NovelToon NovelToon
I Love You, Kak

I Love You, Kak

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Basket / Cintamanis / Teen
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Anggun Kartika Mundikasih

Dahayu Nayanika Arutala (Naya), siswi baru yang tidak pernah terkesan pada popularitas, harus berulang kali berhadapan dengan Narain Shankara Naradhipta (Nara) — bintang basket sekolah sekaligus seniornya di SMA yang ia anggap sombong dan menyebalkan. Namun, di balik pertengkaran dan saling ejek, Naya menemukan sosok Nara yang sebenarnya, seorang pemuda yang tertekan oleh tuntutan keluarga dan hanya dapat menjadi dirinya sendiri ketika bersamanya. Saat kedekatan mereka memicu penolakan Reksa - Kakak lelaki Naya dan kemarahan para penggemar Nara. Naya harus memilih tetap menyangkal perasaannya atau memperjuangkan cinta kepada orang yang dahulu paling ia benci, sebelum pertandingan terakhir dan kelulusan memisahkan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggun Kartika Mundikasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERTARUHAN HUBUNGAN DAN MASA DEPAN (1)

Hujan ‌mengetuk kaca jendela yang cukup mendominasi di rumah Nara. Tidak deras, namun cukup untuk membuat udara lebih dingin di dalam rumahnya sehingga memberikan efek terasa sunyi dari biasanya. Dari ruang tengah terdengar suara televisi yang dibiarkan menyala tanpa benar-benar ditonton. Nara duduk di ujung sofa sambil memegang ponselnya, membaca ulang pesan terakhir dari Naya.

Terima kasih sudah diantar, dapat salam dari Papa dan Mama. Jangan tidur terlalu malam. Ingat, ujian kelulusan sudah dekat.

Pesan sederhana itu membuat sudut bibir Nara terangkat. Hal-hal kecil dari Naya selalu berhasil membuatnya tersenyum. Perhatian singkat, pesan pengingat untuk makan, panggilan di penghujung hari, sesuatu yang perlahan mengisi ruang kosong dalam kehidupan Nara.

Hubungan mereka masih sangat baru. Setelah hampir sembilan bulan terjebak dalam zona Senior dan Junior SMA, atau tepatnya Senior yang sebelumnya dibenci dan paling dihindari Juniornya hingga akhirnya mereka sampai dititik menjadi sepasang kekasih. Tempat dimana ia dapat bercerita tanpa merasa hina, seseorang yang mengenal sisi dirinya yang tidak pernah diperlihatkan kepada banyak orang.

Kini setelah mereka benar-benar memulai sebuah hubungan, Nara merasa hidupnya akhirnya berjalan ke arah yang ia inginkan. Tapi ada satu hal yang belum berani ia ceritakan kepada Naya. Sebuah kabar yang sudah berada di kotak masuk emailnya selama dua minggu ini. Ia berubah murung setiap kali Naya mengucapkan kata ‘Trust Issue”-nya. Setelah sekian lama kata-kata itu hilang dengan perjuangan matian-matian dirinya menyakinkan, hari ini kata-kata itu kembali keluar karena hubungan Ekky dan Kimi, sahabat Naya ketahuan oleh Naya.

Nara menoleh ke arah laptop di sudut ruangan. Laptop-nya masih terbuka. Pada layar sebuah email dengan subjek yang sudah berkali-kali ia baca terlihat jelas.

CONGRATULATIONS ON YOUR ADMISSION TO STANFORD UNIVERSITY

Nara kembali menghela napas panjang. Ia diterima di Stanford University untuk melanjutkan pendidikan sarjana pada jurusan Business Management. Kampus ini dikenal luas karena keunggulan akademisnya, semangat kewirausahaan, serta kontribusinya yang besar terhadap inovasi teknologi global dengan tingkat penerimaan hanya 3,6% untuk seluruh calon mahasiswanya di seluruh dunia dan ia menjadi salah satunya dari Indonesia yang diterima.

Sebuah kesempatan yang sejak kelas X ia janjikan kepada orang tuanya bahwa basket tidak akan menghancurkan komitmennya terhadap bisnis keluarganya yang suatu ketika akan diwariskan padanya. Kesempatan yang sudah ia perjuangkan selama berbulan-bulan melalui berbagai tes, esai, wawancara, dokumen yang seolah tidak pernah selesai, dan sebelum hadirnya Naya dalam kehidupannya.

