Raisa Maureen ditinggal mati suaminya di dalam kondisi masih prawan, lalu ia melakukan hubungan satu malam dengan kakak iparnya karena pria itu mabuk berat dan kehilangan keperawanannya. setelah menikah dengan Evan ia baru mengetahui kenapa selama ini Aditya almarhum suaminya tidak pernah menyentuhnya. Apa yang sebenarnya terjadi? ikuti kelanjutan kisah nya hanya disini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prettyies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Turun Ranjang
"Evan, mami nggak suka kamu terus-terusan belain dia," ucap Lina dengan nada tajam.
Evan tidak mundur. Ia justru menarik pinggang Raisa, mendekatkannya.
"Memangnya kenapa?" balasnya tenang tapi tegas. "Apa salahnya kalau aku… menyukai Raisa?"
Lina langsung membelalak, tangannya refleks memegangi dada.
"Apa yang kamu bilang…? Suka?"
Raisa pun kaget, berusaha melepaskan diri.
"Mas, kamu ngomong apa sih…?" bisiknya panik.
Namun Evan tetap menatap ibunya tanpa ragu.
"Aku akan menikahi Raisa."
Suasana seketika hening.
Lina menggeleng keras, jelas tidak menerima.
"Nggak!" tegasnya. "Kamu lebih baik balikan sama Mona daripada harus turun ranjang nikah sama dia!"
Evan tetap menatap ibunya, tidak sedikit pun mundur.
"Aku nggak akan balik ke Mona, mih," ucapnya pelan tapi tegas. "Keputusan itu sudah selesai."
Lina langsung naik nada suaranya.
"Kamu sadar nggak sih kamu ngomong apa? Kamu mau hancurin hidup kamu sendiri cuma karena perempuan ini?"
Raisa langsung menoleh ke Evan, panik.
"Mas… jangan asal ngomong soal nikah," bisiknya cepat. "Ini bukan hal kecil…"
Evan menoleh sekilas ke Raisa, lalu kembali ke ibunya.
"Aku tahu ini bukan hal kecil," jawabnya. "Justru karena itu aku ngomong serius."
Lina tertawa sinis.
"Serius? Kamu baru kenal dia, Van! Mama gak mau kamu ikut kena sial gara-gara dia cukup Aditya yang meninggal!"
Evan menggeleng.
"Aku tahu semua tentang dia Mama gak perlu khawatir,lagi pula kematian Aditya itu kecelakaan takdir Tuhan jangan menyalahkan Raisa terus."
Lina menunjuk ke arah Raisa.
"Dia itu masalah! Dia bikin nama keluarga kita jelek!"
Raisa langsung menunduk, dadanya sesak.
"Aku nggak pernah berniat bikin masalah…" suaranya lirih.
Evan langsung berdiri sedikit di depan Raisa, melindunginya.
"Stop, mih," ucapnya dingin. "Jangan terus nyalahin dia."
Lina menatap mereka berdua bergantian, wajahnya makin keras.
"Jadi ini keputusan kamu?" tanyanya tajam.
Evan mengangguk mantap.
"Iya."
Hening sejenak.
Lina menarik napas panjang, lalu berkata dengan nada rendah tapi penuh tekanan,
"Mami akan lihat… seberapa jauh kamu bisa bertahan dengan keputusan ini. Kamu akan menyesal karena telah melawan,Mami."
Lalu ia berbalik, melangkah pergi dengan langkah tegas, meninggalkan suasana yang masih penuh ketegangan di antara Evan dan Raisa.
Raisa langsung menoleh ke Evan dengan panik.
"Kamu gila ya? Mami kamu marah tadi!" ucapnya kesal.
Evan justru menatapnya tenang.
"Aku gila karena kamu," jawabnya pelan tapi mantap.
Raisa langsung melotot.
"Gak lucu! Sana pergi dari rumah aku!" ia mendorong dada Evan, berusaha mengusirnya keluar.
Evan tertahan sejenak, lalu menatapnya dalam.
"Raisa—"
"Cukup!" potong Raisa cepat. "Pergi aku muak melihat muka kamu!"
Evan akhirnya menghela napas dan mundur perlahan.
Sementara itu Raisa berdiri di tengah ruang tamu, menarik napas panjang.
