Di balik nama samaran “Romeo”, ada seseorang yang hidup dari hasrat orang lain.
Semuanya tampak sederhana—transaksi, waktu, dan kesepakatan tanpa perasaan. Dunia yang dingin, terukur, dan seharusnya tidak menyisakan apa-apa. Tapi semakin lama, batas antara peran dan diri sendiri mulai kabur.
Ketika satu pertemuan berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit dari sekadar pekerjaan, “Romeo” mulai menyadari bahwa tidak semua hal bisa dikendalikan. Ada perasaan yang tak seharusnya muncul. Ada masa lalu yang perlahan mengejar. Dan ada kenyataan yang memaksa dirinya melihat hidup dari sisi yang belum pernah ia hadapi sebelumnya.
Di saat yang sama, kehidupan di luar peran itu mulai retak—membuka rahasia, luka lama, dan tanggung jawab yang tak bisa lagi dihindari.
Kini, ia harus memilih: tetap menjadi “Romeo” yang dibayar untuk memenuhi hasrat, atau kembali menjadi dirinya sendiri… dengan segala konsekuensi yang menunggu.
Karena tidak semua kumbang sewaan bisa terbang bebas setelah selesai bekerja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viaalatte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Valeria melangkah masuk ke ruang rapat lantai proyek. Semua mata menatapnya, tegang. Site engineer, mandor, kepala proyek, dan staf lainnya berdiri di sekitar meja besar, beberapa terlihat gugup, beberapa berusaha menenangkan diri sendiri.
Valeria menaruh tasnya di kursi penumpang, lalu membanting map tebal berisi laporan proyek ke meja dengan suara gemuruh. Semua orang menahan napas.
“Dua miliar rupiah, dan ini hasilnya?!” teriaknya, suaranya memantul di dinding. “Cat dinding mengelupas, pipa bocor, plafon retak—ini yang kalian kasih laporan ke saya?”
Seorang site engineer mencoba bicara, tapi Valeria menatap tajam. “Jangan mulai dengan alasan teknis atau kalian sudah berusaha. Saya nggak peduli. Laporan yang rapi itu buat siapa? Buat saya, atau buat menutupi kekurangan kalian?”
Zoya berdiri di belakang Valeria, menahan senyum kecil. Semua orang tahu, marah Valeria bukan cuma gertakan—ini soal reputasi Goldenova.
Valeria membuka map lagi, menelusuri foto-foto laporan. Catnya terlihat mulus, pipa rapi, plafon tanpa noda. “Bagus,” gumamnya dalam hati, tapi begitu ia turun ke unit, kenyataannya jauh berbeda: cat mengelupas, plafon retak, pipa rembes. Semua foto di laporan disunting agar proyek terlihat sempurna.
“Jadi ini kenyataannya!” Valeria membentak, melempar map ke meja. “Saya mau tiap kerusakan diperbaiki dengan standar Goldenova! Tidak ada toleransi!”
Mandor menelan ludah, kepala divisi konstruksi menunduk. Site engineer sibuk menatap dokumen mereka seolah berharap angka-angka itu bisa menenangkan Valeria.
“Emerald Tower bukan proyek murahan,” lanjut Valeria, suaranya lebih dingin. “Setiap perbaikan harus saya lihat sendiri. Kualitas yang asli, bukan laporan yang kalian sunting!”
Ruangan itu hening. Semua orang tahu, ini bukan sekadar marah biasa. Ini peringatan tegas—tanggung jawab dan reputasi perusahaan ada di tangan mereka.
Site engineer mengangkat tangan pelan. “Bu, dana untuk finishing premium dan material terbaik… kalau semua diperbaiki sesuai standar mewah, budget proyek nggak cukup, Bu.”
Valeria menatap tajam, bibirnya menekuk tipis. “Tidak cukup? Lho, uang ini cukup untuk bikin rumah premium, rapi, nyaman—bukan istana Versailles! Jangan bikin alasan kalau yang kalian maksud ‘mewah’ itu artinya harus emas di gagang pintu atau marmer 2 meter tebal. Standar Goldenova itu realistis, tapi harus terlihat premium dan berkualitas. Bukan sekadar foto di laporan.”
