"Gue sudah menepati janji untuk nikahin lo, dan lo juga harus menepati janji untuk tidak mengatakan apapun pada siapapun tentang kita di sekolah. paham!" ucap pria bernama Arga
Argantara antariksa Grahana namanya. sosok paling tampan dan populer di SMA Cakrawala. karna insiden malam itu membuat Arga harus menikahi teman kelasnya yang bernama Freya Dinata Frankie, biasa di panggil dengan sebutan Reya. anak keempat dari tuan Pramandika Frankie.
Akankah Freya bisa meluluhkan hati pria itu? ikuti yok
Slow up
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Mia Novita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keadaan freya
Suasana di lorong rumah sakit yang tadinya hanya dipenuhi kecemasan, tiba-tiba berubah menjadi medan pertempuran baru yang lebih dingin. Leon baru saja tiba dengan nafas tersenggal setelah mendapat telepon dari Danu. Wajahnya yang biasanya tenang, kini terlihat begitu gelap.
Ia berjalan lurus ke arah Praman yang masih berdiri di depan pintu kamar rawat Freya.
"Ayah," panggil Leon dengan suara rendah yang bergetar karena emosi.
Praman menoleh, matanya masih merah karena tangis dan amarah. "Leon, bagus kamu datang. Jaga adikmu, Ayah harus mengurus keluarga Alice."
"Bukan cuma keluarga Alice, Dad," potong Leon cepat. Ia menyodorkan ponselnya ke hadapan Praman. Di layar itu, terpampang kiriman rekaman CCTV dari Danu yang ditampilkan dengan jelas bahwa Laura —anak ketiga Praman sekaligus adik Leon—berdiri di depan pintu toilet, berjaga dan menghalangi siapa pun yang ingin membantu Freya.
Praman tertegun. Tangannya gemetar saat memegang ponsel itu. Ia melihat putrinya sendiri, Laura, tersenyum sinis sambil memastikan kakaknya berada disiksa di sana.
“Laura… ikut andil?” suara Praman nyaris hilang, berganti dengan desisan amarah yang mengerikan.
Tepat pada saat itu, Laura datang ke rumah sakit dengan wajah yang dibuat-buat sedih, berpura-pura tidak tahu apa-apa. "Ayah! Gimana keadaan Freya? Laura tadi dengar kabar di sekolah—"
PLAK!
Satu pukulan keras dari Praman mendarat di pipi Laura hingga gadis itu tersungkur ke lantai rumah sakit. Arga, Alana, dan Leon hanya teringat melihat kemurkaan sang kepala keluarga.
"Daddy?! Kenapa Daddy memukul Laura?" tangis Laura pecah, ia memegang pipinya yang memerah.
"Berani kamu bertanya kenapa?!" Raung Praman. Ia meletakkan ponsel Leon ke hadapan Laura. "Lihat itu! Kamu membiarkan adikmu sendiri dihina? Kamu menjaga pintu supaya Alice bisa mencelakai adikmu yang sedang hamil?! Di mana hati nuranimu, Laura?!"
Laura tercekat. Wajahnya seketika pucat pasi. Ia melirik Leon, berharap kakaknya itu membelanya, namun Leon justru melihatnya dengan mengecewakan.
"Aku pikir kamu hanya benci pada keadaan, Lau. Tapi ternyata kamu benar-benar tidak punya hati," ucap Leon dingin.
Praman mendekat, bayangannya menutupi tubuh Laura yang gemetar di lantai. "Mulai detik ini, semua fasilitasmu Daddy cabut. Jangan harap kamu bisa kembali ke sekolah itu. Daddy akan mengirimmu ke asrama di luar kota yang paling ketat. Dan jangan pernah berani menampakkan wajahmu di depan Freya sampai dia sendiri yang mau memaafkanmu!"
“Ayah, tolong… Laura cuma disuruh Alice…” rintih Laura memohon.
"Pergi!" usir Praman tanpa ampun. “Sebelum Ayah kehilangan kendali dan menganggap kamu bukan lagi anak di keluarga ini.”
Laura pergi dengan tangis histeris, dikawal oleh supir keluarga atas perintah Leon. Praman kemudian duduk di kursi tunggu, menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Ia merasa gagal sebagai ayah—satu anaknya terluka, satu anaknya menjadi pelaku.
Arga, yang sejak tadi hanya diam di sudut, perlahan mendekat ke arah Praman. Ia tergeletak di depan pria paruh baya itu.
"Ayah... Arga tahu Arga nggak pantas. Tapi izinkan Arga masuk. Freya terus memanggil Arga," ucapnya dengan nada sangat rendah.