"Kenapa jadi serumit ini…" gumamnya pelan. "Aku harus minum pil KB… biar nggak hamil."
Ia lalu berjalan cepat ke dapur, mengambil obat yang baru saja ia terima dari rumah sakit.
Dengan tangan sedikit gemetar, ia membuka satu per satu botol.
"Pilnya banyak banget…" gumamnya bingung. "Biasanya kan satu jenis… ini kok macam-macam?"
Ia menatap label obat di tangannya, masih belum sepenuhnya mengerti.
"Ini… kenapa banyak banget?" bisiknya lagi pelan. "Apa biar lebih ampuh?"
Raisa melangkah pelan menuju ruang kerja Aditya. Tangannya ragu saat menyentuh gagang pintu.
"Pintu ini…" gumamnya pelan. "Sejak mas Aditya meninggal, aku nggak pernah masuk sini."
Ia menarik napas dalam, lalu mendorong pintu perlahan.
Kreekk…
Ruangan itu terasa sunyi, seperti menyimpan banyak kenangan yang belum tersentuh.
Raisa duduk di kursi kerja Aditya, matanya menyapu meja yang rapi. Ia membuka beberapa map satu per satu, sampai tangannya berhenti di laci meja.
"HP mas Aditya…" bisiknya pelan saat menemukannya.
Ia menatap benda itu lama.
"Aku nggak pernah buka HP ini…" gumamnya. "Sekarang… aku buka aja. Biar tahu isinya apa."
Dengan hati-hati, ia menyalakan layar dan mencoba membuka kunci.
"Gagal…"
Raisa mengernyit.
"Kenapa passwordnya bukan tanggal pernikahan kita?" bisiknya bingung. "Tanggal lahir aku juga bukan… tanggal lahir mas Aditya juga bukan…"
Ia mencoba lagi, menelan ludah.
"Bukan tanggal jadian juga…"
Raisa terdiam, pikirannya mulai kacau.
"Lalu apa…?" suaranya pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri. "Sebenarnya apa yang disembunyikan mas Aditya…?"
Raisa masih menatap layar HP Aditya yang terkunci, alisnya mengerut bingung.
"Apa… mas Evan tahu passwordnya?" gumamnya pelan.
Ia menoleh ke sekeliling ruangan, seolah berharap ada jawaban dari tempat itu.
"Mas Evan kan dekat sama mas Aditya…" lanjutnya dalam hati. "Mungkin dia tahu sesuatu…"
Raisa menggigit bibirnya, ragu sejenak.
"Tapi… kalau aku tanya langsung, dia pasti bakal tanya balik… kenapa aku nggak tahu password HP suami aku sendiri?" bisiknya pelan, gelisah.
Ia kembali menatap ponsel di tangannya, layar yang masih terkunci terasa seperti dinding yang sulit ditembus.
"Kalau nggak aku tanya…" gumamnya lirih, "aku nggak akan pernah tahu apa isinya…"
Evan berdiri di halaman rumah, matanya menangkap bayangan Raisa yang bergerak menuju dapur.
"Raisa…" gumamnya pelan, lalu menghela napas berat.
Ia mengepalkan tangannya sesaat, seperti menahan sesuatu yang sudah lama dipendam.
"Aku nggak akan membiarkan kamu mengugurkan anakku," ucapnya lirih tapi tegas. "Kamu akan mengandung anak kita."
Evan menatap ke arah dapur, suaranya makin pelan namun penuh keyakinan.
"Sudah cukup kamu menderita selama menikah dengan Aditya…" lanjutnya. "Kamu nggak perlu menanggung semuanya sendirian lagi."
Ia diam sejenak, lalu pandangannya berubah lebih gelap, seperti menyimpan rahasia.
"Andai kamu tahu kebenaran tentang Adik tiriku itu…" gumamnya pelan.
udah tau juga belang Aditya..
udah dengerin aja,jangan jadi orang yang sok tau gimana Aditya
udah di obok obok tiap hari msak gak mau dinikahi..
ada2 aja,kemana harga diri Mu Sa
pak David tukang kibul malah dikibulin...
anak sendiri pula pelakunya 🤣🤣🤣🤣
Cuma Raisa yang disini gak tau kelakuan Aditya