Engineer menunduk, merasa tertekan. Mandor mengusap pelipisnya, sementara Zoya di belakang hanya tersenyum tipis, tahu Valeria selalu tegas tapi masuk akal kalau soal budget vs kualitas.
Valeria mencondongkan badan, suaranya lebih dingin. “Mulai sekarang, setiap perbaikan harus saya lihat sendiri. Jangan sampai laporan bagus tapi kenyataannya amburadul. Emerald Tower harus sesuai janji—premium, bukan istana, tapi juga bukan sekadar cat dan pipa murah.”
Valeria melangkah keluar dari ruang rapat, Zoya di belakangnya tetap memegang tas dan secangkir kopi yang mulai dingin. Mobil mereka meluncur cepat menuju unit Emerald Tower milik Rafael. Sepanjang jalan, Valeria menatap lurus ke depan, pikirannya sibuk mengatur langkah apa yang harus diambil begitu sampai di lokasi.
Begitu pintu unit apartemen Rafael terbuka, pandangan Valeria langsung menangkap kenyataan pahit: cat dinding terlihat kusam dan mengelupas di beberapa sudut, plafon retak halus di area ruang tamu, pipa di kamar mandi bocor, dan beberapa list kayu finishingnya bergelombang. Semua jauh berbeda dari yang dijanjikan di brosur, jauh dari foto-foto “rapi” yang dia lihat di laporan.
Valeria menarik napas panjang, menahan rasa frustrasinya. Ia melangkah pelan, menatap Rafael yang berdiri di tengah ruangan, tampak kesal tapi berusaha tenang.
“Bu Valeria,” ucap Rafael datar, tapi matanya tajam. “Ini bukan sekadar cat atau pipa. Unit ini jauh dari yang dijanjikan. Harga dua miliar, Bu. Masa kualitasnya setara rumah subsidi?”
Belum sempat Valeria menjawab, terdengar suara keras dari lorong:
“Hei! Saya baru saja membeli unit di lantai atas, dan ini juga amburadul! Saya mau DP saya kembali sekarang juga!”
Seorang pembeli baru muncul, wajah memerah dan tangannya menunjuk laporan yang dia bawa. “Ini nggak sesuai janji, Bu! Jangan bilang ini standar premium, kalau begini mah…!”
Valeria menatapnya dengan serius, menahan amarah tapi juga menegaskan kontrol. “Tenang dulu, Pak. Saya akan pastikan semua keluhan ditangani, dan saya pribadi akan memeriksa setiap unit. Emerald Tower harus memenuhi standar Goldenova—premium, nyaman, dan sesuai janji. Tidak ada kompromi.”
Zoya berdiri di belakang Valeria, menahan senyum tipis. Ia tahu ini bakal jadi hari panjang bagi staf lapangan dan proyek itu sendiri, tapi juga momen penting bagi reputasi Goldenova.
Bapak itu mengernyit, suaranya meninggi sedikit karena kesal. “Bu… jujur saja, saya nggak nyangka Goldenova—perusahaan sebesar ini—malah punya bisnis asal-asalan. Iklannya digemborkan seolah semua unit flawless, tapi kenyataannya… lihat sendiri! Lantai retak, plafon bocor, pipa sampai nggak rapi!”
Valeria tetap tenang, menatap bapak itu langsung di mata. “Pak, saya paham kekecewaan Anda. Saya juga marah ketika tahu tim kami lalai. Tapi saya pastikan, setiap masalah akan kami benahi. Saya akan turun ke lapangan sendiri, periksa semua unit, dan memastikan setiap detail sesuai standar. Saya tidak akan membiarkan reputasi Goldenova dirusak karena kelalaian ini.”
Bapak itu menarik napas panjang, masih terlihat kesal tapi sedikit mereda. “Saya cuma ingin apa yang dijanjikan di iklan, Bu. Itu saja.”
Valeria mengangguk tegas. “Itu juga prinsip saya, Pak. Janji itu harus ditepati. Dan saya akan pastikan itu terjadi.”
Zoya menatap Valeria, senyum tipisnya menandakan kagum pada ketegasan bosnya—bahwa di tengah kemarahan dan tekanan klien, Valeria tetap menguasai situasi.
