TAMAT
Karna ayah yang sedang sakit-sakitan membuat Putri Mentari harus menikahi seorang duda beranak satu yang merupakan dosen mata kuliah umum di fakultasnya.
"Kamu jangan berharap lebih dengan pernikahan ini! Aku pastikan pernikahan ini tidak bertahan lama!" - TAMA BATARA
"Ya ampun Pak... Jangan galak-galak napa. Entar makin nambah loh keriputannya." - PUTRI MENTARI.
Tama yang masih mencintai mendiang istrinya membuat pernikahan yang dijalani wanita yang akrab dipanggil Tari itu terasa berat.
Tari yang ceria terus berusaha mendapatkan cinta sang suami.
Akankah pernikahan yang berat ini berubah menjadi pernikahan bahagia?
fb : Kacan
=> Mari follow akun Noveltoon Othor Kacan🤗🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kacan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Singkat, Padat, Menyayat
Hari yang ditunggu-tunggu oleh Tari tiba, yaitu saat di mana dirinya akan berjumpa dengan kedua sahabat yang selalu ada di kala ia susah mau pun senang.
Tari diantar oleh supir keluarga Batara, yaitu Pak Jaka. Beruntung jadwal kuliah gadis itu hanya satu mata kuliah, itu pun dua SKS. Jadi, tidak memakan banyak waktunya.
Di waktu pagi, Tari ikut serta mengantar anaknya ke sekolah. Hanya saja ia tidak bisa menunggui, karna pukul dua belas siang dirinya harus sudah tiba di kampus. Jangan tanyakan kenapa dirinya tidak diantar oleh sang suami.
Tentu saja Tama berdalih bahwa jam nya dengan gadis itu berbeda-- pada Sang Mama yang menyuruhnya untuk mengantar Tari ke kampus. Padahal, Tama tidak ada jadwal mengajar di jam pagi hari ini. Namun Tari memilih diam dan tak ambil pusing.
Kuda besi yang di naiki oleh Tari tiba di parkiran kampus, begitu dia keluar dari pintu mobil. Suara teriakan kedua manusia rusuh sudah menyambutnya.
"Woi, Tar....." Raihan menyapa gadis bertubuh pendek itu dengan suara emasnya.
"Tari....." Nadia berlari sambil membentangkan kedua tangannya.
Tari dengan senang hati menyambut kedua sahabat baiknya.
"Sumpah, Tar. Gue masih gak nyangka lo bakal nikah sama Pak Tama--" Nadia dengan hebohnya.
"Sttss.... Jangan keras-keras, nanti yang lain pada denger. Bisa berabe." Tari mewanti-wanti sahabatnya agar tidak berisik soal hubungannya dengan Pak Tama.
"Oh iya, sorry-sorry gue lupa. Hehehe."
"Gimana rasanya atraksi di atas ranjang, Tar. Sharing-sharing dong ke kita. Ya gak, Nad."
Nadia mengangguk, menimpali ucapan Raihan si somplak.
'OMG, baru ketemu udah ditanyain adegan yang iyes iyes. Dasar sahabat luknut.' Rutuk Tari.
***
Tari memilih untuk langsung pulang ketika jam kuliahnya sudah selesai. Namun kedua sahabat somplak itu menahan dirinya untuk ke kantin yang berada fakultasnya sebentar saja.
Gadis bertubuh pendek itu hanya bisa mengikuti kemauan dua insan menyebalkan tapi super duper baik. Begitu mereka duduk di bangku yang paling pojok.
"Nah lo lihat tuh! Pak Tama lagi berduaan sama dosen centil itu. Ih jijay banget gue lihat tuh dosen sok kecantikan." Nadia menunjuk salah satu dosen wanita yang tanpa di jelaskan pun semua penghuni kampus tahu bahwa Buk Cindy punya rasa terhadap Pak Tama.
"Tar, lo seriusan kan nikah sama Pak Tama?" Raihan menatap Tari tak percaya.
"Ih seriusan lah, kan gue udah nunjukkin foto
prewed gue ke lo pada." Tari menekuk mukanya.
"Tapi kenapa harus pakek acara sembunyiin status pernikahan segala sih? Buat curiga aja lo!" Kali ini Nadia yang menatap Tari dengan penuh curiga.
"Nih ya guys... Gue sama Pak Tama udah resmi nikah. Cuman, yah... Pak Tama nya gak mau status ini ke publish. Gue sih nurut aja apa kata suami."
"Ih mau aja lo. Jangan mau dikadalin sama buaya buntung. Ini nih yang bikin gue gak percaya sama laki-laki." sunggut Nadia dengan menggebu-gebu.
"Nad, gue lakik tulen kalau lo lupa. Yakali, lo ikut masukin gue ke daftar list hitam lo!" Protes Raihan.
