NovelToon NovelToon
Sang Pembantai Dewa

Sang Pembantai Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Anak Genius
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Sarmadi

BANGKIT TANPA WARISAN.
Pemuda jenius terlahir tanpa dantian. di hina dan di hianati. pada suatu hidup dan mati ia baru menyadari diri nya telah merubah jantung di dada nya hingga menjadi jantung abadi. semua itu karena tekat nya hingga membuat rasa takut yang menghiasi hidup nya menjadi Entitas yang tidak berbentuk. hingga menyatu dengan jantung di dada nya. membuat jantung itu dikenal sebagai jantung dao yang tak terhancurkan,
kini jantung dao yang tak terhancurkan itu menggantikan dantian yang tidak ia miliki, dengan jantung dao yang tak terhancurkan, dia mampu bangkit dengan menginjak lautan darah musuh yang menghalangi jalan menjadi yang tak terkalahkan.

👉👉Tolong baca dulu sampai 10 bab, jika tertarik terimakasih. jika tidak pun terimakasih telah membantu karya ini meski tidak sebaik yang lain 🙏🙏🙏 Saya doakan kalian pada sehat, Amiin

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarmadi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 22 penyebab tragedi ini menimpa yefan

​Di pedalaman hutan belantara timur yang remang, di bawah naungan pohon-pohon raksasa yang rimbun nya menutupi langit, Yefan berlutut. Ia bersujud berulang kali dengan khidmat di hadapan dua gundukan tanah yang masih basah. Air mata mengaliri wajah tampannya, melukiskan duka yang menancap begitu dalam.

​"Ibu... Ayah... aku berjanji," bisiknya pelan. Sesaat kemudian, nada suaranya berubah sedingin es, memancarkan niat membunuh yang pekat. "Aku tidak akan membiarkan diriku mati sebelum membalas penghinaan terhadap kalian."

​Melihat kondisi Yefan yang tak kunjung membaik, Jiun Yi—yang sejak tadi mengamati dari kejauhan—memberanikan diri mendekat. Ia berniat menyampaikan hasil penyelidikan yang baru saja diselesaikannya.

​"Tuan Muda," panggil Jiun Yi seraya memberi hormat. "Dari hasil penelusuranku... sejak Anda memasuki hutan untuk mencari Teratai Hitam Tujuh Daun saat itu hingga detik ini, Anda diperkirakan tidak pernah kembali ke Desa Fulmun selama sepuluh tahun."

​Yefan tertegun. Ia sama sekali tidak menduga bahwa dirinya telah terjebak di dalam jantungnya sendiri selama satu dekade penuh.

​Pantas saja, batin Yefan. Saat aku keluar dari jurang keputusasaan, segala hal dari masa lalu telah berubah sedemikian rupa.

​Jiun Yi melanjutkan laporannya, "Lalu, mengenai tewasnya Yulin Zou, Tuan Muda Keluarga Yujin... sebenarnya mereka sama sekali tidak tahu bahwa Andalah pelakunya. Rencana Anda untuk menjadikan Leiting dan kelompoknya sebagai kambing hitam berjalan sangat sempurna."

​Jiun Yi berhenti sejenak. Tubuhnya sedikit bergetar. Pria di hadapannya ini bukan sekadar pembunuh berdarah dingin, melainkan seorang perencana ulung. Tanpa perlu banyak bergerak, Yefan berhasil menggoyahkan fondasi utama keluarga besar Yujin.

​"Lanjutkan," potong Yefan dingin, menyentak Jiun Yi dari lamunannya.

​"Baik, Tuan Muda," jawab Jiun Yi terbata. "Lantas, mengapa Keluarga Yujin bisa tahu bahwa Anda yang membunuh Yulin Zou? Semua itu berawal dari Xifeng, Fanyun, dan Yunlan."

​Mendengar tiga nama itu, mata Yefan menyipit tajam.

