NovelToon NovelToon
Obsession Of Jayden

Obsession Of Jayden

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Bad Boy / Idola sekolah
Popularitas:981
Nilai: 5
Nama Author: Alyssa Kim

Bagi Jayden Xeno Frederick, perempuan hanyalah makhluk rumit yang membuang waktu. Sebagai ketua VULTURES—geng motor paling disegani di Jakarta—ia punya segalanya: kuasa, ketampanan, dan pengaruh. Namun, sepulangnya dari program pertukaran pelajar di London, prinsip hidup Jayden runtuh dalam semalam. Ia bertemu dengan Elleanor Catleena Smith, murid baru pindahan Amerika yang barbar, gemar membuat rusuh, dan sama sekali tidak mempan dengan pesonanya.

​Elleanor—sang Queen Racer tersembunyi—berpindah ke Indonesia bukan untuk mencari cinta, melainkan karena didepak dari sekolah lamanya akibat merusak fasilitas sekolah. Sifat liar dan tak terkendali milik Elle justru memicu rasa penasaran Jayden. Rasa penasaran yang lambat laun bermutasi menjadi sebuah obsesi gelap dan posesif. Jayden menginginkan Elle, mutlak untuk dirinya sendiri.

​Namun, mengurung seekor burung hantu yang hobi berontak tidaklah mudah. Apalagi di belakang Elle, ada Alkana Putra Adhytama, ketua geng WOLFANGS.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alyssa Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28: Detak yang Terbaca dan Sinyal Perang

​Sentuhan dingin dari pelat baja berlogo VULTURES di pergelangan tangannya terasa bagai borgol tak kasat mata yang mencengkeram harga diri Elleanor. Layar kecil pada smartband hitam itu berkedip sekali, menampilkan angka digital yang bergerak dinamis naik-turun, merekam setiap debaran panik dan amarah yang saat ini sedang bergejolak hebat di dalam dadanya.

​98 BPM (Beats Per Minute).

​Jayden melirik angka digital tersebut tanpa melepaskan kedekatan intim mereka. Sudut bibir tipisnya terangkat membentuk seulas senyuman tipis yang sarat akan kuasa mutlak. "Jantung lo gak bisa bohong, Elle. Mulut lo boleh sekaku batu karang, tapi detak lo sedari tadi bilang kalau lo lagi ketakutan di depan gua."

​"Gua gak takut sama lo, bajingan!" desis Elleanor tajam.

​Dengan sentakan kasar dan sisa tenaga barbarnya, ia berhasil menarik tangannya kembali. Sepasang manik mata indahnya berkilat menantang, membalas tatapan pekat Jayden tanpa ada niat untuk mundur satu senti pun. "Gua berdebar karena gua muak! Gua muak sama semua cara kotor lo yang sok mengatur hidup gua!"

​Elle mencoba menarik pengait gelang tersebut, berniat melempar benda menyebalkan itu tepat ke wajah tampan Jayden. Namun, sekencang apa pun ia menariknya, sistem pengunci magnetik berlapis baja itu tidak bergeming sedikit pun. Desain penguncinya dibuat khusus agar hanya bisa dibuka menggunakan alat enkripsi di ponsel atau komputer milik Jayden dan Haikal.

​"Gak usah buang-buang tenaga," ujar Jayden datar, kembali menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi dengan keangkuhan yang nyata. Jemari panjangnya kembali memutar pulpen perak miliknya dengan gerakan konstan. "Gelang itu gak bakal lepas sampai lo berhasil ngelewatin garis finis di depan gua bulan depan. Taruhan lo bukan cuma soal kelas XI-IPA 1 lagi, Elle... tapi juga soal harga diri lo sebagai Queen Racer."

​Elleanor mengepalkan tangan kirinya, merasakan jepitan gelang pintar itu yang terasa pas—tidak menyakiti kulitnya, namun terasa begitu mengikat. "Oke. Tantangan lo gua terima, Muka Tembok. Jangan mewek kalau nanti di Sentul gua bikin Kawasaki H2 Carbon kebanggaan lo itu cuma bisa mencium asap knalpot gua dari belakang!"

​Di sudut lain Loren’z High School, tepatnya di area koridor terbuka dekat lapangan basket, atmosfer tidak kalah tegang. Alkana berdiri bersandar pada pembatas pagar besi dengan ponsel yang menempel di telinganya. Jaket serigala WOLFANGS yang ia kenakan tampak sedikit basah karena sisa gerimis pagi.

​"Matt, lo serius pihak panitia ngubah regulasinya jadi Open Class?!" tanya Alka setengah membentak, suaranya serak menahan amarah yang sejak subuh ia pendam.

