NovelToon NovelToon
Lencana Cinta Sang Kapten

Lencana Cinta Sang Kapten

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Militer
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Adeeva Zamira Arjunka tidak pernah menyangka bahwa sifat pemberontaknya justru menjadi alasan ia terjebak dalam pernikahan militer. Seharusnya, Kak Adiba—kembarannya yang sholehah dan lembut—lah yang bersanding dengan Kapten Shaheer Ali. Namun, sang perwira pasukan khusus itu secara mengejutkan justru menjatuhkan pilihan pada Adeeva, si gadis keras kepala yang terang-terangan membenci dunia militer.
Terpaksa menggantikan posisi kakaknya, Adeeva masuk ke kehidupan Shaheer dengan dendam dan penolakan. Baginya, lencana dan seragam hijau Shaheer adalah simbol pengekangan. Namun, perjalanan takdir adiba ke tanah Mesir dan kehadiran buah hati di balik pagar pinus perlahan mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kembali ke gerbang hijau

Mobil SUV hitam itu melaju membelah jalanan aspal menuju perbatasan kabupaten, tempat di mana dinding-dinding tinggi Pondok Pesantren Al-Arjun berdiri tegak. Semakin dekat jaraknya, semakin dingin telapak tangan Adeeva. Ia berkali-kali merapikan pashmina hitamnya di depan spion mobil, memastikan tak ada rambut yang mengintip, sebuah refleks yang muncul bukan lagi karena paksaan, melainkan rasa takut akan sorot mata Abi yang menghakimi.

Shaheer menyadari kegelisahan itu. Ia memindahkan tangan kirinya dari kemudi, menyelimuti jemari Adeeva yang sedang meremas ujung bajunya sendiri.

"Tenanglah. Ada aku," ujar Shaheer. Suaranya rendah, namun memiliki kekuatan yang mampu meredam gemuruh di dada Adeeva.

"Kamu tidak tahu Abi, Shaheer," bisik Adeeva tanpa menoleh. "Baginya, aku ini kegagalan. Dan membawa kabar tentang Kak Adiba yang ingin menikah di sana... itu sama saja dengan menyiram bensin ke api yang sedang menyala."

Di kursi belakang, Fathiyah yang biasanya gemar menyindir, kali ini hanya diam menatap keluar jendela. Ia bisa merasakan ketegangan yang nyata. Di sampingnya, Kaysan—yang entah bagaimana berhasil ikut dalam rombongan ini—mencoba mencairkan suasana.

"Mbak Deeva, tenang saja. Kalau nanti Kyai marah besar, saya sudah siapkan taktik 'gerilya'. Saya akan ajak santri-santri di sana main bola sampai mereka lupa kalau ada sidang keluarga," seloroh Kaysan.

Adeeva hanya tersenyum tipis, sebuah senyum yang tak sampai ke mata.

Begitu mobil memasuki gerbang pesantren, ratusan mata santri yang sedang beraktivitas di halaman tertuju pada mereka. Mobil perwira itu tampak kontras di lingkungan yang penuh dengan sarung dan kopiah.

Shaheer turun lebih dulu, lalu membukakan pintu untuk Adeeva. Begitu kakinya menyentuh tanah pesantren, Adeeva merasa tubuhnya mengecil kembali menjadi gadis remaja yang selalu ingin lari dari kenyataan.

Umi menyambut mereka di teras rumah utama dengan mata berkaca-kaca. Ia langsung memeluk Adeeva erat, menghirup aroma putrinya yang kini terasa lebih matang. "Alhamdulillah kalian sampai dengan selamat. Mari masuk, Abi sudah menunggu di ruang dalam."

Langkah Adeeva melambat saat memasuki ruang tamu luas yang didominasi rak-rak kitab besar. Di sana, di atas kursi kayu jati, Abi duduk dengan tasbih di tangannya. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apa pun saat melihat mereka masuk.

"Duduk," ujar Abi singkat.

Shaheer mengambil posisi duduk paling depan, tepat berhadapan dengan Abi, sementara Adeeva duduk sedikit di belakang suaminya, mencari perlindungan dari punggung lebar Shaheer.

"Bagaimana Mesir?" tanya Abi tanpa basa-basi.

Shaheer mengangguk hormat. "Mesir baik, Kyai. Adiba mengirimkan salam dan penghormatan setinggi-tingginya untuk Abi dan Umi."

