NovelToon NovelToon
Hakim Dari Kegelapan

Hakim Dari Kegelapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / TKP
Popularitas:272
Nilai: 5
Nama Author: Hendry Octavian

Mahesa Bhumi Arka Denta Sikumbang Seorang pengusaha dan pengacara terkenal.Di malam hari dia menjadi Vigilante untuk membalaskan dendam kematian keluarganya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hendry Octavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kamar yang Bercerita

Hari Minggu itu, kedamaian sungguh menyelimuti kediaman utama keluarga Almarhum Arya Arsyad Sikumbang. Udara pagi masih terasa sejuk, membawa aroma tanah basah dan bunga melati yang tumbuh subur di halaman depan. Tidak ada dering telepon kantor yang memecah keheningan, tidak ada suara deru mesin kendaraan yang bergegas melintas di jalan raya, hanya kicauan riang beragam jenis burung yang bersahutan menyambut sinar matahari yang mulai menembus celah dedaunan dan jendela-jendela kaca rumah yang lebar. Cahaya keemasan itu menyebar perlahan di lantai kayu jati yang mengkilap, menciptakan suasana hangat namun tetap tenang, seperti sebuah pelukan lembut dari alam. Di rumah yang luas dan penuh kenangan itu, suasana masih terasa hening—sebagian besar penghuninya masih menikmati sisa waktu istirahat di hari libur—kecuali di sudut sayap timur bangunan itu. Di sanalah, di balik pintu kamar yang belum tertutup rapat, Naga Bayu Arka Denta Sikumbang baru saja terbangun dari tidur nyenyaknya.

Rasa kantuk masih menyisakan kabur samar di matanya saat terdengar ketukan pelan namun tegas di pintu depan. Bunyinya berirama, dua kali ketukan ringan diikuti satu ketukan yang lebih berat—sebuah pola yang sangat ia kenal. Bayu mengucek matanya yang masih terasa berat, merapikan sedikit rambut panjang hitamnya yang berantakan karena terlelap, lalu melangkah santai dengan kaki telanjang menyusuri lorong menuju pintu utama. Ia tahu betul siapa yang biasa berkunjung di jam sepagi ini dengan ketukan yang begitu khas itu. Begitu pintu terbuka, senyum lebar langsung terukir jelas di bibirnya yang kemerahan. Di sana berdiri Dita, kakak sepupunya yang paling disegani sekaligus menjadi tempat berbagi cerita paling nyaman bagi dirinya.

“Selamat pagi, Bay!” sapa Dita sambil tersenyum hangat, lalu melangkah masuk sambil meletakkan tas kecil di meja konsol dekat pintu.

“Masih baru bangun rupanya? Matamu masih sembab begitu, sepertinya tidurmu belum cukup lama ya?”

“Selamat pagi, Kak Kirana. Iya, benar sekali,” jawab Bayu sambil menggaruk belakang lehernya yang tak gatal, tampak sedikit canggung namun tetap ramah dan sopan.

“Tadi malam baru selesai menyusun materi kuliah anatomi dan patologi sampai pukul dua pagi, lalu tak sengaja tergoda untuk melanjutkan latihan gitar sampai larut. Jadinya baru tidur sebentar saja. Silakan masuk, Kak. Maaf kalau rumahnya belum terlalu tertata pagi ini, Bu Ratih baru akan mulai membersihkan ruangan dalam sebentar lagi.”

Saat Dita berjalan melewati lorong menuju ruang tengah, ia tak sengaja melirik ke arah pintu kamar Bayu yang terbuka lebar. Sekilas pandang saja, matanya langsung terbelalak melihat kondisi di dalam ruangan itu. Bantal dan selimut tergeletak sembarangan di ujung kasur yang belum dilapisi sprei rapi, tumpukan buku tebal kedokteran bersanding berantakan dengan lembaran-lembaran not balok dan naskah lirik lagu yang bertuliskan coretan tangan, kabel gitar yang melilit seperti ular di lantai kayu, serta pakaian latihan band dan seragam kuliah yang tertumpuk di atas kursi belajar. Di sudut lain terlihat tumpukan majalah musik, botol minum yang belum dibawa ke dapur, hingga sepatu yang terbalik posisinya. Kamar itu sungguh mencerminkan kepribadian dan kesibukan pemiliknya dengan sangat jujur—penuh ide, penuh aktivitas, penuh hal berharga, namun sangat minim kerapian.

Tanpa menunggu lama, Kirana langsung memanggil asisten rumah tangga yang sedang sibuk menyiapkan sarapan di dapur belakang.

