Nadira terpaksa menerima pernikahan kontrak dengan seorang CEO dingin bernama Arka Mahendra demi melunasi utang ayahnya. Dalam perjanjian itu, ia hanya akan menjadi "istri paruh waktu"—seorang istri yang hadir saat keluarga besar membutuhkan, tetapi tak pernah benar-benar dicintai.
Arka masih terikat pada cinta masa lalunya, Selena, yang tiba-tiba kembali setelah bertahun-tahun menghilang. Tanpa ragu, Arka mengabaikan Nadira dan diam-diam menjalin hubungan kembali dengan Selena, membuat Nadira berkali-kali dipermalukan.
Semua orang menganggap Nadira hanyalah perempuan miskin yang mengejar harta keluarga Mahendra. Namun, di balik sikap lembutnya, ia menyimpan identitas yang tak seorang pun ketahui.
Ketika penghianatan demi penghianatan terus terjadi, Nadira memilih pergi tanpa membawa apa pun. Kepergiannya justru membuka rahasia besar yang membuat Arka menyesal seumur hidup.
Sayangnya, saat Arka akhirnya menyadari bahwa perempuan yang ia sia-siakan adalah cinta sejatinya, Nadira telah b
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aurora23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 16 : Rahasia Masa Lalu Nadira
Ambisi yang membakar dada Selena tidak membiarkannya beristirahat. Setelah kegagalan telak dalam upayanya memprovokasi Nadira secara langsung di rumah keluarga Mahendra, ia menuntut hasil yang lebih agresif dari penyelidik swasta yang ia sewa. Uang dalam jumlah besar kembali digelontorkan demi mengendus setiap sudut gelap yang mungkin disembunyikan oleh keluarga guru TK tersebut.
Hingga akhirnya, sebuah amplop cokelat tebal mendarat di meja kerja Selena pada suatu siang.
Dengan senyum miring yang penuh kemenangan, Selena membuka lembar demi lembar dokumen di dalamnya. Matanya berbinar licik saat membaca baris demi baris laporan mengenai latar belakang finansial almarhum ayah Nadira. Di sana tertera dengan jelas bahwa sepuluh tahun yang lalu, pria itu pernah membangun sebuah usaha konveksi kecil-kecilan. Usaha yang awalnya berkembang pesat itu mendadak hancur lebur, bangkrut total setelah sang ayah ditipu mentah-mentah oleh rekan bisnis kepercayaannya yang membawa kabur seluruh modal dan aset perusahaan.
Akibat dari musibah itu, keluarga Nadira harus menanggung warisan utang dalam jumlah yang sangat besar kepada beberapa pihak. Rumah masa kecil mereka disita, dan seluruh tabungan keluarga terkuras habis tanpa sisa untuk menutupi tuntutan para kreditur.
"Pantas saja kamu langsung menyambar tawaran pernikahan kontrak ini tanpa berpikir panjang, Nadira," gumam Selena, jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan foto masa lalu Nadira yang buram dalam dokumen tersebut. "Kamu adalah seorang oportunis yang menjual dirimu berkedok menantu berbakti. Dasar wanita miskin pembohong."
Tanpa membuang waktu, Selena menyusun rencana untuk meledakkan bom informasi ini tepat di jantung pertahanan Nadira—di hadapan seluruh keluarga besar Mahendra.
---
Kesempatan itu datang dua hari kemudian. Ibu Sarah mengadakan acara minum teh sore formal di paviliun samping kediaman utama, mengundang beberapa kerabat dekat serta Selena yang sengaja ia libatkan sebagai bagian dari kepengurusan yayasan. Arka, yang baru saja menyelesaikan rangkaian rapat kerja lebih awal, kebetulan berada di rumah dan diminta oleh sang kakek untuk ikut duduk di sana. Nadira pun hadir, duduk dengan anggun di samping Opa Wijaya, mengenakan blus rajut halus berwarna pastel yang bersahaja.
Suasana yang semula tenang berangsur-angsur berubah tegang ketika Selena mulai mengarahkan pembicaraan ke arah latar belakang keluarga.