Tari menghela napasnya panjang, ia menatap ke depan. Tempat di mana Buk Cindy dengan Pak Tama sedang duduk di meja kantin. Yang jaraknya hanya empat meja dari tempat mereka.
Posisi Tama yang membelakangi Tari, membuat pria itu tidak menyadari kehadiran istrinya.
Memang sih, kalau diperhatikan interaksi yang terjadi di antara Buk Cindy dengan suaminya terbilang biasa saja. Bahkan, Pak Tama tampak cuek menghadapi dosen wanita yang dari tadi sibuk mengajak suaminya bicara.
"Dasar wanita genit, ulet keket!"
Bukan Tari yang mengumpat, melainkan kedua sahabatnya. Gadis bertubuh pendek itu melirik ke sahabat-sahabatnya. Tari tahu, kedua manusia super berisik ini punya kisah kelamnya masing-masing.
Nadia, si wanita pekerja keras yang hidup sebatang kara. Ibunya yang meninggal karna tekanan batin yang diberikan oleh ayah yang tukang selingkuh.
Dan Raihan, anak orang berada. Ayahnya adalah pemilik perusahaan elektronik yang cukup tersohor di negeri tempatnya berasal. Namun, kekayaan tak membuat Raihan merasa bahagia. Apa lagi Mama dan Papanya saling lomba untuk selingkuh.
Jadi, Tari sangat tahu kenapa kedua sahabatnya itu begitu hebo ketika melihat Buk Cindy bersama Pak Tama. Mereka hanya takut Tari terluka.
"Udah ah, gue mau pulang. Kangen banget sama bocah gembil." Tari berdiri meninggalkan kedua sahabatnya.
"Woi, Tar. Ini teh manis sama batagor lo belom dibayar!!!" Teriak Raihan.
"Yaelah, bayarin dong. Pelit amat! Pak amat aja gak pelit begitu. Wleee...." Tari yang sudah berjalan jauh ikut berteriak lalu menjulurkan lidahnya.
"Sialaann lo, Tar!"
Teriakan sahabat somplak itu menarik atensi orang-orang yang berada di kantin. Tak terkecuali Pak Tama. Bahkan pria itu menoleh ke belakang. Melihat istrinya yang menjulurkan lidah ke dua orang yang berada di meja belakang.
'Apa dia membuntutiku?' Tama bermonolog.
"Jadi bagaimana menurut Pak Tama kalau festifal kuliner--" Buk Cindy mencoba menarik perhatian pria idamannya.
"Maaf, saya rasa Buk Cindy bisa bertanya dengan dosen yang lain. Karna saya di sini sebagai dosen MKU, bukan dosen boga. Permisi." Tama meninggalkan Buk Cindy begitu saja.
Tama kembali keruangannya. Pria itu mengecek pesan yang pernah masuk ke ponsel genggamnya. Ia mencari nomor Tari.
"Awas saja jika bocah sableng itu mengadu yang tidak-tidak ke orang tua ku!"
Jari kokoh pria berparas tampan dan karismatik itu mengetik sebuah pesan. Lalu mengirimnya ke sang istri.
***
Tari memilih memesan ojek online, karna dirinya lupa memberi tahu Pak Jaka jam pulangnya. Namun saat dirinya membuka hp suara dering berbunyi
Drt...
Dahi gadis itu mengernyit heran saat satu notif masuk ke dalam ponsel genggamnya.
"Pak Tama?" gumam Tari.
'Hei bocah sableng, awas saja jika kau mengadu yang tidak-tidak ke orang tua ku!' Tari membaca pesan dari suaminya dalam hati.
Pesan yang singkat, padat, menyayat.
Ternyata sebegitu buruknya Tari di mata Tama. Kalau sudah di tuduh dan di ancam begini, gadis itu tidak akan tinggal diam.
Tari mulai membalas pesan suaminya.
✉(Tari) : Kalau PakTama gak mau aku aduin yang enggak-enggak. Temuin Tari di depan gerbang kampus. Jangan lama-lama ya, panas banget nih.
Cting....
Tama yang mendapatkan balasan pesan yang berisi ancaman dari bocah sableng hanya bisa mengepalkan tangannya.
Di sisi lain Tari sedang menunggu kedatangan suaminya. Lihat saja, gadis berparas imut itu akan mengerjai sang suami.
Brum.... Tin!
Seulas senyum terbit di wajah Tari, gadis itu berteriak dalam hati.
'Yes!!!!!'
`
`
`
Nah, gitu dong Tar. Kasih pelajaran tuh pak dosen. semoga tuh ulet keket 🐛gak gangguin Tama terus ya, Tar.
mantap kaka pantun nyaaa 👍👍😄