“Bu Ratih, tolong bantu bereskan kamar Bayu sebentar ya. Lihat saja kondisinya itu, kasihan kalau dia harus mencari berkas penting atau catatan kuliah di tengah tumpukan barang yang berantakan seperti itu. Sekalian ganti sprei dengan yang baru, rapikan perlengkapannya, dan kumpulkan pakaian kotornya supaya langsung dicuci.”

Bayu yang mendengar itu hanya bisa tersenyum canggung sambil menggaruk kepalanya yang sudah rapi. “Ah, Kak Kirana… sebentar saja nanti aku bereskan kok setelah minum kopi. Tak perlu repot-repot Bu Ratih turun tangan, dia sudah cukup sibuk dengan pekerjaan rumah lain.”

“Sudahlah, kau saja yang kadang bingung membedakan mana catatan anatomi dan mana lirik lagumu,” balas Dyah Ayu Kirana sambil menepuk bahu adik sepupunya itu pelan namun tegas.

“Kau ini cerdas luar biasa, berbakat di dua dunia yang sangat berbeda, tapi kalau soal kerapian sungguh tak ada urusannya sama sekali. Biar rapi dulu tempat beristirahatmu, supaya pikiranmu pun jadi lebih teratur dan tenang saat berkreasi atau belajar.”

Sambil menunggu kamar dibersihkan, Bayu masuk ke dalam ruangan dan duduk di meja belajarnya. Tak lama kemudian, terdengar denting halus senar gitar dari arah sudut ruangan. Meski Bu Ratih dan Dita sedang bergerak merapikan sudut ruangan, Bayu tak sanggup menahan keinginannya untuk mengulik kemampuan bermain gitar listrik kesayangannya yang berdiri tegak di dekat jendela. Ia menyalakan komputer di meja belajar, lalu menancapkan kabel penghubung gitar ke arah speaker aktif di sudut ruangan. Dengan tenang ia menata pedal efek dan peralatan penyetel nada yang berjejer di lantai, memastikan setiap pengaturan sesuai dengan suasana hati paginya. Setelah semua siap, ia meraba senar gitar yang terasa dingin namun akrab di ujung jari-jarinya, lalu mulai memetik nada-nada yang rumit namun mengalir begitu luwes dan penuh perasaan.

Jari-jarinya yang lentik namun kuat bergerak lincah di atas papan nada, melahirkan irama yang berat, penuh tenaga, namun terselip keindahan melodi yang mendalam—ciri khas musik aliran metal yang ia geluti dengan sepenuh jiwa. Setiap petikan terdengar jelas, setiap perpindahan nada terasa mulus tanpa hambatan, seolah alat musik itu adalah perpanjangan dari jantung dan pikirannya sendiri. Dyah Ayu Kirana yang sedang melipat selimut dan menyusun bantal seketika berhenti bergerak. Ia menoleh perlahan, menatap punggung adik sepupunya itu dengan tatapan kagum yang tak bisa disembunyikan. Setelah selesai melipat selimut, Dyah Ayu Kirana berjalan mendekat dan dengan lembut merapikan rambut panjang Bayu yang bergerak tertiup angin dari jendela yang terbuka. Ia tahu betul betapa sulitnya teknik permainan cepat dan rumit yang sedang dimainkan Bayu, namun bagi pemuda itu seolah hal tersulit di dunia adalah hal termudah yang pernah ia lakukan. Jari-jarinya tak pernah tersangkut, nadanya tepat, dan perasaannya menyatu sempurna dengan setiap getaran senar yang dihasilkan.

“Luar biasa,” gumam Dita pelan, cukup terdengar oleh Bayu di sela dentingan gitar.

“Kau memainkannya dengan begitu hidup,Bay. Setiap kali mendengarnya, aku selalu kagum—bagaimana tangan yang sama bisa membedah teori kedokteran seteliti itu, menghafal nama-nama bagian tubuh yang ribuan jumlahnya, sekaligus memetik senar dengan kecepatan dan perasaan sedalam ini. Benar-benar anugerah yang tak semua orang miliki, kau harus menjaga kemampuan ini dengan sebaik-baiknya.”

Namun rasa kagum itu segera berubah menjadi geleng-geleng kepala saat matanya kembali tertuju pada sepasang kaos kaki yang terselip di bawah meja, atau botol minuman kemasan yang masih tersisa di sudut meja belajar.

“Tapi jujur saja, di samping kekaguman itu, aku juga sering jengkel setengah mati melihat kamarmu ini. Seorang musisi yang suaranya didengar ribuan orang di panggung besar, asisten dosen yang disegani mahasiswa lain dan pengajarnya, calon dokter yang cerdas dan berpotensi menyelamatkan nyawa orang… tapi kamarnya berantakan seperti baru saja dilanda badai kecil. Kau tidak merasa tidak nyaman tidur atau beraktivitas di tengah tumpukan barang begini?”