"Oh ya, Tante Sarah," panggil Selena dengan nada suara yang sengaja dikeraskan agar terdengar oleh semua orang di paviliun. "Bicara tentang latar belakang keluarga, belakangan ini saya banyak mendengar cerita menarik dari relasi bisnis papa saya di luar sana. Katanya, di zaman sekarang ini, banyak sekali orang dari kalangan bawah yang rela melakukan apa saja, bahkan merancang skenario manipulatif, demi bisa melunasi utang-utang keluarga yang menumpuk."
Ibu Sarah mengangkat cangkir teh porselennya, memancing kelanjutan cerita. "Maksudmu bagaimana, Selena? Orang-orang seperti apa?"
Selena melirik Nadira dengan tatapan mata yang berkilat penuh ejekan, lalu mengeluarkan beberapa lembar salinan dokumen dari dalam tas tas kulitnya dan meletakkannya di atas meja marmer. "Ya, contohnya seperti beberapa berkas yang tidak sengaja masuk ke meja kerja saya ini. Berkas tentang sebuah keluarga yang bisnisnya bangkrut total karena penipuan, lalu meninggalkan utang miliaran rupiah. Dan tebak apa yang dilakukan oleh anak perempuan dari keluarga itu? Dia memanfaatkan kedekatannya dengan seorang pria tua kaya raya yang sedang sakit untuk masuk ke dalam keluarganya, menggunakan pernikahan sebagai kedok untuk membersihkan nama buruk keluarganya dari kejaran penagih utang."
Atmosfer di paviliun itu mendadak turun hingga ke titik beku. Ibu Sarah langsung meletakkan cangkirnya dengan hentakan keras, matanya menatap tajam ke arah lembaran dokumen yang memuat nama almarhum ayah Nadira.
"Apa-apaan ini, Nadira?!" tuntut Ibu Sarah, suaranya melengking penuh kemarahan. "Jadi benar apa yang saya katakan selama ini? Kamu menikahi anak saya hanya karena uang? Karena keluargamu terlilit utang judi atau utang bisnis yang memuakkan itu?!"
Nadira terpaku. Wajahnya seketika kehilangan rona darah. Jemarinya yang bertumpu di atas pangkuan meremas kain blusnya dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Rahasia kelam tentang kebangkrutan ayahnya, yang selama ini ia simpan rapat-rapat sebagai aib keluarga yang menyakitkan, kini dikuliti tanpa ampun di depan mata semua orang oleh Selena.
"Nyonya... itu..." Nadira berusaha bersuara, namun tenggorokannya mendadak terasa kering dan tercekat.
"Sarah! Cukup! Jangan bertindak memalukan di depan tamu!" bentak Opa Wijaya, memukul pegangan kursi rodanya dengan keras. Namun, sang kakek sendiri tidak bisa menyembunyikan gurat keterkejutan di wajah sepuhnya saat melihat dokumen resmi tersebut.
Arka, yang sejak tadi duduk diam di seberang meja, menatap Nadira dengan tatapan mata yang mendadak mendingin. Manik mata hitamnya menyipit tajam, menembus langsung ke dalam manik mata Nadira yang mulai berkaca-kaca. Logika tajam Arka mulai bekerja. Selama ini ia tahu bahwa pernikahan mereka didasari oleh sebuah kontrak dan kesepakatan finansial, namun ia tidak pernah mengetahui secara spesifik mengenai utang masa lalu keluarga Nadira. Kenyataan bahwa Nadira menyembunyikan fakta sebesar ini darinya memicu kembali rasa tidak percaya yang sempat mereda di dalam dadanya.
"Apakah itu benar, Nadira?" tanya Arka, suaranya terdengar sangat rendah, datar, namun sarat akan tuntutan kejelasan yang mengintimidasi.
Nadira menatap Arka. Di dalam tatapan suaminya, ia tidak menemukan sepercik pun ruang untuk membela diri. Yang ada hanyalah penghakiman dingin yang seolah menegaskan bahwa di mata Arka, ia memang tidak lebih dari seorang wanita transaksional.
