Jalur mature book, yang masih piyik jangan masuk 📌🙏🏻
Kenzo yang di khianati kekasih di masa lalu membuat dia tak mau dekat dengan wanita manapun. mantan kekasihnya adalah ibu tirinya saat ini.
Bagi Kenzo cinta adalah omong kosong, cinta cuma bisa di buktikan di atas ranjang, setelah itu tak ada ikatan apapun.
Kenzo Eko Armanta saat ini adalah sosok dingin, arogan, cuek, semaunya dan kejam.
Tiba-tiba saat seorang gadis bernama Vinda yang menjadi sekretaris baru masuk ke lingkungan hidupnya, gadis itu bisa memporak-porandakan kebekuan Hati Kenzo, saat itu lah dia baru sadar jika cinta itu masih ada.
Kenzo bisa kembali bersikap manusiawi dan mempercayai cinta lagi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vedyta Hyuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4. pertemuan yang dramatis.
"Ya ampun dia Kenzo, yang malam kemarin kan~" Vinda duduk di halte bis dekat lingkungan kontrakannya dengan pikiran berkecamuk tak karuan.
"Astaga kenapa pria gila itu bisa tahu rumah ku??" Pekikan kaget anehnya membuat beberapa orang yang ikut berada di halte itu menoleh heran dengan tingkah aneh gadis muda yang bicara sendiri.
"Maafkan saya......" Vinda membekap bibirnya malu, lalu menunduk ke berbagai arah setelah beberapa orang di sekitarnya geleng-geleng kesal, dan setelah itu dia mulai membuka ponselnya.
"Baiklah saatnya mencari kerja! Jika dia sudah membayar kontrakanku sebanyak itu berarti aku harus bekerja keras mengembalikannya kan?"
Vinda menscrol HP nya membuka iklan di internet dan ada dua tempat tujuan yang bisa dia datangi hari ini dan memasang iklan pegawai.
"Cafe Green dan bakery and restaurant Tous Lesjours? Ah kalau ini hanya lowongan sekertaris lebih baik ke cafe ini saja dulu yang lowongan kasir, setelah itu baru pergi memasukkan lamaran ke outlet bakery ini"
Vinda mengangguk lalu menyimpan alamat cafe dan outlet bakery yang akan dia tuju hari ini.
"Ah semoga hari ini urusan ku lancar huft mah tolong bantu aku ya"
****
Galeri outlet Tous Les jours Jakarta.
"Kenan Hotman cepat ke ruangan ku sekarang!" Kenan yang sejak pagi sudah harus bersibuk ria di outlet depan karena belum siang outlet bakery dan restoran sudah seramai ini, padahal baru di buka dua jam lalu.
Dan karena hari ini adalah waktunya melakukan interview pertama untuk para calon pegawai baru alias sekertaris yang melamar ketempat itu dan di butuhkan oleh sang bos dia jadi makin sibuk saja hari ini meneliti berkas pelamar.
"Yes bos saya segera kesana"
Pria dengan kaca mata bening dan kemeja abu-abu serta dasi merah marun itu bersungut menyambar notebooknya dan berjalan menuju ruangan tertutup dengan pintu coklat kokoh.
Tok tok.....
"Ya masuklah"
Kenzo menjawab dari dalam, dan pria itu masih duduk anteng di kursi kebesarannya.
"Ada perintah apa bos?"
"Soal calon sekretaris yang ku suruh mencari kemarin sudah kudapatkan jadi kamu tutup saja lowongan kerjanya sekarang"
"Eh apa? Tapi ada sepuluh orang yang melamar hari ini dan masih menunggu didepan untuk interview"
"Lakukan saja aku tak butuh mereka!"
Kenan langsung melongo, saat Kenzo menatapnya tajam, astaga interview ke calon pegawai saja belum dan langsung di suruh menutup lowongan kerja? Bos sinting, selalu semaunya sendiri!
