Menjadi duda di usia muda membuat hati sang CEO menjadi dingin, apalagi trauma masa lalu mengenai rumah tangga membuatnya menutup diri untuk yang namanya Cinta.
Simak kelanjutan kisahnya, tapi disarankan sebelum membaca ini agar terlebih dahulu membaca karya Lepaskan Aku, agar bisa semakin faham jalan ceritanya, karena karya ini adalah lanjutan dari kisah penuh lika liku rumah tangga dari cerita tersebut.
Jadi, tunggu apalagi. Yuk cap cus, baca dan nikmati kisah nano nano yang ada di cerita ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 💘 Nayla Ais 💘, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menawarkan Jalan Bersama
Seperti biasa Luna keluar lebih dulu, tidak seperti biasanya Ia menunggu ketiga sahabatnya. Sore ini Luna memilih pulang lebih dulu, Ia mengirim pesan pada Ara kalau Ia pulang lebih dulu karena ada sesuatu yang penting.
Luna memilih jalan pintas yang selalu Ia lalui agar segera tiba di kontrakan miliknya. Awalnya Luna merasa santai saja, namun semakin kesini Ia mulai panik, Luna merasa kalau ada seseorang yang mengikutinya.
Luna mempercepat langkahnya dan berhenti mendadak, namun tidak menemukan orang yang Ia curigai sejak tadi.
" Tenang Luna, tidak ada siapa- siapa. Mungkin ini hanya perasaan mu saja. " Luna menyemangati dirinya sendiri.
Ia sedikit berlari agar segera tiba di rumah kontrakan nya, sesampainya disana Luna langsung menutup pintu rapat- rapat agar tidak ada yang bisa masuk. Luna mengintip melalui celah hordeng namun tetap tidak melihat siapa pun disana.
Sementara di luar seorang Pria mulai melakukan panggilan telpon.
" Hallo, saya sudah menemukan tempat tinggalnya Bu. Selanjutnya apa yang harus saya lakukan. "
Si Pria manggut-manggut seakan bertatapan langsung dengan lawan bicaranya.
" Baiklah Bu, baik. "
Sama dengan seseorang yang tadi melaporkan apa yang di lihat di tempat lain juga begitu.
" Apa !!!. "
" Apa dia nampak berbahaya. "
" Tetap awasi dia, kalau Pria itu menunjukkan gelagat tidak baik jangan segan- segan untuk melumpuhkan nya. Kalau perlu habisi saja sekalian. "
Abi mengusap wajahnya kasar setelah mendengar laporan dari orang suruhan nya yang selama ini mendapat tugas mengawasi Luna.
Di kampus Ara dan kedua temannya mencari Luna di tempat biasa namun tidak menemukan nya.
" Kemana Luna ya, apa dia sudah pulang lebih dulu. " Gumam Sintia.
" Atau jangan- jangan Luna di culik seseorang Tia. "
Ara dan juga Sintia langsung menghadiahi tatapan tajam pada Tika.
" Stttt hati- hati kalau bicara Tika. Ingat kalau ucapan yang keluar dari bibir kita itu sama seperti doa, jadi jangan sampai ucapan kita justru berakibat kurang baik buat diri kita sendiri. "
Semenjak bertemu Luna, Dira selalu gelisah. Ia begitu penasaran siapa sebenarnya gadis cantik itu, ingin bertanya langsung namun Ia tidak punya keberanian yang cukup.
" Bagaimana kalau dia benar Lunaku, aku harus menjawab apa kalau Dia bertanya mengapa aku meninggalkan nya. Bagaimana kalau Dia membenciku kalau Dia tau aku meninggalkan nya hanya karena kebodohan ku waktu itu, tidak. Aku belum siap di benci olehnya, biarlah waktu yang akan menjawab semuanya. "
Luna bergegas ke perusahaan setelah Ia mendapat panggilan masuk dari atasannya, semua mata menatap kearahnya. Banyak yang iri melihat keberuntungan Luna, bagaimana tidak. Ia bisa jadi sekertaris di usia yang masih muda, bukan hanya itu. Banyak dari mereka yang menginginkan posisi ini, apalagi melihat bagaimana Luna bekerja.
Ia bisa datang sesuka hati, itulah yang ada di benak pada pegawai yang lain, dan itu semakin menimbulkan iri dengki di hati sebagian dari mereka.
" Hei lihat siapa yang datang, ayo semua beri hormat pada Cinderella kita. "
Luna hanya tersenyum, Ia tidak pernah merasa menjadi cinderela seperti yang ada di pikiran mereka.
" Mau keruangan Bos besar ya Bu, mari biar saya antar. "
Salah seorang yang berpenampilan terbuka di bandingkan dengan yang lain, mulai maju kedepan menawarkan bantuan namun Luna menolak.
" Tidak apa- apa Kak, saya bisa sendiri. Mari Kak. " Luna mengangguk hormat.