Praman mendongak, menatap Arga lama. Ia melihat rahang Arga yang bengkak akibat pukulannya tadi, dan melihat ketulusan yang belum pernah ia lihat sebelumnya di mata menantunya itu.
“Masuklah,” ucap Praman akhirnya dengan suara yang lelah. "Tapi ingat satu hal, Arga. Jika Freya menangis lagi karena kamu, atau karena keluargamu yang lain... aku tidak akan mengirimmu ke asrama seperti Laura. Aku akan menghancurkanmu."
Arga mengangguk mantap, lalu bangkit dan masuk ke dalam kamar rawat Freya dengan langkah perlahan.
Pintu kamar rawat itu terbuka dengan suara yang sangat halus. Aroma khas antiseptik langsung menyambut Indra penciuman Arga, namun yang lebih menyesakkan adalah pemandangan di depannya. Freya terbaring lemah di atas ranjang putih, tubuhnya tampak begitu kecil di tengah peralatan medis.
Wajah yang biasanya ceria—meski belakangan meredup—kini tampak seputih kapas. Bibirnya pucat dan kering. Tangan kirinya terhubung dengan selang infus, sementara tangan kegelapan masih mendekap isi perut dengan posisi melindungi, seolah takut ada sesuatu yang akan merenggut nyawa di dalamnya.
Arga mendekat, kakinya terasa berat seperti ikatan timah. Ia duduk di kursi kayu di samping ranjang, menatap Freya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Re..." bisik Arga sangat pelan.
Mendengar suara yang familiar, kelopak mata Freya bergerak perlahan. Ia membuka matanya dengan susah payah. Saat melihat Arga, setetes air mata jatuh dari sudut matanya, membasahi bantal.
"Arga...bayinya...?" suara Freya hampir tidak terdengar, hanya berupa bisikan parau yang penuh ketakutan.
Arga segera menggenggam tangan Freya yang dingin, menggenggamnya dengan kedua tangannya, seolah ingin menyampaikan seluruh sisa hidupnya ke tubuh gadis itu. "Dia masih ada, Re. Dia kuat... sama seperti mamanya. Kamu jangan takut lagi ya?"
Freya bernapas sedikit lebih lega, namun isakannya justru semakin terdengar. "Maafin aku... aku nggak bisa jaga dia... tadi Alice..."
"Sssst... jangan bicara dulu." Arga mengusap air mata di pipi Freya dengan ibu jarinya, gerakannya kini sangat lembut, jauh dari sosok Arga yang kasar tempo hari. "Bukan salahmu. Aku yang salah. Aku yang tidak ada di sana buat kamu. Aku gagal jadi suami, aku gagal jadi calon papa."
Arga menundukkan kepalanya, mencium punggung tangan Freya lama. Ada rasa hangat yang membasahi tangan Freya; Arga sedang menangis dalam diam.
"Arga," panggil Freya pelan. Arga mendongak, matanya merah. "Tolong... jangan benci dia lagi. Kalau kamu mau benci, benci aku saja. Tapi jangan bayi ini. Dia nggak punya siapa-siapa kalau papanya sendiri nggak mau dia..."
Kalimat itu bagaikan sembilu yang menyayat hati Arga. Ia teringat tulisan di buku catatan biru itu. Dengan perlahan, Arga mencondongkan tubuhnya ke arah perut Freya. Ia meletakkan telapak tangannya di sana, merasakan kehangatan yang masih ada.
"Nggak akan, Re. Aku janji. Aku yang akan jadi orang pertama yang melindunginya setelah ini. Aku akan pastikan nggak ada satu orang pun, termasuk Alice atau Laura, yang bisa menyentuh kalian lagi," ucap Arga dengan nada penuh penekanan.
Freya tersenyum tipis, sebuah senyum lega yang membuat Arga merasa sedikit lebih tenang. Namun, momen itu terhenti saat pintu kembali terbuka sedikit. Daddy Praman berdiri di sana, menatap mereka berdua dari jauh. Ada gurat penyesalan di wajah sang ayah yang selama ini membuang putrinya.
Arga menyadari kehadiran mertuanya. Ia berdiri, namun tetap menggenggam tangan Freya. "Ayah... dia sudah bangun."
Praman melangkah masuk, wajah kerasnya luluh sepenuhnya saat melihat Freya. Ia tergeletak di sisi kasur yang lain, meraih tangan Freya yang satu lagi. "Rei...maafkan Daddy...Daddy sudah egois."
freya punya keluarga baru setelah sah jadi istri arga