Perang antara manusia dan iblis telah mencapai titik terburuk.
Kerajaan Beltrum berada di ambang kehancuran setelah kalah dari sihir suci Zetobia.
Dalam keputusasaan, mereka melakukan sesuatu yang tabu
memanggil manusia dari dunia lain.
Zeta, seorang mahasiswa biasa, tiba-tiba terseret ke dunia asing yang dipenuhi sihir dan darah.
Bukan sebagai pahlawan manusia…
melainkan harapan terakhir bagi bangsa iblis.
Namun satu pertanyaan besar muncul akankah ia menjadi penyelamat… atau justru kehancuran bagi kedua dunia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agung Noviar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 KELUARGA LYTIA
Sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui celah jendela, menyentuh wajah Zeta yang masih bergelung di
balik selimut empuk. Kepalanya terasa berat. Sisa-sisa rasa sakit di mata kirinya semalam masih meninggalkan sensasi denyut tipis yang tidak nyaman.
Zeta mengerang pelan, meraba tempat tidur untuk mencari ponselnya. "Jam berapa ini... apa aku kesiangan? Ah, mungkin sudah telat untuk kuliah..." Kalimat itu terhenti di mulut. Zeta membuka matanya lebar-lebar, menatap langit-langit kayu yang tinggi dan artistik, bukan langit-langit beton kosannya yang berjamur. Ia duduk tegak, menggosok wajahnya dengan kasar sambil menghela napas panjang.
"Oyaa... aku bukan di dunia asalku," gumamnya pelan. Kesadaran itu menghantamnya seperti air dingin.
"Duniaku sudah jauh di sana. Aku harus ke toilet sebentar, rasanya kepalaku masih sedikit pening."
Pemandangan yang Mengetuk Hati Zeta melangkah keluar dari kamar dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya. Namun, begitu ia menuruni tangga menuju lantai satu, langkahnya terhenti.
Aroma roti panggang yang harum, tumisan sayur, dan wangi kopi memenuhi ruangan. Di dapur, Ibu Lytia sedang sibuk menyiapkan piring, sementara ayahnya membantu mengelap meja makan dengan santai. Lytia sendiri, yang semalam tampak seperti jenderal perang yang garang, kini terlihat sedang merapikan sudut ruangan dengan cekatan.
Hati Zeta mendadak tersentuh. Sebuah rasa hangat yang menyesakkan dada muncul tiba-tiba.
"Halo, Nak Zeta!" sapa Ibu Lytia dengan suara yang sangat lembut. Ia menyadari kehadiran Zeta di tangga.
"Sini, duduk di meja makan. Kami sudah siapkan sarapan, ayo sarapan sama-sama."
Lytia menoleh, memberikan senyuman tipis yang tulus. "Kemari, Zeta. Sebelum kita mulai latihan berat seharian, kita isi tenaga dulu."
Ayah Lytia pun ikut tersenyum ramah, mengangguk kecil sebagai tanda menyambut kehadirannya.
Memori yang Kembali
Zeta mendadak kaku. Ia terpaku di anak tangga terakhir, seolah kakinya membeku di lantai kayu itu. Matanya menatap pemandangan keluarga yang harmonis itu tanpa berkedip. Dalam sekejap, pikirannya melayang kembali ke dunia asalnya. Ia teringat rumahnya yang sunyi. Ia tidak pernah melihat pemandangan seperti ini meja makan yang penuh, tawa kecil di pagi hari, atau orang tua yang menunggunya bangun untuk sarapan. Semua itu tidak pernah ada sebelum ia tinggal bersama neneknya.
"Zeta?" suara Lytia memecah lamunannya. "Kenapa hanya diam saja di situ? Sini, sarapan."
Zeta mengerjapkan mata, berusaha mengusir kabut emosi yang mulai menggenang. "Ah... tidak apa-apa. Aku... aku jadi tidak enak. Sudah numpang menginap, sekarang malah sarapan dengan kalian lagi."
Ayah Lytia tertawa kecil, suara beratnya menenangkan. "Santai saja, Zeta. Kamu sudah dianggap seperti keluarga kita sendiri di sini. Jangan sungkan."
Zeta tertegun sejenak, lalu sebuah senyum tulus perlahan terukir di wajahnya. Rasa asing yang tadinya menyesakkan kini berubah menjadi rasa syukur yang luar biasa.
"Terima kasih... kalau begitu, iya, aku akan ikut sarapan," jawab Zeta. "Tapi sebelumnya, aku ingin ke toilet sebentar untuk cuci muka."
Meja Makan Penuh Makna
Setelah membasuh wajahnya dan mencoba menenangkan diri, Zeta bergabung di meja makan. Suasana sarapan itu terasa sangat berbeda dari apa pun yang pernah ia alami. Mereka makan sambil berbincang ringan tentang cuaca di Beltrum dan rencana latihan hari ini.
Meskipun statusnya adalah orang asing dari dunia lain, di meja makan itu, Zeta merasa benar-benar diterima. Untuk sesaat, ia melupakan beban mata kirinya yang misterius dan kerasnya latihan yang sudah menunggu di depan mata. Di sini, di rumah kecil ini, Zeta menemukan sesuatu yang selama ini hilang dari hidupnya: rumah. Setelah piring-piring bersih dan perut terasa kenyal, Lytia berdiri dan merapikan jubah militernya yang tadi digantung. Suasana santai keluarga tiba-tiba berubah menjadi sedikit lebih serius.
