NovelToon NovelToon
ANANDHITA

ANANDHITA

Status: tamat
Genre:Romantis / Fantasi / Petualangan / Chicklit / Tamat
Popularitas:579.4k
Nilai: 4.9
Nama Author: Dian Ekawati

Setelah lima tahun menikah, Adipati Elang Ganendra dan Dewi Astjarjana dikaruniai seorang putri.

Elang Ganendra memberinya nama Dewi Anandhita.

Sejak dilahirkan, Anandhita sudah menunjukkan kekuatannya.

Namun sayang, kelebihan fisiknya membuat Elang Ganendra salah paham dan mencurigai istrinya.

Anandhita kecil harus hidup tanpa belaian kasih sayang seorang ayah.

Untungnya, Dewandaru, Ayah dari Elang Ganendra yang keturunan langsung dari Bathara Guru, sangat menyayanginya.

Dewandaru juga yang mengajari Anandhita dasar-dasar ilmu beladiri.

Anandhita pun bertekat memanfaatkan ilmunya untuk menegakkan keadilan dan menolong sesama.

Cerita dalam novel ini adalah fiksi yang bersifat untuk menghibur, sama sekali tidak ada maksud untuk mengubah sejarah.

Dibingkis dengan cara sederhana, dilengkapi dengan aneka budaya nusantara, dibumbui dengan romansa dan sedikit action, sangat sesuai dijadikan dongeng sebelum tidur.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian Ekawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mengungsi (1)

Warga Dusun Plapah tidak bisa membayangkan bila seribu pasukan datang menyerang dusun yang sudah mereka tempati selama puluhan tahun secara turun temurun tersebut. Kehidupan mereka sudah mengakar disini.

Selama ini, mereka yang tidak mempunyai ilmu bela diri memilih beternak atau bercocok tanam guna memenuhi kebutuhan keluarganya dan kebutuhan seluruh warga dusun.

Mereka mendapatkan uang dari hasil ladang dan kandang mereka, bukan dari hasil merampok.

Hanya sesekali bila mendapatkan hasil besar, ketua Gerombolan Bandit Tengik memberikan mereka pembagian sisa jarahan untuk meningkatkan kesejahteraan mereka.

Bila mereka meninggalkan dusun ini, berarti mereka harus kehilangan mata pencaharian sehari-hari dan harus membuka lahan baru di usia mereka yang sudah tidak lagi muda.

Sementara anggota Gerombolan Bandit Tengik yang berilmu tinggi, berencana untuk menetap di Dusun Plapah dan melakukan perlawanan.

Tentu saja Bayu Mahardika tidak mengijinkannya karena menganggap hal tersebut adalah tindakan bunuh diri.

Melawan seribu prajurit adalah hal yang paling tidak masuk akal menurutnya.

Walaupun banyak desa-desa sekitar yang mendukung mereka karena sering mendapatkan bantuan dari Gerombolan Bandit Tengik, namun, tidak mungkin meminta bantuan mereka kembali untuk melawan prajurit kerajaan.

Selain sebagian warga adalah manusia biasa tanpa ilmu bela diri, mereka akan ikut terkena dampaknya di kemudian hari.

Bila sekarang seribu pasukan gagal membinasakan mereka, bisa jadi Sang Raja akan mengerahkan pasukan yang lebih banyak lagi jumlahnya di kemudian hari.

“Tidak ada pilihan lain, kita harus segera mengungsi dan mengosongkan dusun. Aku tidak ingin ada jatuh korban diantara kita." Bayu Mahardika, ketua Gerombolan Bandit Tengik mengutarakan pendapatnya.

Untuk penduduk yang memiliki bekal lebih silakan membuka usaha di balik lereng Gunung Ciremai."

"Kita akan mengungsi ke Desa Beber, Desa Cipinang dan desa-desa sekitarnya. Kita tidak bisa hanya tinggal di desa-desa sekitar sini. Semakin jauh kita pergi, semakin aman bagi keluarga kita”

Keputusan pun diambil. Mereka akan mengungsi.

Bayu Mahardika akan memimpin perjalanan tersebut dibantu beberapa kaki tangannya untuk mengatur semua warga dusun dan anggota Gerombolan Bandit Tengik lainnya.

