WARNING ⚠️
(untuk umur 17 keatas)
...
Arkeas InjitAsmo hidup dalam keteraturan yang mewah. Baginya, hidup adalah tentang estetika dan wangi yang presisi. Namun, dunianya runtuh saat istrinya pergi dan ia harus mengurus Alisya sendirian di tengah kesibukan peluncuran parfum terbaru. Sepuluh pengasuh profesional sudah ia pecat dalam sebulan karena "bau badan mereka tidak estetik."
Masuklah Zollana, melamar pekerjaan. Karena sebuah insiden di mana Zollana tidak sengaja memecahkan Vas bunga kristal itu hingga hancur berkeping-keping, Arkeas justru menyadari satu hal: Alisya anaknya berhenti menangis saat berada di dekat Zollana.
Arkeas terpaksa mempekerjakan Zollana sebagai nanny sekaligus asisten rumah tangga dengan kontrak "Dilarang Ceroboh". Namun, nyatanya? Zollana justru membawa kekacauan yang berwarna di rumah minimalis Arkeas yang dingin.
...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22 Duda Kesepian "Dangerously Sweet"
.........
Minggu pagi di lantai 35 biasanya diawali dengan suara alarm saham atau tangisan Alisya. Tapi hari ini, Jakarta seolah bekerja sama untuk memberi jeda. Hujan tipis membasuh jendela kaca raksasa penthouse, menciptakan suasana remang yang sangat cozy dan malas.
Zolla terbangun pukul sembilan pagi—sebuah rekor baru. Ia mengerjap, menyadari dirinya masih di kamar tamu yang luasnya hampir tiga kali lipat kosannya dulu. Begitu ia keluar kamar dengan daster satin tipis dan rambut yang berantakan estetik, ia menemukan pemandangan yang bikin jantungnya langsung melakukan senam jantung.
Arkeas sedang duduk di sofa ruang tengah. Tanpa kaos. Hanya mengenakan celana training hitam longgar yang menggantung rendah di pinggulnya. Otot punggungnya yang kokoh terlihat jelas saat ia menunduk, menimang Alisya yang untungnya sudah tenang dan sedang asyik memegang botol susunya sendiri.
"Mas... Mas Arkeas? Kok nggak pakai baju? Nanti masuk angin beneran loh," cicit Zolla, tangannya refleks menutupi mata tapi jari-jarinya tetap terbuka lebar.
Arkeas menoleh. Matanya yang biasanya tajam kini tampak sayu, sedikit kemerahan karena kurang tidur, tapi justru memberikan kesan maskulin yang sangat raw. "AC-nya mati. Dan saya malas cari kaos. Lagipula, ini rumah saya, kan?"
Zolla mendekat, mencoba mengabaikan pemandangan "roti sobek" di depan matanya. "Alisya sudah aman? Semalam pules?"
"Pules. Berkat pijatan 'ILU' kamu," jawab Arkeas, suaranya terdengar lebih rendah dan serak dari biasanya—suara khas bangun tidur yang sangat berbahaya untuk kewarasan Zolla.
...🌹🌹🌹...
Zolla duduk di karpet, tepat di bawah kaki Arkeas yang selonjoran. Ia mulai merapikan mainan Alisya yang berserakan. "Ya udah, saya buatin kopi ya, Mas? Biar nyawanya kumpul."
Saat Zolla hendak berdiri, tiba-tiba tangan besar Arkeas menarik pergelangan tangannya. Tenaganya tidak kuat, tapi sangat posesif. Zolla tertarik kembali ke bawah, terduduk tepat di antara kedua kaki Arkeas yang terbuka.
"Mas? Kenapa?" tanya Zolla bingung.
Arkeas diam. Ia meletakkan Alisya yang sudah mulai mengantuk lagi ke dalam baby bouncer di samping sofa. Lalu, tanpa peringatan, ia menunduk dan menyandarkan wajahnya di ceruk leher Zolla.
Deg. Zolla membeku. Ia bisa merasakan napas panas Arkeas menerpa kulitnya. Wangi tubuh Arkeas—campuran antara sabun maskulin dan aroma alami pria—benar-benar memabukkan.
"Mas Arkeas... Mas kenapa? Sakit?" bisik Zolla, suaranya gemetar.
