"The General's Captive Lady" adalah novel fiksi romantis-militer yang penuh ketegangan politik, trauma masa lalu, dan pembalasan dendam.
Claudia, seorang putri yang terbuang dan disiksa sejak kecil oleh faksi Crimson Raven. Demi menutupi ketamakan mereka, reputasi Claudia dihancurkan di mata publik hingga ia dicap sebagai wanita glamor yang buruk. Saat faksi Raven kalah perang, ia dikorbankan menjadi sandera politik dan dikirim kepada Reymond Oliver Smith, seorang panglima perang aliansi yang terkenal dingin dan kejam.
Hubungan mereka awalnya dipenuhi kebencian dan kesalahpahaman, bahkan Claudia sempat dijebloskan ke ruang bawah tanah karena fitnah dari bapaknya. Namun, jeritan trauma masa kecil Claudia di tengah sakit parah akhirnya meruntuhkan dinding es di hati Reymond. Penyelidikan rahasia pun dimulai, membongkar asal-usul Claudia yang sebenarnya sebagai pewaris sah bangsa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indri novianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mematikan Dunia Luar
"Kau sungguh berbahaya, Rey."
"Dan kau sudah membangkitkan alarm bahaya ini. Cla." bisiknya
Kalimat Reymond yang begitu posesif mengunci mati sisa-sisa argumen di kepala Claudia. Sebelum wanita itu sempat memprotes lagi, bibir hangat Reymond sudah kembali membungkam bibir ranumnya dengan sebuah ciuman yang lambat namun teramat menuntut.
Ciuman itu tidak lagi kasar seperti malam pertama yang dipenuhi ego dominasi; kali ini terasa seperti sebuah klaim kepemilikan yang mutlak. Lidah Reymond menyapu rongga mulut Claudia dengan ritme yang memabukkan, menyerap seluruh sisa energinya hingga Claudia hanya bisa mencengkeram bahu kokoh suaminya demi mencari pegangan.
"Rey... ahh," lenguh Claudia terputus saat kecupan Reymond turun menjajahi ceruk lehernya, tepat di atas tanda-tanda kemerahan yang belum sempat pudar dari malam tadi.
Reymond tidak menyahut dengan kata-kata. Erangan rendah di tenggorokannya sudah cukup menjadi jawaban. Di balik selimut sutra tebal yang mengurung mereka dari udara siang, tangan besar Reymond bergerak dengan sangat hafal menyusuri lekuk tubuh Claudia. Setiap sentuhan dari jemari kasarnya menyulut kembali api gairah yang beberapa menit lalu sempat padam.
Stamina sang Jenderal yang luar biasa benar-benar membuat Claudia tidak berdaya. Tubuhnya yang semula terasa lelah dan linu mendadak kembali merespons dengan naluriah. Sifat menggodanya menguap, digantikan oleh kepasrahan total di bawah kungkungan tubuh kekar suaminya yang naik-turun oleh napas yang memburu.
Reymond mengangkat satu kaki Claudia, melingkarkannya di pinggang berototnya sendiri. Dengan satu dorongan perlahan namun pasti, pria itu kembali melakukan penyatuan yang begitu dalam di atas ranjang yang kini sudah acak-acak akibat pergulatan semalam.
"Kau milikku, Claudia. Jangan pernah berpikir untuk lepas," bisik Reymond parau tepat di telinga istrinya, suaranya sarat akan emosi yang menggebu-gebu.
Claudia mendongak, matanya berkaca-kaca menahan gelombang kenikmatan yang kembali menghantamnya tanpa ampun. Ia mempererat pelukannya di leher Reymond, membiarkan dirinya tenggelam sekali lagi dalam badai gairah yang diciptakan oleh suaminya. Siang itu, di dalam kamar yang terkunci rapat, dunia luar dengan segala intrik politik Faksi Raven dan urusan militer Smith benar-benar dianggap tidak pernah ada. Mereka kembali bercinta dengan ritme yang seolah tak kenal kata usai, melupakan waktu yang terus bergulir di luar kelambu.
...***...
Badai yang mengamuk di balik kelambu sutra itu akhirnya benar-benar reda ketika matahari siang mulai bergeser ke arah barat. Kamar tidur utama kembali diselimuti oleh keheningan yang damai, hanya menyisakan suara deru napas dua insan yang masih terengah-engah di atas ranjang yang kini sudah tak berbentuk lagi.
