Dulu, demi ambisi karier militer, Kolonel Victor melepaskan Ayu, cinta sejatinya. Lima tahun berlalu dalam penyesalan, takdir seolah mempermainkan Victor saat keluarganya justru mualaf setelah Ayu telanjur menikah dengan pria lain.
Dipertemukan kembali dalam satuan Markas Militer yang sama. Victor harus menelan pil pahit melihat Ayu yang kini begitu anggun berhijab dan setia pada suaminya.
Namun, takdir tidak pernah benar-benar berhenti berputar. Lalu, sebuah masalah besar telah terjadi. Ketika pertemuan dadakan yang tak pernah Victor bayangkan membuatnya berpikir.
Akankah ini menjadi kesempatan kedua bagi Victor untuk menebus dosa masa lalunya? Sanggupkah ia meruntuhkan benteng hati Ayu yang terlanjur mati rasa akibat kekecewaan masa lalu? Ataukah Victor harus mengikhlaskan bahwa beberapa dermaga memang hanya diciptakan untuk disinggahi, bukan untuk menjadi pelabuhan terakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: DEKAPAN HANGAT
Mata bulat Arkan berbinar sempurna ketika melihat sosok raksasa berbaju loreng di depannya itu memberikan anggukan kepala. Bagi anak sekecil Arkan, anggukan itu adalah validasi mutlak atas seluruh kerinduan bawah sadarnya selama ini. Keterbatasan memori jangka panjang anak seusianya, ditambah kenyataan bahwa ia terpisah jarak sejak usia dua tahun dan hanya bisa menatap sang ayah melalui layar kaca video call, membuat otaknya langsung mengaitkan sosok pria tinggi, gagah, dan berseragam militer ini sebagai ayahnya yang nyata di dunia fisik. Video call yang dingin selama dua tahun ini tidak pernah bisa menggantikan kebutuhan Arkan akan sebuah dekapan hangat dari figur seorang ayah. Dan hari ini, insting kekanak-kanakannya memilih pria berseragam loreng dengan tiga melati emas ini untuk memuaskan kerinduan tersebut.
Tanpa ragu sedikit pun, Arkan langsung menghamburkan tubuh mungilnya ke depan, memeluk erat leher kokoh Kolonel Victor. Bola plastik yang tadi dipegangnya bahkan terlepas begitu saja, menggelinding pasrah di atas rumput hijau.
Sersan Satu Johan yang berdiri tepat di belakang Victor langsung panik. Matanya membelalak seketika. Sebagai seorang ajudan setia, ia tahu betul aturan protokoler ksatrian dan betapa kaku serta dinginnya watak sang komandan selama tiga bulan pertama menjabat di Bukit Raya. Johan sudah bersiap untuk melangkah maju, hendak menarik anak kecil itu agar tidak mengganggu sang perwira menengah. Namun, belum sempat kakinya melangkah, Victor dengan cepat memberikan isyarat tangan—sebuah gerakan telapak tangan yang ditekan ke bawah dengan tenang—memerintahkan Johan untuk tetap berada di posisinya dan jangan mencampuri momen tersebut.
"Ayahku..." ucap Arkan lagi dengan suara cadelnya yang menggemaskan.
Ia mendongak dalam dekapan, lalu tersenyum sangat manis hingga menampakkan deretan giginya yang rapi, dan bersih untuk anak seusianya. Pemandangan gigi yang terawat itu seolah menjadi saksi bisu yang berbicara banyak pada Victor, itu adalah tanda nyata bahwa Ayu telah berhasil mendidik dan menjaga kebersihan serta kesehatan putranya dengan sangat sempurna, walau di tengah gempuran kesibukannya yang luar biasa sebagai seorang Staf Intelijen. Ayu tidak pernah membiarkan tugas negara mengurangi kualitas kasih sayangnya sebagai seorang ibu.
"Ayahku..." Arkan mengulangi kata itu sekali lagi, seolah sedang mencicipi rasa manis dari sebuah kata yang sudah sangat lama ingin ia ucapkan secara langsung pada sosok pria yang nyata di hadapannya.
Dada Victor bergetar hebat. Panggilan itu menghantam relung hatinya yang paling dalam, memercikkan rasa hangat yang asing sekaligus perih yang tak tertahankan. Sembari menatap mata jernih yang sangat mirip dengan sepasang netra milik wanita yang paling ia cintai di masa lalu, Victor berbisik dengan suara baritonnya yang melunak drastis.
"Kamu mau ikut bersama Ayah?"
"Iya!" sahut Arkan cepat tanpa ada keraguan, mempererat lingkaran lengan mungilnya di leher Victor.