Mereka mempunyai waktu satu malam saja untuk mempersiapkan segala sesuatunya.

Sebelum fajar menyingsing, mereka bergerak ke arah Hutan Pinus di lereng Gunung Ciremai untuk menghilangkan jejak.

Wanita, anak-anak dan orang tua diangkut menggunakan gerobak darurat yang mereka buat dalam waktu semalam.

Anggota Gerombolan Bandit Tengik berjalan di samping-samping kereta kuda yang membawa keluarga mereka atau orang tua mereka.

Tim Bangau Terbang mengawasi dari udara sambil sesekali menyembul ke atas pucuk-pucuk pinus, memantau bila ada pergerakan pasukan prajurit kerajaan.

Mereka berpisah di dalam hutan pinus tersebut.

Ada yang mengambil arah barat, menuju Majalengka dan Sukabumi di Djawi Koelon, ada yang menuju arah selatan, menuju Banjar dan Tasikmalaya.

Ada yang mengambil arah timur, menuju Purworejo dan Banjar Negara di Djawi Madya.

Adapula yang mengambil arah ke Desa Beber dan Desa Cipinang serta desa-desa lain di sekitarnya. Seperti Desa Pakembangan, Patalagan, Waneas, Kondang Sari dan desa-desa kecil lainnya.

Mereka sengaja tidak memilih kota-kota besar seperti Ayogya (Yogyakarta) atau Bendung (Bandung), karena di kota-kota besar akan banyak utusan kerajaan yang bertugas sehingga keberadaan mereka bisa jadi akan mudah diketahui.

Mereka terus bergerak tanpa henti ke arah tujuan.

Mereka harus segera menemukan tempat tinggal dan memulai hidup baru, sebelum kabar prajurit kerajaan sedang mencari mereka menyebar luas, agar tidak dicurigai oleh penduduk sekitar tempat tujuan mereka.

Mereka sengaja memilih desa atau dusun yang belum banyak penduduknya untuk menghindari banyak pertanyaan, kemudian mulai membuka lahan untuk bercocok tanam.

Sebagian mereka ada juga yang memulai bisnis berdagang. Mereka menjual kain, perhiasan ataupun barang-barang berharga lainnya, hasil dari jarahan mereka sebelumnya.

Tentu saja, barang jarahan yang mempunyai cap Kadipaten Cirebon atau Kerajaan Djawa Dwipa, mereka tinggalkan di Dusun Plapah.

Mereka membuang identitas mereka sebagai bagian dari Kadipaten Cirebon.

Jika ada yang bertanya asal mereka, mereka akan mengatakan berasal dari daerah yang jauh untuk menutupi asal usul mereka yang sebenarnya.

Elang Ganendra menyertai Ujang dan beberapa anggota Gerombolan Bandit Tengik ke arah Desa Beber dan sekitarnya.

Sedangkan Bayu Mahardika beserta keluarganya dan dua anggota kelompok yang lain, melanjutkan perjalanan menuju Kerajaan Swarnabumi, karena memang Bayu Mahardika berasal dari sana.

Bayu Mahardika adalah putra dari Sultan Bengkulu.

Empat puluh tahun yang lalu ia dijodohkan dengan Bulan Tula, salah seorang putri dari Kuala Namu, sedangkan Bayu Mahardika saat itu sudah memiliki pujaan hati sendiri.

Bayu Mahardika melarikan diri ke kerajaan Djawa Dwipa. Kemudian bertemu dengan Gerombolan Bandit Tengik dan mengalahkan semua anggota gerombolan yang berusaha merampoknya.

Awalnya, Bayu Mahardika berniat mengikuti seorang anggota gerombolan yang dibiarkannya melarikan diri, untuk membasmi Gerombolan Bandit Tengik sampai ke akar-akarnya.

Akan tetapi, hatinya tersentuh melihat anak istri dan keluarga dari perampok-perampok yang dikalahkannya.

Dan akhirnya, Bayu Mahardika bergabung dengan Gerombolan Bandit Tengik. Karena ia pun memang belum memiliki tempat tinggal, dan belum pula mendapatkan pekerjaan yang tetap.