Seharusnya ia bahagia. Seharusnya kabar itu menjadi bukti nyata satu pencapaian terbesar dalam hidupnya kepada kedua orang tuanya bahwa ia mampu memenuhi ekspektasinya sebagai Pewaris Bisnis meskipun didikan mereka terkadang tega dirasa. Tapi sejak hubungan dengan Naya dimulai, kabar tersebut justru berubah menjadi beban yang terus menekan dadanya. Ia belum tahu bagaimana cara mengatakannya.

Ia belum tahu kapan dan bagaimana menjelaskan bahwa beberapa bulan lagi ia mungkin harus meninggalkan Indonesia. Meninggalkan rumah, keluarga, semua kebiasaan yang selama ini dikenalnya. Dan yang paling berat adalah meninggalkan Naya ketika hubungan mereka bahkan belum sempat tumbuh lebih jauh. Tidak akan melihat tumbuh kembang Naya selama SMA. Tidak dapat melihatnya berenang bebas seperti biasanya dan banyak hal lainnya yang ingin ia lakukan bersama Naya, kekasihnya.

TING-TONG!

Suara bel rumah tiba-tiba berbunyi. Nara mengernyit sambil melihat jam dinding. Hampir pukul sembilan malam. Pak Andi hari ini izin tidak mendampinginya karena ada keperluan mendadak keluarganya. Para asisten yang dipekerjakan pagi sampai dengan dirinya kembali pun sudah pulang ke rumahnya masing-masing. Ia tidak sedang menunggu siapa pun. Rumah ini jarang menerima kunjungan. Bahkan anggota Tim Basket tak pernah diundangnya datang kecuali Ekky. Setiap kali ada pertemuan membahas strategi basket atau hanya kumpul-kumpul saja, café milik Ganendra, sepupunya selalu menjadi tempat tujuannya. Baginya rumah adalah privasi tingkat tinggi miliknya. Terakhir kali orang lain datang adalah pada saat Naya, Reksa, dan Dimas mengantarkannya pulang karena mengalami cidera kaki dari pertandingan final yang dimenangi timnya.

TING-TONG!

Bel kembali berbunyi. Nara berdiri, berjalan menuju pintu, mengintip dari balik tirai kecil di sampingnya. Seketika tubuhnya menegang. Di teras rumah berdiri ayah dan ibunya. Nara segera membuka pintu. "Ayah? Ibu?"

Ibunya tersenyum sambil merapikan syal yang membungkus lehernya. "Kaget?"

"Tentu saja. Kenapa tidak bilang mau datang?" Nara lupa bahwa password masuk pintu utama telah diganti dan karena terbiasa sendirian di rumah ini sehingga ia lupa bahwa Ayah dan Ibunya dapat pulang sewaktu-waktu.

Ayahnya melangkah masuk sambil membawa sebuah tas kecil. "Kalau kami bilang dulu, kamu pasti mencari alasan untuk tidak ada di rumah."

"Ayah bicara apa, sih?"

“Buktinya kamu dengan tega tidak menginfokan bahwa ada perubahaan password kunci masuk ke rumah ini.”

“Maafkan aku Yah, Bu,” Nara menggaruk-garukkan kepalanya yang tidak gatal. “Kupikir Pak Andi sudah memberitahukan hal tersebut kepada Ayah dan Ibu tanpa aku harus memberitahu.”

Meski mencoba terdengar santai, Nara tahu kedua orang tuanya tidak datang hanya untuk berkunjung. Terlebih mereka yang lebih sering tinggal di Yogyakarta, mengingat pusat usaha keluarga besarnya berada yang harus menempuh perjalanan cukup jauh untuk sampai ke rumahnya. Sedangkan disini hanyalah cabangnya saja. Nara mempersilakan mereka duduk di ruang tengah. Ibunya memperhatikan sekeliling rumah, kemudian tatapannya berhenti pada laptop yang masih terbuka. Email penerimaan itu masih terpampang jelas. Nara segera berjalan mendekati meja dan menutup layar laptop. Terlambat. Ayahnya melihat gerakan itu dan menarik napas panjang.

"Jadi kamu sudah membaca emailnya," kata Ayahnya.

Nara tidak langsung menjawab. Ia kembali duduk di sofa, tepat di hadapan kedua orang tuanya. "Ayah dan Ibu sudah tahu?"

