimpan rahasia besar dari masa lalu Cynthia. Mampukah Cynthia membuktikan jati dirinya, membalaskan dendam, dan menemukan cinta sejatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefin Eka Ramana Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: Kebenaran yang Tertunda
Berita bahwa sertifikat telah kembali atas namanya seharusnya membuat Cynthia merasa lega, namun justru sebaliknya — beban di pundaknya terasa semakin berat. Ia tahu urusan administrasi sudah selesai, kertas-kertas itu sudah sah, namun pertanggungjawaban kepada Karen belum diucapkan sepatah kata pun. Dan semakin lama ia menunda, semakin berat rasa bersalah yang menyusup ke hatinya, bercampur dengan tekad yang tak goyah: apa yang telah diambil harus dikembalikan, dan kebenaran tak boleh disembunyikan selamanya.
Hari-hari berikutnya berjalan dalam keheningan yang tegang. Karen tak lagi bertanya secara langsung, namun tatapan matanya tak pernah lepas dari mereka berdua. Setiap kali Yb dan Cynthia saling bertukar pandang, setiap kali mereka berbicara berdua saja, perasaan waspada di hati Karen semakin menguat. Ia mulai menyusun potongan-potongan teka-teki itu sendiri — kepergian Yb setiap pagi, pesan Cynthia di ponselnya, rahasia yang tak diucapkan, dan perubahan sikap suaminya yang perlahan menjauh darinya.
Suatu sore, saat Cynthia sedang berada di ruang tengah sendirian, Karen mendekat dengan langkah yang pelan namun mantap. Wajahnya tampak lelah, namun di matanya ada keteguhan yang tak bisa digoyahkan.
"Cynthia..." panggilnya pelan, suaranya terdengar jelas di ruangan yang hening itu. "Aku tidak akan menuntut apa pun darimu jika kau jujur padaku sekarang. Katakan saja — apa yang sebenarnya terjadi dengan rumah ini? Mengapa Yb menyembunyikannya dariku?"
Cynthia berhenti bergerak, menarik napas panjang. Ia ingin sekali mengatakannya saat itu juga, namun ia tahu belum waktunya. Sertifikat memang sudah sah atas namanya, namun momen pengungkapan itu telah ia tetapkan di dalam hatinya — satu hari setelah bayi Karen lahir. Saat itu tiba, ia akan mengucapkan semuanya sekaligus, tanpa menyisakan rahasia sedikit pun.
"Aku tidak menyembunyikan apa-apa dengan niat jahat," jawab Cynthia lembut, menatap lurus ke mata adiknya. "Tapi ada hal yang belum siap untuk dikatakan sekarang. Percayalah padaku, Karen — saat waktunya tiba, kau akan mengetahui semuanya. Segalanya."
"Saat waktunya tiba?" Karen mengulang kalimat itu dengan nada getir. "Berapa lama lagi aku harus menunggu? Sampai apa yang menjadi milikku benar-benar hilang tanpa bisa kuambil kembali?"
Cynthia menggeleng pelan. "Tidak akan hilang. Semuanya akan kembali pada tempatnya, pada orang yang berhak menerimanya. Bersabarlah sedikit lagi."
Karen menatapnya lama, seakan berusaha mencari jejak kebohongan di wajah kakaknya. Namun yang ia temukan hanyalah ketulusan yang menyakitkan — ketulusan untuk sesuatu yang tak diketahuinya. Akhirnya Karen mengangguk pelan, mundur perlahan.
"Baiklah... Aku akan menunggu," ucapnya pelan. "Tapi ingat — jika apa yang kau sembunyikan itu mengambil hakku, aku tidak akan membiarkannya."
Cynthia mengangguk, menahan rasa perih di dadanya. "Aku tahu."
Malam itu, Yb pulang lebih awal dari biasanya. Ia menemui Cynthia di beranda belakang, tempat di mana mereka bisa berbicara tanpa didengar siapa pun. Wajahnya tampak cemas, namun juga penuh keputusan. Di dalam hatinya, Yb merasa bahagia — ia percaya Cynthia memilihnya, tetap di sisinya, meninggalkan semua hal lain demi bersamanya. Ia belum tahu bahwa di masa depan, pilihan hati Cynthia sebenarnya mengarah ke orang lain.
"Karen semakin dekat," ucapnya pelan, menatap ke arah taman yang mulai gelap. "Ia hampir mengetahuinya. Setiap hari ia menatapku seakan aku musuhnya sendiri."