Karena ilmu bela diri Bayu Mahardika ditambah dengan kecerdasannya yang diatas rata-rata, akhirnya Bayu Mahardika diangkat sebagai ketua Gerombolan Bandit Tengik setelah ketua yang lama tertangkap oleh prajurit kerajaan.

Dalam kepemimpinan Bayu Mahardika, susunan, visi, dan misi dari Gerombolan Bandit Tengik berubah ke arah yang lebih memberikan manfaat bagi warga sekitar Dusun Plapah.

Tentu saja, tanpa melupakan kesejahteraan para anggota beserta keluarga Gerombolan Bandit Tengik itu sendiri.

***

Dari sekitar enam belas keluarga yang pergi bersama Ujang dan Elang Ganendra, tiga keluarga memutuskan mendirikan rumah dan memilih membuka ladang untuk bercocok tanam di sekitar penginapan yang Ujang dan Asep Subagja pernah tumpangi di lereng Gunung Ciremai, sedangkan Dusun Plapah berada dibalik lereng yang lain.

Bila pendekar berilmu tinggi hanya membutuhkan satu hari perjalanan berkuda, untuk rombongan pengungsi yang membawa wanita, anak-anak dan orang tua, mereka membutuhkan waktu tiga hari perjalanan tanpa henti dari Dusun Plapah ke tempat tersebut.

Kakek pemilik penginapan dan keluarganya tentu saja menyambut baik kedatangan mereka, begitu juga dengan niat ketiga keluarga untuk menetap disana.

Akhirnya keluarga kakek pemilik penginapan akan memiliki tetangga setelah sekian lama tinggal menyendiri di tempat terpencil dan gelap tersebut.

Malamnya, kakek pemilik penginapan menjamu semua rombongan untuk beristirahat dan makan malam di tempatnya.

Kakek pemilik penginapan bahkan menolak ketika Elang Ganendra secara diam-diam ingin memberinya uang.

Kakek tersebut memang berniat menolong dan mengerti bila rombongan pengungsi itu butuh biaya besar untuk memulai hidupnya di tempat yang baru.

1
Putra_Andalas
dikiranya OREO kalee...😁
Putra_Andalas
knapa juga menyalahkan si Bayi...lah bapak e dwe ELANG..wajar toh punya sayap 😁
Nona Bucin 18294
Hai kak aku mampir, semangat terus berkarya... salam dari Menikah muda 🤗😊👍💜
Intanksm98
Haha, kang udin, kang udin ≧∇≦
Intanksm98
(♡˙︶˙♡)
Intanksm98
mohon maaf baginda raja, itu seratus orang bandit lumayan banyak juga 😭 kasian Adipati Elangnya... 🙏

Haha, salam dari Clarissa ❣️
Intanksm98
Nyimak dari awal ❣️
☘Aиαи ͪ͢ ͦ ᷤ ͭ ͤ ᷝ: Semoga terhibur, Kak
total 1 replies
.
aku gak kuat baca yg beginiaaan 😭😭😭
.: ish ish iiishhh
total 2 replies
.
nyesek....😭😭😭
🌿𝒇𝒂
kok jd syedih gini sih Anan...😭😭
Ilham Risa: Hai kak, mampir juga yuk kak ke novel aku "bangkitnya pria terhina" makasih kak😄
total 1 replies
.
😭😭😭
🌿𝒇𝒂
woow...😍
☘Aиαи ͪ͢ ͦ ᷤ ͭ ͤ ᷝ: hehe.. ketinggian ngayalnya ya Kak? 🤣🙈
total 1 replies
Ary
part ini bikin deg-degan sampe tahan nafas 😆
☘Aиαи ͪ͢ ͦ ᷤ ͭ ͤ ᷝ: hehe.. cuma novel Kakak 😁
total 1 replies
🌿𝒇𝒂
penasaran sama resep jamunya 😂
🌿𝒇𝒂: itu beneran resep....?🤔
total 2 replies
Ary
Anan kereen....
🌿𝒇𝒂
Anan masih bersih, rasane ko ga rela...😭
🌿𝒇𝒂
Awaang ...😭
🌿𝒇𝒂
ikut senyum2 kaya awang 🥰🥰
🌿𝒇𝒂: lanjuuut....
total 2 replies
🌿𝒇𝒂
cerdas Anan...
🌿𝒇𝒂
lg tegang2 iklan loh 😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!