​"Setelah berhasil menjadi kultivator di bawah bimbingan Kepala Desa, mereka direkomendasikan masuk ke sekte demi masa depan mereka. Namun di sana, mereka mendengar bahwa diri mereka masih menjadi buronan dengan imbalan lima ratus tael perak. Dari sana, mereka..."

​"Cukup," sela Yefan. Niat membunuh yang mengerikan meluap drastis dari tubuhnya. Tanpa perlu mendengar kelanjutannya, ia sudah paham.

​Kalian... menimpakan semua dosa kalian padaku karena mengira aku telah tewas di bunuh tupai berekor tiga, batin Yefan murka. Pada akhirnya, Kepala Desa dan orang-orang terdekatku yang harus menanggung aksi balas dendam Keluarga Yujin. Demi lima ratus tael perak, kalian tega mengorbankan persahabatan, Desa Fulmun, dan Kepala Desa yang telah merekomendasikan kalian. Kepala kalian hanya akan menjadi milikku.

​Merasakan aura membunuh Yefan yang begitu pekat, Jiun Yi bergegas mengambil langkah mundur untuk undur diri. Namun sebelum pergi, ia memberi peringatan, "Tuan Muda, Anda telah menjadi buronan nomor satu di ibukota kekaisaran. Harap berhati-hati atas apa yang telah Anda lakukan sebelumnya."

​Bukannya takut, sudut bibir Yefan justru terangkat. Sebuah senyuman dingin yang menakutkan mengukir wajah tampannya.

​Setelah menyelesaikan ritual pemakaman, Yefan berjalan menjauh menuju area yang lebih terpencil. Ia merogoh sakunya, mengeluarkan buah Ganoderma lucidum—yang semula hendak ia persembahkan sebagai hadiah untuk sang ibu. Tanpa ragu, Yefan memasukkan buah itu ke dalam mulut.

​Buah tersebut serta-merta meleleh di lidah. Rasa manisnya menyerap begitu dalam hingga terasa menembus tulang. Dengan sedikit enggan, Yefan menelannya bulat-bulat.

​Seketika...

Boomm!

​Energi spiritual yang murni dan padat mendadak meledak di dalam tubuhnya, mengancam akan menghancurkan organ-organnya. Namun sebelum hal itu terjadi, jantung Yefan—yang kini berfungsi menggantikan Dantian—secara otomatis menyerap energi brutal tersebut tanpa perlawanan.

​Jantung itu mengekstraksi sebagian energi Ganoderma lucidum menjadi energi kehidupan murni, lalu menyebarkannya ke sekujur tubuh untuk memulihkan luka-luka Yefan. Sementara itu, sisa energinya dialirkan untuk memacu tingkat kultivasinya.

​Boomm!!

​Setelah melewati rentang waktu yang tak diketahui, sebuah aura kuat terpancar dari tubuh Yefan. Tekanan tersebut begitu dahsyat hingga membuat semak dan dedaunan di sekitarnya tersapu angin kencang kesegala arah. Seluruh luka luar dan dalam bekas pertempuran sebelumnya sembuh seketika tanpa bekas.

​"Transenden tahap tengah," gumam Yefan seraya membuka mata. Pandangannya dingin tanpa ekspresi.

​Bagi Yefan, penerobosan ini tidak membawa kebanggaan, melainkan duka yang kian menghantui lubuk jiwanya.

​"Ayah... Ibu... tidak ada lagi tujuan hidupku selain membalaskan dendam kalian. Namun, jika semua dendam ini telah terbalas kelak... untuk apa lagi aku hidup tanpa kalian di sisiku?" gumamnya hampa.

​Setelah beberapa jam menenangkan gejolak di hatinya, Yefan mengambil kuas bertinta hitam yang terselip di pinggangnya.