"Ibu yang menerima salinan pemberitahuannya," jawab ibunya lembut. "Karena waktu mendaftar kamu memasukkan email Ibu sebagai kontak keluarga."

Nara menunduk. Ruangan mendadak terasa lebih sempit. Hujan di luar terdengar semakin jelas seolah menjadi satu-satunya suara yang berani mengisi kesunyian di antara mereka.

"Ayah dan Ibu datang untuk mengingatkanmu tentang sesuatu," lanjut Ayahnya. Nada suaranya tidak keras tapi cukup tegas untuk membuat Nara mengangkat kepala. "Tentang janji yang pernah kamu ucapkan."

Nara tahu janji yang dimaksud. Dua tahun sebelumnya, demi mempertaruhkan izin masih boleh bermain basket dengan penuh keyakinan Nara menyebut satu nama. Stanford University. Ia berjanji jika kesempatan itu datang, ia tidak akan menyia-nyiakannya.

"Aku masih ingat," ujar Nara lirih.

"Lalu kenapa kamu diam saja selama dua minggu?" tanya ayahnya.

Nara meremas kedua tangannya. "Aku sedang memikirkannya."

"Memikirkan apa?"

"Apa aku benar-benar harus pergi…"

Ayahnya menatap tajam. "Kamu sudah berusaha begitu lama untuk mendapatkan kesempatan ini. Sekarang setelah diterima kamu justru bertanya apakah harus pergi?"

"Ada banyak hal yang harus aku pertimbangkan."

Ibunya memperhatikan wajah Nara lebih saksama. "Termasuk Naya?"

Pertanyaan itu membuat Nara terdiam. Nama Naya terdengar begitu jelas, seakan ibunya baru saja membuka pintu yang selama ini berusaha ia tahan agar tetap tertutup.

"Ayah dan Ibu tahu tentang Naya?" tanyanya. Ibunya tersenyum tipis.

"Kamu pikir seorang ibu tidak bisa melihat perubahan anaknya? Akhir-akhir ini kamu lebih sering tersenyum sendiri saat membaca pesan. Bahkan teman-teman dekatmu bertambah selain Ekky. Kamu juga pernah tanpa sengaja menyebut namanya saat menelepon Ibu. Tentu saja Ibu langsung mencari tahu tentang gadis itu dan keluarganya.”

Nara menghela napas dan mengalihkan pandangannya ke arah jendela kaca dimana bulir-bulir air mengalir deras turun ke bawah. “Terima kasih untuk Pak Andi sebagai mata-mata Ayah dan Ibu selama ini.”

Nara harusnya sudah tahu sejak awal bahwa orang tuanya pasti tahu dari Pak Andi, butlernya. Kalau sudah begitu ia angkat tangan. Memang tak ada satupun yang dapat ditutupi kepada orang tuanya.

"Aku belum menceritakan soal Stanford kepadanya," katanya.

"Kenapa?" tanya Ibunya.

"Karena hubungan kami baru saja dimulai." Suara Nara perlahan melemah. "Aku tidak ingin semuanya berakhir bahkan sebelum kami benar-benar menjalaninya. Apalagi aku pernah membuatnyak kecewa di awal."

Ayahnya menyandarkan tubuh pada sofa. "Apakah Naya yang memintamu untuk tidak pergi?"

"Tidak. Dia bahkan belum tahu."

"Jadi sebenarnya yang sedang menahanmu bukan Naya," kata Ayahnya. "Melainkan ketakutanmu sendiri."

Ucapan itu tepat mengenai sesuatu yang selama ini berusaha disangkal Nara. Ia takut. Bukan hanya takut kehilangan Naya. Ia juga takut pada jarak, perubahan waktu, kesibukan, dan kemungkinan bahwa suatu hari mereka akan menjadi dua orang asing yang hanya memiliki kenangan tentang hubungan singkat.

"Ayah tidak mengerti," ujar Nara. "Aku baru saja mendapatkan seseorang yang benar-benar penting bagiku. Setelah aku berusaha meyakinkan dirinya bahwa hubungan kami bisa lebih selain junior dan senior di sekolah, sekarang kami akhirnya bersama. Kalau aku pergi, aku bahkan tidak tahu kapan bisa bertemu dengannya lagi."

