NovelToon NovelToon
Hanya Bisnis, Sayang

Hanya Bisnis, Sayang

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Action
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Vanessa_Write

"Ingat posisi kita, Elena. Di luar kita adalah pasangan sempurna, tapi di dalam rumah ini, kita adalah dua orang asing yang kebetulan berbagi satu atap. Jangan pernah lupakan itu."

Elena adalah CEO Luminous Beauty yang ambisius. Baginya, hidup adalah tentang citra dan kesempurnaan visual. Namun, sebuah pengkhianatan di dewan direksi memaksanya bersekutu dengan pria yang paling ia benci, Adrian ,
sang penguasa Arsa Food Group yang dingin dan praktis.

Namun, di balik kemewahan hidup mereka, ada rahasia gelap yang terkubur. Saat dinding kebencian mulai runtuh oleh sesuatu yang tak terduga, Elena menyadari bahwa Adrian mungkin bukan hanya rekan bisnis/suaminya, melainkan dalang di balik tragedi masa lalu keluarganya.

Di dunia mereka, cinta adalah kelemahan, dan pengkhianatan adalah strategi. Saat kontrak mulai melanggar logika hati, siapakah yang akan hancur lebih dulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanessa_Write, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Blokade Jalur Barat

​Pesan ancaman berwarna merah darah yang terpampang di layar monitor Hendra seolah mengambil seluruh kehangatan sisa kemenangan bursa dari dalam ruangan. Ruang komando finansial yang beberapa detik lalu dipenuhi sorak-sorai para analis, kini mendadak senyap bagai kuburan. Syndicate, faksi atas telah membuktikan ucapan mereka. Kekalahan ratusan triliun di pasar saham tidak membuat mereka menyerah, melainkan memicu amarah yang jauh lebih brutal dan nyata.

​Adrian perlahan melepaskan pegangannya dari pinggang Elena, melangkah mendekat ke arah monitor Hendra dengan rahang yang mengeras kencang. Sepasang mata gelapnya menyipit tajam, membaca ulang barisan kalimat ancaman yang dikirimkan oleh sisa petinggi tertinggi faksi internasional tersebut.

​"Hendra, periksa keaslian jalur pengiriman pesan ini," perintah Adrian, nada suaranya berubah menjadi sangat rendah dan dingin, memancarkan aura berbahaya yang sanggup membuat siapa saja di dekatnya merinding. "Dan hubungi direktur logistik utama di sektor wilayah barat sekarang juga."

​"Sudah saya lakukan sebelum memanggil Anda, Tuan," jawab Hendra dengan pelipis yang mulai basah oleh keringat dingin. "Pesan ini dikirim lewat jalur satelit terenkripsi milik korporasi pelayaran Vanguard Maritim, perusahaan transportasi raksasa yang kita tahu dikendalikan penuh oleh faksi atas Syndicate. Dan... laporan dari sektor barat baru saja masuk setengah menit yang lalu."

​Hendra menekan beberapa tombol, memindahkan panggilan suara darurat ke pengeras suara utama ruang operasi.

​Statik... BZZZ...

​"Tuan Adrian! Ini direktur logistik sektor barat!" sebuah suara pria paruh baya terdengar sangat panik dan terengah-engah di seberang jaringan telepon. "Kami mengalami situasi darurat di gerbang pelabuhan transit internasional! Dua puluh kapal kargo raksasa yang membawa delapan puluh persen bahan baku gandum, minyak nabati, dan pasokan rempah utama untuk seluruh pabrik pengolahan makanan Arsa Food Group mendadak ditahan oleh otoritas bea cukai pelabuhan luar!"

​Elena melangkah maju, berdiri di samping Adrian dengan wajah yang ikut menegang. "Atas dasar hukum apa mereka menahan kapal-kapal kita? Semua dokumen karantina dan izin ekspor-impor Arsa Group selalu bersih tanpa cacat!"

​"Mereka menggunakan alasan pemeriksaan kontaminasi zat berbahaya secara mendadak, Nyonya Elena!" jawab direktur logistik dengan nada frustrasi yang luar biasa. "Mereka mengklaim mendapat laporan anonim bahwa komoditas kita membawa parasit tanaman. Masalahnya, mereka sengaja memperlambat proses uji laboratorium hingga dua minggu ke depan. Kalau bahan baku segar itu tertahan di dalam kontainer pelabuhan yang panas selama dua minggu... semuanya akan membusuk total dan menjadi sampah!"

