Mempunyai Mama yang tidak menyayanginya dan dikhianati oleh sang kekasih disaat lagi sayang-sayangnya membuat Belva memilih menjauh dan hidup sendiri tanpa cinta dari siapa pun.
Siapa sangka, Belva menjadi owner skincare sukses dan kaya raya. Disaat kehidupan Belva sudah sangat sempurna, Belva dipertemukan dengan seorang Tentara yang begitu sangat menyebalkan dan selalu membuat Belva darah tinggi.
Akankah Belva kembali menemukan cintanya? Adakah orang yang benar-benar tulus ditengah-tengah kondisi Belva yang sedang dilanda krisis kepercayaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4 Kecelakaan
Belva pulang ke rumah, sedangkan Ferdi kembali ke kantor. “Mama benar-benar keterlaluan, dia tega mengkhianati dan menyakiti Papa. Aku benci sama Mama,” geran Belva.
Sementara itu, saat ini Venny sedang berada di rumah Bondan. Tissa anak dari Bondan yang usianya 2 tahun dibawah Belva, selalu menempel kepada Venny. Bahkan saking seringnya Venny datang ke rumah Bondan, Tissa sudah diajarkan untuk memanggil Venny dengan sebutan Mama.
“Ma, kapan Mama belikan Tissa mobil, katanya Mama akan belikan Papa mobil untuk antar jemput Tissa sekolah,” rengek Tissa dengan manjanya.
“Sabar sayang, nanti Mama belikan Papa kamu mobil biar kamu gak kepanasan lagi pakai motor,” sahut Venny sembari memeluk Tissa.
Tissa sangat bahagia, begitu juga dengan Bondan. Venny memang sudah keterlaluan, padahal Tissa bukan anaknya tapi dia lebih sayang kepada Tissa dibandingkan kepada Belva anak kandungnya sendiri. Bondan saat ini bekerja di sebuah pabrik, dia berasal dari keluarga sederhana tapi karena cinta Venny yang buta membuat dia rela menyakiti anak dan suaminya demi kembali ke mantan.
“Lihat sayang, rumah aku saja sudah banyak yang bocor kalau hujan semuanya basah. Tadinya aku mau minjam uang dari kamu untuk merenovasi rumah ini,” ucap Bondan.
“Ngapain kamu pinjam uang, sebentar lagi kita ‘kan akan menikah dan kalian tidak perlu tinggal di rumah ini lagi. Soalnya rumah itu sudah jadi milik aku, nanti kita tinggal di sana,” sahut Venny dengan senyumannya.
“Hah, jadi nanti Tissa akan tinggal di rumah yang besar itu? Kapan Ma? Tissa sudah gak sabar, pasti enak banget tinggal di rumah besar seperti itu,” seru Tissa girang.
“Iya, sabar sayang. Secepatnya Mama akan bawa kamu ke sana,” sahut Venny.
Venny dan Bondan saling pandang satu sama lain, sembari menyunggingkan senyuman. Sepertinya keduanya sudah merencanakan sesuatu, dan firasat Ferdi memang tidak meleset. Ferdi menyuruh Irawan untuk datang ke kantor dirinya.
“Ada apa, Pak?” tanya Irawan.
“Jika terjadi sesuatu sama saya, tolong berikan surat ini kepada Belva. Jangan sampai ada yang tahu karena saya merasa kalau saya mempunyai firasat tidak baik,” ucap Papa Ferdi.
“Baik, Pak,” sahut Irawan.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Ferdi pun memutuskan untuk pulang.
Malam pun tiba.....
Ferdi mengajak Venny dan juga Belva duduk bersama di ruang keluarga. “Besok, pagi-pagi sekali Papa ada perjalanan bisnis ke luar negeri kalian jaga diri baik-baik. Untuk kamu Ma, tolong jaga Belva. Sekali-kali coba kamu perhatikan putri kita ini jangan hanya sibuk sendiri,” ucap Papa Ferdi.
“Iya, Mas. Lagi pula, selama ini Belva sudah diperhatikan dengan sangat baik. Uang jajan dia terpenuhi, barang-barang yang dia mau Mama kasih, mau apa lagi?” sahut Mama Venny.
“Kasih sayang yang Belva inginkan Ma, setiap hari Mama tidak pernah diam di rumah. Mama hanya sibuk dengan urusan Mama sendiri, tanpa mikirin Belva seperti apa?” seru Belva dingin.
“Jangan lebay, Belva. Yang penting ‘kan kamu bisa hidup enak dan tidak kekurangan apa pun,” sahut Mama Venny sinis.
Belva hendak menjawab tapi Ferdi menggenggam tangan Belva sebagai pertanda jika Belva harus diam. “Sudah ah, Mama capek mau tidur.” Venny pun akhirnya pergi meninggalkan suami dan juga putrinya.