"Ayah mengerti," jawab Ayahnya. "Justru karena Ayah mengerti, Ayah datang ke sini." Nara menatapnya. "Cinta bukan alasan untuk berhenti bertumbuh dan pendidikan bukan alasan untuk berhenti mencintai. Kamu tidak sedang diminta memilih salah satu lalu membuang yang lainnya. Kamu hanya sedang diminta belajar menjalani keduanya dengan dewasa."

Ibu Nara meraih tangan putranya. "Kamu boleh takut," katanya lembut. "Kamu boleh sedih membayangkan harus berpisah. Tapi jangan membuat keputusan besar hanya karena takut kehilangan seseorang."

"Aku takut Naya merasa aku menyembunyikan ini darinya." Ucapnya lirih.

"Mungkin dia akan kecewa karena kamu terlambat bercerita," jawab ibunya jujur. "Tapi akan jauh lebih menyakitkan kalau dia mengetahui bahwa kamu mengorbankan masa depanmu tanpa pernah memberinya kesempatan untuk ikut menentukan bagaimana hubungan kalian akan dijalani."

Nara terdiam cukup lama. Ia membayangkan wajah Naya. Membayangkan tatapan hangat perempuan itu saat mendengarkan ceritanya, tawa kecilnya ketika Nara terlalu serius, caranya menggenggam tangan Nara seolah dunia tidak perlu selalu dijelaskan dengan kata-kata. Nara mencintainya. Justru karena itu ia tidak seharusnya menjadikan Naya alasan untuk meninggalkan impian yang sudah lama diperjuangkan.

"Aku ingin punya masa depan bersamanya," ujar Nara, hampir berbisik.

"Kalau begitu," kata Ayahnya, "Bangunlah masa depan itu dengan fondasi yang baik. Jangan mulai dengan pengorbanan yang suatu hari mungkin kamu sesali."

Nara mengangguk. Ia menyadari satu hal yang selama ini tidak berani diakuinya. Jika ia menolak Stanford hanya demi mempertahankan hubungan, mungkin pada awalnya ia akan merasa lega. ia bisa tetap berada di dekat Naya, mereka bisa bertemu setiap hari, menghabiskan akhir pekan bersama, menjalani hubungan seperti pasangan lain. Tapi bagaimana jika bertahun-tahun kemudian ia mulai mempertanyakan keputusan itu? Bagaimana jika suatu hari muncul penyesalan? Dan bagaimana jika tanpa sadar penyesalan tersebut berubah menjadi beban yang ia letakkan di pundak Naya? Nara tidak ingin mencintai dengan cara seperti itu. Ia tidak ingin menjadikan Naya seseorang yang harus bertanggung jawab atas mimpi yang ia lepaskan sendiri.

Malam semakin larut ketika kedua orang tuanya memutuskan beristirahat. Nara masih duduk sendirian di ruang tengah. Laptop kembali ia buka dan menampilkan email penerimaan yang selama ini terasa seperti ancaman. Kini email itu kembali terlihat seperti sebuah kesempatan. Tetap menakutkan. Bukan sesuatu yang harus dihindari.

Nara mengambil ponselnya. Jarinya sempat menggantung di atas nama Naya sebelum akhirnya menekan tombol panggilan. Panggilan tersambung setelah beberapa detik.

"Halo?" suara Naya terdengar sedikit mengantuk.

"Kamu belum tidur?"

"Belum."

"Belum."

"Kak Nara kenapa? Suara Kakak berbeda."

Nara menatap layar laptop di hadapannya, kemudian membuka tautan formulir Reply to Offer of Admission dan memilih opsi untuk menerima tawaran (accept the offer) kemudian menyelesaikan pembayaran deposit konfirmasi.

"Nay, besok kita bisa bertemu di perpustakaan setelah jam pelajaran terakhir?"

"Tentu. Ada apa?"

"Tentu. Ada apa?"

"Ada sesuatu yang harus aku ceritakan."

Naya terdiam sejenak. "Sesuatu yang serius?"

"Sangat serius." "Kenapa tidak cerita sekarang?"

Nara menarik napas panjang. Ia tidak ingin lagi bersembunyi, tidak ingin menunda hanya karena takut melihat reaksi Naya. “Aku ingin mengatakan langsung di hadapanmu.”

“Baiklah, sampai jumpa besok.” Tutup Naya.

“Sampai jumpa besok.”

***

1
Wawan
Salam kenal untuk Naya 💪✍️
Ayunda Permata
Sukses Selalu Thor 🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!