"Enggak," gumam Arkeas di leher Zolla. Suaranya terdengar sangat rapuh. "Saya cuma... sudah terlalu lama sendirian, Zol. Lima tahun. Lima tahun saya cuma meluk bantal atau meluk botol parfum kalau lagi kangen suasana rumah yang 'hidup'."
Zolla tertegun. Ia merasakan tangan Arkeas melingkar di pinggangnya, menarik tubuh mungilnya agar benar-benar menempel pada dada bidang pria itu yang polos. Kulit bertemu kulit. Zolla bisa merasakan detak jantung Arkeas yang keras dan cepat.
"Mas..."
"Sebentar saja, Zol. Biarkan saya begini sebentar saja," Arkeas mempererat pelukannya. "Jangan bawel soal gaji atau status. Sekarang, saya cuma mau ngerasain kalau saya ini manusia, bukan cuma mesin pencetak uang."
...🌹🌹🌹...
Zolla akhirnya luluh. Ia mengusap lengan Arkeas yang kekar dengan lembut. "Mas Arkeas kesepian banget ya?"
Arkeas melepaskan wajahnya dari leher Zolla, lalu menatap Zolla dari jarak yang sangat dekat. Hanya hitungan milimeter. Matanya terkunci pada bibir Zolla yang merah alami karena baru bangun tidur.
"Kamu tahu nggak kenapa saya selalu sok dingin sama kamu?" tanya Arkeas, suaranya sangat husky.
"Kenapa? Karena saya bawel?"
"Bukan. Karena setiap kali kamu senyum, saya harus berjuang setengah mati buat nggak nyium kamu di depan Alisya," jujur Arkeas.
Zolla merasa dunianya meledak. Duda ini beneran jujur?!
Tangan Arkeas naik ke tengkuk Zolla, menariknya pelan. "Zolla... saya ini duda yang sudah lama puasa. Dan kamu... kamu itu kayak air di tengah padang pasir. Jangan salahkan saya kalau saya haus."
Arkeas mendekatkan wajahnya. Hidung mereka bersentuhan. Zolla bisa merasakan bibir Arkeas yang hampir menyentuh bibirnya. Atmosfer di ruangan itu mendadak jadi sangat berat, penuh dengan gairah dewasa yang selama ini mereka tutup-tutupi dengan ejekan dan pertengkaran kecil.
"Mas... nanti Alisya lihat..." bisik Zolla, tapi matanya sendiri sudah terpejam, menunggu serangan itu datang.
"Alisya sudah tidur, Zol," Arkeas membisikkan itu tepat di depan bibir Zolla.
Namun, tepat saat Arkeas hendak menempelkan bibirnya, Alisya tiba-tiba menendang mainan gantungnya hingga berbunyi klining! nyaring.
...🌹🌹🌹...
Keduanya tersentak. Arkeas langsung menjauhkan wajahnya dengan ekspresi "ketangkap basah" yang sangat lucu, sementara Zolla hampir saja terguling ke samping saking kagetnya.
"Astaga! Alisya!" Zolla langsung berdiri, merapikan dasternya yang sedikit tersingkap. Wajahnya sudah semerah kepiting rebus.
Arkeas berdehem kencang, ia segera mengambil kaos oblong di meja dan memakainya dengan terburu-buru—terbalik pula. "Eh... itu... saya cuma mau ngecek... ngecek suhu tubuh kamu. Kayaknya kamu agak demam, makanya bibir kamu merah."
Zolla melirik Arkeas dengan tatapan "Mas-Bohongnya-Nggak-Keren". "Demam pala lo peyang, Mas! Mas tadi mau nyium saya kan?!"
Arkeas memalingkan wajah, telinganya merah padam. "Jangan Ge-er. Saya cuma... cuma lagi adaptasi sama cuaca hujan. Udah sana, buatin kopi! Jangan banyak tanya!"
Zolla tertawa renyah, tawa yang penuh kemenangan. Ia berjalan ke dapur sambil menggoyangkan pinggulnya sengaja. "Cieee... Mas CEO yang kedinginan ternyata butuh kehangatan ya? Kasihan deh dudanya kangen peluk!"
"Zollana Rismalla Panto! Balik ke sini kalau berani!" teriak Arkeas, tapi ada senyum bahagia yang tertahan di bibirnya.
...
(Bersambung ke Episode 23...)