​Mendengar laporan itu, tangan Elena yang bersandar di tepi meja marmer seketika terkepal erat. Ini adalah taktik pencekikan logistik yang sangat kotor namun luar biasa efektif. Jika seluruh pabrik pengolahan makanan milik Arsa Food Group berhenti beroperasi besok pagi karena kehabisan bahan baku, perusahaan akan mengalami gagal produksi massal. Puluhan ribu toko retail, jaringan supermarket, dan restoran yang bergantung pada pasokan pangan mereka akan menuntut ganti rugi penalti yang nilainya bisa menghancurkan reputasi Arsa Group dalam sekejap.

​"Mereka tahu mereka tidak bisa mengalahkan kita di papan saham, jadi mereka mencoba memotong urat nadi pasokan makanan kita," desis Elena tajam, matanya menatap Adrian dengan kecemasan yang mendalam. "Adrian, stok cadangan di gudang pusat kita hanya bertahan untuk tiga puluh enam jam ke depan. Jika blokade di gerbang barat tidak dibuka dalam kurun waktu dua puluh empat jam... seluruh rantai produksi Arsa Food Group akan lumpuh total."

​Adrian tidak langsung menjawab. Pria bertubuh tegap itu membalikkan tubuhnya, berjalan perlahan menuju dinding kaca besar yang menghadap langsung ke arah pemandangan kota fiksi pusat yang luas. Sinar matahari siang yang terik menerpa wajah tegasnya, mempertegas gumpalan urat menegang di pelipis dan rahangnya. Luka jahitan di lengan kanannya yang tertutup kemeja hitam terasa berdenyut perih, namun rasa sakit fisik itu sama sekali tidak mengalihkan fokus dari otaknya yang sedang menyusun strategi perang baru.

​Faksi atas Syndicate mengira mereka telah menemukan titik lemah dari seorang Adrian Arsa. Mereka mengira dengan menekan sektor logistik fisik, sang predator akan berlutut dan menyerahkan flash disk berisi data kejahatan mereka yang dibawa oleh Elena.

​"Mereka salah menilai lawan," ucap Adrian perlahan, berbalik memandang Elena dan Hendra dengan sepasang mata yang kini berkilat penuh kekejaman yang mutlak. "Mereka mengira jalur distribusi barat adalah satu-satunya jalan bagi pasokan makanan kita."

​Elena menatap suaminya dengan kening berkerut. "Maksudmu... kita punya jalur alternatif? Tapi semua laporan logistik tahunan menyatakan bahwa wilayah barat adalah gerbang utama yang memegang kendali penuh atas harga pasokan komoditas kita."

​Adrian berjalan mendekati Elena, mengikis jarak di antara mereka hingga ia bisa menatap langsung ke dalam manik mata istrinya dengan keyakinan yang absolut. "Jalur barat memang gerbang utama yang diketahui oleh publik dan mata-mata musuh, Elena. Namun, lima tahun lalu, sebelum aku menyetujui pernikahan kontrak ini denganmu, aku sudah mengantisipasi hari di mana faksi internasional akan mencoba memboikot bisnis pangan milik keluargaku."

​Adrian menoleh ke arah Hendra. "Hendra, aktifkan Protokol Jalur Sutra Hitam."

​Mendengar nama protokol tersebut, mata Hendra seketika terbelalak. "Tuan... Anda yakin akan membuka jalur militer swasta di sektor selatan sekarang? Otoritas pengawas wilayah mungkin akan mempertanyakan legalitas pergerakan armada dalam skala sebesar itu secara mendadak."

​"Kita sudah menyerahkan semua bukti kejahatan Syndicate ke Komisi Tindak Integritas siang tadi," sahut Adrian dingin tanpa bantahan. "Gunakan dokumen perlindungan darurat dari komisi hukum untuk melegalkan pergerakan kita. Katakan pada mereka, ini adalah operasi pengamanan aset komoditas faksi pusat dari sabotase organisasi terlarang."

​Adrian kembali menatap Elena, suaranya melembut namun tetap terdengar sangat bertenaga. "Di sektor selatan, di balik wilayah perbukitan berbatu yang luput dari pengawasan radar Vanguard Maritim, aku memiliki jalur distribusi darat rahasia dan armada truk kargo lapis baja yang dikelola oleh mantan unit militer taktis Arsa Group. Stok bahan baku yang disimpan di pangkalan rahasia selatan jumlahnya cukup untuk menyokong seluruh pabrik kita selama enam bulan ke depan."

