Demi menyelamatkan keluarganya, Alina terpaksa menerima pernikahan kilat dengan pria asing yang bahkan belum sempat ia kenal. Ia mengira pernikahan itu hanya formalitas, hingga hari pertama bekerja di perusahaan impiannya mengubah segalanya.
Pria dingin yang duduk di kursi CEO itu ternyata adalah suaminya sendiri.
Di depan semua orang, pria itu bersikap seolah mereka orang asing. Namun diam-diam, ia selalu melindungi Alina dari setiap fitnah dan bahaya yang mengintainya. Saat identitas mereka akhirnya terbongkar, rahasia besar, perebutan kekuasaan, dan pengkhianatan mulai mengancam rumah tangga mereka.
Mampukah cinta tumbuh di balik pernikahan yang dipenuhi rahasia? Atau justru semuanya akan berakhir sebelum benar-benar dimulai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kelicikan yang Terbongkar
Pukul dua siang tepat. Ruang rapat utama di lantai 20 dipenuhi aura tegang. Pencahayaan ruangan yang temaram terfokus pada layar proyektor besar di ujung meja oval marmer.
Devan duduk di kursi utama di hulu meja, mengenakan kemeja charcoal gelap dengan kancing kerah yang tertutup rapi. Di sisinya duduk jajaran manajer senior, termasuk Mbak Maya dan Clara dari divisi Pemasaran.
Alina bertugas berdiri di sudut dekat pintu masuk, siap sedia jika ada dokumen tambahan atau sajian minum yang dibutuhkan selama rapat berlangsung.
"Mari kita mulai pembahasannya," suara Devan bergema dingin dan berwibawa, memutus keheningan ruangan. "Clara, presentasikan proyeksi anggaran kampanye media untuk peluncuran bulan depan."
"Baik, Pak Devan," jawab Clara percaya diri. Ia berdiri, membawa salinan berkas yang telah ia manipulasi, lalu membagikannya kepada Devan dan para manajer. "Seperti yang bisa Anda lihat di lembar ketiga, kami telah mengalokasikan dana secara efisien untuk menjangkau target pasar kelas atas."
Devan menerima berkas tersebut. Jemari tangannya yang panjang dan kokoh membalik halaman demi halaman. Namun, baru di halaman ketiga, gerakan tangannya terhenti. Alisnya yang tegas berkerut dalam. Aura di sekitar Devan mendadak merosot dingin hingga membuat beberapa manajer di sampingnya menahan napas.
"Clara," panggil Devan pelan, namun nadanya sarat akan ancaman berbahaya.
"Ya, Pak Devan?" sahut Clara dengan nada manis yang dibuat-buat.
"Siapa yang menyusun kalkulasi alokasi biaya di halaman tiga dan empat ini?" Devan melempar berkas itu ke tengah meja. Bunyi (kaprak )kertas tebal memecah kesunyian ruang rapat. "Total anggaran promosi tertulis dua puluh miliar, tetapi rincian pengeluaran operasional di kolom bawah membengkak hingga dua puluh delapan miliar. Selisih delapan miliar ini dari mana? Ini kalkulasi tingkat anak sekolah dasar yang sangat konyol."
Wajah Clara seketika pucat pasi, namun ia dengan cepat menguasai diri dan memasang raut wajah terkejut yang dramatis. Ia menutup mulutnya dengan tangan.
"A-apa? Maafkan saya, Pak Devan!" seru Clara dengan nada panik yang dibuat-buat. Ia langsung menoleh ke arah sudut ruangan, menunjuk lurus ke wajah Alina yang terpaku di sana. "Pak Devan, berkas rekapitulasi ini sepenuhnya dikerjakan oleh staf baru kita, Alina! Saya sudah menyerahkan draf induk padanya dan menugaskannya untuk menyalin serta merapikan angka-angkanya. Saya tidak menyangka dia se-ceroboh ini!"
Seluruh mata di dalam ruang rapat seketika tertuju pada Alina. Mbak Maya menatap Alina dengan pandangan tak percaya dan khawatir, sementara para manajer senior menggeleng-gelengkan kepala.
Alina merasa darahnya berdesir hebat. Jantungnya berdegup kencang menghantam dadanya. "Mbak Clara ... saya sudah mengoreksi seluruh perhitungan itu. Saya bahkan mencocokkannya langsung dengan server induk sebelum mencetak—"
"Jangan memutarbalikkan fakta, Alina!" potong Clara dengan suara melengking, berpura-pura marah untuk menutup-nutupi aktingnya. "Kamu masih baru di sini, kalau salah akui saja! Jangan malah melempar kesalahan pada senior yang memberimu kepercayaan. Berkas ini jelas-jelas kamu yang jilid dan serahkan padaku tadi siang!"
"Cukup," potong satu suara dingin yang sanggup menghentikan perdebatan itu seketika.
Devan berdiri dari kursinya. Tingginya yang menjulang dan tatapannya yang tajam bagai elang membuat seluruh isi ruangan terbungkam. Ia melangkah perlahan mengitari meja rapat, menuju ke arah Alina yang berdiri kaku menahan gemetar di jemarinya.
