Apa jadinya jika seorang gadis polos, belum pernah pacaran, harus merawat seorang CEO muda, tampan, dan dingin?
Tia, gadis itu, harus melayani semua kebutuhan sang CEO. Tidak hanya makan, minum, tetapi Tia juga harus membantunya untuk mandi.
"Mandi saja sendiri! Aku tidak mau membantumu!" maki Tia.
"Hei! Kamu dibayar untuk membantuku. Apa gunanya mereka menggajimu kalau kamu tidak bekerja dengan profesional?" tanya Erwin dengan pandangan tak suka.
"Tapi, aku ...."
"Aku, apa? Mau makan gaji buta, iya!" bentak Erwin. Ia melemparkan gelas yang ada di nakas ke arah Tia.
"Akh!!" Tia berteriak sambil menutup telinga. Tubuhnya gemetar ketakutan. Hari pertamanya bekerja, dia sudah terkena amukan sang majikan.
Bagaimana kelanjutan kisah Tia dan Erwin? Baca selengkapnya di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sekar Laveina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
(S2) Peperangan ayah dan anak
Hai hai kakak2 reader. Season 2 cerita ini dah update😘Jangan lupa kasih dukungan, kakak2 reader♥️like novel ini sebelum/sesudah membaca, terima kasih dan selamat membaca
*+*+*+*
"Woi, Taro! Lama amat, sih!"
"Dion! Panggil Tari yang benar!" Tia memarahi Dion.
Setiap hari, Mentari dan Dion pergi ke sekolah bersama-sama menggunakan motor matic. Motor itu adalah hadiah ulang tahun kedua belas, sekaligus hadiah kelulusan Dion di sekolah dasar. Saat ini, anak laki-laki itu sudah beranjak remaja.
Dion duduk di bangku kelas dua belas, sementara Tari adalah juniornya di SMA Harapan Kasih. Setiap pagi, Dion selalu bangun lebih awal. Ia harus berangkat lebih pagi karena rapat ekskul basket.
"Aduh, kemana, sih?" Tari masih sibuk di kamarnya. Ia mencari buku pelajaran IPA.
"Taro!" Dion tetap memanggil nama gadis itu seenak hati, meski Tia sudah memarahinya.
"Bentar, Kak!" Mentari menyahut dari jendela kamar di lantai dua.
"Lelet! Aku berangkat duluan!"
"Yah, Kak Dion! Jangan pergi!"
Mentari mengembuskan napas berat. Gara-gara buku pelajarannya yang entah tersembunyi di mana, ia harus ditinggalkan oleh Dion. Mau tidak mau, gadis itu hanya bisa naik taksi.
Bukan perkara mudah untuk mendapatkan taksi. Demi menghindari keterlambatan, Tari memilih membawa sepedanya. Setidaknya, hanya itu alat transportasi yang terbebas dari kemacetan.
"Kamu kenapa, Sayang? Tumben, lama dandannya?" Tia menghampiri Tari di kamarnya. Ia ingin menawarkan diri untuk mengantar gadis itu dengan mobilnya.
"Ah, sudah ketemu. Tari berangkat dulu, Ma. Dah, Mama!" Gadis itu berlari ke garasi dan mengambil sepeda. Ia mengayuhnya dengan cepat.
Tia menggelengkan kepalanya. Gadis itu pergi sebelum menjawab pertanyaannya. Ia hampir saja lupa, Erwin masih belum dibangunkan.
***
"Woaa! Awas!"
Bruk!
Rantai sepeda itu sedikit kendur dan tiba-tiba saja terlepas. Tari juga lupa kalau rem sepeda tidak berfungsi. Alhasil, saat melewati belokan, dia menabrak seorang pejalan kaki, dan akhirnya terjatuh bersama sepedanya.
Tari segera bangun dan tidak memedulikan luka di kakinya. Yang dikhawatirkan oleh gadis itu adalah orang yang ditabraknya. Seorang pemuda berseragam sama dengan yang dipakai Tari, tergeletak kesakitan sambil memegangi kepalanya.
"Kak! Kakak tidak apa-apa?" Tari bertanya khawatir. Laki-laki itu memakai seragam sama. Ia memperhatikan lambang kelas sebelas di lengan seragam laki-laki itu.
"Kamu harus hati-hati saat menaiki sepeda," jawab laki-laki bernama Angga Syaputra. Bukannya menjawab, dia malah memperingatkan Tari untuk berhati-hati. Nada bicaranya juga lembut, tidak seperti Dion yang kasar.
Tari melihat name tag di dada siswa itu. Mereka bersekolah di tempat yang sama, jadi ia menawarkan bantuan untuk memboncengi. Saat melihat ke arah sepeda, keduanya tertawa.
