Alena Kirana adalah seorang aktris papan atas yang berada di puncak popularitasnya. Namun,
sebuah kesalahan yang terjadi di satu malam yang dilakukan bersama seorang pria misterius yang ternyata adalah sutradara
sekaligus pewaris tunggal konglomerat dan sangat kejam kepada wanita yg berani menganggu hidupnya, Adrian Dewangga. Ketakutan akan hancur karirnya tidak dia pedulikan asalkan dia selamat dari pria ini . Alena memilih mengundurkan diri dan menghilang total dari panggung hiburan, bersembunyi sangat jauh dari orang-orang yang dia kenal.
Di sana, dia hidup dalam kesunyian, dia melahirkan dan membesarkan dua anak perempuan kembar yang cantik Kiara dan Kiana. Enam tahun berlalu, rahasia yang terkunci rapat itu mulai koyak ketika takdir
membawa Adrian kembali ke hadapannya, menuntut jawaban atas malam kelam yang tak pernah bisa dia lupakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Jaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan Di Jam Dua Belas
Jarum jam dinding di ruang kerja pribadi Adrian perlahan bergerak mendekati angka dua belas malam. Kesunyian yang pekat kembali menyelimuti rumah Menteng, namun kali ini kesunyian itu tidak lagi membawa rasa mencekam yang meremukkan dada. Di luar jendela, rintik hujan malam mulai turun membasahi dedaunan, menciptakan ketukan-ketukan ritmis yang konstan di atas permukaan kaca.
Alena duduk bersandar di sofa panjang, mengenakan sweater rajut longgar berwarna krem yang membungkus hangat tubuhnya. Wajahnya tidak lagi sepucat sore tadi; kehadiran Adrian yang terus mendampinginya selama beberapa jam terakhir telah berhasil mengembalikan ketenangan batinnya. Di hadapannya, di atas meja kerja jati, beberapa lembar draf rencana perjalanan dan dokumen pelarian ke Bali telah tersusun rapi di bawah pengawasan Baskara yang berdiri siaga di dekat pintu.
Adrian berjalan mendekat dari arah meja kerja, membawa dua cangkir minuman hangat. Ia menyerahkan secangkir susu jahe khusus kepada Alena, lalu mengambil posisi duduk tepat di samping istrinya. Pandangan mata Adrian tampak sangat dalam, memancarkan kombinasi antara kelelahan fisik dan tekad bulat yang tidak akan pernah bisa digoyahkan oleh siapa pun lagi.
"Minumlah. Ini akan membantu merilekskan saraf-sarafmu sebelum kita berangkat besok subuh," ujar Adrian, suaranya terdengar sangat lembut, kontras dengan nada komando yang ia gunakan saat berbicara dengan Baskara beberapa menit lalu.
Alena menerima cangkir tersebut, merasakan kehangatan menjalar dari telapak tangannya hingga ke dalam dadanya. "Terima kasih, Adrian. Apakah... apakah semuanya sudah siap untuk keberangkatan kita?"
Adrian mengangguk pelan. Ia menjangkau jemari lentik Alena, menggenggamnya dengan kehangatan yang mantap—sebuah gestur yang kini mulai terasa alami bagi mereka berdua, bukan lagi sekadar formalitas di depan kamera jurnalis. "Baskara sudah mengonfirmasi bahwa jet pribadi keluarga telah disiapkan di landasan pacu bandara Halim Perdanakusuma. Pukul lima pagi esok, kita akan meninggalkan Jakarta sebelum kota ini terbangun dan para pemburu berita mulai berkumpul di depan pintu gerbang rumah ini."
Adrian memajukan tubuhnya sedikit, menatap lekat-lekat sepasang mata bening Alena. "Rumah Menteng ini sudah tidak lagi aman, Alena. Siska sudah nekat beralih dari teror digital menjadi ancaman fisik psikologis yang nyata. Ditambah lagi, mata-mata dari ayahku pasti akan terus mengintai setiap gerak-gerik kita demi mencari celah untuk membuktikan ucapannya tentang tes DNA itu. Kita tidak bisa membiarkan kehamilan trimester pertamamu dihabiskan di bawah kepungan ketakutan seperti ini."
Alena memandangi permukaan minuman di dalam cangkirnya yang beriak tenang. "Lalu, bagaimana dengan vila di Bali itu? Apakah tempat itu benar-benar terisolasi dari dunia luar?"