Dengan sisa harga diri yang ia miliki, Nadira menarik napas dalam-dalam, menegakkan punggungnya. "Benar, Pak Arka. Almarhum ayah saya memang pernah mengalami kebangkrutan, dan keluarga kami memiliki kewajiban finansial yang harus diselesaikan. Saya tidak pernah menyangkal bagian itu."
"Lihat! Dia sendiri mengakukannya!" seru Selena dengan tawa puas yang tertahan. "Dia benar-benar menikahi Anda demi uang, Arka!"
Namun, ada satu hal yang tidak diketahui oleh Selena, Ibu Sarah, Opa Wijaya, ataupun Arka Mahendra. Sebuah rahasia yang jauh lebih besar, lebih gelap, dan lebih menyakitkan dari sekadar utang masa lalu seorang ayah.
---
Alasan sebenarnya mengapa Nadira menurunkan seluruh ego dan harga dirinya untuk menerima lembar kontrak pernikahan satu tahun itu bukanlah sekadar demi melunasi sisa utang usaha almarhum ayahnya. Utang ayahnya memang besar, namun dengan bekerja keras mengajar dan mengambil kelas privat tambahan, Nadira masih bisa mencicilnya perlahan dari tahun ke tahun.
Hal yang benar-benar meruntuhkan pertahanan Nadira dan memaksanya berlutut pada takdir adalah kenyataan medis yang menimpa ibunya.
Tiga bulan sebelum pertemuan pertamanya dengan Opa Wijaya, sang ibu didiagnosis mengidap penyakit ginjal kronis stadium akhir. Kedua ginjal ibunya sudah tidak berfungsi dengan baik, memaksanya untuk menjalani prosedur cuci darah rutin beberapa kali dalam seminggu. Tidak hanya itu, tim dokter menyatakan bahwa satu-satunya jalan untuk menyelamatkan nyawa ibunya adalah dengan melakukan operasi transplantasi ginjal total—sebuah prosedur medis darurat yang membutuhkan biaya selangit, angka yang tidak akan pernah bisa dikumpulkan oleh seorang guru TK sepertinya seumur hidup.
Selama ini, Nadira menyembunyikan kenyataan pahit itu dari semua orang di rumah Mahendra dengan sangat rapat. Ia tidak ingin pernikahan kontrak ini terlihat seperti sebuah aksi pemerasan atau belas kasihan yang menyedihkan. Ia membayar seluruh biaya rumah sakit ibunya menggunakan dana kompensasi awal yang ia terima dari pengacara keluarga Mahendra, memindahkan ibunya ke sebuah rumah sakit swasta di pinggiran kota dengan nama samaran agar tidak terendus oleh media atau keluarga Arka.
Setiap kali ia pamit untuk pergi mengajar lebih awal atau pulang sedikit terlambat, Nadira sebenarnya sedang berlari menuju rumah sakit, mengganti pakaian anggunnya dengan pakaian biasa, lalu duduk di samping ranjang ibunya, memijat kaki wanita tua itu yang membengkak akibat efek samping pengobatan.
---
Sore itu, setelah badai penghinaan di paviliun mereda karena Nadira memilih untuk mengundurkan diri dan pergi dengan alasan ada keperluan mendesak, ia tidak pulang ke kamarnya. Dengan mengendarai taksi online, Nadira menembus kemacetan kota menuju Rumah Sakit Medika Permata yang terletak jauh di sudut kota yang sepi.
Langkah kakinya terasa sangat lemas saat menyusuri koridor rumah sakit yang berbau menyengat zat antiseptik. Di dalam ruang perawatan kelas dua, ia melihat ibunya sedang terbaring lemah dengan selang-selang medis yang terhubung ke tubuhnya yang kian mengurus. Wajah sang ibu tampak pucat, namun sebuah senyuman hangat langsung mengembang ketika melihat putri tunggalnya masuk.
"Nadira... anakku," bisik sang ibu dengan suara yang lemah.
Nadira buru-buru menghapus sisa air mata yang sempat menggenang di sudut matanya sebelum mendekat. Ia duduk di kursi plastik di samping ranjang, meraih tangan ibunya yang terasa dingin dan kering, lalu mengecupnya dengan penuh takzim.
