Sinta percaya pernikahan 10 tahun cukup buat bikin dia kenal Mas Arga luar-dalam. Sampai hari itu dia nemu kunci kuning polos di laci meja. Gantungan kulitnya lecet. Bukan kunci rumah mereka.
"Sayang, ini kunci apa?"
"Oh itu... kunci kantor lama. Lupa kebuang."
Sinta ngangguk. Tapi malamnya dia nggak bisa tidur. Wangi parfum asing di jaket suaminya, chat yang dihapus, dan "lembur" yang makin sering. Rasa curiga itu tumbuh kayak jamur.
Dia mulai nguntit. Dia ngitung lampu apartemen Lantai 7 Unit 704 nyala jam berapa. Dia ketemu "R" - cewek berdress hitam dengan senyum yang bikin darah Sinta dingin.
Semakin Sinta gali, semakin hancur dunianya. Ada kebohongan, ada anak yang mulai bertanya "Ibu kenapa nangis?", ada mertua yang bela anaknya, dan ada pilihan paling berat: memaafkan yang nyakitin, atau balas dengan cara yang lebih sakit?
karena kadang, yang paling dekat..... paling pandai menyimpan kunci cadangan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahrani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Plaster Go International
@PlesterKeluarga udah jadi brand nasional. 500 karyawan. Omzet 500M/tahun.
Tapi Kek Arga bilang: "Kalo plester cuma nempelin orang Indonesia, rugi. Luka hati itu... bahasa internasional."
Jadi mereka gas: *GO INTERNATIONAL.*
Masalah pertama: *Ditolak 20 negara.*
"Plester Hello Kitty? Kekanak-kanakan."
"Cerita selingkuh? Nggak laku di Timur Tengah."
"Brand keluarga retak? Too dark for USA."
Mbak Sinta ngamuk di rapat. "RETak itu bukan dark! RETAK ITU MANUSIA!"
Tiba-tiba Yaya umur 7 tahun angkat tangan. "Mah, kenapa nggak kita bikin plester versi negara?"
"Gimana maksudnya Nak?" tanya Kek Arga.
"Gini Kek," Yaya ngebuka iPad. "Di Jepang plesternya gambar Sakura. Artinya: Luka bisa mekar lagi. Di Arab plesternya kaligrafi 'Maaf'. Di USA plesternya bendera, tapi ada jahitan di tengah. Artinya: Retak tapi disatuin."
Semua diem. 3 detik. Terus...
"ANAK 7 TAHUN INI JENIUS!!!" Tante Argaya teriak sampe mic meeting pecah.
1 bulan kemudian, PLASTER WORLD TOUR dimulai.
Tokyo, Jepang.
Nenek Sinta + Mbak Sinta live di Shibuya. Jual plester Sakura. Cerita: "Saya dulu istri yang diselingkuhin. Saya pilih maaf."
Antrian 5KM. 1 hari sold out 50.000 pcs.
Komentar orang Jepang: "Arigato. Saya 10 tahun nggak ngomong sama ayah. Hari ini saya telpon."
Dubai, UAE.
Nenek Rayya + Tante Argaya pake abaya. Jual plester kaligrafi 'Maaf' + 'Pulang'.
Ustadz lokal nangis di live: "Ini bukan jualan. Ini dakwah. Maaf itu jihad terbesar."
Sold out 100.000 pcs. Pesanan dari 30 negara Arab.
New York, USA.
Mas Arga Muda + Arga Muda pake plester bendera jahitan. Cerita di Times Square: "My grandpa cheated. My family broke. But we chose to stay. We are Plaster."
Video 1 hari 200 juta views. Tagar #WeArePlaster trending 1 dunia.
Oprah DM: "Can you come to my show?"
*Tapi badai baru dateng.* Lebih gede dari bangkrut.
*Hari ke-45 Tur Dunia: KEK ARGA DROP.*
Umur 83. Capek. Jalan kaki 10KM di London buat bagiin plester gratis ke korban perceraian.
Malamnya pingsan di hotel. Masuk ICU.
Dokter Inggris: "Mr. Arga, jantung Bapak 20% lagi. Bapak harus berhenti kerja. Pulang. Istirahat."
Kek Arga buka mata di ICU. Yang pertama dilihat: Nenek Sinta nangis + 12 cucu video call dari 12 negara beda.
