NovelToon NovelToon
Kirei

Kirei

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta pada Pandangan Pertama / Transmigrasi / Balas dendam pengganti
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Salma.Z

Enam bulan setelah Kirei Zhaklyn—perempuan tangguh di balik kesuksesan industri teknologi—tewas tragis dalam kecelakaan akibat sabotase keji, hidup Vaxerion Mahendra ikut hancur. Konglomerat otomotif itu memilih mundur dari dunia bisnis, hidup seperti cangkang kosong yang didera kedukaan mendalam.
Namun, di sebuah malam gala internasional, pintu aula terbuka. Di sana muncul sepasang manusia: Andi Clark, miliarder pemegang kendali perbankan global asal Swiss, menggandeng seorang wanita yang memiliki wajah, sorot mata, dan senyuman yang seratus persen persis dengan almarhumah Kirei.
Dia adalah Kirei Alexandra. Datang dari Eropa dengan pembawaan ketus, jutek, dan dingin, dia langsung menepis kasar pelukan Vaxerion: "Jaga jarak Anda, Tuan Mahendra. Saya bukan barang peninggalan masa lalu Anda."
Apakah wanita jutek ini adalah Kirei yang bangkit dari kubur untuk membalas dendam, atau ada rahasia adopsi yang sengaja dikubur sejak bayi? Di tengah adu kekayaan tingkat tinggi dan gesekan harga diri melawan Andi Clark, takdir baru yang jauh lebih berbahaya siap menggoncang Jakarta!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salma.Z, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: Hukum Di Atas Kertas Hitam

Pukul delapan pagi, lobi SMA elit Pelita Bangsa mendadak terasa mencekam. Suara ketukan sepatu hak tinggi Kirei yang tegas memotong keheningan koridor sekolah, berirama mantap seperti detak jam dinding yang menghitung mundur waktu eksekusi. Pagi ini, Kirei tidak lagi mengenakan kemeja champagne. Dia memakai setelan blazer hitam pekat yang terpotong tajam di bagian bahu, dengan rambut hitamnya yang diikat cepol rapi tanpa cela.

Di belakangnya, tiga orang pria bertubuh tegap dengan setelan jas hitam legam berjalan beriringan—tim pengacara korporat terbaik dari Zhaklyn Mobile yang biasa mengurus sengketa internasional. Rian berjalan di sebelah Kirei, kepalanya menunduk dengan perban putih yang masih menempel di tulang pipinya.

Brak!

Kirei membuka pintu ruang kepala sekolah tanpa mengetuk. Di dalam ruangan ber-AC itu, sudah duduk seorang wanita paruh baya dengan perhiasan berlian mencolok di jemarinya, menemani seorang remaja laki-laki yang wajahnya bersih tanpa luka. Pria paruh baya yang mengenakan seragam kepala sekolah langsung berdiri dengan wajah tegang begitu melihat Kirei masuk.

"Oh, jadi ini kakaknya si anak bermasalah itu?" wanita berperhiasan berlian itu—Nyonya Lintang—langsung berdiri, menatap Kirei dari atas ke bawah dengan pandangan menghina. "Bagus ya, datang-datang nggak pakai tata krama. Pantas adiknya jadi berandalan di sekolah ini. Anak saya, Jason, cuma membela diri karena adiknya ini bertingkah sok jagoan."

Kirei tidak menyahut. Dia bahkan tidak melirik kursi kosong yang disediakan. Kirei berjalan mantap mendekati meja kepala sekolah, lalu memberi isyarat dengan jemarinya pada salah satu pengacaranya.

Plak.

Sebuah map dokumen tebal diempaskan ke atas meja kerja kepala sekolah dengan suara yang cukup keras hingga membuat sang kepala sekolah tersentak mundur.

"Nona Kirei Zhaklyn," kepala sekolah itu berdeham, mencoba menstabilkan suaranya yang gemetar. "Terkait insiden perkelahian kemarin, pihak komite sekolah dan Nyonya Lintang menuntut agar Rian dikeluarkan secara tidak hormat karena telah merusak nama baik—"

"Buka halaman tiga, Pak Kepala Sekolah," potong Kirei, suaranya mengalun sangat rendah, datar, namun memiliki daya intimidasi yang pekat. "Di sana ada salinan rekaman CCTV dari dasbor mobil salah satu orang tua murid yang parkir di belakang kantin kemarin siang. Video aslinya sudah diamankan oleh tim IT saya."

Kepala sekolah itu dengan tangan gemetar membuka map tersebut. Wajah Nyonya Lintang yang tadinya angkuh perlahan mulai berubah cemas melihat suaminya yang menjabat sebagai kepala dinas daerah ikut diseret dalam obrolan ini.

"Di video itu jelas terlihat, putra Anda, Jason, bersama tiga temannya yang menghadang Rian lebih dulu," Kirei beralih menatap Nyonya Lintang, matanya sedingin kristal es yang siap menusuk. "Mereka memukul Rian dari belakang, menginjak sepatunya, dan melontarkan kalimat perundungan verbal terkait latar belakang keluarga kami. Rian hanya melakukan pembelaan diri setelah dipukul tiga kali."

"Kamu jangan asal bicara ya! Anak saya anak baik-baik! Kamu cuma anak kemarin sore yang kebetulan kaya karena warisan, jangan sok mengatur di sini!" teriak Nyonya Lintang, wajahnya memerah menahan malu karena rahasia kelakuan anaknya terbongkar. "Suami saya bisa menutup perusahaan ponsel kecilmu itu dalam semalam kalau dia mau!"

