Alena Kirana adalah seorang aktris papan atas yang berada di puncak popularitasnya. Namun,
sebuah kesalahan yang terjadi di satu malam yang dilakukan bersama seorang pria misterius yang ternyata adalah sutradara
sekaligus pewaris tunggal konglomerat dan sangat kejam kepada wanita yg berani menganggu hidupnya, Adrian Dewangga. Ketakutan akan hancur karirnya tidak dia pedulikan asalkan dia selamat dari pria ini . Alena memilih mengundurkan diri dan menghilang total dari panggung hiburan, bersembunyi sangat jauh dari orang-orang yang dia kenal.
Di sana, dia hidup dalam kesunyian, dia melahirkan dan membesarkan dua anak perempuan kembar yang cantik Kiara dan Kiana. Enam tahun berlalu, rahasia yang terkunci rapat itu mulai koyak ketika takdir
membawa Adrian kembali ke hadapannya, menuntut jawaban atas malam kelam yang tak pernah bisa dia lupakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Jaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teror Yang Menyelinap
Matahari sore mulai menggelincir ke ufuk barat, memancarkan rona jingga kemerahan yang melintasi langit Menteng. Di dalam rumah, atmosfer yang sempat menghangat dalam beberapa hari terakhir mendadak kembali diliputi oleh rasa sunyi yang ganjil. Adrian belum pulang; ia masih tertahan di ibu kota untuk menyelesaikan beberapa urusan administrasi agensi produksinya pasca-penarikan modal dari Star Media. Sementara itu, Alena menghabiskan waktunya di ruang tengah, duduk di sofa beludru sembari mengelus perutnya yang secara samar mulai menunjukkan perubahan kecil, meski usia kandungannya masih sangat muda.
Rasa aman yang sempat ia rasakan setelah terbebas dari jerat hukum Siska perlahan terusik oleh firasat buruk yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata. Sejak siang tadi, bulu kuduknya kerap meremang tanpa alasan, seolah-olah ada sepasang mata tak kasat mata yang terus mengintai gerak-geriknya dari balik rindangnya pepohonan di halaman depan rumah mewah itu.
"Nona Alena, ini jus alpukatnya sudah siap," suara Bi Asih memecah lamunan Alena. Pelayan senior itu meletakkan segelas jus kental di atas meja kaca, lengkap dengan senyuman hangat yang biasanya mampu menenangkan hati Alena.
"Terima kasih, Bi," sahut Alena dengan senyuman tipis. Ia meraih gelas tersebut, namun sebelum sempat menyesapnya, suara bel gerbang depan rumah berbunyi dengan sangat keras.
Telooleet... Telooleet...
Alena tersentak kecil hingga beberapa tetes jus alpukatnya tumpah ke atas meja. Suara bel itu tidak berbunyi secara sopan seperti biasanya; melainkan ditekan dengan ritme yang konstan, panjang, dan terkesan menuntut, persis seperti saat Baskoro Dewangga datang melabrak mereka beberapa waktu lalu. Namun, petugas keamanan di pos depan sama sekali tidak memberikan interkom atau pemberitahuan terlebih dahulu ke dalam rumah.
"Biar saya cek ke depan dulu ya, Nona. Mungkin ada kurir paket atau kiriman dokumen untuk Tuan Adrian," ujar Bi Asih seraya merapikan celemeknya dan melangkah menuju lobi utama.
Alena memperhatikan punggung Bi Asih yang menghilang di balik pintu penghubung. Jantungnya mulai berpacu sedikit lebih cepat dari biasanya. Ia meletakkan kembali gelas jusnya ke atas meja, lalu berdiri dan berjalan mendekati jendela besar yang mengarah ke pelataran depan. Melalui celah gorden, ia melihat Bi Asih sedang berbincang dengan seorang petugas keamanan rumah melalui pagar besi yang sedikit terbuka.
Tidak ada kendaraan mewah atau rombongan pengawal di luar sana. Hanya ada sebuah kotak kardus berukuran sedang, dibungkus dengan kertas koran bekas yang sudah agak menguning, tergeletak begitu saja di atas lantai beton pelataran gerbang utama. Petugas keamanan tampak kebingungan karena pengirim paket tersebut langsung menghilang menggunakan sepeda motor tanpa pelat nomor sebelum sempat dimintai identitas atau tanda terima.
Beberapa menit kemudian, Bi Asih masuk kembali ke dalam rumah sembari membawa kotak kardus tersebut dengan kedua tangannya. Wajah pelayan paruh baya itu memancarkan guratan ekspresi yang aneh.
"Paket dari siapa, Bi? Apakah ada nama pengirimnya?" tanya Alena, berjalan mendekati Bi Asih di area lobi.