​Di ujung sambungan telepon, suara Matthew terdengar berisik oleh ketukan papan tik yang cepat. "Gua serius, Al. Haikal baru aja mengintervensi sistem database panitia pusat dua jam lalu menggunakan hak akses Frederick Group selaku sponsor utama kompetisi. Faksi independen dan perwakilan utama diizinkan pakai mesin kapasitas bebas tanpa limiter keselamatan."

​Alka menggertakkan giginya hingga rahang tegasnya mengeras sempurna. "Jayden bener-bener udah gila. Dia tahu Elle bakal turun pakai motor spek Amerika, makanya dia sengaja buka gerbang maut ini sekalian."

​"Bukan cuma itu, Al," potong Matthew lagi, nadanya mendadak berubah menjadi sangat serius. "Gua nemu transmisi data baru dari arah LHS ke server privat milik Jayden. Ada sensor biometrik aktif yang baru aja terpasang di area sekolah. Sasarannya... Elleanor. Jayden lagi ngunci sinyal fisik Elle dari jarak dekat."

​Brak!

​Alka memukul pagar besi di depannya dengan keras, membuat beberapa murid yang lewat langsung mempercepat langkah mereka karena ketakutan. "Bajingan posesif itu bener-bener gak ngasih Elle napas sedikit pun!"

​"Alka," sebuah suara lembut namun dingin memotong luapan emosi sang ketua Wolfangs.

​Alka menoleh cepat dan mendapati Keysha sudah berdiri di belakangnya dengan membawa sebuah map laporan. Di belakang Keysha, Soraya mengekor dengan wajah cemas.

​"Gimana kondisi di kelas Elle?" tanya Alka langsung, menurunkan ponselnya tanpa mematikan sambungan.

​Keysha membetulkan posisi kacamatanya, menatap Alka dengan pandangan datar tanpa riak. "Gak bagus. Jayden baru aja masang gelang sensor di tangan Elle. Anak-anak Vultures di kelas XI-IPA 3 juga udah mulai bikin barikade ketat. Soraya tadi mau ngajak Elle ke toilet aja harus lewat izin Erlan di depan pintu."

​"Brengsek!" umpat Alka lagi.

​"Al, lo harus menangin balapan bulan depan," ucap Soraya tiba-tiba, matanya berkaca-kaca menahan rasa bersalah karena membiarkan Elle terjebak sendirian di sarang Vultures semalam. "Elle itu bebas, dia gak cocok ditaruh di tempat dingin kayak gitu. Si Jayden itu bukan cuma mau pacaran sama Elle, dia kayak mau nelan Elle hidup-hidup!"

​Alka menarik napas dalam-dalam, mencoba menguasai kembali akal sehatnya yang sempat goyah oleh api cemburu dan amarah. Ditatapnya langit mendung di atas lapangan sekolah dengan pandangan mata yang berubah menjadi dingin, tajam, dan penuh dengan determinasi maut.

​"Kalian berdua jagain Elle dari jauh selama di dalam sekolah," perintah Alka rendah pada Keysha dan Soraya. "Bilang sama dia... Wolfangs bakal siapin mesin paling iblis yang pernah ada di Jakarta buat balapan bulan depan. Kalau Jayden mau main-main tanpa limiter keselamatan... gua bakal pastiin malam itu jadi malam terakhir Vultures bisa ngerasain aspal Sentul."

​Kembali ke kelas XI-IPA 3, jam pelajaran sejarah baru saja dimulai, namun Elleanor sama sekali tidak mendengarkan penjelasan guru di depan kelas. Matanya terus terfokus pada angka digital di pergelangan tangan kirinya yang kini stabil di angka 82 BPM.

​Tiap kali ia bergerak atau mencoba menjauhkan tangannya dari meja, ia bisa merasakan getaran halus dari gelang tersebut—sebuah pengingat konstan bahwa di sebelahnya, ada sepasang netra hitam pekat yang terus mengawasi dan menikmati setiap jengkal perlawanannya.

​Jayden menulis catatan sejarah di bukunya dengan tenang, namun tangan kirinya yang bebas sesekali sengaja diletakkan di atas meja Elle, membiarkan ujung jari mereka saling bersentuhan tipis di balik tumpukan buku materi. Hubungan tak kasat mata di antara mereka kini telah terikat erat oleh benang-benang digital dan ego kepemilikan yang kian menggila. Benang yang tidak akan pernah putus sebelum salah satu dari mereka hancur di atas kecepatan 300 km/jam di lintasan maut nanti.

1
Davina Aurora
lanjutt ka ceritanya seruu🤩🩷
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!