Begitulah mungkin yang di teriakan pria tampan dengan kaca mata itu saat menghela nafas panjang.
"Lalu siapa calonnya?" Kenan pasrah saja, toh membantah sama saja mencari mati dan kakak sepupunya itu bukan saja menyebalkan, tapi juga susah dibantah.
"Alamat calon sekertaris baruku akan ku berikan padamu, kamu datangi rumahnya siang ini dan tawarkan pekerjaan ini, gajinya akan ku naikkan jadi tujuh juta, kamu paham?"
"Heh iya, tapi kenapa yang harus mendatangi rumahnya kita, biasanya~"
"Lakukan saja, jangan bawel!"
"Baiklah, ini berkas yang melamar tadi"
"Oke letakkan saja dan lakukan tugasmu"
Kenan manggut-manggut sebal dan meletakkan berkas lamaran di meja kerja Kenzo, calon pegawai sepuluh orang yang melamar bahkan masih menunggu diluar.
Astaga dia kini yang pusing bagaimana memberi alasan ke para wanita itu semua.
*****
"Maaf semuanya, lowongan sekretaris sudah tutup karena calon sekretaris sudah kami dapatkan, sekali lagi maaf" Beginilah akhirnya Kenan yang mendapat tatapan kecewa para pelamar wanita yang menunggu sejak tadi untuk di interview oleh sang bos.
"Huh menunggu lama di sini nyatanya sia-sia!"
"Gimana sih manager kok baru di info sekarang? Kami menunggu hampir dua jam"
"Maaf kak, karena tadi masih ada kendala, karena sudah siang silahkan makan siang dulu, sudah kami siapkan di restoran sebelah silahkan anda semuanya bisa ke sana. hari ini kami beri free makan siang gratis"
Kenan membungkuk dan mengusir para wanita itu dengan halus, dia terpaksa meminta pengawas direstoran menyediakan seporsi makan siang untuk mereka, karena malu juga di cemo'oh beberapa wanita gara-gara bos gila nya itu.
"Baiklah jika begitu terima kasih manager"
Kenan tersenyum setelah para wanita itu mulai bubar dan menuju pintu samping ke arah area restoran.
"Ckck seharusnya aku tak usah melamar ke sini tadi" Vinda ikut kesal, setelah melamar ke cafe tadi lalu jauh-jauh ke tempat ini, malah percuma saja.
Dengan dongkol dia hendak berjalan ke pintu restoran, namun baru saja berjalan ponselnya berbunyi keras dengan sebuah pesan yang masuk.
Shela:
Vin, sore ini mampir ke kosan ku ya ada puding coklat untukmu lho hehehe bagaimana sudah dapat kerja baru?
Vinda menghela nafasnya lalu sibuk mengetikkan balasannya. Dia berjalan tanpa melihat ke depan dan tiba tiba.
Brukkk.....
Auww....
"Aduh!!"
"Yakk!!"
Bibir Kenzo yang telah siap untuk memaki keras langsung bungkam, dan menganga demi melihat wajah siapa yang menabraknya keras tadi hingga dia jatuh terjengkang keras ke belakang dan sialnya gadis itu menimpa tubuhnya.
"Engh maaf saya tak sengaja maaf~"
Sang gadis yang ternyata belum menyadari siapa yang dia timpa dengan tubuh rampingnya ketakutan, dan susah payah berusaha berdiri.
Tapi terlambat karena mau tak mau dia tetap berbaring tengkurap di posisi menindih orang itu karena tiba-tiba pinggang rampingnya terlilit sesuatu.
"Astaga bang Kenzo!! Loe gak apa-apa?!"
Kenzo dan Hendry manager restoran Tous Lesjours dan beberapa orang, berlarian panik menolong Kenzo yang jatuh dengan tak elit terjengkang tadi di bawah tubuh seorang gadis.
"Eugh ka...kamu~" Vinda yang masih merasa pening karena jatuh dan merasa kakinya terkilir dengan wajah pucat dan ketakutan masih berusaha untuk berdiri.
