NovelToon NovelToon
Aku Kaya Berkat Sistem Penagih Utang Akhirat

Aku Kaya Berkat Sistem Penagih Utang Akhirat

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

​Darren hanyalah sampah di mata dunia. Sebagai penagih pinjol ilegal, hidupnya habis untuk dihina debitur sombong, disiksa bos yang brengsek, hingga akhirnya dicampakkan anak-istri di titik terendah.
​Beruntung maut di sebuah gudang tua itu justru menjadi awal dari segalanya. Saat nyaris mati dikeroyok, sebuah notifikasi muncul di hadapannya:
​[Sistem Penagih Utang Akhirat Diaktifkan]
Kemudian dunia berubah menjadi deretan angka. Darren kini mampu melihat Utang Keberuntungan dan Utang Umur setiap orang. Dari pengusaha korup hingga pejabat sombong, semua memiliki utang rahasia yang tak bisa lunas dengan uang. Sedangkan Darren adalah algojo yang berhak menarik paksa semuanya.
​Dari pecundang yang dipandang sebelah mata, menjadi penguasa finansial dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Somasi Pertama

Darren merebahkan diri di atas tempat tidur sebuah hotel melati tidak jauh dari terminal. Ruangan itu tidaklah mewah, namun cukup bersih untuk sekadar melepas lelah.

Setelah membasuh diri dan mengenakan pakaian baru, Darren duduk di tepian kasur sambil menatap cermin di depannya. Wajah itu masih menampakkan sisa lebam, walau tidak lagi semengerikan pagi tadi. Sistem bekerja sesuai janji yang diberikan. Dua jam telah berlalu, dan tubuhnya kini terasa pulih sekitar delapan puluh persen. Darren mengeluarkan sisa uang sebesar Rp49.975.000 dari dalam tas pinggangnya. Dia sudah menyelesaikan pembayaran hotel, mengisi perut, dan membeli beberapa potong pakaian sebagai pengganti jaketnya yang hancur.

“Lumayan murah untuk memulai hidup baru,” pikir Darren sambil menghitung lembaran uang itu. Kini, fokus utamanya harus beralih pada rencana berikutnya, yaitu Andre Gunawan.

Darren menyadari bahwa dia tidak ingin mengulang metode kasar yang menimpa Herman. Kecelakaan mobil merupakan cara yang terlalu sederhana dan cepat. Andre pantas mendapatkan rasa malu yang lebih dalam. Pria itu harus merasakan kepedihan yang sama saat melemparkan uang ke wajah Darren di tengah hujan. Tanpa berlama-lama Darren membuka ponsel, mencari setiap informasi mengenai targetnya itu. Rumah Andre berada di kawasan elit Pondok Indah, sementara kantornya terletak di gedung perkantoran mewah daerah Kuningan. Berdasarkan catatan yang diingatnya, setiap Jumat malam, Andre akan menghabiskan waktu di karaoke eksekutif tempat mereka bertemu sebelumnya.

Darren menyimpan ponselnya kembali. Pantulan wajahnya di cermin menunjukkan sebuah senyuman tipis seseorang yang sudah memahami bagaimana akhir dari sebuah permainan besar.

Sebelum memejamkan mata, Darren kembali memeriksa notifikasi sistem yang melayang di hadapannya.

Target Andre Gunawan. Utang Keberuntungan Rp850.000.000. Utang Umur 5 tahun 2 bulan. Metode penagihan yang tersedia adalah Penarikan Paksa dengan rentang 5 persen hingga 50 persen. Efek samping yang timbul adalah kemunduran finansial bagi target setara nominal yang ditarik.

Darren membaca penjelasan itu berulang kali. Jika dia menarik lima persen dari utang itu, maka Andre akan kehilangan sekitar Rp42,5 juta secara misterius. Namun, Darren merasa tidak ingin sekadar mengambil uang pria sombong itu. Andre harus kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga, yakni reputasi, bisnis, dan rasa hormat dari lingkaran sosialnya.

Tepat setelah itu, sistem seolah menjawab keinginannya dengan memunculkan notifikasi baru.

Metode alternatif: Penghancuran Keberuntungan Tidak Langsung. Pengguna dapat memilih untuk membekukan utang tanpa menariknya. Efeknya keberuntungan target akan berhenti berfungsi. Target akan mengalami kegagalan beruntun dalam urusan bisnis maupun hubungan sosial. Durasi efek selama tujuh hari dengan biaya 20 Debit Kolektor.