​Elena mengembus napas tak percaya, hatinya mendadak dipenuhi oleh rasa takjub yang luar biasa dalam. Adrian ternyata jauh lebih mengerikan dan visioner dari yang pernah ia bayangkan. Pria ini tidak hanya menyiapkan tameng untuk bertahan, ia selalu membangun benteng pertahanan kedua sebelum musuh bahkan sempat berpikir untuk menyerang.

​"Tapi Adrian," Elena mengingatkan dengan nada taktis, "musuh pasti menempatkan agen-agen pengintai di sekitar gerbang keluar gudang pusat kita. Begitu mereka menyadari ada pergerakan armada besar dari arah selatan, mereka akan mencoba melakukan penghadangan fisik di jalur darat sebelum truk-truk itu sampai ke pabrik."

​"Itulah sebabnya, kita akan membuat sebuah pengalihan perhatian yang besar di gerbang barat besok pagi," sudut lipatan bibir Adrian terangkat, membentuk senyuman tipis yang sangat berbahaya. "Kita akan berpura-pura mengirimkan tim pengacara dan unit pengamanan untuk bernegosiasi secara paksa di pelabuhan barat, membuat seluruh perhatian faksi atas tertuju ke sana."

​Adrian maju satu langkah lagi, tangan kirinya perlahan terangkat untuk menggenggam jemari tangan Elena dengan remasan yang sangat kuat dan hangat, menyalurkan rasa aman yang mutlak bagi istrinya.

​"Sementara mereka sibuk menjaga pelabuhan barat, armada Jalur Sutra Hitam kita akan bergerak menembus jalur selatan di bawah kegelapan malam. Dan aku sendiri yang akan memimpin langsung operasi pengawalan armada darat itu," ucap Adrian dengan nada bariton yang tidak menerima penolakan.

​Elena merasakan debaran jantungnya mendadak berpacu cepat, bukan karena rasa takut terhadap ancaman musuh, melainkan karena rasa cemas melihat suaminya yang bersiap untuk kembali terjun ke lapangan dalam kondisi lengan yang masih terluka.

​"Aku ikut denganmu, Adrian," kata Elena tegas, sepasang mata indahnya menatap lurus tanpa ada keraguan sedikit pun. "Ini adalah perang kita. Kamu tidak boleh pergi ke jalur selatan sendirian dengan lengan kanan yang baru saja dijahit ulang."

​Adrian menatap lekat-lekat wajah cantik Elena yang dipenuhi oleh determinasi dan keberanian sejati seorang Alexander. Sisi posesif di dalam dadanya bergejolak. Ia ingin mengunci wanita ini di dalam ruangannya yang aman agar tidak tersentuh oleh bahaya luar, namun di sisi lain, ia tahu bahwa Elena adalah seekor elang yang tidak akan pernah mau bersembunyi di balik sayap orang lain.

​"Jalur darat selatan sangat terjal dan berbahaya, Putri Kecil. Jika terjadi baku tembak di tengah perbukitan..." Adrian menjeda kalimatnya, menguji mental istrinya.

​"Aku sudah pernah memegang pistol di atas tebing laut yang gelap, Tuan Arsa," potong Elena dengan senyuman menantang yang sangat menawan. "Menghadapi beberapa pencegat di jalur darat tidak akan membuatku gemetar. Lagipula, siapa yang akan mengawasi kondisi lenganmu jika bukan aku?"

​Tawa rendah dan tipis akhirnya keluar dari bibir Adrian, memecah ketegangan yang menyelimuti ruang operasi. Ia menarik tangan Elena, membawa wanita itu masuk ke dalam dekapan dadanya yang hangat dan kokoh di depan seluruh kru analis yang kini menatap mereka dengan rasa hormat yang mendalam.

​"Sangat keras kepala," bisik Adrian rendah di dekat telinga Elena, mempererat dekapannya yang protektif. "Baiklah, Nyonya Arsa. Bersiaplah malam ini. Kita akan tunjukkan pada faksi atas Syndicate seberapa kuat urat nadi fisik dari Arsa Group saat digerakkan bersama."

...​...BERSAMBUNG......

1
Bu Dewi
seru kak alur ceritanya😍😍😍👍
VanessaJournal: terima kasih atas support nya kak! 😊🙏🏻
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!