​Ia teringat pertarungannya dengan Tetua Yanfeng sebelumnya. Ia tidak menyangka kuas ini menyimpan kekuatan yang luar biasa. Jika bukan karena kuas ini, Yefan akan sangat kesulitan menandingi kultivator Alam Roh hanya dengan mengandalkan entitas tak berbentuk. Meski kuas ini sebatas artefak tingkat bawah, Tapi kekuatannya mampu menghancurkan kapak milik Tetua Yanfeng yang berada di tingkat menengah. yefan di buat bertanya tanya, mengapa hal itu bisa terjadi.

​"Mungkinkah kuas ini menyimpan rahasia yang tidak aku ketahui?" gumamnya.

​Ia mencoba menyuntikkan kesadarannya ke dalam kuas tersebut, tetapi benda itu tetap tidak bergeming bak kayu mati. Berbagai cara telah ia coba, namun tak ada satu pun yang memicu reaksi.

​"Mungkinkah... aku harus meneteskan darah seperti petunjuk dari buku-buku beladiri di desa itu?" pikirnya.

​Yefan menggores telunjuknya dengan ujung kuku yang tajam. Setetes darah hitam menetes menimpa gagang kuas.

​Kuas bertinta hitam yang awalnya terdiam itu, mendadak menyerap darah Yefan dengan serakah lalu bergetar hebat.

​Ada reaksi! batin Yefan antusias.

​Tepat pada saat itu, seberkas cahaya putih keabuan melesat keluar dari mata kuas dengan kecepatan kilat, menembus dahi Yefan sebelum ia sempat menghindar.

​"Ini...!" Yefan terperanjat.

​Boom!

​Bagaikan dihantam palu godam, lautan kesadaran Yefan dibanjiri oleh potongan ingatan dan informasi asing milik pemilik kuas bertinta hitam terdahulu. Kepalanya terasa hendak pecah.

​"Akhh!" Ia memegangi kepalanya sambil mengerang kesakitan.

​Beberapa saat kemudian, rasa sakit itu berangsur mereda. Di dalam lautan kesadarannya, Yefan melihat gambaran sesosok wanita berparas anggun bagai bidadari. Wanita itu mengenakan gaun hijau dan bermahkota sederhana yang menghiasi rambut nya yang panjang. wanita itu tampak sedang melukis dengan Kuas bertinta hitam di jemari nya yang seputih giok di bawah pohon berdaun emas, "Sebuah pohon raksasa dengan puluhan ribu dahan yang menembus awan.

​Yefan sempat terpesona oleh kecantikan sang wanita dan kemegahan pohon ajaib tersebut. Namun, ia lekas menepis fokusnya. Baginya, itu bukanlah tujuannya. Ia segera beralih meneliti informasi berikutnya: teknik penggunaan kuas bertinta hitam.

​"Ternyata kuas ini baru akan menunjukkan kekuatan aslinya jika dipicu oleh aura Yin," gumam Yefan seraya melirik tubuhnya sendiri yang kini dikelilingi oleh aura Yin.

​Penglihatannya lalu tertuju pada visi berikutnya: seorang pria tua yang sedang menempa sepotong kayu misterius dengan menggunakan aura Yin ekstrem secara hati-hati. Yefan memperhatikan setiap ketukan palu pria tua itu dengan saksama, hingga sebilah kuas bertinta hitam akhirnya tercipta.

​Yefan mengernyit kagum. "Pengendalian aura Yin yang sangat halus..." Ia tahu betul betapa korosifnya aura Yin. Namun, di tangan pria tua itu, aura seganas itu bisa ditundukkan menjadi sarana penempaan.

​Bagi Yefan yang tubuhnya terbuat dari aura Yin, menirukan hal tersebut bukanlah hal yang mustahil. Tatapannya kini tertuju pada tanduk kera yang terselip di pinggangnya.

​"Aku harus mencoba teknik penempaan ini untuk membuktikannya. Apakah senjata hasil tempaanku juga akan memiliki kekuatan magis seperti kuas ini?" gumamnya, matanya berkilat penasaran. "Jika berhasil, aku akan memiliki kartu as tambahan. Dengan dua senjata ini dan entitas tak berbentuk, aku memiliki modal untuk bertukar pukulan dengan kultivator Alam Roh tahap menengah."