“Dua puluh Debit Kolektor? Aku masih punya lima puluh. Jumlah itu lebih dari cukup,” Darren membuat keputusan mental setelah menimbang resikonya. Walau begitu, dia belum akan mengaktifkan metode itu malam ini. Andre harus merasakan ketakutan terlebih dahulu. Pria itu perlu menyadari bahwa ada sosok yang sedang memburunya dari balik bayang-bayang.

Setelah merasa selesai, Darren mematikan lampu kamarnya dan menatap langit-langit. Pikirannya melayang pada Cello, pada Rina, dan ibunya yang masih menanti kepindahan dari ruang rawat kelas tiga. Besok, segalanya dipastikan akan berubah.

Kini Darren telah siap di seberang jalan karaoke eksekutif itu tepat pukul 22.30 malam. Lokasi itu masih sama, namun penampilannya kini sudah jauh berbeda. Jas hitam sederhana yang baru dibelinya membalut tubuh dengan pas, rambutnya tersisir rapi, dan sepatu pantofelnya berkilat-kilat. Sekarang dia tampak seperti seorang pengusaha muda yang sedang naik daun, bukan lagi penagih utang yang lusuh.

Pintu kaca besar di seberang pun akhirnya terbuka. Andre Gunawan keluar, masih didampingi oleh dua pria berbadan tegap yang sama. Kali ini, tidak ada perempuan yang menggelayut di lengannya, tapi wajah pria itu terlihat kusam dan lelah, sangat berbeda dengan penampilannya Jumat lalu yang penuh tawa kemenangan.

Tanpa basa-basi Darren menyeberangi jalan dengan mantap. Langkahnya tidak lagi disertai keraguan yang dulu menghimpit dadanya.

“Malam, Pak Andre,” sapa Darren, lagi-lagi seperti itu.

Andre pun menoleh dan menyipitkan mata, berusaha mengenali pria yang berdiri di depannya. Begitu kesadarannya pulih tentang siapa yang dia hadapi, raut wajahnya berubah menjadi penuh kebencian.

“Lagi-lagi kamu?” Andre meludah ke samping, suaranya memancing perhatian beberapa orang di lobi. “Kenapa? Mau minta sumbangan lagi?”

Darren membalas dengan senyuman tenang yang membuat Andre geram. "Saya tidak datang untuk uang receh Anda, Pak Andre. Kedatangan saya kali ini adalah untuk memberikan sebuah somasi penting."

"Cuih! Somasi?" Andre tertawa mengejek. "Kamu pikir kamu siapa, hah? Pengacara ternama? Kamu itu cuma sampah pinjol yang hidupnya luntang-lantung! Pergi sebelum aku suruh orang-orangku menghajarmu sampai mati!"

"Semua yang sudah Anda bangun akan hancur dalam waktu dekat," kata Darren dengan penuh tekanan. "Bukan karena saya, melainkan karena utang Anda sendiri yang sudah melampaui batas keberuntungan yang Anda miliki."

Lantas tawa Andre terhenti. Dia menatap Darren seolah-olah sedang melihat hantu. "Apa yang kau bicarakan? Kau mengancam bisnisku?"

"Saya hanya menyampaikan fakta," Darren melangkah satu langkah lebih dekat, membuat dua pengawal Andre bersiap siaga. "Nikmatilah sisa keberuntungan Anda malam ini. Karena mulai besok, setiap pintu yang Anda ketuk akan tertutup rapat."

“Berhenti membual, brengsek! Kau pikir kamu ini siapa, bisa seenaknya mengatur nasibku? Keamanan! Usir orang gila ini dari wajahku!”

Darren berbalik sebelum petugas keamanan mendekat. Dia sempat membisikkan kalimat terakhir tanpa menoleh sedikit pun. "Silakan panggil keamanan. Tapi ingat, tidak ada keamanan di dunia ini yang bisa melindungi Anda dari tagihan akhirat."

Keesokan paginya, Darren duduk di sebuah cafe dekat hotel tempatnya menginap. Dia membuka ponsel dan segera menemukan berita bisnis yang menjadi tajuk utama hari itu.

Pengusaha Properti Andre Gunawan Ditinggal Mitra Bisnis.

Darren membaca barisan kalimat di layar itu dengan saksama. Sebuah perusahaan konstruksi besar dilaporkan membatalkan kerja sama dengan Andre secara mendadak. Alasan yang diberikan sangatlah diplomatis, lantaran hanya menyebutkan perihal ketidaksesuaian dengan nilai-nilai perusahaan. Alhasil, proyek besar yang sedang dikerjakan Andre kini terancam mangkrak.

