"Gue langsung pada intinya saja!"
Rama membuka suara
"Setelah malam ini jangan pura-pura sok Deket sama gue disekolah, kita anggap kalau kita sama sekali gak kenal,jangan pernah kasih tau siapapun tentang pertunangan kita disekolah!"Ucapnya tanpa jeda sedikitpun.
Akh apa yang Rara harapkan ? Rama akan langsung menyukainya?.
Rara hanya bisa tersenyum kecut.
"Tenang aja kak,gua gak bakal kasih tau tentang pertunangan kita kok,gue juga mau cari aman aja."Ucap Rara santai ,ia tak ingin menampakkan raut wajah kekecewaan,yah sebenarnya ia pun tak menerima 100% perjodohan ini.
_____*****_____*****_____*****_____*****_____*****
Semua berawal dari kakek Rara yang ingin tapi persahabatan dengan teman baiknya tak terputus hingga membuat perjodohan dengan cucu temannya
Tapi kenapa harus terjadi kepada Rara??Anak perempuan yang baru beranjak remaja tapi sudah punya calon suami..
Bahkan pacaran Rara belum pernah merasakan nya tapi ia malah langsung punya suami??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Merlindea Ananta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
"Ahhhhhkkk,"pekik Rara kencang, hingga ia lemas terduduk.bagaimana bisa lelaki yang ia kira sudah pergi malah sedang duduk manis di atas tempat tidur sambil memperhatikan dirinya.
"Kakak kok masih di sini sih? "tanya Rara masih histeris.
"kan emang gue belum berangkat, lo nya aja yang main nyelonong keluar kamar mandi seperti itu." ucap Rama santai.
"Tapi,,tadi kakak!"Rara tak dapat berkata-kata lagi, lantas ia menangis, sangat malu rasanya membayangkan apa yang ia lakukan tadi, bagaimana bisa ia telanjang bulat di depan pria ini. Rama langsung membangunkan Rara yang menangis dan mencoba menenangkannya.
"gue lihat lo keluar makai handuk langsung merem kok, tau lo udah make baju gua langsung buka mata ,"bohong Rama pastinya, karena ia sendiri pun sangat takjub dengan tubuh istrinya, jangankan untuk menutup mata ,hanya sekedar mengedipkan mata pun ia tak rela, mendengar perkataan rama, rara jadi sedikit percaya dan tangisannya pun perlahan mulai reda.
"serius? "tanya Rara lagi.
"dua rius malah," ucap Rama menatap, membuat Rara semakin percaya.
"kok gak jadi pergi? "tanya Gadis itu sambil mengusap air matanya.
"hujan deras di luar, gue males jadinya," ucap Rama menunjuk ke arah jendela apartemen yang sedikit terlihat kalau sedang hujan di luar walaupun tertutup gorden, rara baru tersadar kalau di luar sedang hujan lebat.
karena melihat Rara sudah mulai reda tangisnya. Rama berniat untuk ke balkon kamarnya, melihat pemandangan malam yang diselimuti kabut akibat hujan yang sangat lebat ia ingin membuang bayang-bayangan tubuh istrinya yang sekarang sudah mantap bersarang di otaknya .
"kak" panggil Rara.
rama yang sedang duduk termenung di balkon memandang derasnya hujan pun mengarahkan pandangannya ke arah gadis yang sedang memanggilnya.
"gue ke resepsionis sebentar ya, ambil paket "ucap Rara yang lantas di anggukan oleh Rama, walaupun Rara sedang memakai celana pendek.tapi, masih terbilang aman untuk sampai resepsionis saja. Lagian celana yang ia kenakan tak terlalu pendek.
kini Rara berjalan dengan santai ke arah resepsionis yang tadi menelponnya mengatakan bahwasannya ia menerima beberapa paket yang dititipkan di resepsionis, Rara masih tetap saja menjadi perhatian beberapa orang walaupun ia hanya memakai setelan baju tidur, celana pendek dan rambut di cempol, Ia juga memakai sandal jepit. walaupun tampilannya sederhana, tapi . tak dapat dipungkiri aura kecantikannya tak berkurang sedikitpun titik malah semakin bertambah.
"Mbak, paket atas nama Rara amoera Hermawan ada?" ucap Rara ke arah resepsionis.