​Tanpa ragu, Yefan melepaskan kabut Yin hitam dari sekujur tubuhnya, membalut tanduk kera tersebut. Di bawah kendali Yefan yang presisi, tanduk sekeras logam mulia itu perlahan melunak.

​Dang! Dang! Dang!

​Dengan mata terpejam, Yefan mengayunkan palu besi pada tanduk hitam, menirukan setiap detail gerakan sang pria tua tanpa celah.

​Siang dan malam berlalu bergantian. Yefan menempa secara presisi dengan sepenuh hati tanpa henti.

​Hingga pada hari kelima—Dang!

​Sebilah pedang selebar tiga jari berwarna putih berpola rumit, dengan panjang satu meter, telah tercipta sempurna di genggaman Yefan. Bilahnya yang tajam memancarkan aura dingin yang mencekam.

​"Hah... hah..." Yefan menghela napas lelah. Namun, senyum kepuasan mengembang di wajahnya melihat hasil tempaan pedang tersebut.

​Tanpa membuang waktu, Yefan mengalirkan energi vitalnya yang berwarna ungu kehitaman ke dalam pedang.

​Deng... Pedang itu bergetar.

​Dengan gerakan halus, Yefan mengayunkan pedang tersebut ke arah pohon besar di hadapannya.

​Sret...

​Bilah pedang menebas kayu keras itu selayaknya memotong tahu. Pohon itu tidak tumbang seperti pada umumnya, melainkan terdiam kaku sementara warnanya perlahan memudar menjadi putih keabuan.

​Tidak berhenti di situ, Yefan menyaksikan fenomena mengerikan: dalam radius satu kilometer, pohon-pohon besar, semak belukar, hingga binatang buas yang sedang bertarung seketika berubah warna menjadi putih keabuan.

​Lalu...

Kurr...

​Seluruh objek yang tersapu domain putih keabuan itu hancur berkeping-keping menjadi serpihan abu.

​Bibir Yefan menyunggingkan senyum tipis. "Berhasil sepenuhnya," gumamnya puas.

​Ia kemudian meneteskan darahnya ke atas bilah pedang untuk mengikatnya, memastikan hanya dirinya yang bisa menggunakan senjata magis tersebut.

​Sementara itu di atas pohon, Jiun Yi yang masih mengamati dibuat terkagum-kagum dengan dada bergejolak hebat. Meski terguncang, tangannya tidak berhenti mencatat setiap detail gerakan Yefan di atas kertas. Ia berniat mempelajari teknik tersebut—yang merupakan salah satu alasannya bersedia menjadi bawahan Yefan, di samping demi menyelamatkan adiknya.

​Tiba-tiba, saat Jiun Yi sedang fokus menulis, sebuah perahu kertas melesat cepat dari kejauhan dan berhenti tepat mengambang di hadapannya. Dengan enggan, ia menghentikan kesibukannya sejenak.

​Namun, begitu membaca isi pesan pada perahu kertas itu, wajah Jiun Yi mendadak pucat pasi. Ia langsung melompat turun mendekati Yefan.

​"Tuan Muda! Hamba membawa kabar buruk!" serunya gemetar. "Keluarga Yujin telah mengutus Jenderal mereka yang berada di Alam Roh tahap awal, lengkap dengan delapan ratus pasukan elit di bawah komandonya! Tak hanya itu, ribuan kultivator, keluarga besar, aliansi pebisnis, hingga pembunuh bayaran kini memburu Anda demi imbalan satu juta tael perak! Dari informasi yang hamba dapat, total ada tiga ribu kultivator yang bergerak... belum termasuk mereka yang mengintai dari balik bayangan!"

​Napas Jiun Yi memburu. "Diperkirakan mereka akan segera tiba di sini!"

