Siap, ini deskripsi singkat yang diambil dari naskah yang kamu kirim (lebih sesuai dengan konflik, karakter, dan tensinya):
Dalam sebuah perjanjian yang tak bisa dihindari, Talia harus menerima takdirnya untuk menikah dengan Etnan—pria dingin, penuh kuasa, dan menyimpan banyak sisi yang tak terduga.
Di balik hubungan yang terlihat formal, terselip ketegangan, kecemburuan, dan rahasia yang perlahan terungkap. Kehadiran Sophia yang obsesif, serta perasaan tersembunyi dari orang-orang di sekitar mereka, membuat hubungan itu semakin rumit.
Namun di antara sindiran, sentuhan yang tak diinginkan, dan emosi yang saling ditahan—perlahan tumbuh sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kewajiban.
Cinta yang seharusnya tidak ada… justru mulai mengikat mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indri novianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26 : DIAMBANG BATAS
Enam bulan telah berlalu sejak malam di mana Ethan Noah Taylor terbangun dari mimpi gila yang menghantui alam bawah sadarnya. Namun, alih-alih mencair, dinding es di dalam mansion mewah itu justru kian menebal dan membeku.
Sikap Ethan terhadap Natalia semakin dingin dan tak tersentuh. Pria itu benar-benar menjelma menjadi sosok asing yang hanya berbagi atap dengan Talia. Mereka jarang bertukar kata, terkecuali untuk urusan yang teramat mendesak di depan orang tua mereka.
Ethan sengaja menenggelamkan diri dalam pekerjaan di Taylor Group, pulang jauh melampaui tengah malam, dan selalu memastikan bahwa kamar di ujung koridor bawah terbaring sunyi, mengunci rapat-rapat eksistensinya dari sang istri.
Setiap kali mereka terpaksa berada di satu ruangan, Ethan akan memasang jarak yang kentara. Tatapan matanya yang kelam tak lagi memancarkan gairah seperti enam bulan lalu; berganti dengan tatapan kosong nan tajam yang sanggup menyayat harga diri Talia sebagai seorang wanita.
Ethan sedang melakukan peperangan hebat dengan egonya sendiri—menghukum dirinya dan Talia demi membuktikan bahwa ia tidak akan pernah tunduk pada takdir perjanjian damai para buyut mereka.
...***...
Pagi itu, atmosfer di meja makan terasa begitu mencekam. Talia duduk dengan keanggunan yang dipaksakan, mengoleskan selai pada rotinya tanpa nafsu makan. Di seberang meja, Ethan sedang memeriksa tablet kerjanya, mengabaikan secangkir kopi hitam dan sarapan yang telah disiapkan.
"Sampai kapan kau akan bersikap seperti ini, Ethan?" suara Talia akhirnya memecah kesunyian, memotong gemerisik halaman digital yang digulir jemari Ethan. Suara Talia terdengar jernih, namun ada nada lelah yang teramat pekat di dalamnya.
Ethan tidak langsung mendongak. Ia menyelesaikan kalimat yang sedang dibacanya, meletakkan tabletnya dengan perlahan, lalu menatap Talia dengan sepasang mata sedingin badai salju di musim dingin.
"Bersikap seperti apa, Natalia?" tanyanya datar, sengaja menyebut nama lengkap untuk menegaskan garis pembatas.
"Kau memperlakukanku Seperti aku ini adalah pembawa sial di hidupmu," desis Talia, jemarinya mengepal kuat di bawah meja.
"Setengah tahun, Ethan. Kita sudah setengah tahun menikah. Jika kau begitu membenci pernikahan perjanjian damai ini, kenapa kau tidak mengatakannya sejak awal pada Paman Noah? Kenapa kau harus melimpahkan seluruh kekesalanmu padaku?!"
"Kau tidak tau atau tidak mau tau tentang konsekuensi pembatalan pernikahan atas perjanjian perdamaian ini, Talia?"
"Kau mau menciptakan kembali permusuhan yang sudah susah payah didamaikan oleh leluhur kita terdahulu? Begitu?"
"Aku tidak bermaksud begitu."
"Lantas? Mengapa pagi ini kau bawa-bawa lagi permasalahan itu."
Talia diam tak menjawab, gemuruh didadanya sangat menyesakkan.
"Aku hanya ingin dianggap saja, Ethan."
"Sebelumnya bukankah sudah kukatakan. Jangan menuntut apapun dariku, Talia. Kau lupa?"
Talia memejamkan matanya " Aku tidak lupa, bagaimana bisa aku melupakan hal itu." Talia menunduk dalam.
"Aku lupa jika aku terjebak dalam pernikahan konyol ini."
Ethan menyandarkan punggungnya ke kursi, menyilangkan kedua tangan di dada. Seringai tipis yang sinis menghias belahan bibirnya.
"Kau pikir hanya kau yang merasa terjebak di sini? Aku menikahimu karena sumpah darah leluhur kita, Natalia. Aku menjalankan tugasku untuk menjaga kedamaian dua keluarga. Tapi sekali lagi aku tekankan jangan pernah menuntutku untuk memberikan hal lebih, termasuk bersikap manis padamu."
Pernyataan kejam itu menancap telak di dada Talia, memecahkan sisa-sisa kesabaran yang ia pertahankan selama seratus delapan puluh hari terakhir.
Talia berdiri dari kursinya dengan sentakan kasar, menatap Ethan dengan pandangan menantang penuh luka dan amarah yang membara.
"Bagus kalau begitu," ucap Talia, suaranya bergetar namun tetap terdengar tegar khas putri keluarga Smith.
"Kau bisa menyimpan seluruh keangkuhanmu itu untuk dirimu sendiri, Tuan Taylor. Mulai hari ini, aku juga tidak akan pernah sudi memedulikan keberadaanmu lagi di rumah ini."
Tanpa menunggu reaksi dari Ethan, Talia berbalik dan melangkah lebar meninggalkan meja makan, bersiap memisahkan dunianya sepenuhnya dari sang suami.
...----------------...