Mengisahkan tentang dua orang anak kembar yang memilki dunia yang sama. Karena sejak kecil mereka memang tidak pernah terpisahkan.
Rean Arya Partama, kakak dari Sean Kingston yang terkenal sebagai dokter playboy, padahal dirinya bahkan tidak pernah berpacaran sebelumnya. Sosok hangat yang selalu menjadi partner terbaik dalam hidup adik kembarnya, Sean.
Sean Aryo Pratama, seorang dokter muda yang memiliki kesabaran seluar lautan, namun berubah menjadi dingin saat sebuah kecelakaan merenggut seluruh masa depannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tessa Amelia Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 25
Melihat Embun akhirnya pulang membuat Fika dan Tasya bisa bernafas lega. "Lu kemana aja sih? Kok lama banget pulangnya. Mana di luar hujan deras banget lagi." ujar Fika panik.
"Tadi lembur. Terus-"
"Wait, ini jaket cowok kan? Baunya juga bau parfume mahal. Mana maskulin banget lagi. Lu habis ngedate ya?" tebak Tasya melihat Embun memakai jaket laki-laki, dengan aroma maskulin yang begitu mewah.
Di tambah jaket ini keluaran brand ternama pula. Jadi semakin yakin jika Embun pasti baru saja keluar sama gebetannya.
"Lu beneran udah move on dari Daniel?" tanya Fika penasaran.
Mendengar nama Daniel kembali di sebut membuat Embun terlihat sedih. Bagaimana tidak sedih, jika laki-laki yang dia sukai malah menolaknya hanya karena alasan yang tidak masuk akal menurutnya.
"Jangan ngomongin dia deh. Kaki aku sakit nih, tadi jatuh pas mau balik." Fika dan Tasya melihat itu.
Memang benar jika lutut Embun luka. Tapi sudah di obati. "Sebenernya lu dari mana sih? Gue penasaran banget sumpah deh." ucap Fika yang begitu penasaran.
Bagaimana ini, tidak mungkin dia mengatakan pada mereka jika dia di antar pulang oleh Pak Sean, Manager keuangan mereka yang baru. Jika sampai mereka tau, bisa jadi bahan gosipan di kantor nantinya.
Ah, lebih baik dia diam saja demi kebaikan mereka semua.
"Udah deh, aku capek. Mau mandi, terus makan. nanti ada grab yang anter makanan, tolong ambilin di bawah ya. Kita makan sama-sama." kata Embun sebelum menghilang di balik pintu kamar mandi.
Sementara Sean, dia masih menatap gedung tempat dimana Embun tinggal. Apalagi saat dia menggendongnya tadi. Jantungnya berdebar kencang, dan rasa ingin memiliki itu semakin besar.
Jadi apa yang harus dia lakukan saat ini? Karena tidak ingin membuat banyak orang khawatir, Sean memilih kembali pulang ke rumah dan ternyata keluarganya sudah menunggu kepulangan.
"Sean, akhirnya kamu pulang juga nak." ucap ibunya melihat Sean yang baru sampai.
"Kalau hujan telepon aku, Sean." timpal Rean yang khawatir dengan penglihatan Sean ketika hujan di malam hari.
"Apa gunanya kaca mata kalau masih menghubungimu?" jawab Sean datar.
Dia langsung duduk di meja makan dan ibunya memperhatikan putra bungsunya ini, sampai dia melihat ada sesuatu yang menempel di jas putranya.
"Sean, apa ini nak?" tanya ibunya penasaran mendekati Sean dan matanya langsung menangkap sesuatu disana.
Dia tidak salah lihat. Ini lipstik, ya ini benar-benar lipstik. Bekas bibir siapa itu?
Sean terkejut melihat itu. Tapi dia berusaha untuk tetap tenang disana. "Oh, tadi di kantor makan siang jadi ketumpahan saos." jawabnya asal membuat Rean langsung tertawa disana.
"Ahahaha...ternyata orang paling pintar di SMA, juara olimpiade Sains, Matematika, lulusan terbaik di fakultas kedokteran waktu itu bisa jadi orang bodoh juga ya?"
Brak!
Sean menggebrak meja makan saat mendengar ejekan Rean.
"Lagian kalau mau buat alasan itu yang masuk akal. Mana ada bekas saos bentukan bibir begitu." lanjutnya tanpa takut dengan tatapan Sean padanya.
"Berisik!" umpat Sean mengambil apel dan melemparkannya pada Rean disana.
"Hahahahaaaaa."
"Rean, sudah. Jangan terus menganggu saudara kamu." lerai papa Pradana pada anak-anaknya.
"Oh, oke. Sorry. Tapi-" Rean tidak melanjutkan perkataannya lagi saat Sean mengancamnya.
"Aku memang tidak bisa memegang pisau bedah dengan baik lagi. Tapi hanya untuk merusak bibir mu itu aku masih sangat bisa. Mau mencobanya?" ucap Sean penuh ancaman membuat Rean mengangkat kedua tangannya, dan mengalah.
Lagi pula Sean masih makan. Dia tidak boleh mengganggunya.
"Sean -" Ibunya juga tidak jadi bicara saat mendapatkan teguran dari suaminya.
"Mending pijitin papa yuk, Bu. Papa capek banget soalnya. Oh iya, Rean. Mobil kamu sudah datang ya. Tapi ini keluaran terbarunya, bukan yang lama."
"Oke, Pa. Thanks." ucap Rean berterima kasih pada papanya.
Sementara Sean, kembali menikmati makan malamnya dengan tenang. Karena Rean duduk diam di ujung sana dengan ponselnya
***
jevan lho up sn... kok trs di tgl kn
eee jevan noh