"Tidak ada nama pengirimnya, Nona," jawab Bi Asih, membolak-balikkan kotak kardus yang dibungkus koran bekas itu. "Hanya ada tulisan tangan besar menggunakan spidol hitam di bagian atasnya. Ditujukan langsung untuk Anda, Nona Alena Putri. Petugas keamanan bilang, pengemudi motor yang mengantarkannya tadi memakai jaket ojek daring hitam polos dan helm yang kacanya ditutup rapat, jadi wajahnya sama sekali tidak terlihat di kamera pengawas."
Alena mengerutkan keningnya. Rasa penasarannya perlahan mengalahkan rasa waswasnya. "Letakkan saja di atas meja ruang tengah, Bi. Biar aku buka sendiri."
Bi Asih membawa kotak itu ke ruang tengah dan meletakkannya di atas meja kaca. Alena mengambil sebilah gunting kecil dari laci meja nakas, lalu mulai memotong isolasi plastik bening yang merekatkan kertas koran tersebut. Bau apek dari kertas koran bekas langsung menguar, memenuhi udara ruang tengah yang biasanya harum oleh wewangian aromaterapi lavender.
Begitu pembungkus koran terbuka, Alena membuka penutup kardus bagian atas secara perlahan. Pandangan matanya langsung terjatuh pada sebuah benda yang berada di dalam kotak, dan pada detik itulah, seluruh pasokan udara di dalam paru-paru Alena seolah tersedot habis. Wajahnya seketika berubah menjadi sepucat kapas, dan kedua lututnya mendadak lemas hingga ia terpaksa melangkah mundur dan berpegangan pada lengan sofa beludru.
"N-Nona... Nona Alena, Anda tidak apa-apa?" tanya Bi Asih yang menyadari perubahan drastis pada raut wajah majikannya. Bi Asih melongokkan kepalanya untuk melihat isi di dalam kotak, dan pelayan senior itu langsung membekap mulutnya sendiri dengan mata melotot penuh kengerian.
Di dalam kotak tersebut terdapat sebuah boneka bayi plastik berukuran sedang. Namun, kondisi boneka itu sangat mengerikan. Bagian wajah boneka plastik tersebut telah dirusak, dicakar-cakar menggunakan benda tajam, dan dikotori oleh coretan tinta merah pekat yang menyerupai darah yang mengalir dari lubang mata dan mulutnya. Bagian leher boneka itu dililit oleh seutas tali tambang kecil yang diikat mati, memberikan kesan seolah-olah boneka bayi itu sedang dicekik hingga mati.
Namun, teror yang sesungguhnya bukan terletak pada boneka rusak tersebut. Di bawah boneka itu, terdapat selembar foto berukuran besar. Itu adalah foto Alena sendiri, diambil secara sembunyi-sembunyi dari jarak jauh saat ia sedang berjalan keluar dari klinik kandungan swasta dua minggu lalu, didampingi oleh Baskara di bawah kawalan ketat. Di atas foto wajah Alena, terdapat sebuah tanda silang besar yang dicoret menggunakan spidol merah tebal tepat di bagian perutnya—di mana janinnya saat ini sedang bertumbuh.
Di bagian bawah foto, terdapat potongan huruf-huruf dari majalah yang ditempel secara acak untuk membentuk sebuah pesan berdarah yang sangat dingin:
“Anak haram tidak berhak hidup di dalam istana dongeng. Waktu kalian hampir habis.”
"A-Astagfirullah..." isak Bi Asih, tubuhnya ikut gemetar hebat melihat pemandangan mengerikan itu. "Ini... ini siapa yang sekejam ini mengirimkan barang seperti ini ke rumah ini, Nona?"
Alena tidak bisa mendengar suara Bi Asih lagi. Telinganya berdengung hebat, dan detak jantungnya berpacu begitu liar hingga dadanya terasa sangat sesak, seolah-olah ada sepasang tangan tak kasat mata yang sedang mencekik lehernya sendiri. Bayangan tentang Siska, tentang tatapan kejam Baskoro Dewangga, hingga wajah-wajah penuh dendam di dunia industri hiburan mendadak berputar-putar di dalam kepalanya bak sebuah mimpi buruk yang nyata.
Teror ini bukan lagi sekadar serangan digital berupa rumor di forum internet atau pesan teks anonim yang bisa dihapus oleh tim IT Adrian dalam waktu hitungan menit. Ini adalah ancaman fisik psikologis yang nyata, sebuah peringatan berdarah yang berhasil menembus barikade sistem keamanan ketat rumah Menteng dan mendarat tepat di depan matanya. Seseorang di luar sana tahu dengan pasti tentang kehamilannya, tahu di mana ia tinggal, dan tahu bagaimana cara meremukkan kesehatan mentalnya hingga ke titik terendah.
"Bi... Bi Asih... jauhkan barang itu dari sini..." bisik Alena, suaranya terdengar sangat bergetar dan lirih, nyaris menyerupai desisan ketakutan. Tubuhnya merosot perlahan, terduduk di sudut lantai karpet tebal dengan kedua tangan yang memeluk erat lututnya. Air matanya tumpah tanpa bisa dibendung lagi, membasahi gaun katun longgar yang ia kenakan.