​Jiun Yi benar-benar tidak menduga mereka akan bergerak di waktu yang bersamaan. Walaupun ia berasal dari keluarga bergengsi yang telah melihat kerasnya dunia, belum pernah sekalipun ia melihat tiga ribu kultivator dikerahkan serentak hanya untuk memburu satu orang yang tingkat kultivasinya baru menyentuh Transenden tahap menengah.

​Mendengar laporan mengejutkan itu, Yefan hanya tersenyum dingin. Matanya tetap tertuju santai pada pedang baru di genggamannya.

​Namun, sebelum Jiun Yi sempat melanjutkan bicaranya—

​Wuuusss!

​Sebuah tombak melesat dari atas langit, membawa aura pembunuh yang amat tajam hingga menghancurkan apapun yang dilaluinya menjadi ketiadaan. Tombak itu mengincar bahu Yefan!

​Serangan tiba-tiba itu membuat Jiun Yi tersentak kaget.

​Tepat sebelum ujung tombak menyentuh bahunya, Yefan—yang kini telah memahami cara menggunakan kuas bertinta hitam—hanya bereaksi melalui kehendak pikirannya.

​Deng!

​Kuas yang terselip di sabuk hitamnya bergetar, memproyeksikan gambar gambar tiga dimensi di ujung mata kuas. Seketika, tombak yang melaju deras itu membeku di udara. dengan Warna tombak yang telah berubah drastis menjadi putih keabuan.

​Suasana hening seketika. Tak butuh waktu lama...

​Krak!

​Keheningan itu dipecahkan oleh suara hancurnya tombak tersebut. Senjata mematikan itu hancur menjadi serpihan abu yang berserakan di tanah tanpa perlawanan.

​"Hmm...?"

​Tiba-tiba, sebuah suara keterkejutan bergema dari dalam kegelapan.

​Bersambung.

1
Ed Troivan
plagiat kau
Rozer Cros: diam Diam diam, 🥹
total 3 replies
Fajar Fathur rizky
bikin yefan jadi alkemis tingkat tinggi yang mana kaisar tianming sendiri harus berlutut dan memberi hormat bikin nanti yefan bantai klan yujin dan hancurkan kaisar itu beserta keluarganya kaisar itu
Fajar Fathur rizky
cepat bikin yefan bantai jendral
Rozer Cros
mksh kk ketitik nya.
aku cuma mau jelasin. ini karya hasil Kranggan ku sendiri kk, dan ga PP kalo KK ga percaya juga. dan terimakasih atas dukungan nya untuk karya ini meski tidak sebaik yang lain. 🙏🙏
intsomi: itu buzzer,jangan di liat komenannya,abaikan saja
total 5 replies
Ed Troivan
Author plagiat, ngga bakal ditamatin
Ed Troivan
Pasti ini karya plagiatmu lagi author tolol, kau bisa-bisanya menerjemahkannya lalu kau ubah nama tokoh-tokohnya makanya nggak kau lanjut novel Sang Penakluk... 👍
Rozer Cros: terima kasih kk udah dukung karya ini meski tidak sebaik yang lain. semoga sehat selalu kk
total 1 replies
Ed Troivan
kok rantaul
Ed Troivan: nggak bertanggung jawab lu Thor
total 4 replies
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
Fajar Fathur rizky
nanti bikin yefan bantai keluarga yunjin dengan cara paling kejam dan sadis
Fajar Fathur rizky
cepat bantai yanfeng bikin ranah kultivasi yefan langsung naik ke ranah yang lebih tinggi dari ranah yanfeng
Farhan Sadewa
gereget BNR lihat tingkah laku Yulin zou ini 🤭
Ed Troivan: Author tolol
total 1 replies
Farhan Sadewa
membuat penassran
Farhan Sadewa
penuh misteri👍
Ed Troivan: penuh misteri🤣 author gak jelas. palingan ilang lagi nanti karena nggak bisa plagitin lagi
total 1 replies
Farhan Sadewa
penasarn
Farhan Sadewa
jadi penasaran🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!