"Sepertinya, aku akan memiliki teman berjalan kaki hari ini," ucap Angga.
"Yah, mau bagaimana lagi. Sepedaku ini sudah sangat tua, tapi aku sangat menyukainya. Sebaiknya, kita segera berjalan, atau kita akan benar-benar terlambat," kata Tari sambil mengambil sepedanya. Mereka berjalan bersama menuju sekolah.
***
Erwin menggeliat malas di bawah selimut. Hanya kain boxer yang menutup tubuh bagian bawahnya. Ia baru terlelap jam dua dini hari karena mengerjakan berkas kerjasama yang akan ditandatangani besok pagi.
"Sudah siang, Pa. Ayo, bangun," ucap Tia. Ia duduk di tepi ranjang dan menepuk pelan pundak suaminya.
"Ehm, aku masih ngantuk, Ma."
"Perlu aku laporkan pada Nurdin?"
Erwin segera bangun setelah mendengar nama itu. Pengawal setianya itu kini menjadi asisten pribadi. Dia sangat tegas kepada Erwin, meski laki-laki itu adalah atasannya.
"Kamu itu jahat banget, sih. Kalau kamu laporan sama dia, aku pasti diseret ke kamar mandi," gerutu Erwin dengan bibir mengerucut.
"Cepat mandi. Aku tunggu di bawah," ucap Tia sambil berlalu dari kamar.
Di meja makan, Budi sudah menunggu sambil membaca koran pagi. Ia menyesap kopinya lalu berkomentar. Setiap pagi, Tia akan menjadi pendengar setia sang ayah mertua itu.
"Semakin kacau saja negara ini," celetuk Budi.
Tia tersenyum mendengar ayah mertuanya menggerutu. Entah apa yang dibacanya pagi ini, sampai ia berkomentar seperti itu. Bagi Tia, memerhatikan keluarga dan lingkungan sekitar adalah hal yang lebih penting, dibanding termakan berita yang terkadang tidak terbukti kebenarannya.
Erwin turun tidak lama kemudian. Dia sudah siap dengan setelan jas berwarna coklat muda. Pakaian apa pun yang dikenakan laki-laki itu, pasti terlihat pantas.
"Kenapa? Aku semakin tampan, 'kan," goda Erwin sambil menarik kursi dan duduk di samping istrinya.
"Ekhem! Kau tidak ada apa-apanya dibanding papa. Benar, 'kan, Tia?" Budi bertanya kepada menantunya.
Tia dilema di antara dua pria yang semakin tua semakin tinggi kepercayaan dirinya. Bagaimana bisa, dia disuruh memilih antara suami dan ayah mertuanya. Konyol. Satu kata itu sangat cocok untuk situasi saat ini.
"Kalian berdua sudah tua. Jelas aku yang paling tampan di rumah ini," celetuk Ardiansyah Budi Harto, putra kedua Tia dan Erwin.
"Hei, Ardi! Jangan kurang ajar begitu," ucap Tia memarahi anak laki-laki berusia empat belas tahun itu. Kehadiran Ardi membuat Tia selamat dari pertempuran ayah dan anak yang sama-sama merasa paling tampan.
"Sifat Ardi dan Dion itu sama seperti Erwin saat remaja dulu. Menyebalkan tapi menggemaskan," ujar Budi.
Mereka sarapan pagi dengan diselingi gurauan dan suara tawa renyah di pagi ini. Ardi selalu pergi ke sekolah bersama ayahnya. Jam belajar di SMP Bukit Harapan lebih siang dibanding sekolah lain. Itu karena jam pulangnya pun lebih sore dari yang lain.
***
Mentari dan Angga tiba di depan gerbang sekolah yang terkunci. Gerbang dikunci lima belas menit sebelum jam pelajaran dimulai. Mereka masih punya waktu sebelum mata pelajaran pertama dimulai.
"Yah, sudah dikunci," gumam Tari. "Kamu ikut aku!" Mentari mengajak Angga pergi ke halaman belakang sekolah. Ia menyandarkan sepedanya ke dinding pagar.
"Mau kemana?" Angga tidak tahu apa yang akan dilakukan gadis itu.
"Sstt! Ikut saja," jawab Tari sambil menarik tangan laki-laki itu.
Rupanya, Tia mengajak Angga masuk ke dalam sebuah lubang yang ada di dinding pagar. Lubang itu tertutup rumput tinggi di bagian luar dan dalam pagar. Saat Tia keluar dari lubang dan berhasil memasuki halaman belakang sekolah, gadis itu terperanjat.
*BERSAMBUNG*
Hem, apa yang terjadi? Apa yang dilihat oleh gadis itu?
Penasaran? Yuk, kasih dukungan untuk author♥️♥️
Terima kasih, reader.