Sejak kecil, Liliana sudah menaruh hati dan cintanya pada sahabatnya yaitu Andika. Namun, pria itu tak pernah menganggapnya Liliana sebagai cintanya.
Andika memiliki tunangan yang meninggal karena sakit. Ia tak bisa melupakan sang tunangan. Rasa cinta yang besar membuatnya tak bisa berpaling dari wanita manapun.
Rendi, sahabat sekaligus kakak kelasnya mencintai Liliana sejak kecil tanpa pamrih. Ia selalu ada untuk Liliana bahkan saat wanita itu mengalami keterpurukan akibat ulah Andika.
Rendi membawa Liliana menghindar dari Andika dan memulai kehidupan baru di luar negeri. Beberapa tahun kemudian, Liliana membawa gadis kecil yang cantik.
Namun sayangnya, sang anak menderita sakit parah dan membutuhkan darah yang cocok dengan gadis kecil tersebut. Liliana dilema.
Lalu siapa ayah kandung sang anak? Mampukah Liliana menguatkan hati ketika sang anak divonis tak bertahan lama hidup di dunia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon monica mey melinda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 25 Kebahagian Mey
Hari ini tepat sembilan tahun usia Mey. Kami hanya merayakan di rumah sakit saja karena kondisinya yang tidak memungkinkan untuk keluar dari rumah sakit.
Putri kecilku terlihat sangat bahagia bersama teman-temannya. Wajahnya sumringah, menunjukkan jika dirinya tidaklah sakit sama sekali.
“Kamu senang, Sayang hari ini?” tanyaku selesai acara.
Tidak ada jawaban dari bibir kecilnya. Pasti ada sesuatu yang mengusiknya tadi.
“Kenapa, Sayang?” tanyaku sekali lagi sambil mencium keningnya.
“Bunda, kenapa sih ayah meninggal?”
“Mey sayang, Tuhan sayang sama ayah sehingga Tuhan tidak tega melihat ayah yang sakit,” jelasku memberi pengertian padanya.
“Kenapa Mey bicara seperti itu?”
“Mey ingin punya ayah seperti Laras dan Yoga, Bunda.”
“Bukannya sudah ada ayah Rendi?”
“Itu beda,bunda. Ayah Rendi tidak tinggal di rumah kita. Ayah Rendi hanya datang saat Mey meneleponnya," ucapnua dengan tatapan yang hampir menangis.
“Maksud Mey apa?”
“Ya, bunda harus menikah dong.”
“Bukannya bunda sudah ada Mey. Bunda tidak mau ah ...” candaku berusaha menyanggah perkataannya.
“Tapi bunda harus menikah biar ada yang menjaga bunda kalau Mey tidak ada.”
Deg .... ada apa dengan Mey?
“Bunda, kok diam saja sih. Ayo jawab dong. Mau iya bunda?”
Aku tidak bisa bersuara apapun. Mulutku seakan terkunci.
“Nanti saja bunda jawab ya. Sekarang bunda mau ke kantor dulu. Mey sama bibi Inah,” sahutku membelakanginya karena aku tidak mau ia melihatku menangis.
[Ada sepasang mata mendengar percakapan mereka. Dika terasa teriris mendengarnya.]
“Bunda menangis, ya?”
“Tidak sayang. Ya ... sudah bunda berangkat dulu ya. Nanti bunda terlambat,” jawabku terburu-buru.
Aku tidak akan mengijinkan malaikat maut menjemput putriku. Aku tidak mau kehilangan dia. Dia adalah satu-satunya yang bisa membuatku bertahan sampai sekarang. Tanpa sadar aku menangis dan aku jatuh tersungkur di lorong rumah sakit yang sepi ini. Aku menangis mendengar apa yang Mey katakan. Aku harus mencari cara untuk menyembuhkan gadis kecilku.
“Li, ada apa?” Sebuah suara mengejutkanku.
“Rendi, apa yang harus aku lakukan? Adakah cara untuk menyembuhkan Mey? Aku ... aku ... tidak mau kehilangan dia,” isakku.
“Tidak, Li. Kita tidak akan kehilangan Mey. Kita akan mencari cara apapun untuk menyembuhkan Mey,” sahut Rendi menenangkanku.
Aku mendengar suara derap langkah orang yang berlari menuju kamar inap yang aku kenali. Ada apa lagi dengan putri kecilku?
“Ada apa Jo?” tanyaku saat kulihat Jo mendatangi kamar Mey.