Claudia berbaring miring, menyembunyikan wajahnya yang merah padam di balik bantal hitam. Seluruh energinya telah terkuras habis tanpa sisa. Tubuhnya terasa begitu lemas, seolah-olah semua tulang di dalam dirinya telah mencair akibat gairah tanpa jeda yang dipaksakan oleh suaminya sejak malam tadi. Setiap kali ia mencoba menggerakkan kakinya, rasa linu yang tumpul langsung menyengat, mengingatkan betapa posesifnya tuntutan Reymond beberapa saat lalu.
Di sebelahnya, Reymond bergerak bangkit dari kasur. Kulit dada bidangnya berkilau oleh lapisan keringat tipis di bawah temaramnya cahaya kamar. Pria itu menatap sosok istrinya yang meringkuk tak berdaya dengan tatapan mata yang tidak lagi menggelap oleh gairah, melainkan dipenuhi oleh rasa puas dan kelembutan yang dalam.
Tanpa suara, Reymond menyingkirkan selimut yang berantakan, lalu menyusupkan lengannya ke bawah tubuh Claudia.
"Rey... mau apa?" cicit Claudia dengan suara yang teramat serak, hampir menyerupai bisikan. Ia mencoba menahan dada pria itu dengan sisa-sisa tenaganya, takut jika suaminya akan kembali menuntut kepuasan.
"Mandi," jawab Reymond singkat namun berat.
Pria itu mengangkat tubuh polos Claudia dengan begitu mudah ke dalam gendongan bridal style-nya, mengabaikan protes lemah istrinya. Reymond melangkah lebar menuju kamar mandi yang beberapa jam lalu menjadi saksi awal mula runtuhnya pertahanan dirinya.
Aroma mawar semalam sudah memudar, digantikan oleh sisa kehangatan uap. Reymond mendudukkan Claudia di tepi bak mandi porselen yang kini sudah ia isi kembali dengan air hangat yang bersih—tanpa taburan bunga, hanya air murni untuk membersihkan diri.
Dengan gerakan yang sangat telaten—kontras dengan bagaimana kasarnya jemari itu saat memegang senjata di medan perang—Reymond mulai membasuh tubuh Claudia. Ia mengambil handuk kecil, membasahinya dengan air hangat, lalu mengusap punggung, bahu, dan lengan istrinya dengan sangat hati-hati, seolah-olah ia sedang membersihkan porselen mahal yang bisa pecah kapan saja.
Claudia hanya bisa pasrah, membiarkan suaminya merawatnya. Matanya yang sayu menatap bagaimana Jenderal besar yang ditakuti oleh seluruh Faksi ini sekarang sedang berlutut di lantai marmer yang basah demi menyeka tubuhnya. Ada rasa haru yang aneh menyelinap di antara rasa lelahnya.
Saat handuk hangat itu mengusap leher dan dadanya, Claudia bisa melihat dengan jelas puluhan tanda kemerahan—berupa gigitan kecil dan kecupan dalam—yang menghiasi kulit putih susunya. Mahakarya Reymond yang menandai kepemilikannya secara mutlak.
"Sakit?" tanya Reymond tiba-tiba, suaranya melembut saat jemarinya menyentuh salah satu tanda kemerahan di tulang selangka Claudia.
Claudia mendongak, matanya berkaca-kaca karena kombinasi rasa linu dan luapan emosi di dadanya. Namun, ia justru menyunggingkan senyum menggodanya yang khas, meski tampak sedikit lelah.
"Menurutmu bagaimana, Jenderal? Kau menyerangku seolah-olah aku ini markas musuh yang harus kau taklukkan berulang kali."
Reymond menatap bibir ranum Claudia yang sedikit bengkak akibat ciumannya yang intens. Sebuah senyuman tipis—yang sangat jarang ia perlihatkan pada dunia—muncul di sudut bibirnya. Ia memajukan wajahnya, memberikan kecupan lembut dan lama di kening Claudia.
"Kau bukan markas musuh, Claudia," bisik Reymond rendah tepat di depan wajah istrinya. "Kau adalah satu-satunya wilayah yang berhasil membuatku menyerah tanpa syarat." Kembali mengecup bibir Cla lembut.
"Maafkan aku." ujarnya sambil menampilkan senyuman.
"Kau sangat curang, Tuan Rey. Kau menggunakan wajah tampanmu yang tersenyum itu sebagai tanda permintan maaf?"
Rey kembali mencium Cla bertubi-tubi.
"Berhentilah menciumku. Rey." teriak Claudia
...----------------...