Tanpa memedulikan tatapan mata beberapa anggota yang berada di sekitar lapangan, Victor langsung menegakkan tubuhnya, menggendong Arkan ke dalam dekapan dada bidangnya yang kokoh. Tubuh mungil Arkan terasa begitu pas dan tenggelam di dalam pelukan raksasa sang Kolonel. Setelah membetulkan posisi gendongannya agar anak itu merasa nyaman, Victor mulai melangkah memutar balik arah perjalanannya. Niat awalnya untuk memeriksa barak latihan di ujung ksatrian seketika menguap begitu saja, digantikan oleh keinginan untuk menghabiskan waktu lebih lama bersama malaikat kecil ini.
Victor mengarahkan langkah kaki panjangnya menuju gedung utama Mako Pusdikmil. Bagaimanapun juga, sebagai seorang perwira senior yang matang, Victor memiliki perhitungan taktis yang matang di kepalanya. Ia sama sekali tidak ingin membuat posisi Ayu menjadi sulit atau terpojok di tempat kerja barunya akibat rumor-rumor tidak penting yang bisa saja digoreng oleh mulut-mulut usil di ksatrian.
Namun, apa pun yang dilihat oleh orang lain atau para staf perwira yang kebetulan melintas siang itu, mereka semua pasti akan berpikir bahwa interaksi ini adalah hal yang sangat wajar dan lumrah. Secara garis kekeluargaan yang diketahui publik, Ayu adalah sahabat karib sekaligus orang terdekat bagi Lettu dr. Shaneen, yang mana semua orang tahu bahwa Shaneen adalah adik kandung dari sang Danpusdikmil sendiri. Di mata lingkungan ksatrian, karena kedekatan emosional tingkat tinggi antar-saudara tersebut, sudah pasti Ayu juga secara otomatis dianggap dan diperlakukan sebagai adik perempuan sendiri oleh sang komandan. Kedekatan Victor dengan Arkan pun dipandang sebagai bentuk kasih sayang seorang paman kepada anak dari sahabat adiknya.
Baru saja Victor melangkah beberapa meter menyusuri tepi lapangan rumput, tiba-tiba ia merasakan ujung baju seragam lorengnya ditarik-tarik dengan pelan dari arah bawah.
"Paman besar... Adik Arkan mau dibawa ke mana?" sebuah suara lantang dan penuh rasa ingin tahu memecah keheningan.
Suara itu milik Alif, putra dari pasangan Lettu Yunita dan Lettu Yusuf. Alif adalah anak yang sudah sangat pintar, bicaranya lancar dan beralur karena usianya kini sudah menginjak enam tahun. Sebagai teman bermain Arkan sejak di Mariposa, Alif merasa bertanggung jawab ketika melihat teman kecilnya itu mendadak digendong pergi oleh pria bertubuh paling tinggi di markas tersebut.
Victor yang merasakan tarikan di ujung bajunya langsung menghentikan langkah kaki tegapnya. Ia berbalik perlahan, menundukkan pandangannya untuk melihat anak kecil mana lagi yang kini tengah berani menghampirinya tanpa rasa takut. Dan tentunya, berkat laporan mutasi staf dan kedekatannya dengan struktur Satdik Ba, Victor juga sudah tahu betul bahwa bocah berwajah cerdas di depannya ini adalah putra kandung dari Yunita.
Melihat Alif yang berdiri tegak dengan tatapan menuntut penjelasan, sudut bibir Victor kembali terangkat tipis. Sifat hangatnya yang tersembunyi sebagai seorang pria penyuka anak-anak kini keluar sepenuhnya.
"Alif juga mau ikut?" tanya Victor ramah, mengarahkan tangan kirinya yang bebas untuk mengusap pelan bahu kecil Alif. "Paman punya banyak makanan dan camilan enak di dalam ruangan kerja Paman. Mau?"
Mata Alif seketika berbinar mendengar kata 'makanan' dan 'camilan enak'. Rasa curiganya sebagai pelindung Arkan langsung runtuh berganti dengan kegembiraan khas anak-anak.
"Oh ya? Kalau begitu, Alif juga ikut ya, Paman Besar?" seru Alif riang, melompat kecil di atas rumput.
Victor hanya menganggukkan kepalanya dengan senyuman lembut yang menghiasi wajah tegasnya.
"Iya, ayo ikut Paman."
Maka siang itu, di bawah langit cerah Kota Bukit Raya, sebuah pemandangan yang luar biasa manis dan natural tersaji di koridor utama Mako. Kolonel Victoria Reins Mari berjalan dengan langkah tegap namun santai, menggendong Arkan yang bersandar nyaman di bahu kanannya sambil sesekali memain-mainkan tanda pangkat melati di kerah seragam sang Kolonel, sementara tangan kiri Victor menggandeng jemari kecil Alif yang berjalan beriringan di sampingnya dengan langkah-langkah ceria.
Sertu Johan yang berjalan di belakang mereka kini tidak lagi tegang. Ia tersenyum tipis, memungut bola plastik merah-putih milik Arkan yang tertinggal di rumput, lalu berjalan membuntuti sang komandan menuju ruang kerja utama, menyadari bahwa di balik ketegasan militer yang kaku, komandannya memiliki hati yang sangat luas untuk anak-anak dari masa lalunya.