“Mey mengalami kejang, Ana.”
“Tapi bagaimana bisa?” Aku tergagap tak bisa bicara. Napasku tersengal.
“Tolonglah dia, Jo. Aku mohon.” Aku mengiba memintanya menolong Mey.
“Aku akan berusaha, Li. Jadi kau tenanglah."
Aku mendengar suara rintihan Mey yang mengiris hati. Aku tidak tega melihat dia sangat kesakitan. Dia terus mengerang sakit dan memanggil namaku tapi aku tak boleh mendekatinya. Suntikan dapat membuatnya tertidur dan menghentikan rasa sakitnya sementara.
“Ikutlah denganku, Ana?” Jo mengajakku bersama Rendi agak menjauh dari kamar rawat Mey. Jantungku berdebar lebih cepat kali ini.
“Apa yang terjadi dengan Mey, Jo?”
“Aku akan menjelaskannya di kantor,” lanjut Jo yang merasa tak nyaman bicara di sini.
Aku segera megikuti langkah kaki Jo.
“Mey sepertinya tidak bisa lagi menerima tahap kemoterapi lagi, Ana. Kita harus mencari cara yang lainnya,” papar Jo.
“Maksudmu apa, Jo?” tanyaku tak percaya.
“Kita harus melakukan terapi radiasi untuk membunuh sel kanker yang telah menyebar ke dalam tubuh Mey."
“Terapi radiasi?” sela Rendi yang ada di sebelahku.
“Iya Ren. Mau tidak mau kita harus melakukan ini demi kesembuhan Mey.”
“Apa maksud dari terapi radiasi?” tanyaku yang belum paham.
“Terapi menggunakan radiasi yang bersumber dari energi radioaktif, terapi ini bertujuan untuk menghancurkan jaringan kanker. Paling tidak untuk mengurangi ukurannya atau menghilangkan gejala dan gangguan yang menyertainya.”
“Apakah ini akan berdampak bagi tubuhnya?” tanya Rendi yang sembari memegang jemariku dengan erat.
“Jika kondisi tubuhnya kuat untuk menerima pengobatan ini maka kecil kemungkinan dampak yang akan ditimbulkan,” jelas Jo.
“Kalau itu yang terbaik untuk Mey. Lakukan saja, Jo,” lanjutku sambil melangkah dengan gontai.
“Baiklah jika itu yang terbaik," jawab Jo memberi kami keyakinan.
Masihkah ada harapan untuk putri kecilku? Aku hanya menginginkan satu keajaiban agar Mey sembuh dari sakitnya. Aku tidak meminta yang lain.
***
“Li, minumlah susu ini dulu. Seharian kau tidak makan apapun,” kata Dika saat menyerahkan sekaleng susu.
Ia sedari tadi mengikuti kami dari belakang hingga menuju ruangan Jo.
“Aku tidak lapar atau haus, Dika.”
“Setidaknya kau harus kuat untuk menghibur putrimu.”
Aku mengambil susu itu dan meneguknya sedikit.
“Hari ini ayah dan bunda mengunjungi Mey. Mey kelihatan sangat senang sekali," ucap Dika memecah keheningan ini.
“Berkunjunglah kapanpun kalian inginkan. Aku tidak melarang kalian untuk bertemu dengan Mey."
“Li, maukah kau berbagi beban itu denganku?”
“Aku tidak ingin merepotkan siapapun, Dika."
“Aku tidak keberatan dengan itu, Li. Aku bersungguh-sungguh.”
“Dika, kau tahu ketika kita masih kecil. Kita berjanji untuk menjaga satu sama lain dan kau berjanji bahwa kau selalu ada untukku. Jadi aku mohon jangan bicara seperti itu lagi seakan-akan kau akan selalu ada untukku. Aku tidak mau menjadi bebanmu.”
Aku berusaha mengingatnya akan ucapan yang ia langgar sendiri dulu.
“Aku selalu ingat itu, Li.”
“Kalau kau selalu mengingat itu mengapa kau tidak pernah ada untukku saat aku merasa sendiri. Saat kau bersama Jessi,kau melupakan semuanya.”
“Apa itu yang membuatmu sakit hati?" Dika berusaha memegang tanganku, ingin aku menghindar tetapi entah kenapa hati ini tak bisa menolak.
“Aku bukanlah malaikat yang dapat memaafkan ataupun melupakan masalah itu dengan mudah.”
“Lupakan masa itu, Li. Kita melangkah ke depan bersama."