"Nak..." bisik Kek Arga. Suaranya udah kayak kertas. "Kek mau pulang... ke Bekasi... mau mati di rumah... sama kalian..."
Nenek Sinta langsung teriak: "NGGAK MAS! MAS JANJI JADI KEK YANG NEMBELIN SAMPE 100 CUCU!"
Semua cucu di layar kompak: "KEK JANGAN MATI! KEK JANJI!"
Mas Arga Muda langsung booking jet pribadi. 24 jam terbang Bekasi-London-Bekasi.
Di pesawat, Kek Arga nggak tidur. Dia pegang plester emas. "Nak... kalo Kekek nggak ada... kalian lanjutin ya..."
Nenek Sinta pegang tangan Kekek kenceng. "Mas diem. Mas nggak boleh ngomong gitu. Kita keluarga plester. Kita nggak ada kata 'nggak ada'."
Sampai Bekasi, langsung masuk RS. 3 hari koma.
Hari ke-3, jam 3 pagi.
Semua 12 orang + 5 cucu gede kumpul di depan ICU. Nggak boleh masuk, tapi pegang pintu kaca.
Mbak Sinta yang mimpin. "Kek... denger ya... Kita lagi bikin plester terbesar sedunia. 1 juta plester. Bentuk hati. Di GBK. Besok. Kamu harus liat."
Arga Muda: "Kek... karyawan kita 5000 orang sekarang Kek. Semua mantan orang patah hati Kek."
Yaya teriak: "KEK! YAYA NGGAK MAU KEK MATI! KEK BELUM LIAT YAYA LULUS SD!"
Tiba-tiba... "Tit... tit... tit..." Alat jantung Kek Arga normal.
Dokter lari masuk. "ASTAGHFIRULLAH! PAK ARGA BANGUN!"
Kek Arga buka mata pelan. Bisik: "1... juta... plester... GBK..."
Besoknya, dipaksa pulang. Pake kursi roda + infus. Tapi maksa ke GBK.
GBK penuh. 1 juta orang. Pegang plester Hello Kitty. Dari 100 negara.
Di panggung, Kek Arga pake oksigen. Tapi megang mic.
"Assalamualaikum..." Suaranya serak, tapi 1 juta orang diem.
"57 tahun lalu... saya bikin 1 keluarga hancur. Saya pikir itu akhir."
"Hari ini... 1 juta keluarga nempel. Saya pikir... itu awal."
Dia angkat plester. "Saya nggak jual plester. Saya jual... kesempatan kedua."
"1 juta orang... kalian semua plester. Buat keluarga kalian. Jangan pergi. Nempel."
"DUA!" Semua angkat plester.
"TIGA!" 1 juta plester diangkat ke langit.
Foto dari drone: Bentuk hati raksasa.
Video itu masuk Guinness World Record: "Largest Human Plaster Formation for Family Healing."
Malamnya, Kek Arga demam tinggi. Tapi senyum. "Mbak... puas..."
Nenek Sinta peluk Kekek. "Mas... kita menang dunia Mas."
2 minggu kemudian, *Surat dari PBB dateng.*
"Dear Mr. Arga Permana,
UN wants to make PLASTER a Global Campaign for Family Reconciliation. Budget: $1 Billion. You lead."
Kek Arga baca surat itu. Ketawa. Ketawa sampe nangis. "Mbak... dulu kita ditolak 20 negara... sekarang PBB yang ngemis..."
Nenek Sinta nyubit pipi Kekek. "Mas, itu bukan ngemis. Itu... Allah balikin."
Ending :
Umur Kek Arga 84. Sehat. Jalan tanpa tongkat lagi. Katanya: "Obat Kekek 1 juta plester."
Kantor @PlesterKeluarga pindah ke Jakarta. 50 lantai. Lantai paling atas: Museum "Ruang Retak". Isinya: Surat cerai pertama, Plester Hello Kitty lusuh, Foto 1 juta orang di GBK.
Di pintu masuk museum tulisan:
"MASUK SINI KALO HATI KAMU RETAK. KELUAR SINI KALO KAMU MAU NEMPEL."
Kek Arga + Nenek Sinta tiap hari duduk di museum. Nyapa pengunjung. Gratis.
Pengunjung tanya: "Pak, capek nggak?"
Kek Arga jawab: "Capek. Tapi plester nggak pernah capek nempel."