"sebentar Saya cek dulu ya Mbak ,seingat saya paketnya ada banyak ya Mbak ,silakan duduk sebentar selagi saya mengecek kan nya Mbak," ucap resepsionis tersebut. mempersilahkan Rara duduk di kursi yang memang disediakan di lobby apartemen ini dan resepsionis tersebut langsung mengecek ke tempat penitipan paket.
rara hanya menganggukkan kepalanya dan berjalan ke arah sofa ,tampak di depannya ada seorang pria yang terlihat seumuran dengannya ,pria itu terlihat sedang menelpon seseorang dan melirik sekilas ke arah Rara.
sambil menunggu resepsionis tersebut rara berniat mengecek DM endorse-nya, rara memang tak punya manajer atau apapun itu, iya sanggup menghandle semuanya sendiri.
"Mbak Rara amoera Hermawan!" panggil resepsionis tersebut, lelaki yang ada di depan Rara tadi pun melirik ke arah Rara, kemudian pura-pura kembali sibuk mengotak-atik handphonenya.
rara mengangkat tangannya dan mendekat ke arah meja resepsionis ,Ia pun terkejut dengan begitu banyak paket yang ia terima.
"ini seriusan punya saya semuanya Mbak?" tanya Rara tak percaya.
"iya mbak, kurang lebih ada 12 paket, "ucap resepsionis itu sambil tersenyum.
"aduh gimana nih,"gumam Rara bingung, bagaimana ia bisa membawa barang segini banyaknya ke unit apartemennya, sedangkan apartemennya berada di lantai 15, kalau harus bolak-balik rasanya ia tak akan sanggup.
"mau gue bantu?" suara bariton seorang pria dari belakang Rara. Gadis itu langsung membalikkan badannya menghadap ke arah sumber suara tersebut, saat Rara berbalik dan mendapati pria yang tadi duduk di depannya yang berniat membantu Rara membawa barangnya. Rara hanya terdiam sambil berpikir bagaimana mungkin ia meminta tolong kepada orang yang belum dikenalnya. pria itu melihat wajah Rara yang bingung sekaligus takut.
"tenang aja, gue juga tinggal di sini kok gue di lantai 14," ucap pria itu, sebenarnya Rara juga tak melihat adanya tampang-tampang jahat dari pria yang ada di depannya.
pria itu sangat tampan dan memang masih terlihat seumuran dengannya, mau tak mau Rara menerima bantuan pria tersebut.
"maaf ya ngerepotin lo," ucap Rara, Mereka pun langsung berbagi tugas membawa paket-paket yang akan dibawa menuju ke lantai atas. mereka berdua berjalan ke arah lift dan langsung saja Rara langsung menekan tombol 15 di mana unit apartemennya berada.
"ini belanjaan online semua?" tanyanya.
" ini barang endorse," jawab Rara sedikit canggung
"oh, jadi lo selebgram?" tanya pria itu lagi .
"nggak juga sih, lo baru pindah kemari atau gimana?" ucap Rara Dan ia pun mengalihkan pertanyaan dengan balik.bertanya kepada pria itu.
"Iya gue baru pindah kemarin. hari ini dan pindah sekolah juga, "ucap pria itu santai oh ya,
lo sekolah di mana?" Tanya Rara mulai berbicara sedikit rileks.
"abdi utama" ucap pria itu sambil tersenyum ke arah Rara.
" loh, itu sekolahan gue juga dong," ucap Rara tak menyangka kalau pria yang ada di sampingnya ini murid baru yang akan pindah ke sekolahnya.
"oh ya, lo kelas berapa? "Tanya pria itu lagi tak percaya, gadis ini memang sudah menarik perhatiannya sedari tadi titik senyumannya membuat pria itu kecanduan .
"11 IPA 1" ucap Rara.
"wow, berarti kita sekelas dong,"ucap pria itu sambil tersenyum.
" nama lo siapa?" tanyanya pada Rara.
"Gue Rara,"
"gue farel ,"ucap pria itu sambil tersenyum.
"manisnya" batin Rara diam-diam. tapi kemudian bayangan wajah Rama kembali terngiang di kepalanya
Ting
saat pintu lift terbuka betapa terkejutnya Rara melihat Rara berdiri dan seperti menunggunya di depan pintu lift.
sebenarnya pria itu sedari tadi cemas, kenapa Rara tak kunjung kembali, kalau hanya sekedar mengambil paket ke resepsionis, kenapa waktunya bisa sampai selama itu.
rama hanya terdiam sambil melirik para tajam, kemudian ia melirik ke arah pria yang ada di samping istrinya yang sama-sama sedang membawa paket seperti istrinya.
