~BEBERAPA PART MENGANDUNG MATURE CONTENT~
Hidup Regan tiba-tiba rumit sejak dipindah tugaskan mengajar di kampus keluarganya dan bertemu dengan Yona, model cantik dengan sejuta tingkah menyebalkannya.
Parahnya, mereka ternyata dijodohkan.
"Jika yang merindu adalah jiwa, kenapa yang sakit sekujur raga?" tanya Yona Anantasya William memeluk erat kekasih hatinya.
Kepulangan Yona ke Indonesia atas paksaan dari orang tuanya ternyata bukan tanpa sebab. Orang tuanya telah memilihkan seorang lelaki untuk menjadi suaminya.
Kata pepatah, 'Orang tua ikut menuliskan takdir anak-anaknya'.
Bagaimana takdir Regan dan Yona? Akankah perjodohan mereka berjalan dengan mulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiya Corlyningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Si Kecil
Mata wanita itu mengerjap, menatap langit-langit kamar yang nampak asing di matanya. Pelukan erat di tubuhnya membuatnya menoleh.
"Aaaaaaaaaaaaaaa," pekik Yona saat melihat Regan tidur disampingnya. Memeluk wanita itu dengan eratnya.
Regan mengerang, matanya mengerjap melihat ke sekelilingnya.
"Minggir!" pekik Yona mendorong tangan Regan dari tubuhnya.
"Enghhhhh," erang Regan meregangkan tubuhnya, menggeliat seperti bayi.
Yona berdiri dari tempat tidur, dia menatap Regan dengan melotot.
"Kemana gulingnya? Kamu sengaja kan?" tuduh Yona.
Bukannya dia yang semalam menyingkirkan guling itu, dengan polosnya memeluk Regan hingga lelaki itu tidak bisa tidur semalaman suntuk.
"Bukannya kamu yang sengaja menyingkirkan guling biar bisa meluk-meluk aku," ucap Regan dengan suara serak khas bangun tidur.
Yona memutar bola matanya, Regan memang juaranya berkelit.
"Mana mungkin aku memelukmu, buktinya kamu yang memelukku!"
"Ahhh terserah apa katamu saja, aku malas bertengkar sepagi ini," ucap Regan, beranjak dari ranjang menuju kamar mandi.
"Jangan kabur, mau kemana kamu?"
"Mau mandi, ikut?" tanya Regan membuat Yona memalingkan wajahnya.
Regan menutup pintu kamar mandi dengan kencang. Dia sangat tersiksa semalaman tidur satu ranjang dengan Yona. Belum lagi cara wanita itu menuduhnya seperti Regan lelaki mesum yang tengah mencari kesempatan saat Yona tertidur.
Padahal, Yona yang semalaman memeluk dirinya dengan erat. Ck, dasar wanita tidak mau mengakui kesalahannya.
Diluar sana, Yona mengingat apa yang telah terjadi diantara mereka berdua.
"Oh my God," pekik Yona menutupi wajahnya malu.
Kilasan balik ciuman panas mereka berdua semalam, dan juga cara Regan menciumnya membuat Yona sesak napas.
Yona menepuk kedua pipinya, menyadarkan dirinya untuk menghilangkan kilasan itu dari bayangannya. Kenapa Yona bisa semalu itu, ini bukanlah ciuman pertama bagi mereka.
Dering di ponsel Regan membuat Yona penasaran, wanita itu beranjak untuk mengecek ponsel Regan yang berdering sepagi itu.
Memangnya siapa?
Nama Nadia Mark tertera di layar, rasa ngilu menjalar kedalam dada Yona begitu tahu siapa orang yang menelepon Regan sepagi itu.
Yona menekan tombol nonaktif di ponsel milik Regan, dia tidak suka wanita lain menghubungi lelaki itu. Yona merasa cemburu meskipun Yona tahu bahwa hubungan Regan dan Nadia tidak lebih dari teman.
"Kamu tidak bersiap?" tanya Regan mengangetkan Yona.
Yona memukul perut Regan, namun tangannya justru menyenggol handuk yang melilit di pinggang Regan. Handuk itu melorot ke lantai, menampilkan senjata Regan tanpa sehelai kainpun disana.
Regan terbelalak, begitu juga Yona. Mereka berdua saling menatap.