“Baru langkah pertama saja bisnisnya sudah runtuh seperti tumpukan kartu,” Darren menyadari hal itu dengan tenang, dan notifikasi sistem kembali muncul di depan matanya.

Target mulai merasakan dampaknya. Keberuntungan Andre berkurang tiga persen secara alami tanpa perlu penarikan paksa. Sistem bertanya apakah pengguna ingin melanjutkan ke metode aktif.

Darren memilih untuk menunda. Dia membiarkan Andre menderita secara perlahan karena pria itu harus dibiarkan bertanya-tanya mengenai kesalahan apa yang sedang terjadi, merayap dalam ketakutan tanpa pernah mengetahui sumber masalah yang sebenarnya. Satu jam kemudian, berita lain muncul mengabarkan bahwa proyek perumahan milik Andre mulai digugat oleh warga sekitar terkait dampak lingkungan. Alhasil, seluruh aktivitas proyek dihentikan sementara oleh pemerintah setempat.

Darren memesan cangkir kopi kedua. Tangannya sudah benar-benar tenang, tidak ada lagi getaran trauma yang menyiksa. Lebam di wajahnya pun hampir pulih total, menyisakan sedikit bayangan samar di rahang. Dia menyadari bahwa tindakan ini mungkin terasa kejam bagi sebagian orang, namun ingatan saat Andre melemparkan uang ke wajahnya sambil tertawa menghapus segala keraguan itu. Keadilan memang terkadang harus terasa sangat sakit bagi mereka yang sudah melampaui batas.

Kemudian pada sore harinya, Darren mendapat kabar dari seorang kenalan lama bahwa Andre sedang dalam kondisi panik luar biasa. Pria itu dikabarkan telah menghubungi seluruh mitra bisnisnya untuk menawarkan diskon besar-besaran agar kerja sama mereka tidak putus. Namun, hasilnya tetap nihil karena tidak ada satu pun yang berani mengambil risiko. Bahkan, beberapa mitra menarik diri dari proyek lain yang semula tidak memiliki masalah.

“Sekarang kau sudah tahu rasanya memohon tanpa ada yang mendengarkan,” batin Darren, sebelum keluar dari hotel dan menuju rumah sakit. Hari ini, dia akan memindahkan ibunya ke ruang rawat kelas satu.

Ketara sekali dari wajahnya jika Lastri sangat terkejut saat Darren muncul dengan pakaian yang rapi. Kekhawatiran terpancar dari wajah ibunya, menanyakan perihal kondisi luka di wajah yang masih meninggalkan bekas. Sementara Darren hanya tersenyum sambil membantu ibunya bersiap-siap.

"Kita pindah ke kamar yang lebih nyaman ya, Bu. Di sana lebih tenang dan perawatnya lebih sigap," kata Darren.

“Nak Darren, dari mana kamu dapat uang sebanyak ini?” Mata Lastri berkaca-kaca. “Ibu takut kamu melakukan sesuatu yang melanggar hukum.”

“Aku hanya menagih apa yang sudah menjadi hakku, Bu,” jawab Darren. “Pokoknya Ibu tidak perlu cemas lagi.”

Malam harinya, Darren sudah kembali ke kamar hotel. Layar ponselnya masih dipenuhi oleh berita tentang kerugian yang dialami Andre hingga sebuah pesan singkat masuk dari nomor yang tidak dikenal.

AKU TAHU INI KERJAANMU, ANJING! JANGAN PIKIR KAMU BISA MENANG! AKU AKAN MENEMUKANMU DAN MEMBUATMU MENYESAL SUDAH LAHIR KE DUNIA!

Darren membaca pesan itu, tersenyum tipis, lalu menghapusnya tanpa ada niatan untuk membalas.

“Teruslah menggonggong, Andre. Semakin keras kamu berteriak, semakin jelas bagiku bahwa kamu sedang sekarat,” pikirnya sambil mematikan lampu kamar.

Notifikasi sistem pun muncul untuk terakhir kalinya pada malam itu.

Target Andre Gunawan. Utang Keberuntungan tersisa Rp810.000.000, berkurang 40 juta secara alami. Status target tertekan hebat. Sistem menyatakan target siap untuk dieksekusi secara penuh.

1
Bg Gofar
mantap gan
DanaBrekker: terima kasih 👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!