"Berani sekali kamu menabrakku nona eum~"
Kenzo menyeringai, jujur dia tak menyangka bertemu lagi dengan gadis cantik itu secepat ini, kesal tadinya karena punggungnya sakit membentur lantai keras namun hati pria itu menghangat, karena bongkahan empuk yang menempel di dadanya.
"Nghh ngh.....aduh kaki ku"
Saat dua pria dan seorang wanita pegawai outlet membantu dua orang itu berdiri, Vinda baru yakin memang kakinya benar benar terkilir.
"Pak anda tidak apa-apa kan? Di mana yang sakit? Ya ampun nona matamu di mana sih pak bos kami sebesar ini kamu tabrak!?"
"Boss mana yang sakit, ya ampun!?"
"Hati hati berjalan nya, hei kamu ceroboh sekali sih mbak!"
Semua orang yang berkerumun di situ menyalahkan Vinda, dan Kenzo hanya menggeleng geli, membiarkan manager itu memeriksa punggungnya.
"Nggak apa-apa kok punggungku sedikit nyeri saja, mungkin aku butuh berbaring sebentar"
Tadi nya Kenzo berniat ke area restoran untuk makan siang dan dia malah beruntung di tengah kesialan begini. Dia tersenyum, mulai menjalan kan aksinya.
"Kamu baik baik saja mbak?"
Pandangan mereka semua beralih tajam ke arah Vinda, dan dengan gugup gadis itu membungkuk dalam.
"Maafkan saya pak, saya tak sengaja"
Semua menatap tajam Vinda hingga membuat gadis itu ketakutan, apalagi mereka memanggil pria itu dengan sebutan pak bos.
"Baguslah jika kamu baik-baik saja"
Beberapa wanita calon pelamar yang ikut menonton mendecak kagum bibirnya, jadi ini CEO bakery dan restoran yang sangat terkenal itu.
"Iya, ah argh aduh---" Vinda langsung menggeleng, urung berjalan karena kakinya yang terkilir lebih parah dari dugaan nya tadi. "Kenapa kakimu? Apa sakit~"
"Ngh nggak, hanya terkilir aja, aduh~" Kenzo langsung berjongkok spontan, memeriksa kaki mulus gadis itu, dan menciptakan bisikan kasak kusuk dari beberapa orang dan para pegawai nya yang melongo kaget.
"Kakimu memar begini, bisa bengkak ini nanti"
Semuanya melihat Kenzo dengan tampang kaget dan tiba tiba....
"Kenan, cepat hubungi dokter Dinda!! Cepetan!"
"Eehhh baiklah bang" Tanpa basa basi Kenzo langsung membopong tubuh Vinda yang langsung memekik kaget dengan tingkah anehnya, dan reaksi selanjutnya Kenan langsung melongo mengikuti langkah bos nya itu.
"Bagian ini yang sakit?"
"Ne aahk di sebelah situ"
Dokter Dinda memeriksa kaki gadis itu dengan seksama. ruangan kerja Kenzo mendadak ramai dengan beberapa orang, ada Manager Hendry, dua orang pegawai office girl yang terlihat kasak-kusuk saling berbisik, ada Kenan juga tentunya.
"Dokter, apa perlu di bawa kerumah sakit?"
"Ah tak usah pak, cukup saya suntik dan di pijat sebentar bagian yang terkilir, mbak Vinda tahan sebentar ya ini sedikit sakit"
"Iya dokter, arghhhh ini argh~ aduh !"
Vinda menjerit kaget dia meremas sekuat tenaga ujung sofa dengan air mata berlinang dan dengan sigap Kenzo mengusap punggungnya menenangkan gadis itu.
"Mbak Vinda nanti minum obat pereda nyeri nya setelah ini ya" Dengan masih berlinang tangis dia mengangguk menahan nyeri di kakinya.