Sihirnya tajam, hampir terlalu sempurna untuk usianya. Mantra yang lain pelajari selama bertahun-tahun, ia pahami hanya dalam hitungan detik. Namun, setiap kilau kekuatan yang ia tunjukkan justru menjadi bayangan yang menjauhkannya dari yang lain.
Mereka menyebutnya dingin.
Mereka menyebutnya sombong.
Padahal, yang tak pernah mereka lihat adalah badai sunyi yang ia peluk sendirian.
Evelyn tidak pernah memilih untuk menjadi berbeda. Tapi sihir di dalam dirinya… terasa seperti sesuatu yang hidup—berdenyut, berbisik, seolah menyimpan rahasia yang bahkan ia sendiri takut untuk sentuh.
Dan di balik tatapan tenangnya, tersembunyi pertanyaan yang terus mengendap:
Apakah ia mengendalikan sihir itu… atau justru sedang perlahan dikuasai olehnya?
- Believe in magic -
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 Rahasia yang Dikunci
Pagi di Sekolah Sihir Everton tetap berjalan seperti biasanya. Aula latihan dipenuhi cahaya sihir yang saling bertabrakan, suara mantra menggema, dan para murid sibuk mengulang pelajaran yang sama—lagi dan lagi.
Di antara mereka, Evelyn Edison tetap menjadi pusat perhatian, meski ia sendiri tidak pernah menginginkannya.
Gerakannya tenang. Mantranya sempurna. Tidak ada kesalahan.
Namun pikirannya… jauh dari tempat itu.
Nama itu masih menggantung di benaknya.
Mr. Emerson Fanny.
Setelah pelajaran berakhir, murid-murid mulai meninggalkan aula. Suara langkah dan percakapan perlahan menghilang, menyisakan ruang yang semakin sunyi.
Evelyn tidak langsung pergi.
Ia berdiri sejenak, lalu berjalan mendekati gurunya, Ameli Libert.
“Aku ingin bertanya,” ucapnya singkat.
Ameli tidak terlihat terkejut. “Kalau itu tentang pelajaran, kamu tidak perlu bertanya. Kamu sudah menguasainya.”
“Bukan tentang pelajaran.”
Ameli menatapnya. Ada jeda kecil sebelum ia menjawab, “Lalu?”
Evelyn tidak berputar-putar. “Tentang seseorang.”
Ameli menghela napas pelan. “Tidak semua hal perlu kamu ketahui, Evelyn.”
“Bagaimana kalau aku tetap ingin tahu?”
“Keinginan tidak selalu harus diikuti.”
Evelyn menatap lurus. “Aku hanya ingin tahu satu nama.”
Ameli tidak langsung menjawab.
Diamnya terlalu lama.
Dan justru dari diam itu, Evelyn mendapatkan jawaban yang tidak diucapkan.
“Kalau tidak ingin menjawab… tidak apa-apa,” kata Evelyn akhirnya.
Ia berbalik, bersiap pergi.
“Evelyn.”
Langkahnya terhenti.
“Jangan melangkah terlalu jauh,” ujar Ameli pelan.
Evelyn tidak menoleh. “Aku belum melangkah sejauh itu.”
“Kamu bahkan tidak sadar seberapa jauh kamu sudah berjalan.”
Evelyn terdiam sejenak.
Lalu melanjutkan langkahnya.
Percakapan itu singkat.
Namun cukup untuk membuat semuanya terasa semakin jelas.
Ameli tidak menjawab.
Bukan karena tidak tahu.
Tapi karena… tidak ingin.
Dan itu berarti—
Ada sesuatu yang benar-benar disembunyikan.
---
Di balik sikap diamnya, Ameli Libert menyimpan masa lalu yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun.
Mr. Emerson Fanny bukan sekadar nama dalam buku tua.
Ia adalah penyihir berbakat, salah satu yang paling kuat di masanya, dan pernah menjadi pengajar di Sekolah Sihir Everton.
Lebih dari itu—
Ia adalah seseorang yang pernah sangat dekat dengan Ameli.
Fanny memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap dunia manusia. Apa yang awalnya hanya ketertarikan kecil, perlahan berubah menjadi obsesi. Ia mulai mencari cara untuk menembus batas yang selama ini dianggap mustahil.
Dan pada akhirnya—
Ia berhasil.
Ia menemukan jalan keluar dari dunia sihir.
Namun, yang membuat segalanya berubah bukanlah keberhasilannya… melainkan keputusannya untuk tidak kembali.
Di dunia manusia, Fanny menemukan sesuatu yang tidak pernah ia temukan di dunia sihir.
Cinta.
Ia jatuh cinta pada seorang manusia.
Ia ingin hidup seperti manusia.
Ia bahkan ingin menikah dan meninggalkan kehidupannya sebagai penyihir.
Namun dunia sihir memiliki aturan yang tidak bisa dilanggar.
Seorang penyihir tidak boleh meninggalkan dunia mereka.
Tidak boleh mencampuri kehidupan manusia.
Dan tidak boleh hidup di antara mereka—kecuali jika ia terlahir kembali sebagai manusia.
Fanny melanggar semua itu.
Dan pelanggaran itu tidak dianggap sebagai kesalahan biasa.
Itu dianggap ancaman.
Para tetua penyihir menjatuhkan hukuman.
Bukan kematian.
Melainkan sesuatu yang jauh lebih kejam.
Fanny dikutuk menjadi sebuah sumur tua.
Ia tidak bisa bergerak.
Tidak bisa kembali.
Tidak bisa melanjutkan hidupnya.
Namun ia tetap ada.
Tetap menyimpan kesadaran.
Menjadi simbol dari batas yang tidak boleh dilanggar.
Ameli mengetahui semua itu.
Ia menyaksikan segalanya.
Namun ia tidak melakukan apa pun untuk menghentikannya.
Dan rasa bersalah itu… tidak pernah benar-benar hilang.
Itulah alasan ia memilih diam di hadapan Evelyn.
Karena ia melihat sesuatu yang sama dalam diri gadis itu.
Rasa ingin tahu yang tidak mau berhenti.
Dan keinginan untuk melanggar batas.
---
Evelyn berjalan menyusuri lorong sekolah dengan langkah tenang.
Namun pikirannya dipenuhi potongan-potongan yang belum lengkap.
Ia tidak mendapatkan jawaban.
Tapi ia mendapatkan arah.
Diamnya Ameli bukan akhir.
Itu justru awal.
Ia berhenti di dekat jendela.
Menatap langit.
“Kalau semua orang memilih untuk menutupinya…” bisiknya pelan, “berarti ada sesuatu yang memang harus ditemukan.”
Ia mengingat kembali buku yang ia baca.
Tulisan-tulisan yang muncul.
Dan nama itu.
Mr. Emerson Fanny.
Jika seseorang bisa keluar dari dunia ini…
Berarti jalannya ada.
Jika seseorang dihukum karena itu…
Berarti jalannya nyata.
Evelyn menunduk sedikit, lalu tersenyum tipis.
Bukan karena bahagia.
Tapi karena… yakin.
“Aku tidak akan berhenti hanya karena tidak diberi tahu.”
Angin masuk melalui jendela yang terbuka, menyentuh wajahnya dengan dingin yang samar.
Seolah dunia sedang memperingatkannya.
Namun kali ini—
Evelyn tidak mundur.
Ia melangkah maju.
Karena di balik semua larangan…Ia menemukan satu hal yang lebih kuat—Tujuan.