Lytia berpamitan dengan nada tegas namun tetap lembut, "Ayah, Ibu, aku pergi dulu ya. Aku akan melatih Zeta menjadi pasukan yang hebat seperti yang kerajaan kita harapkan."
Zeta ikut berdiri, ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil tersenyum lebar ke arah orang tua Lytia.
"Tenang saja, aku tidak akan mengecewakan kalian kok, hehehe."
Orang tua Lytia menatap mereka dengan binar bangga. Sang Ibu memegang tangan Zeta sejenak. "Terima kasih, Nak Zeta. Lytia, tolong jaga dia ya. Kami percaya pada kalian berdua. Semangat berjuang!"
"Sama-sama! Kami pasti akan berusaha!" seru Zeta .
Menuju Gerbang 3 Beltrum
Mereka berjalan membelah keramaian ibu kota Beltrum. Zeta memperhatikan sekitar, penduduk mulai sibuk dengan aktivitas pagi mereka.
"Lytia, aku latihan apa lagi hari ini?" tanya Zeta penasaran. Lytia menoleh sambil terus berjalan cepat. "Melatih kemampuan dasarmu. Kita harus lihat apakah kamu lebih cocok jadi ksatria pedang sihir yang bertarung di garis depan, atau menjadi penyihir terhebat yang menyerang dari jarak jauh."
Zeta terdiam sejenak, membayangkan dirinya merapalkan mantra-mantra rumit. "Hmm... sepertinya aku lebih suka pakai pedang deh. Rasanya lebih mantap kalau bisa melindungi orang secara langsung."
"Kalau kamu merasa percaya diri pakai pedang, boleh saja," jawab Lytia. Ia kemudian melepas pedang pendek dari pinggangnya sebuah pedang dengan ukiran rune iblis yang indah. "Aku akan pinjamkan pedangku ke kamu nanti, untuk melihat kemampuan aslimu."
Zeta menerima informasi itu dengan antusias, tapi tak lama kemudian ia menyadari sesuatu. Mereka tidak menuju ke arah lapangan luas tempat para prajurit biasanya berlatih. "Oyaa... bukannya ini bukan jalan menuju tempat latihan? Kenapa arahnya malah ke hutan di luar Kerajaan?"
Lytia menyeringai tipis, taring kecilnya terlihat lagi. "Memang bukan. Karena kita akan langsung membasmi monster supaya aku bisa melihat kemampuan aslimu dengan cepat."
Mata Zeta membelalak. Jantungnya berdegup kencang. "Hah?! Monster?! Cepat banget! Bukannya harus latihan yang sederhana dulu? Lagian... gimana bentuk monster di sini?"
Lytia tertawa kecil melihat kepanikan Zeta. "Hehehe... monster di sini seperti binatang, tapi mereka punya
tubuh yang unik. Ada hewan dengan campuran yang besar gabungan sapi dan seperti raksasa, lalu ada juga harimau besar yang kulitnya sekeras baja."
Zeta mendadak merasa kakinya lemas. Bayangan harimau raksasa langsung muncul di kepalanya. "IHH! Aku masih pemula, kamu sudah bikin aku mau mati cepat ya?!"
Lytia menepuk punggung Zeta dengan keras sampai cowok itu terdorong ke depan. "Jangan cengeng! Selama ada aku di sampingmu, kamu nggak akan mati. Tapi kalau luka-luka sedikit... ya itu namanya pengalaman!"
Zeta hanya bisa menelan ludah, tangannya meraba mata kirinya yang tiba-tiba berdenyut lagi. Sepertinya, hari ini tidak akan berjalan semudah yang ia bayangkan. Di tengah perjalanan yang semakin dekat dengan hutan Zeta kembali memprotes keputusan Lytia.
"Kenapa latihannya harus secepat ini? Bukannya nanti aku malah tidak bisa apa-apa kalau dipaksakan?" tanya Zeta, nafasnya mulai sedikit terengah mengikuti langkah Lytia yang cepat.
Lytia berhenti sebentar, menoleh dengan tatapan yang sangat serius tatapan seorang Jenderal. "Apa kamu lupa perkataanku kemarin? Kerajaan Zetobia sedang memulihkan pasukan. Mereka hanya butuh 3 hari untuk pulih, dan setelah itu mereka akan menyerang lagi. Kamu harus bisa menjadi ksatria yang hebat dalam waktu Sesingkat itu."
Zeta terbelalak. "Halahh, sialan! Ini seperti kerja paksa. Aku harus mencapai target dengan waktu yang tidak masuk akal!" Lytia mendengus, kembali berjalan. "Cih, lagian ini medan perang. Mau tidak mau, kamu harus bisa. Dunia ini tidak akan menunggumu siap, Zeta."
"Iya, iya... aku mengerti," jawab Zeta pasrah, meski hatinya masih merutuk. Tak lama kemudian, pepohonan besar yang rimbun mulai mengepung mereka. Cahaya matahari hanya masuk sedikit melalui celah daun. Suara geraman rendah mulai terdengar dari kejauhan.
Lytia berhenti tepat di batas hutan gelap itu. Ia menoleh ke arah Zeta dan memberikan kode agar Zeta bersiap.
"Zeta, kita sudah sampai. Siapkan mentalmu, oke?"
Zeta menarik napas dalam-dalam, menggenggam erat gagang pedang pinjaman dari Lytia. Rasa takut dan adrenalin bercampur jadi satu. "Cih... iya."
cerita awal lumayan good, pantas untuk like dan hadiah 👍