Sebuah senyuman tipis, dingin, dan tanpa emosi terukir di sudut bibir Kirei. "Silakan dicoba, Nyonya Lintang. Tapi sebelum suami Anda sempat mengetik surat perintah, halaman lima dari dokumen itu sudah menjelaskan bahwa firma hukum saya resmi mendaftarkan gugatan pidana atas pasal pengeroyokan anak di bawah umur, perundungan digital, dan pencemaran nama baik ke Polda Nusantara. Saya tidak meminta mediasi. Saya ke sini untuk memastikan anak Anda dan komplotannya dikeluarkan dari sekolah ini sebelum jam istirahat pertama."

"Kamu... kamu keterlaluan! Kami tidak akan sudi meminta maaf pada anak miskin seperti adikmu!" Nyonya Lintang berteriak histeris, menunjuk wajah Kirei dengan telunjuknya yang gemetar.

Tok... Tok... Tok.

Suara ketukan pintu yang santai namun berat memotong keributan itu. Pintu ruangan kembali terbuka, dan sosok Vaxerion Mahendra melangkah masuk dengan ketenangan dewasanya yang khas. Pria itu mengenakan kemeja kasual hitam dengan lengan yang digulung hingga ke siku, memperlihatkan aura dominasi yang pekat. Di belakangnya, seorang pria paruh baya dengan seragam dinas lengkap berjalan dengan kepala tertunduk dalam dan wajah pucat pasi.

Pria berseragam dinas itu adalah Tuan Lintang—suami dari Nyonya Lintang.

"V-Vaxerion?" Nyonya Lintang tertegun, matanya membelalak kaget melihat kehadiran pewaris tunggal Mahendra Motors tersebut di sekolah anaknya. "Papi... kenapa Papi ada di sini? Dan kenapa Papi pucat begitu?"

Tuan Lintang tidak menjawab istrinya. Dia justru melangkah cepat ke depan meja, lalu membungkuk sedalam sembilan puluh derajat di depan Kirei dan Rian yang sedang berdiri tegap.

"Nona Kirei, Dek Rian... saya atas nama pribadi dan keluarga memohon maaf yang sebesar-besarnya atas kelakuan bodoh anak dan istri saya," suara Tuan Lintang bergetar hebat, keringat dingin membanjiri lehernya. "Saya mohon... cabut gugatan Anda. Dan... saya mohon pada Tuan Vaxerion untuk tidak menarik seluruh investasi Mahendra Motors dari proyek infrastruktur daerah kami."

Nyonya Lintang dan kepala sekolah langsung membeku di tempat. Mereka tidak tahu bahwa di balik penampilan sederhananya pagi ini, Vaxerion memegang kendali atas rantai pasokan finansial tersembunyi yang bisa menghancurkan karier politik Tuan Lintang dalam hitungan menit.

Vaxerion tidak melirik Tuan Lintang sama sekali. Langkah kakinya yang tenang membawanya berdiri tepat di sebelah Kirei. Dia menatap Kirei dalam-dalam dengan binar mata teduh yang dipenuhi rasa bangga, lalu tangan besarnya yang hangat perlahan turun, menggenggam erat jemari Kirei yang sejak tadi menegang menahan amarah di bawah meja.

Sentuhan tangan Vaxerion yang kokoh seketika mengirimkan gelombang ketenangan yang nyata ke seluruh tubuh Kirei, membuat napasnya yang sempat tertahan kembali teratur.

"Keputusan ada di tangan calon istriku, Tuan Lintang," suara berat Vaxerion bergema di dalam ruangan, terdengar sangat tenang namun sarat akan ancaman mematikan bagi siapa pun yang mendengarnya. "Jika dia bilang hancur, maka kariermu, rumahmu, dan seluruh masa depan anakmu... selesai hari ini juga."

Mendengar rayuan romantis yang dibungkus dengan perlindungan dari pria dewasa di sebelahnya, Kirei merasakan dadanya bergetar hebat oleh rasa terharu yang teramat sangat. Di dalam ruangan yang kaku ini, di depan orang-orang yang mencoba menginjak-injak harga diri adiknya, ada seorang pria yang dengan sukarela menjadi benteng pertahanan terbaik untuknya.

Kirei mengeratkan genggaman tangannya pada jemari Vaxerion, lalu menatap kepala sekolah dengan pandangan tanpa ampun. "Keluarkan Jason dan komplotannya sekarang juga, Pak Kepala Sekolah. Hukum di atas kertas ini... tidak akan pernah berubah."

 Bersambung...

1
Wawan
Salam kenal Kirey 💪✍️
T28J
keren kakak👍
Salma.Z: Terima kasih
total 1 replies
Tisa
Penulis menulis dengan sangat keren, alur ceritanya menarik. Tetap semangat!!!
Ika Yani
lanjut kak
Naura
Saya sebagai pembaca terlalu terbawa suasana Kirei dan Vaxerion.
udin sini
Lanjut kaka
Reni
Sangat bagus dan keren
Nayla
Cemburu itu mengerikan..😃 Lanjut thor
Rara Lani
Menarik!!
Tisa
Next! Semangat!! sukses ya!
Iki Riat
Pria yang sedang jatuh cinta pada satu wanita.
Ika Yani
Menarik
udin sini
Keren. Di tunggu kelanjutannya...
Cantika
😍 lanjut thor.. Semangat
Salma.Z: Iya. Terimakasih👍
total 1 replies
Cantika
Ayo UP segera
Sari
Nunggu bab 3 🤭
Salma.Z: di tunggu besok kak
total 1 replies
Hana Unil
next
Andy Rajasa
Bagus..lanjutkan!
Salma.Z: Ya.. siap
total 1 replies
Siti
Lanjut..
Salma.Z: Siap...
total 1 replies
Siti
Keren, ceritanya menarik. Semoga karyanya di baca semua orang..semangat!!!
Salma.Z: Aamiin. Terimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!