“Sayang, ada sesuatu yang mau Papa sampaikan kepada kamu,” seru Papa Ferdi.
“Apa, Pa?” tanya Belva.
Ferdi mengambil sesuatu dari dalam saku celananya. Itu secarik kertas dan sebuah foto di dalamnya. Lalu Ferdi memberikan kertas dan foto itu kepada Belva.
“Dia namanya Suharto, sahabat Papa sejak dulu. Kita bersahabat, tapi pas lulus SMA kita berpisah karena kita mempunyai cita-cita yang jauh berbeda. Suharto mempunyai cita-cita ingin menjadi Tentara sedangkan Papa ingin menjadi pengusaha. Sampai sekarang Papa dan dia masih berkomunikasi dengan baik. Itu adalah nomor telepon Suharto, jika kamu butuh bantuan atau pun mau meminta tolong, kamu hubungi saja dia karena di dunia ini orang yang Papa percaya hanya Irawan dan Suharto,” jelas Papa Ferdi.
“Papa,” lirih Belva dengan mata berkaca-kaca.
Ferdi langsung memeluk putrinya itu. “Papa sayang banget sama kamu Nak, jadilah anak yang kuat dan mandiri supaya jika Papa tidak ada, kamu bisa menjaga diri kamu sendiri,” ucap Papa Ferdi.
Sudut mata Ferdi berair, tapi dia dengan cepat menghapusnya. Dia tidak mau putrinya tahu jika dia menangis. “Kenapa Papa selalu bilang begitu? Papa akan baik-baik saja kok,” seru Belva.
“Aamiin, Mudah-mudahan saja,” sahut Papa Ferdi.
***
Keesokan harinya....
Pagi-pagi sekali Ferdi sudah bersiap-siap. “Pa, Papa harus janji pulang lagi ke rumah dengan selamat, pokoknya Belva akan selalu menunggu kepulangan Papa,” ucap Belva dengan senyumannya.
“Iya, sayang,” sahut Papa Ferdi.
“Semoga perjalanan Mas lancar,” ucap Mama Venny dengan sedikit senyuman.
“Terima kasih,” sahut Papa Ferdi.
Ferdi memeluk dan menciumi pucuk kepala Belva, seolah-olah itu adalah pertemuan terakhir. Entah kenapa perasaan Ferdi semakin gelisah, tapi dia tidak tahu apa yang sudah membuatnya gelisah. Jika ia membatalkan perjalanannya, maka orang yang akan menjadi investor di perusahaannya akan dibatalkan.
“Papa pergi dulu sayang,” pamit Papa Ferdi.
Akhirnya dengan berat hati Belva pun harus melepaskan kepergian Papanya. Sedangkan Venny terlihat sangat cuek dan seperti tidak peduli Ferdi mau kembali lagi atau tidak. Belva terus melihat kepergian mobil Papanya sampai mobil itu menghilang di ujung komplek.
Mobil yang ditumpangi Ferdi mulai berjalan masuk tol. Supir melakukan kendaraannya dengan kecepatan sedang, tapi tiba-tiba supir merasakan ada yang aneh dengan mobil itu. “Kenapa Pak?” tanya Papa Ferdi.
“Gak tahu, Tuan. Rem-nya blong,” sahut Supir.
“Ya, Allah bisa berhenti gak Pak? Atau kurangi kecepatannya,” seru Papa Ferdi.
Baru saja supir mengurangi kecepatannya, tiba-tiba sebuah truk dengan kecepatan tinggi menghantam mobil Ferdi dari belakang. Suara dentuman terdengar sangat kencang, seketika suasana jalan tol itu ramai. Mobil milik Ferdi, hancur parah dan sudah tidak berbentuk lagi.
Polisi sudah mulai datang ke lokasi kecelakaan. Ternyata Ferdi dan supir pribadinya nyawanya sudah tidak bisa tertolong keduanya tewas di tempat. Tubuh keduanya terjepit badan mobil sehingga untuk mengeluarkan korban harus membutuhkan waktu yang lumayan lama.
“Astaghfirullah, kok perasaanku gak enak ya?” batin Belva.
Belva saat ini baru saja masuk di pelajaran pertama, tapi tiba-tiba dadanya sesak dan tiba-tiba dia ingat kepada Papanya. “Ada apa ini? Mudah-mudahan Papa baik-baik saja,” batin Belva cemas.
Entah bagaimana reaksi Belva jika tahu kalau Papanya mengalami kecelakaan dan tewas di tempat. Ternyata firasat Ferdi selama ini terjadi juga, dan akhirnya Ferdi benar-benar meninggalkan Belva untuk selama-lamanya.
Abi...iya pasti Abi bisa selamtin Belva