Karena jalan yang lama sudah tidak bisa digunakan. Maka dibuatlah jalan yang baru. Sebuah jalur baru untuk para pemudik yang selalu rindu ingin pulang ke kampung halaman.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon David Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjalanan Mengantar Rindu
"Alan",
"Memangnya kamu mau pergi kemana?",
"Sampai pakai acara bolos kerja segala",
"Kalau bukan perusahaan punya bapak kamu",
"Sudah dari dulu kamu dipecat dan jadi pengangguran",
Alan mengawali pagi hari yang terang benderang ini dengan menyimak omelan sang bunda.
"Aku mau touring Ma",
"Sejak kapan kamu gabung gank motor?",
"Bukan gank motor Ma",
"Tapi klub motor",
"Ini klub motor baru Ma",
"Teman-teman ku sendiri anggotanya",
"Mama juga pasti kenal siapa orang-orangnya",
"Awas saja ya kalau kamu sampai berulah yang macam-macam",
"Tidak mungkin Ma",
"Kami hanya senang-senang menikmati naik motor dan pemandangan saja",
"Apa nama klub motor kamu dan teman-temanmu itu?",
"Namanya The Pasrah Ma",
Alan hari ini tidak masuk ke kantor karena lebih memilih touring naik sepeda motor besar.
Bersama teman-temannya dengan nama klub motor baru The Pasrah.
Itu adalah apa yang dituturkan oleh Alan dengan lembut kepada bundanya.
Faktanya tidak pernah ada yang namanya Alan bergabung atau membentuk klub motor baru.
Itu hanya alasan akal-akalan Alan saja yang pintar mengarang.
Alasan sebetulnya Alan pergi naik sepeda motor jarak jauh bahkan sampai rela bolos kerja sekali pun karena demi cinta dan rindu.
Alan mau memberikan surprise kepada Liontin.
Pacar Alan yang sedang cuti dan berhenti memberitahukan kabar terbaru itu sudah satu malam mendiamkan Alan.
Tidak membalas pesan dan tidak menjawab panggilan.
Khawatir dan kangen yang bercampur lebur membuat Alan nekat mau menyusul Liontin ke tempatnya berada sekarang melewati jalur baru.
Naik sepeda motor besar bertenaga banyak kuda pasti lebih cepat sampai.
Alan akan pergi ke tempat terakhir dimana Liontin menginformasikan perkembangan terbaru.
Alan sangat bersemangat.
Apapun itu asalkan demi Liontin. Kekuatan tekatnya bertambah menjadi berkali-kali lipat.
Alan adalah pribadi yang super cuek kecuali masalah bucin atau buta cinta dan nafsu.
Di dalam kamus hidupnya selalu saja hanya ada tentang apa yang dia mau lakukan dan apa yang mau dia dapatkan.
Maka dari itu ia tidak paham betul jika jalan jalur baru yang hendak dilewatinya malam ini. Angker
⬅️
LEWAT JALUR BARU
Alan hendak berhenti di sebuah pos sederhana yang sedang ramai orang.
Dari kejauhan Alan melihat banyak orang sedang berkumpul di sebuah bangunan kecil di pinggir jalan di depan sana.
Alan mau bertanya-tanya sembari beristirahat.
Dari beberapa jam yang lalu Alan belum berhenti.
Alan bingung setengah mati ketika sampai di tempat yang tadinya terlihat begitu meneduhkan.
Ternyata berubah.
Ini bukan sebuah pos jalan melainkan kuburan.
Alan tidak jadi berhenti dan terus tancap gas menambah kecepatan.
Alan memasuki jalur baru.
Sepanjang jalan sangat sepi.
Padahal untuk waktu malam hitungannya baru saja dimulai.
Jam tangan mahal di pergelangan tangan kiri menunjuk angka tujuh seperempat.
Kebetulan sekali bagi Alan.
Di depan sana di pinggir jalan masih ada orang yang berjualan.
"Jualan apa Mbah?",
Tanya Alan kepada seorang nenek pedagang.
Jajanannya ditutupi pakai daun pisang.
"Jualan bunga",
"Oalah jualan kembang",
"Ya sudah Mbah, aku pikir jualan makanan",
"Kembang ini juga bisa dimakan",
"Waduh, aku tidak biasa makan kembang Mbah",
"Ya sudah, mari Mbah",
Karena apa yang dijual oleh nenek yang barusan tidak cocok dengan selera Alan.
Solo rider itu kembali melaju di jalanan jalur baru yang semakin sepi.
Hanya Alan seorang pengendara bermotor yang beraksi lewat jalan angker malam-malam.
"Nah ini baru makanan",
Di depan sana Alan melihat ada sebuah tenda yang penampilannya identik dengan penjual nasi dan lalapan.
Alan pun langsung turun begitu sampai di pinggir jalan yang ada tenda jualan bertuliskan Sego Wingit.
Kebetulan lagi Alan juga tidak terlalu mengerti bahasa daerah.
Yang ia tahu hanya sego yang artinya nasi.
Bukan karena itu saja.
Tapi karena di tempat itu sedang banyak pengunjung yang makan on the spot di sana.
Ada yang duduk dan ada yang memilih lesehan.
Orang-orang itu tengah lahap makan.
"Permisi Mas",
"Nasinya satu ya mas",
"Lauknya ayam sama tahu",
"Siap mas",
"Ditunggu sebentar ya mas",
"Minumnya apa mas?",
"Teh tawar anget",
Dan memang hanya sebentar seperti yang dikatakan.
Alan melihat sendiri penjual di depannya itu dengan terampil mengolah masakan.
"Mau duduk dimana mas?",
"Di sini saja mas",
"Silahkan mas",
Di malam hari yang dingin di tengah jalan yang membelah alas sebuah hutan.
Alan dengan lahap menghabiskan makanan yang tersaji di dua piring.
Habis.
Yang tersisa sedikit hanya sambal yang terlalu berlebihan pedasnya bagi lidah Alan.
"Di sini kalau mau buang air kecil dimana ya mas?",
"Biasanya di sekitar pohon yang gelap itu mas",
Alan pun berjalan menuju ke kegelapan.
Berdiri sambil mengendurkan celana di belakang pohon besar yang rimbun.
Sesudah selesai Alan kembali ke warung tenda.
Namun sesuatu yang tidak masuk akal terjadi.
Tenda Sego Wingit sudah tidak ada.
Alan sama sekali tidak pernah kepikiran peristiwa ini bakalan menimpa padanya.
Alan pernah melihatnya satu kali di dalam gedung bioskop waktu menonton sebuah film horor.
Alan berusaha tetap tenang dan menguasai keadaan.
Alan menyalakan sepeda motor buatan Amerika itu lalu pergi meninggalkan tempat kejadian perkara yang menyeramkan.
Untunglah tidak ada adegan sepeda motor yang tiba-tiba mogok atau berhenti sendiri.
Tapi ada kejadian motor yang ditunggangi seorang diri oleh Alan bobotnya menjadi lebih berat.
Seperti ada yang membonceng.
Tiba-tiba mas-mas penjual nasi wingit yang tadi hadir.
Duduk dengan nyaman di jok belakang.
Dengan wujud pocong.
Sambil bilang, "mau kemana mas?".
"Kan belum bayar",
Alan hilang kesadaran.