Vincent Lawson rela meletakkan pistolnya demi menggenggam tangan wanita yang ia cintai. Ia percaya, cincin itu akan menjadi awal dari selamanya. Namun pada malam yang sama, wanita itu mengganti janjinya dengan sepasang borgol.
Di tengah raungan sirene dan hancurnya seluruh impian, Vincent tak lagi mempertanyakan mengapa ia ditangkap. Ia hanya ingin tahu...
“Di antara ribuan senyum yang kau berikan selama dua tahun... adakah satu saja yang lahir karena cinta, bukan karena tugas?” 💔
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Efa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
[ Vonis Kematian ]
Satu bulan telah berlalu sejak Vincent Lawson ditangkap. Hari itu, hujan turun tanpa henti seolah langit ikut mengabarkan bahwa tidak semua kisah cinta berakhir dengan kebahagiaan.
Gedung pengadilan dipenuhi wartawan, aparat keamanan, dan masyarakat yang ingin menyaksikan putusan bagi pria yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai mafia paling berbahaya di negara itu.
Zhava duduk di bangku paling belakang. Seragam kepolisiannya terlihat rapi seperti biasa, tetapi wajahnya tampak pucat. Sejak semalam ia tidak mampu memejamkan mata. Entah mengapa, ada firasat buruk yang terus menghantui pikirannya.
Pintu ruang sidang terbuka.
Vincent melangkah masuk dengan kedua tangan diborgol. Tubuhnya terlihat lebih kurus dibanding terakhir kali Zhava melihatnya, tetapi langkahnya tetap tegap. Saat mata mereka bertemu, Vincent tersenyum tipis, seolah ingin mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Padahal mereka sama-sama tahu... tidak ada lagi yang akan baik-baik saja.
Hakim mulai membacakan seluruh dakwaan. Penyelundupan senjata, pencucian uang, pemerasan, hingga memimpin organisasi kriminal bersenjata. Setiap kalimat terdengar seperti palu yang menghantam dada Zhava.
Vincent tidak membantah satu pun.
Ia berdiri dengan tenang sambil mendengarkan seluruh putusan.
Hingga akhirnya hakim mengangkat berkas terakhir.
"Berdasarkan seluruh alat bukti, pengakuan terdakwa, serta mempertimbangkan dampak kejahatan yang dilakukan, majelis hakim memutuskan..."
Ruangan mendadak sunyi.
"...menjatuhkan pidana hukuman mati kepada terdakwa Vincent Lawson."
Tok!
Palu hakim diketukkan.
Dalam sekejap, seluruh isi ruangan terasa membeku.
Zhava membelalakkan mata.
Hukuman mati...
Ia memang tahu Vincent akan dihukum berat.
Namun ia tidak pernah membayangkan putusan itu akan sekejam ini.
Tangannya langsung gemetar.
"Vincent..."
bisiknya lirih.
Sementara Vincent hanya mengembuskan napas pelan.
Lalu...
Ia tersenyum.
Senyum yang membuat hati Zhava semakin hancur.
Petugas segera menghampiri untuk memborgol kembali kedua tangannya.
Pengacara Vincent berdiri dengan wajah tidak percaya.
"Kita masih bisa mengajukan banding!"
Vincent menggeleng pelan.
"Tidak perlu."
"Pak Vincent!"
"Aku lelah."
Hanya dua kata itu.
Namun terdengar seolah Vincent benar-benar telah menyerahkan seluruh hidupnya kepada takdir.
Zhava tidak sanggup lagi duduk diam.
Ia berdiri tanpa sadar.
"Yang Mulia!"
Semua orang langsung menoleh ke arahnya.
Hakim mengernyit.
"Saudari Zhava Vianzya, harap tenang."
"Tidak..."
Suara Zhava mulai bergetar.
"Masih ada..."
"...masih ada hal yang belum selesai diselidiki."
Komandan yang duduk di barisan depan langsung menatap tajam ke arahnya.
"Zhava, duduk."
"Tapi, Komandan—"
"Itu perintah."
Zhava mengepalkan kedua tangannya.
Ia kembali menatap Vincent.
Pria itu hanya menggeleng pelan sambil tersenyum.
Seolah sedang memintanya untuk berhenti.
Seolah berkata bahwa semua ini memang sudah cukup.
Hakim kembali mengetukkan palu.
"Sidang selesai."
Petugas langsung menggiring Vincent keluar.
Saat melewati Zhava, langkah Vincent sempat berhenti.
Mereka saling menatap untuk beberapa detik.
Zhava tidak lagi mampu menahan air matanya.
"Aku akan mencari jalan..." bisiknya sambil menangis.
"Aku janji."
Vincent tersenyum lembut.
"Aku percaya."
"Lalu tunggu aku..."
"Aku akan menyelamatkanmu."
Vincent menggeleng pelan.
"Jangan."
Zhava membeku.
"Dengarkan aku baik-baik."
Suara Vincent begitu tenang.
"Kalau memang masih ada kesempatan..."
"...gunakan itu untuk mencari kebenaran."
"Bukan untuk menyelamatkanku."
Kalimat itu membuat Zhava semakin menangis.
Vincent melangkah mendekat hingga hanya beberapa sentimeter memisahkan mereka.
Dengan suara yang hampir tidak terdengar, ia berbisik,
"Aku tidak pernah menyesal bertemu denganmu."
"Bahkan jika akhirnya..."
"...kau menjadi orang terakhir yang kulihat sebelum kematian menjemputku."
Petugas menarik Vincent menjauh.
Zhava spontan ingin mengejarnya.
Namun beberapa polisi segera menahannya.
"Letnan!"
"Tolong tenang!"
Zhava terus menatap punggung Vincent yang semakin menjauh.
Untuk pertama kalinya...
Ia tidak lagi melihat Vincent sebagai mafia yang berhasil ia tangkap.
Melainkan...
Sebagai pria yang sebentar lagi akan kehilangan seluruh masa depannya.
Dan untuk pertama kalinya sejak dua tahun penyamarannya dimulai...
Zhava membuat sebuah keputusan.
Apa pun risikonya.
Apa pun yang harus ia korbankan.
Ia akan mengungkap seluruh kebenaran.
Bahkan jika itu berarti harus melawan institusinya sendiri.
Karena ia tidak ingin pria yang pernah memberikan cincin di jari manisnya...
Mengakhiri hidup di depan regu eksekusi...
Dengan membawa tuduhan yang belum sepenuhnya terungkap.