“Entahlah Dika. Apa aku masih seperti dulu?”
“Aku lelah. Lebih baik aku beristirahat sebentar," lanjutku meninggalkan Dika.
Aku meninggalkan Dika seorang diri di ruang tunggu.
****
“Dia masih mencintai orang yang sama seperti yang dulu," kata Rendi tiba-tiba.
“Apa maksudmu, Ren?" tanya Dika.
“Sedari Lili kecil ia tetap mencintai orang yang sama yaitu kamu, Dika."
Dika tertegun mendengarnya. Sedari dulu perasaan cinta Liliana tetap padanya.
“Ketika dia tahu dia mengandung anakmu. Lili tetap mempertahankannya karena bagi dia, itu adalah kado terindah dalam dirinya."
“Aku tidak pernah tahu tentang hal ini seandainya saja aku lebih awal mengetahuinya mungkin aku akan---"
“Kau akan menikahinya hanya karena ia mengandung anakmu bukan karena cinta?”
“Aku hanya menganggap Lili sebagai sahabat terbaikku, Ren."
“Kau terlalu banyak menyakitinya, Dika. Tidak kau sadari bahwa Lili menderita karenamu."
“Iya aku tahu itu."
“Janganlah kau menyakitinya lagi, Dika."
“Apa kau mencintai Lili, Ren?”
“Hal ini aku tidak bisa memungkiri hatiku kalau aku tetap mencintainya sampai kapanpun tapi aku tahu aku tidak pernah ada di hatinya." Rendi mengulas senyum meski sebuah senyuman kesedihan.
“Maukah kau menjaganya dan selalu ada di sisinya?”
“Kenapa kau bicara seperti itu, Dika?”
“Karena kurasa kau lebih cocok untuk bersamanya. Kau sudah lama mengenal Lili dari pada aku."
“Dika, aku mengenal Lili lebih lama bukan berarti aku lebih memahaminya. Lili sulit untuk dipahami dan dimengerti jalan pikirannya. Saat suaminya meninggal kukira ia akan mau menerima lamaranku tapi aku ditolaknya karena bagi dia, aku hanya sahabatnya.”
“Aku mengenal Lili ketika kami masih sama-sama duduk di bangku sekolah dasar. Ia gadis yang kalem, manis dan bersahaja. Aku senang dan nyaman berada di dekatnya. Kami bahkan merasa seperti saudara daripada teman tapi aku menghancurkan persahabatan kita hanya karena aku telah membohonginya kalau aku sudah menjalin kasih dengan Jessi," kata Dika mengenang.
“Seharusnya kau tidak perlu berbohong padanya kalau kau dan Jessi sudah pacaran. Ia lebih senang kalau kau jujur padanya agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.”
“Apa yang kau bicarakan?"
“Dika, kau ini bodoh atau pura-pura sih? Apa kau masih ingat dengan perjanjian kita sewaktu kita masih kecil? Kita pernah berjanji kita tidak berbohong satu dengan yang lainnya tentang masalah kita.”
“Iya lalu apa yang ingin kau sampaikan."
“Lili tidak suka dengan kebohongan apalagi kalau yang berbohong itu adalah sahabatnya sendiri. Ketika kau masih kecil kau pernah berjanji padanya kalau kau selalu ada untuknya dan akan melindunginya tapi itu membuat Lili salah paham padamu. Lili kira kau suka padanya tapi saat kau jalan dengan Jessi dan kau berbohong. Itu membuatnya sakit hati padamu, Dika.”
“Aku tidak pernah menyangka bahwa sikapku ini telah membuatnya jauh dariku.”
“Apa kau masih mencintai atau tetap mengingat Jessi?”
“Jessi tetap selalu ada di hatiku tapi bukan berarti aku tidak membuka hatiku untuk wanita lain. Seiringnya berjalan waktu aku menyadari bahwa ia tidak akan pernah hidup lagi. Aku harus tetap menjalani kehidupan ini apalagi sekarang aku adalah seorang ayah dari gadis kecil yang tidak pernah kutemui sebelumnya.”
“Kalau kau ingin Lili seperti dulu maka kau jangan menyakiti hatinya lagi. Kalau kau tidak bisa mencintainya maka sayangilah ia seperti seorang sahabat,” sahut Rendi berlalu pergi dari hadapan Dika.
Percuma bagi Rendi menjelaskan hal ini dengan Dika. Dika tetap pada keras kepalanya yang belum bisa membuka hatinya untuk Liliana.
\=Bersambung\=