" lo kasih aja paketnya ke Kakak ini!"instruksi Rara pada farel, pria itu hanya pura-pura bengong atas perintah Rara yang tiba-tiba menyuruhnya menyerahkan barang yang ia pegang kepada pria yang mereka temui di depan pintu lift.
" ini kakak sepupu gue !"ucap Rara lagi.
"oh, baiklah, "ucapnya sambil menyerahkan paket tersebut kepada Rama, Rama menerimanya dan sekarang semua paket itu sudah berpindah tangan ,ke tangan Rama.
"gue turun dulu ya, sampai jumpa besok cantik," ucap pria itu sambil tersenyum melambaikan tangan ke arah Rara yang hanya dibalas anggukan oleh gadis itu.
"ayo, kak. ngapain bengong, "ucap Rara sambil berjalan menuju ke unit apartemen milik mereka.
*siapa itu tadi ?tanya Rama.
" dia bantuin gue, katanya dia tinggal di lantai 14 dan sekolah di sekolah kita juga mulai besok," ucap Rara sambil susah payah menempelkan kartu akses miliknya agar pintu apartemen bisa terbuka.
"oh, "ucap Rama singkat, ia sudah malas untuk marah-marah hari ini,energinya pun sudah habis terkuras untuk hari ini.
"lo udah ngantuk belum kak?" Tanya Rara pada Rama yang sedang menyusun paket-paket tadi di atas meja depan TV.
"belum,kenapa?"
"temenin gue ya ,"ucap Rara.
"temenin ngapain?"
"gue mau nge endorse sebentar"
"sebelum itu gua minta tolong, bukain paketnya terus tempel in nama toko tepat di atasnya, ntar gue biar gak salah tag", lanjutnya dan menggabungkan paket-paket sebelumnya dengan paket yang datang hari ini, ke hadapan Rama.
kemudian Rara masuk ke kamar untuk berdandan tipis-tipis, hari ini bermacam-macam barang yang akan di endorse oleh Rara, ada tas, sepatu, baju-baju, one set dan juga lipstik.
Rara hanya make up tipis-tipis supaya terkesan natural, kemudian Gadis itu membantu rama sedang membuka paket.
"kalau capek, lo berhenti acara ngendorse, gue bakal kasih lebih, "ucap Rama sambil tetap melakukan yang diperintahkan oleh istrinya.
"ini hobi kak, bukan karena masalah uang," ucap Rara, memang ia hobi di bidang yang seperti ini, gaya fashionnya juga banyak diminati, makanya banyak sekali yang ingin barangnya di endorse oleh Rara. tapi ia hanya menerima sebagian saja.
Rama pun tahu itu, keluarga Rara pun bukan termasuk orang biasa, Papa Rara adalah seorang pengusaha yang sukses walaupun tak sehebat perusahaan milik Herlambang yang sangat terkenal di mana-mana dan juga memiliki banyak anak perusahaan.
"terus barang-barang ini entar lu pakai semua?" tanya Rama bingung, kalau 2 bulan saja Rara endorse bisa-bisa mereka harus membeli satu unit apartemen lagi untuk tempat barang-barang endorse Rara.
"gak juga sih, gue sering banget bagi-bagi in, sayang banget gak dipake, kan bisa dipakai yang lebih membutuhkan," ucap Rara memang kalau sehari ia bisa mendapat sepuluh atau 15 paket. dan sudah hampir 2 tahun ini ia menggeluti usaha endorse, bisa saja ia membangun toko yang bagus menjual barang-barang endorse miliknya tapi itu tak mungkin terjadi.
.
.
.
.
jam sudah menunjukkan pukul 01.00 pagi, Rara hanya menyelesaikan sebagian barang-barang endorse-nya ia berniat untuk dilanjutkan besok saja, karena melihat Rama sudah mulai mengantuk ia tak tega memaksa pria itu untuk terus menemaninya.
sebelum tidur Rara sudah membersihkan make up-nya dan berganti dengan skin care malam.
kini ia dan Rama sudah masuk ke dalam kamar untuk bersiap-siap tidur, menghilangkan penat setelah seharian beraktivitas
buat nama nya jangan salah2 trus donk Skali lgi maaf ya
sebenarnya niat gk sih bikin novel,,, orang aneh bikin kesel aja