Valeria baru saja keluar dari gedung proyek setelah menenangkan pembeli yang kecewa. Ia sedang menyiapkan diri untuk meninjau unit-unit Emerald Tower berikutnya, ketika langkahnya terhenti. Di depan mobil, berdiri sosok yang tak asing—Dimas.
“Velly…” Suaranya terdengar agak tegang, tapi tetap tenang. “Aku lihat berita tentang Emerald Tower. Ada masalah di beberapa unit, kan?”
Valeria menatapnya, sedikit terkejut tapi tetap menjaga ketenangan. “Iya, Mas. Beberapa laporan memang benar. Tapi aku udah turun langsung ke lapangan. Semua keluhan akan ditangani, dan aku pastikan semua unit sesuai standar.”
Dimas melangkah mendekat, wajahnya serius. “Makanya aku nyari kamu. Aku nggak mau hal ini jadi bumerang buat kita—buat reputasi Goldenova, dan buat kamu sendiri. Aku pikir kamu bakal di kantor, tapi ternyata kamu turun langsung ke proyek.”
Valeria menghela napas. “Aku nggak bisa cuma duduk diam, Mas. Klien kecewa, reputasi perusahaan taruhannya. Aku harus pastikan semuanya benar.”
Dimas mengangguk perlahan, menatap istrinya dengan campuran khawatir dan kagum. “Aku ngerti, Velly. Tapi tolong, jangan habiskan diri sendiri buat urusan ini. Kita kan bisa atur strategi bareng, tanpa harus kamu yang menanggung semuanya sendiri.”
Valeria menatapnya dalam beberapa detik, lalu mengangguk. “Aku tahu, Mas. Tapi ini tanggung jawabku. Aku nggak bisa lepas begitu saja.”
Dimas tersenyum tipis, lalu menggelengkan kepala. “Kamu keras kepala, Velly. Tapi itu yang bikin aku… masih kagum sama kamu.”
Dimas melangkah lebih dekat, suaranya lembut tapi tegas. “Sayang, ikut aku aja ke mobil. Aku bisa antar ke kantor, atau kita atur semuanya dari sini dulu. Santai aja, aku yang handle sebagian urusannya.”
Valeria menepis tangan Dimas ringan, menatapnya tegas. “Enggak, Mas. Aku harus balik ke kantor. Ada laporan penting yang harus aku cek sendiri, dan beberapa tim menunggu instruksi langsung dari aku. Aku buru-buru.”
Dimas tersenyum tipis, sedikit kesal tapi juga memahami. “Yah, keras kepala memang. Tapi serius, Velly… kamu nggak harus tanggung semua sendiri.”
Valeria menghela napas, lalu melangkah pergi, tanpa menoleh lagi. Dimas hanya bisa menatap punggung istrinya, campuran kekaguman dan kekhawatiran jelas terpancar dari wajahnya.
Begitu Valeria masuk ke mobil, Zoya langsung menyalakan mesin, matanya menatap bosnya penuh selidik. “Lo kenapa sih, Val? Kenapa nggak setuju aja sama saran suami lo? Kan enak, dia yang urus semua, lo tinggal santai, ngopi, atau nyalon.”
Valeria menatap lurus ke depan, rahangnya mengeras, suaranya dingin tapi tegas. “Kalau gue nyalon, dia yang kerja? dia yang handle semuanya? Enggak, Zoy. Gue nggak bisa santai kalau ada orang yang tanggung jawabnya digantikan sama orang lain. Apalagi ini perusahaan gue, reputasi gue. Gue yang tanggung jawab, gue yang harus jalanin.”
Zoya menelan ludah pelan, lalu tersenyum tipis sambil menepuk dashboard mobil.
“Lo tuh ya, Val… kadang gue lupa kalau kerja sama lo bukan cuma kerja bareng bos, tapi kerja bareng sahabat yang nggak pernah mau separuh hati. Lo nggak bisa diem karena lo ngerasa semuanya tanggung jawab lo sendiri.”
Valeria melirik sekilas, senyum miring muncul di wajahnya. “Ya, karena kalau gue diem, semuanya berhenti, Zoy.”
Zoya tertawa kecil. “Dan kalau lo berhenti, gue juga nganggur, ya?”
Valeria ikut tersenyum tipis. “Kurang lebih begitu.”