Baskara maju satu langkah, mengambil alih penjelasan atas izin Adrian. "Nyonya Alena, vila yang dipilih Tuan Adrian terletak di atas bukit karang curam di wilayah Uluwatu. Akses menuju ke sana sangat terbatas dan berada di bawah penjagaan ketat sistem keamanan privat luar negeri yang tidak memiliki afiliasi apa pun dengan Dewangga Group di Jakarta. Di sana, tidak akan ada jurnalis, tidak ada Siska, dan tidak ada gangguan dari pihak keluarga besar Tuan Besar Baskoro. Anda akan didampingi oleh Dokter Saras dan tim medis privat yang akan tinggal di paviliun khusus untuk memantau kesehatan Anda dan calon bayi hingga hari kelahiran tiba."
Mendengar penjelasan Baskara, Alena merasakan setitik air mata keharuan kembali mendesak keluar di sudut matanya. Ia menoleh menatap Adrian, pria yang awalnya ia takuti karena keterlibatan mereka dalam malam tragis dua minggu lalu. Pria yang berstatus sebagai bintang besar industri hiburan dan putra mahkota dinasti konglomerat, kini rela memindahkan seluruh pusat kehidupannya, mengorbankan fasilitas mewahnya di ibu kota, dan memutus komunikasi dengan ayahnya demi membangun sebuah benteng perlindungan terpencil di atas bukit Bali untuknya.
"Adrian... kenapa kamu sampai melangkah sejauh ini?" bisik Alena, suaranya tercekat oleh luapan emosi yang mendalam. "Pernikahan ini awalnya hanya kontrak di atas kertas untuk menyelamatkan nama baik kita masing-masing selama satu tahun. Tapi sekarang, kamu mempertaruhkan seluruh kariermu, investasimu, dan hubunganmu dengan keluargamu sendiri hanya untuk menyembunyikan aku di Bali."
Adrian terdiam selama beberapa saat. Genggaman tangannya di jemari Alena terasa kian erat. Ia mengulurkan tangan kirinya, mengusap helai rambut panjang Alena yang menjuntai di pipi dengan sentukan yang sangat lembut.
"Karena situasi kita sudah berubah, Alena," jawab Adrian, suaranya berat dan sarat akan ketulusan yang mutlak. "Di bawah jam dua belas malam kemarin, mungkin kita memang hanya sepasang aktor yang sedang bekerja sama sebagai rekan tim untuk menyelesaikan sebuah skandal domestik. Tapi sejak sore tadi, ketika aku melihatmu meringkuk ketakutan di sudut sofa itu... ketika aku mendengar tangisanmu yang mengkhawatirkan keselamatan janin di dalam rahimmu... ego dan rasionalitas bisnisku runtuh total."
Adrian menarik napas panjang, menatap lurus ke dalam manik mata Alena dengan pendar emosi yang kini sepenuhnya terbuka, tanpa ada topeng akting atau manipulasi dialog drama. "Anak yang sedang bertumbuh di dalam perutmu adalah darah dagingku, Alena. Dan kamu... kamu adalah istriku yang sah di mata hukum dan agama.
Melindungimu bukan lagi sekadar pemenuhan klausul perjanjian pranikah kita; melainkan sudah menjadi kebutuhan naluriahku sebagai seorang pria. Aku tidak peduli jika harus kehilangan seluruh warisan Dewangga Group, karena aku tahu aku mampu membangun kerajaanku sendiri bersamamu dan anak kita."
Kata-kata Adrian malam itu bagaikan sebuah proklamasi cinta sejati yang menyelinap masuk di antara rintik hujan malam.
Alena tidak mampu lagi membendung air matanya. Ia meletakkan cangkirnya ke atas meja, lalu menubrukkan tubuhnya ke dalam pelukan Adrian, mendekap leher pria itu dengan erat sembari menumpahkan seluruh rasa haru dan rasa percaya yang kini telah tumbuh seutuhnya di dalam dadanya.
Adrian menyambut pelukan itu dengan kehangatan yang protektif. Ia membekap kepala Alena di dadanya, mencium puncak kepala istrinya berulang kali dengan penuh rasa sayang. Di dalam sunyinya ruang kerja pribadi itu, di hadapan draf pelarian mereka, dua jiwa yang awalnya dipertemukan oleh sebuah kesalahan tragis di malam hotel yang gelap kini telah resmi melebur menjadi satu kesatuan yang utuh, siap menghadapi badai dunia luar sebagai sepasang orang tua yang sesungguhnya.