Bayu tertawa renyah, lalu meletakkan gitarnya perlahan ke dudukan khusus. Ia memutar kursi belajarnya menghadap Dyah Ayu Kirana dengan wajah yang mulai terbangun sepenuhnya.

“Maaf ya, Kak. Aku sebenarnya tidak terlalu peduli dengan kerapian bentuk atau penampilan barang, asalkan aku tahu persis di mana letak setiap hal yang aku butuhkan. Kadang kekacauan ini justru membantu aku berpikir lebih bebas, tidak terikat aturan yang terlalu kaku. Aku bisa langsung meraih buku anatomi di sebelah kanan, atau mengambil lirik lagu di sebelah kiri tanpa harus menggeser banyak benda. Tapi aku mengerti maksud Kakak, dan aku tahu Kakak bilang begitu karena peduli. Terima kasih sudah mau repot-repot datang dan membantuku bereskan semuanya.”

Dyah ayu Kirana tersenyum lembut melihat ketulusan di mata adik sepupunya, lalu duduk di tepi kasur yang kini sudah bersih dan tertata rapi setelah Bu Ratih selesai bekerja dan berpamitan keluar. Kini kamar itu tampak sangat berbeda dari sebelumnya: buku-buku disusun rapi di rak sesuai kategori, alat tulis diletakkan di kotak penyimpanan, kabel dirapikan dan disusun rapi di sudut meja, pakaian kotor sudah dibawa pergi, dan udara di dalam ruangan terasa lebih segar dan lapang.

“Aku tidak ingin kau jadi orang yang hebat dan cemerlang di luar sana, tapi hidup berantakan di tempat yang seharusnya menjadi tempat perlindungan dan ketenanganmu sendiri,” ujar Dita dengan nada serius namun penuh kasih sayang.

“Kau adalah kesayangan keluarga Arka Denta Dan Sikumbang, Dik. Kami semua ingin kau selalu dalam kondisi terbaik—bukan hanya pikiran dan bakatmu saja yang diasah, tapi juga lingkungan tempat kau tumbuh dan beristirahat harus mendukungmu sepenuhnya. Ruangan yang rapi menenangkan hati, dan hati yang tenang akan melahirkan karya serta pemikiran yang jauh lebih hebat lagi.”

Mereka pun berbincang lama di kamar yang kini tertata indah itu. Obrolan mereka mengalir hangat, mulai dari persiapan latihan band untuk festival bulan depan, tentang tugas kuliah yang menumpuk dan ujian praktik yang menantang, hingga tentang harapan besar keluarga padanya untuk kelak menjadi dokter yang tak hanya cerdas, tapi juga memiliki hati yang lembut dan peduli sesama. Bayu mendengarkan dengan saksama setiap kata yang terucap, menyadari bahwa di balik teguran, candaan, dan kekaguman kakak sepupunya, tersimpan kasih sayang yang tulus dan perhatian yang mendalam terhadap masa depannya. Ia merasa sangat beruntung memiliki keluarga yang tak hanya mendukung bakatnya, tapi juga berusaha membimbingnya menjadi pribadi yang lebih utuh.

Sore harinya, saat matahari mulai condong ke barat dan memancarkan warna jingga di langit, Dyah Ayu Kirana berpamitan untuk pulang ke rumahnya yang berada di kota sebelah. Bayu berdiri di ambang pintu utama dengan hati yang terasa hangat dan penuh semangat baru. Ia mengantar kakak sepupunya sampai ke halaman depan, lalu melambaikan tangan sampai kendaraan Dyah Ayu Kirana tak lagi terlihat di tikungan jalan. Dalam hati, Bayu berjanji dengan sungguh-sungguh untuk mulai lebih menjaga kerapian tempatnya tinggal dan beraktivitas, bukan hanya karena diminta atau disuruh orang lain, tapi karena ia kini mengerti betapa berharganya setiap nasihat yang datang dari orang yang tulus menyayanginya.

Kembali masuk ke dalam rumah, ia berjalan menuju kamarnya yang kini tampak bersih dan nyaman. Di sudut ruangan itu, gitar kesayangannya berdiri tegak dengan gagah seolah ikut menyetujui tekad barunya. Bayu tersenyum melihat sekeliling ruangan, menyadari sebuah kebenaran sederhana yang baru saja ia pahami sepenuhnya: ketertiban dan kebebasan berkreasi bukanlah dua hal yang saling bertentangan, melainkan bisa berjalan beriringan dengan indah—asalkan ada niat tulus dan kemauan untuk menjaganya. Hari Minggu yang tenang itu telah mengajarkannya satu hal penting lagi tentang kehidupan, selain irama musik dan ilmu kedokteran yang ia pelajari setiap hari.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!