"Salam saja tidak cukup untuk menutupi rasa malu saya karena dia memilih jalannya sendiri tanpa izin saya," sahut Abi dengan nada bicara yang tajam. Matanya beralih ke Adeeva. "Dan kamu, Adeeva. Apa yang kamu lakukan di sana? Menghasut kakakmu agar berani membangkang seperti kamu?"

Adeeva tersentak. Genggamannya pada ujung pashmina mengeras. Ia ingin berteriak, ingin membela diri bahwa ia ke sana justru untuk memastikan kebahagiaan Adiba, namun lidahnya mendadak kelu. Trauma bertahun-tahun akan amarah Abi membuatnya membeku.

Shaheer berdehem, menarik perhatian Abi kembali kepadanya. "Izin, Kyai. Adeeva ke sana atas permintaan saya. Dan mengenai Adiba, saya sudah bertemu langsung dengan Zaki. Saya sudah memeriksa latar belakangnya secara militer dan personal."

Shaheer mengeluarkan map cokelat yang dibawa Zaki dari Mesir. "Zaki adalah putra dari almarhum Syekh Yusuf, sahabat karib ulama besar Al-Azhar yang sering Abi ceritakan. Dia bukan pria sembarangan. Dia cerdas, bertanggung jawab, dan yang paling penting... dia sangat menghormati Adiba."

Abi terdiam sejenak melihat nama-nama yang tertera di dokumen itu. Namun, harga dirinya sebagai kepala keluarga dan pimpinan pondok seolah masih terlalu tinggi untuk luluh begitu saja.

"Saya tetap tidak suka caranya memberi tahu saya. Lewat video? Seolah-olah saya ini orang asing," ketus Abi.

Adeeva menarik napas panjang. Ia teringat genggaman tangan Shaheer semalam di Kairo. Kekuatan itu seolah mengalir kembali ke nadinya. Ia memberanikan diri maju sedikit, duduk sejajar dengan Shaheer.

"Abi," suara Adeeva terdengar stabil meskipun dadanya berdegup kencang. "Selama ini, Adeeva memang selalu berontak karena Adeeva merasa tidak pernah didengar. Tapi Kak Adiba tidak seperti itu. Kak Adiba melakukan ini karena dia peduli pada Abi. Dia ingin menikah secara sah di sana agar dia punya pelindung yang Abi percayai di negeri orang."

Adeeva menatap mata Abi langsung, sesuatu yang jarang ia lakukan. "Tolong jangan hukum Kak Adiba karena kesalahan Adeeva di masa lalu. Shaheer sudah menjamin pria itu. Bukankah Abi sendiri yang bilang kalau Shaheer adalah orang pilihan Abi? Kalau Abi percaya pada Shaheer, tolong percayalah pada pilihannya kali ini."

Suasana ruangan itu menjadi hening. Fathiyah dan Kaysan yang duduk di sudut ruangan bahkan menahan napas. Shaheer menatap istrinya dengan bangga; ia melihat gadis remaja yang labil itu kini mulai mampu berdiri tegak di depan badai yang paling ia takuti.

Abi meletakkan tasbihnya ke meja. Ia menatap Adeeva, lalu menatap Shaheer. Untuk pertama kalinya, ada keraguan di sorot matanya yang keras.

"Kalian benar-benar sudah sepakat untuk menyudutkan saya, ya?" gumam Abi, meski nada bicaranya sudah tidak sekeras tadi.

Umi mendekat, mengusap punggung suaminya. "Bukan menyudutkan, Bi. Mereka hanya ingin kita melihat dengan kacamata yang berbeda. Anak-anak kita sudah dewasa."

Shaheer tersenyum tipis. "Kyai, izinkan kami membantu prosesnya. Adiba tetaplah putri Abi yang sholehah. Pernikahan ini tidak akan mengurangi hormatnya, justru menambah keluarga bagi Al-Arjun."

Malam itu, di rumah yang pernah ia benci, Adeeva menyadari satu hal. Ia masih gugup menghadapi Abinya, namun ia tidak lagi merasa sendirian. Ia punya Shaheer, sang kapten yang tidak hanya menaklukkan musuh di lapangan, tapi juga mampu menjinakkan badai di dalam keluarganya.

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
Fauziah Rahma
👍
Ana
lbjut
Titik Sofiah
awal yg menarik ya Thor moga konfliknya nggak trllau berat 😍😍😍
Ana
lnjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!