Tepat pada pukul dua belas malam, suara ketukan pintu ruang kerja kembali terdengar. Baskara menerima sebuah panggilan telepon mendesak dari tim hukum privat mereka yang berada di luar kantor. Setelah mendengarkan laporan tersebut selama beberapa menit dengan wajah serius, Baskara memutus sambungan dan menoleh ke arah Adrian.
"Tuan Adrian, ada perkembangan terbaru dari polda metro jaya," buka Baskara dengan nada suara yang mantap.
"Surat perintah penangkapan atas nama Siska telah resmi dikeluarkan oleh pihak penyidik lima menit yang lalu. Tim buser saat ini sedang bergerak menuju kediaman pribadinya di Jakarta Barat atas tuduhan konspirasi, pemerasan tingkat tinggi, dan ancaman keselamatan fisik psikologis menggunakan barang bukti paket teror sore tadi."
Adrian melepaskan pelukannya dari Alena perlahan, wajahnya kembali berubah menjadi topeng es yang mematikan saat menatap Baskara. "Pastikan proses penangkapannya diliput oleh media massa arus utama besok pagi. Aku ingin seluruh industri hiburan melihat bagaimana nasib seorang manajer yang mencoba bermain-main dengan keselamatan keluarga Dewangga."
"Sudah diatur, Tuan. Besok pagi saat bursa saham dibuka, kejatuhan Star Media akan menjadi berita utama di seluruh stasiun televisi dan portal berita nasional," jelas Baskara penuh kemenangan. "Siska tidak akan pernah memiliki kesempatan lagi untuk menyentuh kehidupan Anda atau Nyonya Alena, karena dia akan menghabiskan beberapa tahun ke depan di balik jeruji besi besi tahanan murni."
"Bagus. Terima kasih atas kerja kerasmu malam ini, Baskara. Sekarang, pergilah ke bandara dan pastikan semua persiapan manifes penerbangan kita tidak meninggalkan jejak digital sedikit pun di sistem menara pengawas sipil," perintah Adrian yang langsung direspons dengan sebuah juraan hormat oleh Baskara sebelum sang pengacara melangkah pergi meninggalkan ruangan.
Sepeninggalan Baskara, Adrian kembali menatap Alena. Keheningan malam kini terasa begitu menenangkan, seolah-olah semesta sedang memberikan restu atas keputusan besar yang mereka ambil di jam dua belas malam terakhir di penghujung bulan ini.
Adrian berdiri dari sofa, mengulurkan kedua belah tangannya ke arah Alena dengan sebuah senyuman tipis yang sangat menawan.
"Mari kita bersiap, Alena. Babak pertama perjuangan kita di Jakarta sudah selesai. Sekarang saatnya kita pergi ke tempat pelarian kita, menyembunyikan kehamilanmu, dan membangun awal yang baru untuk masa depan anak kita."
Alena menerima uluran tangan Adrian, berdiri tegak dengan sepasang mata yang kini tidak lagi memancarkan ketakutan, melainkan sebuah keberanian baru yang menyala kuat keberanian yang lahir dari naluri seorang ibu dan rasa percaya mutlak kepada pria yang berdiri sebagai perisai di depannya.
"Aku siap, Adrian.
Mari kita lindungi anak kita bersama-sama," jawab Alena dengan suara yang mantap, diiringi oleh sebuah senyuman penuh kekuatan yang merekah indah di wajah cantiknya.
Di bawah kesunyian malam Menteng yang kian larut, diiringi rintik hujan yang menghapus jejak-jejak teror hari ini, babak baru perjuangan mereka di balik layar industri hiburan baru saja dimulai.
Mereka melangkah keluar dari ruang kerja bergandengan tangan, siap meninggalkan sangkar emas ibu kota demi mengepakkan sayap menuju tempat pelarian mereka di atas bukit Uluwatu, Bali. Badai di luar sana mungkin belum sepenuhnya berakhir, namun di dalam pelukan dan komitmen nyata yang mengikat jiwa kedua rekan tim tersebut, mereka tahu bahwa mereka tidak akan pernah terkalahkan oleh apa pun lagi.
Takdir baru telah resmi ditulis, dan tirai penutup untuk rahasia dua garis merah mereka kini telah berganti menjadi sebuah awal dari kisah cinta yang sesungguhnya di dunia nyata.