"Ibu... bagaimana rasanya hari ini? Apa setelah cuci darah tadi perutnya masih terasa mual?" tanya Nadira, suaranya diusahakan terdengar seceria mungkin, menyembunyikan badai yang baru saja menghancurkan hatinya di rumah Mahendra.
"Sudah lebih baik, Sayang. Dokter bilang kondisi Ibu cukup stabil untuk menunggu jadwal donor berikutnya," jawab sang ibu, mengusap lembut rambut Nadira. Matanya yang sepuh menatap wajah putrinya dengan pandangan bersalah. "Maafkan Ibu ya, Nadira... karena penyakit Ibu, kamu harus bekerja sangat keras. Ibu kadang merasa menjadi beban yang terlalu berat untukmu."
Mendengar kalimat itu, dada Nadira rasanya seperti tertusuk ribuan jarum. Ia menggelengkan kepalanya dengan cepat, menahan sekuat tenaga agar air matanya tidak tumpah di depan ibunya. "Ibu jangan bicara begitu. Nadira sama sekali tidak merasa terbebani. Nadira sangat bahagia bisa merawat Ibu. Ibu hanya perlu fokus untuk sembuh, ya? Masalah biaya... semuanya sudah aman. Pekerjaan Nadira di yayasan sekarang memberikan insentif yang sangat besar."
Nadira terus menemani ibunya hingga hari beranjak malam, membacakan beberapa bagian dari buku cerita, dan memastikan ibunya meminum obat dosis malamnya hingga akhirnya wanita tua itu tertidur lelap di bawah pengaruh obat penenang.
---
Waktu menunjukkan pukul sembilan malam ketika Nadira akhirnya melangkah keluar dari ruang perawatan ibunya. Koridor rumah sakit lapis belakang itu sudah sangat sepi, hanya ada pendar lampu neon putih yang berkedip pelan dan suara langkah kaki perawat jaga di kejauhan.
Nadira berjalan menuju ruang tunggu terbuka yang terletak di dekat jendela besar yang menghadap ke arah taman dalam yang gelap. Begitu tubuhnya menyentuh kursi besi yang dingin, seluruh kekuatan, ketegaran, dan topeng ketenangan yang ia pasang dengan begitu kokoh sejak sore tadi di hadapan Selena, Arka, dan ibunya... runtuh seketika tanpa sisa.
Kedua lututnya lemas. Nadira menundukkan kepalanya dalam-dalam, menenggelamkan wajahnya di antara kedua telapak tangannya.
Bahu kecilnya mulai bergetar hebat. Isak tangis yang sejak tadi ia kurung di dalam dadanya akhirnya pecah dalam kesunyian malam. Air mata mengalir deras membasahi jemarinya, membawa serta seluruh rasa sakit, kehinaan, ketakutan, dan kelelahan mental yang teramat sangat yang harus ia pikul sendirian di atas pundaknya yang rapuh.
Ia menangis tersedu-sedu, meratapi takdir hidupnya yang terasa begitu kejam. Di satu sisi, ia harus bertahan di dalam rumah mewah yang penuh dengan kecurigaan dan kebencian dari Ibu Sarah dan Selena. Di sisi lain, pria yang berstatus sebagai suaminya, Arka Mahendra, memandangnya tidak lebih dari seorang wanita yang bisa dibeli dengan selembar kertas kontrak. Dan di atas semua itu, nyawa ibunya terus berkejaran dengan waktu di dalam ruang perawatan ini.
"Ibu... Nadira lelah..." bisik Nadira di sela-sela tangisnya, suaranya terdengar sangat pilu dan menyedihkan di tengah keheningan koridor rumah sakit. "Nadira harus bagaimana...?"
Malam itu, di bawah temaram lampu rumah sakit yang dingin, jauh dari kemewahan dan gemerlap dunia Mahendra Group, Nadira menangis sendirian dalam kesunyian yang mencekam—menyerahkan seluruh kerapuhannya pada pekatnya malam, tanpa tahu bahwa badai yang sesungguhnya baru saja dimulai, dan rahasia yang ia simpan dengan darah dan air mata ini kelak akan menjadi ujian terbesar bagi hati dingin seorang Arka Mahendra.