Setiap langkah sepatu kulit Devan di atas karpet tebal terasa seperti ketukan vonis bagi Alina. Hatinya mencelos. Apakah Devan akan mempercayai tuduhan Clara? Apakah pria yang statusnya adalah suaminya ini akan mencopot jabatannya dan mengusirnya detik ini juga demi menjaga profesionalisme?
Devan berhenti tepat satu meter di depan Alina. Tatapannya menembus langsung ke dalam manik mata Alina yang berkaca-kaca menahan malu dan rasa tidak bersalah.
"Kamu yang menyusun berkas ini, Alina Dania?" tanya Devan dengan suara bass yang datar dan tak tertebak.
Alina menelan ludahnya yang pahit. Ia menegakkan kepalanya sedikit, menolak untuk menunduk di bawah fitnah. "Saya yang merapikan dan mencetaknya, Pak Devan. Tapi saya bersumpah, angka yang tercetak di dokumen yang dipegang Pak Devan saat ini bukan angka hasil akhir yang saya simpan dan cetak tadi siang."
"Bual konyol!" sela Clara dari samping meja. "Lalu maksudmu ada hantu yang mengubah kertas itu?"
Devan tidak mengalihkan pandangannya dari Alina sedikit pun. Ia tidak menghiraukan teriakan Clara. Sebaliknya, Devan merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah flashdisk hitam kecil, dan menyerahkannya kepada Mbak Maya.
"Maya, hubungi tim IT sekarang. Buka log histori penyimpanan berkas di server Pemasaran atas nama akun Alina Dania dalam rentang waktu jam sepuluh pagi sampai jam satu siang tadi. Tampilkan di layar proyektor," perintah Devan singkat.
Clara seketika membelalakkan mata.
Wajahnya yang semula penuh kemenangan berubah menjadi sepucat kertas. Tangannya yang memegang pena mulai gemetar halus.
Dalam hitungan detik, layar proyektor menampilkan catatan aktivitas digital. Di sana tertera jelas bahwa pada pukul 12.45 WIB, Alina telah mengedit file (Proyeksi_Promosi_Media.xlsx') dan mengoreksi seluruh selisih anggaran delapan miliar tersebut hingga angkanya menjadi sempurna dan seimbang. Waktu pencetakan dokumen juga tercatat pukul 13.00 WIB dengan total halaman yang dicetak sesuai dengan berkas asli yang lengkap.
Ruang rapat mendadak hening bagaikan kuburan.
Devan membalikkan badannya perlahan, kini menatap Clara dengan pandangan yang begitu dingin hingga sanggup membekukan darah siapa pun yang melihatnya.
"Sistem digital tidak pernah berbohong, Clara," ujar Devan dengan nada suara yang sangat tenang, namun dipenuhi tekanan yang mematikan. "Berkas yang dikerjakan oleh Alina di server sudah sempurna. Tapi berkas fisik yang kamu serahkan padaku justru berisi lembaran draf lama yang rusak."
Devan melangkah mendekati Clara, menundukkan kepalanya sedikit. "Apakah kamu sengaja menukar lembaran dokumen itu untuk menjatuhkan staf barumu, atau kamu memang tidak kompeten hingga tidak bisa membedakan berkas yang sudah direvisi dan yang belum?"
"P-Pak Devan ... saya ... ini pasti ada kesalahpahaman ... saya tidak—" Clara terbata-bata, lidahnya kufur kata. Keringat dingin menetes di pelipisnya.
"Di perusahaan ini, aku tidak mentolerir dua hal: ketidak kompetenan dan sabotase," potong Devan tanpa ampun. Ia berpaling ke arah Mbak Maya. "Maya, potong bonus kuartal Clara sebesar lima puluh persen dan berikan surat peringatan tertulis dariku. Jika hal seperti ini terjadi lagi, dia tidak perlu lagi menunjukkan wajahnya di gedung ini."
"B-baik, Pak Devan," jawab Maya cepat.
Clara menundukkan kepalanya dalam-dalam, menahan malu yang luar biasa di depan seluruh rekan kerjanya. Riasannya yang mahal tak mampu menutupi kehancuran harga dirinya sore itu.
Devan kembali menatap Alina. Untuk sepersekian detik, di mata pria dingin itu, melintas sebuah kilatan kepuasan dan kebanggaan yang sangat halus, begitu tipis hingga hanya Alina yang sanggup menangkapnya.
"Kerja bagus untuk ketelitianmu pada data digital, Alina," kata Devan datar, seolah-olah memberikan pujian standar kepada seorang pegawai. "Rapat ditunda sepuluh menit sampai Maya mencetak ulang dokumen yang benar dari sistem Alina."
Devan berbalik dan melangkah keluar ruang rapat.
Alina menghela napas panjang, meresapi rasa lega yang membuncah di dadanya. Saat ia memegang jemarinya sendiri, ia menyadari satu hal: di balik topeng dingin dan jarak membentang yang diciptakan Devan di kantor ini, pria itu ternyata tidak pernah membiarkannya tenggelam sendirian.