"Aaaaaaaaaaaa dasar mesummmmm," pekik Yona berbalik badan.
Sedangkan Regan dengan cepat mengambil handuk itu dari lantai, melilitkan kembali di pinggangnya.
"Kamu pasti sengaja kan menyenggol handukku, katakan saja kamu mau lihat," tuduh Regan dengan wajah memerah karena malu senjatanya dilihat Yona sebelum waktunya.
"Mana mau aku melihatnya, kecil begitu," cibir Yona menggelengkan kepalanya, mengusir bayangan senjata Regan dari otaknya.
"Nyatanya kamu melihatnya," sergah Regan tidak terima.
"Kecil begitu, kenapa aku harus melihatnya," jawab Yona tergagap.
Kecil katanya? Yona belum tahu jika senjatanya bangun. Bisa-bisa Yona tidak bisa tidur semalaman membayangkan senjatanya yang menegang.
"Ini tidak kecil Yona, punyaku besar," kesal Regan saat senjata miliknya dikatakan kecil oleh Yona.
"Sudahlah, aku mau kembali ke kamar," ucap Yona berlari keluar dari kamar Regan.
Yona harus menetralkan detak jantungnya yang berdegup sangat kencang saat matanya tanpa sengaja melihat senjata milik Regan. Yona memukul kepalanya, entah kenapa bayangan senjata Regan terus saja terlintas dalam pikirannya.
.
.
Regan mengantarkan pulang Yona hingga kedepan rumah wanita itu. Regan memilih untuk langsung kembali rumahnya karena dia harus mengajar siang ini.
"Hati-hati di jalan Regan," ucap Yona melambaikan tangannya kepada Regan.
Regan membalasnya dengan mengklakson mobilnya. Disaat itupula Shinta keluar dari rumah untuk melihat siapa yang datang kerumahnya.
"Yona, kamu sudah pulang?" tanya Shinta membuat Yona menoleh ke belakang.
"Iya Mom, kenapa?"
"Yahhh, Mommy kan pengennya kalian menginap di luar sampai tiga hari gitu," jawab Shinta.
Kenapa mommynya mengharapkan Yona dan Regan menginap di luar selama itu?
"Mommy nggak suka Yona pulang?" tanya Yona menatap mommynya tak percaya.
"Mana mungkin begitu, oh ya terjadi sesuatu tidak?" tanya Shinta penasaran.
Shinta mengikuti Yona berjalan masuk kedalam rumah mereka. Shinta sangat berharap ada sesuatu yang terjadi diantara mereka tadi malam.
Jadian mungkin, atau mungkin acara lamaran Regan kepada Yona?
"Yonaaaa, Mommy bicara dengan kamu loh Nak," keluh Shinta mulai tidak sabar.
"Terjadi sesuatu seperti apa sih Mom?" tanya Yona menatap mommynya malas.
Shinta tersenyum, wanita itu menggandeng tangan Yona untuk duduk di sofa ruang santai keluarganya.
"Ya antara kalian gitu," ucap Shinta.
"Ah, ada lah," jawab Yona membuat Shinta berbinar.
"Apa, ceritakan dong," pinta Shinta menatap Yona dengan penuh harap.
"Semalam itu terjadi hujan angin ditambah petir Mom," jelas Yona.
Shinta mendesah, percuma saja dia bertanya kepada Yona. Shinta harus mencari cara agar hubungan Yona dan Regan semakin erat.
Yona kembali mengingat kejadian tadi malam, wajahnya kembali tersipu ketika bayangan ciuman panas mereka dan juga kejadian tadi pagi melintas di pikirannya.
Kebahagiaan itu terpancar jelas di wajah Yona, wajah berseri dan juga rona merah terpampang jelas di wajah putih wanita itu.
"Yona kamu melamun?" Shinta menyenggol Yona hingga wanita itu mengerjap.
"Hah? Iya kecil," jawab Yona membuat Shinta menganga.
Apanya yang kecil? Kenapa Yona tiba-tiba saja menjawab 'kecil' padahal Shinta tidak bertanya apapun.
"Apanya yang kecil Yon?" tanya Shinta membuat Yona tergagap.
Yona menatap mommynya, matanya melebar dengan mulutnya menganga.
"Jangan-jangan kalian sudah anu, ya?"
Mari lanjut membaca..