NovelToon NovelToon
SIMURA SANG PEWARIS

SIMURA SANG PEWARIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Action / Romansa Fantasi
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: LukmanÆ

Simura Seorang pangeran yang diasingkan dinegeri asing karena difitnah saudaranya. Dia menonjol dalam bidang strategi dan politik namun disisi lain ada sebuah kekuatan magis didalam tubuhnya yang sengaja ia sembunyikan...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LukmanÆ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Persinggahan

Hembusan angin pagi yang dingin menyapu wajah Yan Daiyu, membangunkannya dari tidur beralaskan dedaunan kering. Di depannya, perapian kecil dengan tungku besi yang mendidih menyambut. Rasa lapar yang menggigit perut membuat wajah sang putri pucat. Tak lama kemudian, Shin Tao (Simura) muncul dari balik pepohonan dengan langkah tenang, membawa dua ekor kelinci hutan yang telah dikuliti bersih.

​"Anda telah bangun, Nona? Sebentar hamba siapkan sarapan," ucap Shin Tao sopan. Ia sigap mengangkat tungku besi, menusuk daging kelinci dengan ranting kayu pilihan, lalu mulai memanggangnya.

​Yan Daiyu menghampiri, lalu duduk di atas batang pohon tumbang di samping Shin Tao.

"Di mana rekanmu? Aku tidak melihatnya sejak tadi."

​"Maksud nona Liu Mo, dia sedang mencari sumber air untuk persediaan kita," jawab Shin Tao tenang, menutupi fakta bahwa sebenarnya ia telah mengutus Liu Mo (Liusan) untuk melapor kepada Jenderal Bai Shan mengenai keberadaan sang putri.

​Sembari menunggu kelinci matang, percakapan mengalir dengan hangat. Untuk pertama kalinya, Yan Daiyu merasa dinding pertahanan di hatinya runtuh. Selama ini, pria pria di istana hanya mendekatinya karena kedudukan dan hartanya. Namun, Shin Tao berbeda. Ketulusan dalam gerakan tangan pria itu saat mengolah makanan, ditambah tatapan matanya yang tak pernah menunjukkan nafsu rendah, membuat Yan Daiyu terpaku.

​Saat daging kelinci itu matang, aromanya yang gurih berpadu dengan rempah hutan memenuhi udara. Shin Tao menyerahkan potongan terbaik kepada sang putri.

"Silakan, Nona. Ini tidak sebanding dengan santapan di istana, tapi hamba harap bisa mengobati rasa lapar Anda."

​Yan Daiyu mencicipinya, dan matanya membelalak. Rasa rempah sederhana yang meresap ke dalam daging yang lembut benar benar memanjakan lidah. Ia sempat mencuri pandang ke arah Shin Tao. meski Shin Tao menyadarinya, ia tetap bersikap acuh, menjaga jarak hormat yang profesional.

​Tak lama, Liu Mo kembali dengan membawa dua timba air. Shin Tao segera mendekatinya.

"Tuan, ada kabar buruk. Yan Shao telah melarikan diri." bisik Liu Mo tegang.

"Apa? Dia pasti akan mencari kakaknya," bisiknya lirih Shin Tao, kekhawatiran mulai merayap di benaknya.

​Segera setelah itu, mereka memutuskan melanjutkan perjalanan. Suasana hutan yang mencekam membuat mereka harus segera membawa Yan Daiyu kembali ke istana. Namun, terik matahari yang menyengat memaksa mereka berhenti di sebuah sungai jernih.

​Mereka beristirahat sejenak untuk mengisi tenaga, saat Liu Mo pergi mencari ranting kayu untuk membuat perapian, rasa gerah yang tak tertahankan membuat Yan Daiyu nekat. Tanpa mempedulikan hal di sekitarnya, ia menepi dan mulai membasuh tubuhnya, menyisakan kain dalaman tipis yang kini melekat erat di kulitnya karena air. Shin Tao, yang tengah fokus menombak ikan, sempat tertegun sesaat hingga membuat napasnya tertahan. Ia segera memalingkan wajah, menahan gejolak di dadanya, lalu melemparkan jubah sutranya ke arah sang putri.

"Nona, mohon gunakan jubah itu. Hamba... hamba akan tetap berjaga di hilir," ucapnya canggung.

​Kejadian itu menyisakan keheningan yang kaku saat mereka menyantap ikan bakar di tepi sungai. Liusan yang melihat gelagat aneh di antara keduanya hanya mampu mengerutkan kening dalam diam.

​Perjalanan berlanjut hingga senja menyelimuti hutan. Cahaya pelita di kejauhan menjadi penunjuk jalan mereka menuju sebuah desa kecil yang tampak sunyi. Di sana, seorang kakek tua menyambut mereka dengan ramah, namun saat Shin Tao menanyakan penginapan, sang kakek hanya menggeleng sedih.

​"Desa ini sudah lama dilupakan, Anak Muda. Jangankan penginapan, pejabat dari pusat pun tak pernah melirik kemari," ujar kakek itu.

​Mereka pun dibawa menghadap kepala desa. sesampai disana pria paruh baya yang tak lain adalah kepala desa menyambut mereka. di sebuah gubuk beratap jerami kepala desa menjelaskan dengan getir bagaimana desa mereka dibiarkan membusuk oleh Dinasti Yan, sementara para pejabat di ibu kota sibuk bermewah mewah. Yan Daiyu yang mendengar hal itu terdiam, hatinya terasa sesak. Sebagai putri dari dinasti yang ia banggakan, kenyataan bahwa rakyatnya hidup dalam kemelaratan karena kelalaian orang orang di istana memukul telak harga dirinya.

​Malam itu, kepala desa menawarkan satu satunya kamar yang tersedia. Simura, dengan sikap pelindungnya, memberikan kamar itu kepada Yan Daiyu dan memilih tidur di gubuk jerami bersama Liusan. Di dalam kamar yang sempit, Yan Daiyu menatap langit langit, pikirannya kini tak lagi tenang. Bayangan tentang Yan Shao, kondisi desa yang miskin, dan sosok Shin Tao yang misterius bercampur menjadi satu, menanti apa yang akan terjadi esok hari.

​(Bersambung)

1
3RSEL
cerita nya bagus dan mudah di pahami, alurnya juga menarik.Meskipun tidak dijelaskan dengan detail tingkatan kekuatan si cerita ini.Semangat terus Thor.
3RSEL
semangat terus Thor
3RSEL
sejauh ini cerita nya bagus dan enak dibaca.Tetap semangat, berkarya tidaklah mudah jadi sehat sehat selalu.Pertahankan alur ceritanya, efesien tidak bertele-tele namun tetap jangan terlalu dipaksakan.😁😁😁Maaf bukan menasehati hanya keinginan saya saja ✌️✌️✌️
LukmanÆ: ok, makasih sarannya👍👍
total 1 replies
Leha Rahman
lanjut Thor 😍
Andira Rahmawati
hadir..
Alia Chans
First baca 1 bab dah seru
semangat thor ✍️🤭😉🌹


kalo berkenan mampir juga ya thor😉🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!