"Iya, Nona... iya, saya buang sekarang," sahut Bi Asih panik. Dengan tangan yang gemetar, pelayan senior itu buru-buru menutup kembali kotak kardus tersebut, mengangkatnya dengan tergesa-gesa, lalu berlari keluar menuju pos keamanan depan untuk memberikan barang bukti tersebut kepada petugas jaga agar segera dilaporkan ke tim hukum Adrian.
Di dalam ruang tengah yang kini kembali sunyi, Alena meringkuk sendirian di sudut sofa. Ia menyembunyikan wajahnya di antara kedua lututnya, menangis histeris sembari terisak-isak menahan rasa takut yang teramat sangat yang menguasai seluruh jiwanya. Perasaan aman yang baru saja ia bangun bersam Adrian runtuh total dalam sekejap, digantikan oleh rasa ngeri yang luar biasa bahwa suatu hari nanti, ketika ia melangkah keluar dari rumah ini, seseorang akan benar-benar datang membawa sebilah pisau nyata untuk melukai kandungan di dalam perutnya.
Sementara itu, di sebuah gedung perkantoran di pusat kota Jakarta, Adrian baru saja menyelesaikan rapat tertutup dengan jajaran direksi agensinya. Begitu ia melangkah keluar dari ruang pertemuan, ponsel pribadinya di dalam saku jas mendadak bergetar secara intens. Sebuah panggilan masuk dari kepala keamanan kediaman Menteng tertera di layar.
Adrian mengernyitkan keningnya, firasat buruk seketika menyergap benaknya. Ia segera menggeser tombol hijau dan menempelkannya ke telinga. "Ya, ada apa?"
"Tuan Adrian... mohon maaf mengganggu waktunya," suara kepala keamanan terdengar sangat panik dan terbata-bata di seberang telepon. "Ada... ada situasi darurat di rumah Menteng. Sepuluh menit yang lalu, sebuah paket teror anonim berhasil masuk ke dalam rumah dan dibuka langsung oleh Nyonya Alena. Kondisi Nyonya saat ini sangat histeris dan ketakutan setengah mati di ruang tengah."
Mendengar kata teror anonim dan Alena histeris, wajah Adrian seketika berubah menjadi sangat dingin dan menakutkan. Amarah yang luar biasa besar mendadak meledak di dalam dadanya, membuat atmosfer di koridor kantor yang mewah itu mendadak terasa mencekam bagi para staf yang kebetulan lewat di sekitarnya.
"Amankan seluruh area rumah sekarang juga! Jangan biarkan siapa pun masuk atau keluar dari gerbang sebelum aku sampai!" bentak Adrian dengan suara rendah yang menggelegar penuh amarah yang menakutkan.
Tanpa membuang waktu untuk berpamitan dengan rekan bisnisnya, Adrian langsung berlari cepat menuju lift khusus eksekutif, menuruni gedung menuju pelataran parkir bawah tanah tempat mobil sedan mewahnya berada. Ia mengabaikan asisten pribadinya yang kebingungan mengejar langkah kakinya yang lebar.
Adrian masuk ke dalam kursi pengemudi, menyalakan mesin mobil dengan raungan yang keras, lalu menginjak pedal gas dalam-dalam hingga ban mobilnya berdecit keras di atas lantai beton area parkir. Di dalam kabin mobil yang melaju membelah jalanan kota Jakarta dengan kecepatan di luar batas kewajaran, cengkeraman tangan Adrian pada kemudi begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Rahangnya mengeras, dan sepasang matanya menyalang penuh kilat amarah yang mematikan. Siska—atau siapa pun dalang di balik teror ini—telah resmi melintasi garis batas terakhir yang tidak akan pernah dimaafkan oleh seorang Adrian Dewangga. Mereka tidak lagi sekadar bermain di ranah hukum atau bisnis; mereka telah menyentuh keselamatan fisik dan psikologis wanita yang kini berstatus sebagai istrinya, wanita yang sedang membawa darah dagingnya sendiri di dalam rahimnya.
"Jika terjadi sesuatu pada Alena atau anakku... aku pastikan aku sendiri yang akan menghancurkan hidupmu dengan tanganku sendiri," desis Adrian dengan nada suara yang begitu rendah dan penuh dengan ancaman pembunuhan yang nyata di balik kesunyian kabin mobilnya.
Mobil sedan mewah itu melesat bagai anak panah di antara kepadatan arus lalu lintas sore, membelah jarak menuju Menteng demi menyelamatkan sang rekan tim yang kini sedang meratapi ketakutan di balik runtuhnya dinding kaca perlindungan mereka. Pertempuran di balik layar industri hiburan kini telah resmi bergeser dari perang kertas hukum menjadi sebuah konfrontasi fisik yang berbahaya, dan Adrian tidak akan pernah berhenti sebelum sang pengirim teror membayar mahal setiap detik ketakutan yang dirasakan oleh Alena malam ini.