Cynthia berdiri di sampingnya, menatap ke arah yang sama. "Ia berhak marah. Dan ia akan mengetahui segalanya. Sudah kuputuskan — satu hari setelah bayinya lahir, aku akan mengatakannya semua. Aku yang akan memberitahunya soal rumah ini, soal segalanya."
Namun Yb memegang tangan Cynthia erat, menatapnya dengan tatapan lembut namun tegas. "Tidak... biar aku yang mengatakannya semua kepadanya. Jangan kau yang melakukannya, Cynthia."
Cynthia terkejut. "Mengapa? Ini menyangkut namaku juga."
"Itulah sebabnya," jawab Yb pelan namun mantap. "Biarkan aku yang mengatakan kepada Karen bahwa akulah yang memindahkan sertifikat rumah ini menjadi atas namamu. Dan itu semua aku lakukan karena aku masih benar-benar sangat mencintaimu, Cynthia. Aku tidak mau kau yang disalahkan Karen. Biar aku yang disalahkan Karen, biar aku yang disakiti Karen. Kau tahu sendiri bagaimana gilanya Karen ketika ia cemburu. Aku tidak mau Karen menyerangmu, menyakitimu. Ketika aku melihatmu disakiti oleh Karen, hatiku juga ikut merasakan sakit yang sama. Jadi biar aku yang mengatakan semuanya kepada Karen, Cynthia sayangku... nurutlah padaku, ya?"
Cynthia menatapnya, matanya berkaca-kaca. Ia tersentuh sekaligus terharu mendengar kata-kata itu. "Tapi... itu bukan sepenuhnya keputusanmu saja..."
"Aku tahu," potong Yb lembut, mengusap punggung tangan wanita itu. "Tapi biarlah aku yang menanggung semua kemarahannya. Setelah kita mengatakan ini kepadanya, kita akan memintanya pergi dari sini. Kita berdua bisa tinggal bersama di rumah ini. Lalu aku akan menceraikan Karen. Semuanya akan menjadi milik kita, seperti yang seharusnya sejak awal."
Cynthia terdiam sejenak, memikirkan semuanya. Ia sebenarnya belum berniat tinggal bersama Yb selamanya — ada masa depan lain yang perlahan ia sadari, ada seseorang yang lebih tulus menunggunya. Namun untuk saat ini, melihat ketulusan dan kepedulian Yb yang begitu besar melindunginya, ia tak tega menolak begitu saja.
"Aku ikut apa yang kau anggap terbaik untukku," jawab Cynthia pelan, menunduk. "Terserah kau lah, aku ikut mana yang terbaik."
Yb tersenyum tipis, merasa lega sekaligus bahagia — ia yakin Cynthia memilihnya, tetap di sisinya, dan tak akan pergi ke mana pun. "Terima kasih, Sayangku. Percayalah, aku akan menjagamu."
Namun di balik senyum itu, hati Cynthia terasa berat. Ia belum mengatakan yang sebenarnya — belum sekarang. Yb berpikir Cynthia akan tetap bersamanya, padahal di lubuk hatinya yang paling dalam, Cynthia perlahan menyadari: kebahagiaannya bukan di sini, bukan di masa lalu yang menyakitkan ini. Namun ia menahan diri, membiarkan Yb berpikir demikian untuk sementara waktu, sampai semua urusan ini selesai.
"Baiklah..." ucap Cynthia pelan. "Tapi kapan kau akan mengatakannya kepadanya?"
"Saat waktunya tiba," jawab Yb tegas. "Setelah bayinya lahir, saat ia cukup kuat untuk mendengar, dan saat tak ada lagi yang bisa ia lakukan untuk mengubah keputusan ini. Aku akan melindungimu, apa pun yang terjadi."
Mereka berdiri berdampingan dalam keheningan yang panjang, menyadari bahwa hari-hari tenang yang tersisa tak banyak lagi. Keputusan telah diambil, peran telah dibagi — Yb akan menanggung semua kemarahan Karen demi melindungi Cynthia, tanpa menyadari bahwa di masa depan, Cynthia akan memilih jalan yang berbeda.
Di balik jendela kamar yang sedikit terbuka, Karen berdiri diam. Ia tidak mendengar seluruh percakapan itu dengan jelas, namun nada suara mereka terdengar cukup — penuh kelembutan, penuh keputusan, seakan ada rencana yang disusun untuk meninggalkannya sendirian. Ia belum tahu pasti apa yang akan terjadi, namun ia merasakannya — tak lama lagi, dunianya akan berubah selamanya. Dan ia sendirian, menunggu hari di mana semuanya akan runtuh sekaligus.
semangat 💪💪