Merasa tidak berhasil menjalankan aksinya, membuat Dina menjadi marah. Ia malu pada rekan-rekannya karena Ia di kalahkan oleh gadis bau kencur.
" Brengsek tuh anak, aku akan buat perhitungan dengan mu. Berani- beraninya kau merebut tambang emas ku. " Batinnya.
Luna mengetuk pintu pelan dan tidak lama terdengar suara bariton dari dalam ruangan.
" Masuk. "
Luna membuka pintu pelan dan melangkah masuk, Ia berdiri di depan meja Alwi. Alwi menoleh dan tiba-tiba moodnya membaik ketika melihat siapa yang sudah berada di depannya saat ini.
" Silahkan duduk. "
Luna mengangguk dan bergegas duduk di kursi miliknya, Ia meletakkan tas nya di atas meja. Alwi datang menghampiri meja kerjanya membawa sebuah berkas di tangannya, Luna menerimanya dan mendengarkan penjelasan Alwi mengenai apa yang harus Ia kerjakan saat ini.
Luna dengan fokus mulai mengerjakan tugasnya, Ia membaca satu demi satu yang tertera pada lebaran itu lalu kemudian mengetik nya pada layar laptop yang Ia punya.
Alwi memandang wajah serius Luna, entah mengapa memandang wajah gadis itu membawa kesenangan tersendiri baginya.
" Seserius itukah dia bekerja, bahkan tidak terpengaruh dengan apapun. Padahal di ruangan ini ada orang lain selain dirinya. " Batin Alwi.
Ia berharap Luna berbicara dengan nya atau menatapnya tapi harapannya kosong belaka, sampai selesai Luna tidak pernah menoleh kearah lain.
" Pak, maaf ini sudah selesai. "
Alwi terkejut karena tiba-tiba Luna sudah berdiri di depannya.
" Ya, ada apa Lun. " Tanya Alwi canggung.
Luna tersenyum dan meletakkan laptop beserta berkas di depan Alwi, Alwi memintanya menjelaskan semuanya secara detail.
Dengan senang hati Luna menjelaskan apa yang ada di benaknya yang Ia tuangkan dalam bentuk tulisan yang bisa mereka gunakan untuk kepentingan produksi mereka kedepannya.
Alwi tidak pokus apalagi posisi mereka yang hampir tidak tersisa jarak.
" Bagaimana menurut Bapak, apa ada yang perlu di revisi lagi. "
Alwi menjadi salah tingkah, Ia bingung harus menjawab apa karena memang sejak tadi Ia tidak menyimak apa yang di jelaskan oleh sekertaris nya itu.
" Pak. " Luna yang sudah berpindah tempat dan berdiri tepat di hadapan Alwi kembali bertanya bagaimana pendapat Pria itu mengenai konsep yang Ia kemukakan itu.
" Ah i, iya. Ini sangat bagus, kamu memang pandai Luna, terima kasih. " Jawab Alwi terbata- bata karena gugup.
Luna menghela nafas panjang, Ia merasa lega karena lagi- lagi konsep yang Ia tuangkan bisa di Terima dengan baik oleh atasannya itu.
" Baik Pak. "
Luna mengangguk dan kembali ke tempat duduknya. Ia membereskan kembali meja kerjanya dan bersiap untuk pulang karena tugasnya hari ini sudah selesai.
" Lun. " Panggil Alwi.
" Iya Pak. " Jawab Luna dan sontak menoleh ke arah Pria tampan di depannya.
" Apa sore ini kamu ada waktu. Maksud saya, saya hanya ingin mengajak kamu makan di luar. Itu juga kalau kamu tidak keberatan, kalau kamu sibuk tidak apa- apa. "
Melihat reaksi Luna yang datar- datar saja membuat Alwi merasa tidak nyaman. Ia mengutuk dirinya sendiri atas kebodohannya karena sudah menawarkan makan bersama dengan sekertaris nya yang masih sangat muda di banding dirinya itu.
" Lun, lup.....
" Baik Pak, Bapak tentukan saja waktu dan tempatnya. Kebetulan hari ini saya juga tidak ada jadwal kuliah atau janji yang lain. "
Alwi melongo, Ia tidak menyangka kalau Luna akan menerima tawarannya.
" Ba, baik. Terima kasih. "
Begitu bahagia hati Alwi saat ini, Ia bahkan menyunggingkan senyum walau secepat kilat.
" Apa ada yang bisa saya bantu lagi Pak. "
Luna menawarkan bantuan, karena Ia bingung apa yang harus Ia lakukan saat ini. Apa Ia harus pulang lebih dulu sekarang.
" Apa kamu tidak sibuk, kalau kamu tidak keberatan boleh lah bantu saya menyelesaikan ini. "
Luna mengangguk namun Ia masih tetap duduk di tempatnya, sehingga membuat Alwi yang harus berdiri dan menghampirinya.
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu